Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 6.


__ADS_3

Sejak malam itu. Sejak telfon pertama dari Awan itu, hubungan kami semakin membaik. Tak jarang dia menghampiriku saat aku sedang berada di kampus maupun di perpustakaan.


Berkirim pesan ataupun sekedar mendengar suara Awan lewat telfon, adalah hal rutin yang ku tunggu selama beberapa hari terakhir ini. Aku jadi punya hiburan lain di sela rutinitasku dalam perkuliahan.


Sore ini, aku sedang menghabiskan waktu di perpustakaan bersama dengan Fio. Ini hari liburnya, sehingga dia bisa bersantai sambil membaca buku-buku.


Fio dan aku berada di rak berbeda untuk mencari buku bacaan. Aku mematung saat melihat sebuah judul buku yang sangat kukenali bertengger di rak paling atas.


Ya, itu adalah buku yang aku dan Awan perebutkan tempo hari. Seketika aku tersenyum karna ingatanku jadi melayang kepada Awan.


Aku mengambil buku itu lantas duduk di meja. Menghampiri Fio yang sudah lebih dulu duduk di sana.


“Novel? Sungguh?” Tanya Fio menatap buku yang ku pegang dengan tatapan tidak percaya.


“Kenapa memangnya?”


“Kamu baca novel?”


Aku tau. Fio tidak pernah melihatku membaca sebuah novel sebelumnya. Padahal koleksi novel di kamarku juga termasuk banyak. Maklumlah, Fio tidak pernah mau saat ku ajak menginap atau sekedar main ke rumahku. Aku tidak tau kenapa tapi dia selalu punya banyak alasan saat aku  mengajaknya.


“Ra? Kamu sadar, kan kalau yang kamu pegang itu adalah novel?” Fio masih belum percaya.


“Iya.”


“Wahhh. Ternyata kau hobi baca novel juga, ya.”


Aku hanya tersenyum saja dan mulai membuka halaman demi halaman buku itu. Dan Fiopun kembali fokus dengan bukunya.


Gara-gara Awan, aku jadi bersimpati kepada tokoh Rahwana dalam novel itu. Ternyata aku sudah terpengaruh olehnya.


Tuk.. Tuk.. Tuk..


Sebuah ketukan di meja di sampingku membuatku langsung mengalihkan fokusku dari buku. Menatap pria yang sedang mengambil duduk disampingku dengan tersenyum manis.


“Feelingku tepat sekali.” Ujar Awan dengan masih tersenyum padaku.


Sepertinya dia tidak tau kalau senyumannya itu sedang memporak-porandakan hatiku. Menyebalkan sekali. Kesal tapi aku suka melihatnya.


“Feeling apa?”


“Aku tau kamu pasti ada disini.”


Aku terkekeh. Mencoba kembali fokus kepada buku dan mengabaikan keberadaan Awan. Aku tidak tau kalau ternyata Fio memperhatikan kami sejak tadi.

__ADS_1


“Siapa ini?” Tanya Fio menyelidik. Aku langsung menatap lurus padanya.


“Oh, ini. Ehmm. Awan.” Kataku memperkenalkan.


“Awan?” Sudah kuduga, Fio juga akan merasa heran dengan nama itu.


“Hai.” Awan menyapa Fio dengan ramah sambil mengangkat tangannya.


“Kenapa aku baru tau kalau kau punya teman setampan ini?” Ujar Fio. Entah kenapa malah aku yang malu mendengar pertanyaan itu.


Sementara Awan, aku mendengar tawa kebanggaan darinya.


“Dasar besar kepala.” Gumamku pelan. Dan Awan semakin tertawa.


“Bukankah kau sudah membaca itu?” Awan menunjuk buku di peganganku dengan dagunya.


“Belum selesai. Gara-gara kamu, aku jadi harus menyelesaikannya.” Aku pura-pura mendengus padanya. Dia kembali tertawa sumbang.


“Sudah ku bilang. Tidak ada yang bisa menandingi pesona Arwananya Ara.” Bisik Awan tepat di telingaku.


Pandanganku memang sedang tertuju lurus ke lembaran buku. Tapi bisikan Awan membuatku tidak bisa fokus lagi. Sial.


“Maaf, siapa namamu?” Tanya Awan kepada Fio.


“Baiklah, Fio. Boleh aku pinjam temanmu sebentar? Aku harus menunjukkan sesuatu padanya.” Pinta Awan kemudian.


Pesona Awan membuat Fio hanya bisa mengangguk sambil ternganga. Sementara Awan tidak peduli aku sedang menatapnya dengan tatapan bertanya.


