
Pagi ini, aku hampir saja terlambat. Itu karna aku harus mengantarkan Mas Mahli dulu ke bandara karna dia hendak pulang ke Malang. Ya, Mas Mahli memang tinggal di Malang dan bekerja disana. Dia hanya sesekali saja pulang ke Jogja.
Sebenarnya pintu gerbang sudah tertutup. Tapi security tetap membukakan pintu untukku karna dia tau siapa aku. Ya aku adalah putra pemilik yayasan ini.
Saat hendak berjalan menuju ke kelas, sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Itu adalah pesan dari Billi dan Rijun.
“Aku terlambat. Cepat ke belakang sekolah.”
Dan aku segera bergegas ke belakang sekolah. Aku harus meneyelamatkan mereka sebelum ketahuan oleh Pak Katman yang sangat hobi mengomel.
Seperti biasa, aku mengeluarkan tangga darurat dari dalam semak dan langsung meletakkannya ke tempat biasanya teman-temanku akan memanjat. Dibalik tembok itu, Billi dan Rijun terus saja menyuruhku untuk cepat.
“Sudah.” Kataku.
Bruk!
Rijun dan Billi melemparkan tas mereka lebih dulu.
Dan ternyata tidak hanya ada mereka berdua saja. Ada satu siswa lain juga yang bersama dengan mereka.
“Sedang apa kalian?”
Suara Pak Katman mengejutkan kami semua. Rijun dan Billi sudah turun, kami hanya tinggal menunggu satu orang lagi yang masih berusaha untuk turun dari tangga.
“Kalian mau bolos?!” Pak Katman langsung berteriak dengan melotot.
Sudah, habislah aku. Pak Katman pasti akan mengadukanku pada papa. Dan sudah bisa di pastikan, kalau papa akan memarahiku sepanjang makan malam berlangsung.
“Tidak, Pak. Kami tidak bolos.” Sanggahku cepat.
Sialnya, posisi kami sangat sulit karna memang kami semua sedang memegang tas masing-masing. Tadi aku belum sempat ke kelas untuk menaruh tasku.
Sial! Kami tidak bisa lagi mengelak.
“Ikut Bapak!”
Dan kamipun hanya bisa menurut saja dan mengikuti Pak Katman ke tengah lapangan.
“Baris disitu!”
Aku sedang memikirkan cara untuk menyanggah semua tuduhan Pak Katman pada kami. Tapi, Pak Katman sendiri yang memergoki kami. Jadi, tidak ada jalan keluar lagi selain menerima omelannya sambil di hukum dengan berdiri di teriknya matahari pagi.
“Kamu ini bagaimana, sih?! Seharusnya kamu itu bisa menjadi contoh tauladan bagi anak-anak yang lain. Bukan malah mengikuti mereka bolos seperti ini. Kamu memang pintar tapi bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya disini.” Pak Katman kembali mengomeliku.
__ADS_1
Aku sudah menduganya. Karna statusku yang merupakan seorang putra pemilik yayasan, aku pasti menjadi tujuan serangan Pak Katman.
“Maaf, Pak.” Aku memilih ucapan paling aman saat ini. Tidak ada gunanya membantah Pak Katman.
“Jangan mentang-mentang kamu anak pemilik yayasan terus kamu bisa berbuat sesuka hati. Pak ketua sudah berpesan padaku untuk memperlakukanmu sama dengan siswa yang lain. Tidak boleh ada perbedaan. Jadi jangan harap kamu bapak beri keringanan karna masalah ini!”
Ah, sudah kuduga. Dia akan membawa-bawa papa dalam hal ini. Pak Katman sangat tau kelemahanku.
“Lihat kesini! Kalian ini sudah kelas tiga! Tidak lama lagi lulus. Tolong di rubahlah sifat buruk itu!”
Jujur, aku sudah jengah mendengar omelan Pak Katman. Kami diomeli atas tuduhan yang salah. Tapi kalau mengakui keterlambatan juga pasti akan kena hukuman juga.
Aku sudah lelah berdiri. Untuk merenggangkan otot-otot dalam tubuhku, aku sedikit menggerak-gerakkan kepalaku dan...
Deg!
Aku melihat sosok Kuara yang tengah berdiri di koridor dengan menatapku penuh kekecewaan.
Terkejut? Itu sudah pasti. Aku tidak pernah mengira kalau Kuara akan datang ke sekolahku.
