Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 28.


__ADS_3

“Bu? Dimana ponselku?” Aku mencari ponsel untuk menghubungi Awan. Walau aku tau itu sangat tidak mungkin. Karna yang pasti Awan sudah berada di dalam pesawat dan ponselnya pasti dalam keadaan mati.


“Ibu tidak melihat ponselmu. Ibu fikir tertinggal di rumah.”


“Tidak. Aku membawa ponselku tadi.”


“Tidak ada ponsel di mobil. Mungkin sudah terlempar entah kemana.”


Ah, aku baru ingat. Aku menjatuhkannya di depan gudang tadi.


“Coba ponsel Ibu.” Aku meminjam ponsel ibu untuk menelfon nomorku.


Tidak tersambung. Sepertinya ponselku sudah mati.


“Bagaimana?”


Aku menggeleng dengan kecewa.


“Sudah. Ponsel bisa beli yang baru. Sekarang fokus untuk sembuh.” Kata ayah memberikan wejangan.


Bukan apa. Karna disana ada nomor Awan.


“Ara!!”


Kami langsung menoleh ke arah pintu.


Yuta berlari dan langsung mendekapku tiba-tiba.


“Kau tidak apa-apa? Ya ampun, wajahmu.” Kata Yuta saat dia sudah melepaskan pelukannya. Dia membelai bagian pelipis kananku.


“Ah!” Aku berteriak karna rasanya sakit luar biasa saat dia menyentuhnya. Padahal dia hanya menyentuhnya pelan saja. Dan aku baru tau, ternyata pelipisku membengkak dan di perban. Pantas saja aku sulit membuka mata kananku.


“Oh, maaf.” Yuta segera menarik diri.


Dari pintu masuk, datang juga kedua orangtua Yuta. Mereka juga langsung menghampiriku dengan tatapan khawatir. Tante Ruth meletakkan sekeranjang buah ke atas nakas.


“Ara, bagaimana keadaanmu?” Tanya Tante Ruth.


“Masih pusing, Tan.”


“Ya ampun. Kamu ini ada-ada saja. Cepat sembuh ya sayang.” Tante Ruth membelai kepalaku.


“Terimakasih banyak, Tan.”


Para orang tua lantas keluar untuk berbincang masalah Fio. Hanya Yuta saja yang menemaniku.


“Mau buah?” Tawar Yuta.


“Tidak. Tolong ambilkan air minum saja. Aku haus.”


Dan Yuta segera mengambilkan air putih hangat dari dispenser. Kemudian dia membantuku untuk meminumnya.


“Kenapa tadi tidak menelfonku dan malah pergi sendiri?”


“Aku tidak punya waktu. Sudah kepalang khawatir.”


“Lain kali jangan begitu. Jangan gegabah. Lihat ini. Sampai patah kaki begini.” Yuta mengomeliku.

__ADS_1


“Apa kau mengkhawatirkanku?” Aku sengaja menggoda Yuta.


“Kau masih bertanya? Aku hampir gila saat mendengar kabarmu dari Om Arya.” Dengusnya.


“Maaf.”


“Kau ini gegabah sekali.”


“Yuta, bisa minta tolong panggilkan Ibu? Aku ingin ke ka kamar mandi.”


“Biar aku bantu.”


Dan tanpa permisi, Yuta segera membopong tubuhku setelah mengambil botol infus. Dia langsung mendudukkanku ke atas closet dan berdiri di sampingku sambil memegangi botol infusku.


“Kau ini sedang apa?”


“Memegangi ini.”


“Itu ada gantungannya. Letakkan saja disitu. Apa kau mau melihatku buang air?” Aku jadi kesal karna Yuta tidak peka.


“Oh, iya. Hehehe.”


Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah melihat Yuta keluar dan menutup pintu kamar mandi.


“Kalau sudah selesai, bilang!” Teriaknya dari luar.


“Em.”


Susah sekali rasanya bergerak dalam kondisi seperti ini. Apalagi kakiku terasa sangat kaku dan sakit.


“Yuta! Panggilkan Ibu saja.” Pintaku lagi.


“Sudah.”


Jeglek.


Yuta membuka pintu tiba-tiba membuatku sangat terkejut.


Dan lagi, dia langsung membopongku dan mendudukkanku di ranjang.


Keesokan paginya, aku memaksa Yuta untuk mengantarkanku bertemu dengan Fio yang ada di ruangan sebelah. Dengan duduk di kursi roda, Yuta mendorongku pergi ke sana.


Di ruangan Fio sangat ramai. Ada banyak keluarganya disana. Aku melihat dia sedang menangis dalam pelukan seorang wanita.