“Ayo.” Ujarnya kemudian dengan sudah berdiri dari duduknya.


Aku masih mengernyit heran pada pria itu. Namun anehnya, tubuhku mengikuti instruksinya dan patuh ikut berdiri.


“Aku pergi dulu, Fio.” Pamitku pada Fio yang memprotes dengan tatapan.


Aku terus berjalan di belakang Awan. Punggung kekar pira itu sangat jelas walau dalam balutan hoodie abu-abu kesukaannya. Aku tau hoodie itu kesukaannya karna dia selalu mengenakannya. Bahkan aku ragu kalau hoodie itu pernah di cuci. Haha.


Aroma semerbak farfum khas milik Awan beterbangan di udara. Dan sebagian besar masuk ke dalam rongga hidungku. Aroma yang sedikit menyengak namun lembut itu, aku menyukainya.


Sesampainya di tempat parkir, Awan segera memakaikan helm di kepalaku. Aku tidak sempat menghindar dan helm itu kini sudah sempurna membungkus kepalaku.


“Kau membawa helm cadangan?” Tanyaku heran. Sepertinya dia sudah mempersiapkannya.


“Naik.” Ujar Awan tanpa menjawab pertanyaanku. Pria itu sudah bertengger di atas sepeda motornya.

__ADS_1


“Awan. Aku tidak sudak sepeda motormu ini.” Selorohku sambil melihat ke arah kursi penumpang yang nampak menjulang tinggi.


“Kenapa?”


Aku mengernyit. Entah bagaimana cara menyampaikan maksudku padanya. Aku tidak tau.


Bukan karna aku tidak mau naik sepeda motor. Sepengetahuanku, sepeda motor itu di rancang untuk menguntungkan pengemudinya. Maksudku, saat pengemudinya membonceng wanita. Kalian bisa membayangkannya, kan? Ya, itulah yang ada di fikiranku.


Mata Awan nampak menyipit dari balik kaca helm yang terbuka. Aku tau dia sedang tertawa dengan ucapanku.


“Cepat.” Paksanya kemudian.


Dan lagi. Aku hanya menurut permintaan Awan dan langsung naik ke atas sepeda motornya.


Awan segera melajukan motornya saat aku sudah siap di belakang. Ini benar-benar seperti yang ku kira. Sangat tidak nyaman.


“Ara?!” Panggil Awan di sela bisingnya suara angin.


“Apa?!” Jawabku juga dengan meninggikan suara.


“Pegangan!”


“Ini sudah pegangan.” Kataku yang memang sejak tadi mencengkeram samping hoodienya.


“Kau tidak mendengarku? Ku bilang pegangan! Aku tidak ingin kamu terjatuh nanti.” Pekik Awan lagi. Sepertinya dia tidak mendengar jawabanku.


Lantas akupun berinisiatif untuk mendekatkan wajahku ke telinga Awan agar dia mendengar ucapanku. Sekali helm kami terantuk satu sama lain.


Menahan tubuh yang condong ke depan dengan jok motor yang seperti itu bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus menumpu tubuhku dengan kedua tangan yang ku lipat di dada agar memberi jarak antara dadaku dan punggung Awan.


Ciiitt!!


Sesuatu yang tidak pernah ku duga. Tiba-tiba Awan mengerem dengan mendadak. Aku memejamkan mata kuat-kuat. Di benakku sedang terlintas sebuah kejadian menyakitkan yang membuat bulu kudukku merinding. Jantungku juga hampir saja melompat. Entah dia sengaja atau tidak. Tapi yang jelas, kedua tanganku kini sudah melingkar di pinggangnya.


Dasar tangan kurang ajar. Mereka berpindah tanpa komando dariku.


Perlahan kurasakan tangan kiri Awan membenahi tanganku agar lebih erat berpegangan. Aku tidak terlalu peduli karna masih sibuk dengan detak jantungku yang sedang jumpalitan di dalam sana. Awan kembali melajukan motornya seperti tidak ada yang terjadi.


Rasa terkejut karna mengira kami sudah menabrak sesuatu, membuatku masih bergidik ngeri. Ingin rasanya aku memukul punggung kekar itu untuk melayangkan protes namun tanganku sedang sibuk di sisi yang lain.


Dan akhirnya, apa yang kubayangkan tadi benar-benar terjadi. Posisiku mesra menempel di punggung Awan yang terus melajukan sepeda motornya.


Kemarin punggungku yang menempel di dada Awan. Dan sekarang dadaku yang menempel di punggungnya. Apa ini yang di maksud kejadian impas? Hufhh...

__ADS_1


__ADS_2