Kuara? Sedang apa dia ada disini?
Aku yang heran bahkan tidak lagi mendengar omelan Pak Katman. Saat kulihat Kuara berlalu pergi, aku segera ikut menyusulnya.
“Awan! Mau kemana kamu?! Bapak belum selesai bicara!”
Perasaan bingung dan rasa bersalah langsung menyergap dadaku. Seketika aku menyesal karna tidak memberitahukan identitasku yang sebenarnya pada Kuara. Saat ini dia pasti sangat kecewa dan marah padaku. Aku takut dia marah.
Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin Kuara marah padaku.
“Ara!”
Aku terus berteriak memanggilnya dan berlari untuk menyusulnya. Kuara tidak mau mendengarkanku. Dia tidak mau menoleh dan terus berjalan cepat.
“Kuara, tunggu!” Aku masih mengikutinya hingga dia berbelok ke gang buntu di samping ruang laboratorium.
“Ara...” Nafasku tersengal. Dadaku sesak. Aku meraih tangannya dan membuatnya mengahadapku.
Kuara tetap tidak mau menatap langsung padaku. Disaat itulah, hatiku terasa di tusuk-tusuk. Akibat kebodohanku, tanpa sengaja aku telah menyakiti hati Kuara.
Aku tidak jujur karna takut Kuara jadi tidak menyukaiku. Dan sekarang, Kuara sudah mengetahui kalau aku masih sekolah dan dia pasti sangat kecewa padaku.
Aku merutuki kebodohanku sendiri. Menyesal karna tidak jujur sejak awal pertemuan kami.
__ADS_1
“Ara, lihat aku. Aku mohon.”
“Lepaskan.” Dia menghardikku dengan suara lemah.
“Lihat aku dulu.”
“Lepaskan, Awan.”
“Tidak, sampai kau mau melihatku.” Aku menjadi tegas karna dia tidak mau menurutiku untuk menatap lurus padaku.
Tidak membuang waktu, aku segera meminta maaf padanya. Aku tidak ingin Kuara marah padaku. Membayangkannya saja, aku tidak sanggup.
Aku berkata jujur tentang ketakutanku kalau aku jujur padanya. Tapi, dia malah semakin marah padaku.
“Alasan macam apa itu?” Katanya.
Aku terus berusaha untuk menjelaskan. Tapi Kuara tidak mau mendengarkan. Membuatku frustasi. Bagaimana caranya agar membuatnya mengerti?
“Aku harus pergi.”
Tidak, tidak. Aku masih harus menjelaskan situasinya kepada Kuara. Jadi aku kembali mencegahnya untuk pergi. Aku mau dia mendengarkanku sampai tuntas. Setelahnya, dia bisa marah padaku atau apapun. Tapi kuharap, dia tidak marah padaku.
“Bisa kau lepaskan tanganmu darinya?”
Suara tegas itu mengejutkanku. Pria itu, pria yang pernah ku lihat ada di rumah Kuara waktu itu. Aku menatapnya kesal saat tiba-tiba pria itu menarik tangan Kuara sampai terlepas dariku. Dan yang lebih kesal lagi, pria itu memegang pundak Kuara kemudian mengajaknya pergi.
Aku hanya ternganga. Entah kenapa kakiku seperti tidak punya tenaga untuk mengejar mereka. Tatapan pria itu mendominasiku.
“Awan! Ikut Bapak ke ruangan!”
Dan entah kapan Pak Katman ada di belakangku.
Dengan wajah tertunduk, aku mengikuti Pak Katman masuk ke dalam ruangannya. Guru BK itu masih berlanjut mengomeliku. Sementara fikiranku hanya dipenuhi oleh kekecewaan Kuara.
Setelah ini, bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Apa Kuara masih mau bertemu denganku?
“Kamu ini, dengar tidak?”
“Dengar, Pak. Saya minta maaf, Pak.”
Tidak. Aku tidak mendengar apapun.
“Ya sudah kalau begitu. Kembali ke kelas.”
__ADS_1
Aku mengangguk dan segera pergi dari ruangan BK. Tapi tidak kembali ke kelas. Aku kembali mencari Kuara dan pria itu. Tapi tidak berhasil menemukan mereka.
Di otakku sedang berputar untuk mencari solusi. Bagaimana caranya agar Kuara mau memaafkanku?