“Permisi.” Ujar Yuta memberitahu kedatangan kami karna tidak ada yang menyadarinya.


Semua orang menoleh, termasuk Fio.


Seketika Fio melompat dari ranjang dan langsung menghambur memelukku.


“Ara! Huhuhuhu. Maafkan aku, Ra.. Huhuhu.” Fio kembali meraung memelukku.


Aku mengusap punggungnya. Merasa tidak enak karna orang-orang kini memperhatikan kami.


“Maafkan aku, Ara. Karna aku kau jadi seperti ini.”


“Sudahlah, Fio. Tidak apa-apa.” Aku merasa kalau keadaannya jauh lebih tragis dariku. Tapi Fio tetap meminta maaf. Aku merasa sangat kasihan dengannya. Dia gadis yang baik. Entah kenapa Fio harus menerima perlakuan biadab seperti ini.

__ADS_1


Dan akhirnya, airmataku jadi ikut keluar juga.


Ibu mengambil alih kasus Fio. Dan para pelakunya langsung di tangkap semalam. Ibu sudah berjanji akan memastikan para pelaku menerima ganjaran yang lebih buruk dari perlakuannya.


Selama 4 hari aku berada di rumah sakit, Yuta yang selalu menemaniku dan merawatku. Dia bahkan ikut libur kuliah demi merawatku.


Dan hari ini, Yuta juga yang menjemputku bersama ayah. Sedangkan ibu sedang sibuk mengurusi kasus Fio.


Butuh waktu bertahun-tahun untuk Fio bisa memulihkan diri walaupun sudah didampingi oleh psikiater terbaik di Jogja.


Tapi untungnya, dia berhasil menyelesaikan kuliah dengan baik.


Dan hari ini, kami semua sedang berbahagia demi merayakan kelulusan kami. Sidang senat terbuka yang akan di langsungkan pukul 9 pagi ini.


Aku dan Fio sudah selesai di rias. Setelah kejadian itu, ibu dan ayah meminta Fio untuk tinggal di rumah kami agar lebih mudah melindungi dan mendampinginya.


Tentu saja aku tidak keberatan sama sekali. Aku justru sangat senang. Sekarang, Fio sudah jauh lebih baik. Hanya saja, dia masih trauma jika berdekatan dengan pria. Hanya dengan ayah dan Yuta, Fio tidak merasa takut. Dan Kak Sota, kakak Yuta.


Kak Sota adalah ahli psikiater yang merawat Fio selama ini. Dia yang sudah bekerja keras demi memulihkan kondisi Fio seperti semula. Walaupun belum sepenuhnya berhasil, tapi Kak Sota terus mengusahakan yang terbaik.


“Apa Yuta akan melamarmu setelah wisuda?” Tanya Fio tiba-tiba. Kami sedang berada di dalam kamarku.


“Jangan meracau.”


“Tapi aku yakin kalau dia akan melamarmu hari ini.”


“Fio....” Aku menggertak. Dan dia hanya terkekeh saja.


Selesai di rias, kami turun ke bawah. Disana, sudah ada ibu dan ayah yang sedang menunggu kami. Ada orangtua Fio juga.


Dan, seorang pria yang tampan dan telah berubah lebih gagah dalam beberapa waktu terakhir ini.


Yuta tersenyum padaku. Aku merasa dia tengah menelanjangiku dengan tatapannya. Melihatku dari ujung kepala hingga kaki.


Aku tersenyum dan mendekatinya.


“Usap air liurmu.” Bisikku sambil terkekeh.


Dan benar saja, Yuta langsung mengusap bibirnya sehingga membuatku semakin terkekeh.


“Kau ini.” Dia menghardikku setelah sadar aku mengerjainya.


“Kenapa kau disini?”


“Tentu saja untuk menjemputmu.”


“Bukankah kau seharusnya pergi dengan Om dan Tante?”


“Mereka akan menyusul ke kampus nanti.”


Dan begitulah, akhirnya aku berangkan bersama dengan Yuta.


Sikap Yuta tidak pernah berubah padaku. Dia selalu baik, pengertian, dan selalu melindungiku. Selalu ada untukku disaat aku membutuhkannya.


“Setelah wisuda, Ayah bilang akan mengajak kita semua makan-makan.” Ujarku.


“Iya. Aku juga sudah mendengarnya dari Mama.”

__ADS_1


Waah, ternyata ayah dan ibu sudah mengundang semua orang. Bahkan saat acara wisuda belum di mulai.


Memang sudah lama keluarga kami tidak makan bersama. Terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


__ADS_2