Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 77. Tidak Ada Yang Tau Apa Rencana Mereka.


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian cemburu tanpa sebab itu. Kini, Kuara memilih untuk tidak lagi cemburu dan mempercayai Awan sepenuhnya. Ia yakin, kalau selama waktu sepuluh tahun ini perasan Awan tetap padanya.


Karna ini hari minggu, baik Awan dan Kuara hanya menikmati hari lubur mereka di rumah saja. Bahkan saat ini, Awan sedang bercengkerama bersama dengan Arya di teras depan rumah Kuara.


“Anak bapak itu, lucu sekali.” Ujar Awan tiba-tiba.


“Kenapa?”


“Dia cemburu tanpa sebab, Pak. Hahahaha.” Memikirkan Kuara mencemburuinya, membuat Awan senang setengah mati.


Cemburu tanda cinta. Itulah yang di yakini Awan.


“Hahahaha. Bagus itu kalau Ara cemburu. Itu tandanya dia memang benar-benar suka padamu. Sudah, jangan di tunda-tunda. Segerakan niat baik kalian.”


“Iya, Pak. Saya juga rencananya minggu depan akan membawa mama kesini untuk melamar Ara.”


“Baiklah. Kami akan menunggu kedatanganmu.”


Hari minggu berikutnya.


Kuara sudah siap dengan riasannya dan sedang menatap pantulannya di depan cermin. Satu tangannya memegangi dadanya yang sedang berdegup sangat kencang. Sementara satu tangannya lagi sedang mencengkeram erat bawahan gaun yang ia kenakan.


Hari ini, adalah hari yang ia dan Awan sepakati. Hari ini, akan di langsungkan acara lamaran mereka.


Rasa takut akan sebuah kehilangan kembali menghampiri. Bagaimanapun, gagal menikah adalah pengalaman yang tidak baik dan sangat menyakitinya. Sudah pasti Kuara tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Di ruang tamu, sudah hadir ketua RW, RT, dan imam setempat. Juga Awan, dan keluarganya.


Juga Bhanu yang baru tiba semalam setelah mendapat kabar kalau adik satu-satunya akan di lamar oleh seorang pria. Dan pria itu adalah Awan.


Dulu, Bhanu sempat berfikir kalau perasaan Awan hanyalah perasaan yang di miliki remaja biasa. Ia tidak menyangka kalau ternyata Awan setulus itu. Bahkan yang ia dengar, Awan selalu menyayangi Ara selama sepuluh tahun ini.


Tidak ramai yang ada di sana, karna memang ini hanyalah acara lamaran sekaligus pertunangan biasa.


Tidak ada yang tau, apa yang sudah di rencanakan oleh Awan dan Arya beberapa hari yang lalu di teras rumah. Mereka sudah menyiapkan kejutan luar biasa kepada semua orang. Terlebih Kuara.


Awan yang mengenakan setelah batik nampak lebih tampan dan dewasa. Nampak aura kebijaksanaan dalam diri pira itu.

__ADS_1


Sesekali, Awan melihat kepada Arya yang kemudian mengangguk sambil tersenyum padanya.


Arya nampak serius berbicara kepada pak RT dan dan pak Imam. Sesekali ia mengangguk mengerti setelah pertanyaannya terjawab. Dan Awan tau, apa yang sedang para orang tua itu bicarakan.


Seteah selesai berbicara kepada pak RT dan pak Imam, Arya nampak melambaikan tangan kepada Awan, meminta Awan untuk mendekatinya. Dan pria itu segera menuruti panggilan itu.


Tidak ada yang peduli bahkan memperhatikan kelakuan Arya dan Awan itu. Mereka sibuk mengobrol sendiri-sendiri.


Beberapa saat kemudian, semua orang sudah siap. Lisa meminta kepada Micha untuk memanggil Kuara di kamarnya.


“Bunda?” Panggil Micha tepat di depan pintu kamar Kuara. Ia berlari menghampiri tantenya itu.


“Oh, Micha. Ada apa, sayang?”


“Kata Uty, Bunda di suruh turun kebawah.” Micha memberitahu.


“Oh, sudah ya?” Gumam Kuara. “Baiklah, ayo.”


Kuara menggandeng tangan Micha dan turun ke bawah. Dengan wajah yang sudah merona malu, Kuara kemudian duduk di kursi yang sudah di siapkan di ruang tamu.


“Baiklah, kita sudah bisa mulai. Karna mempelai wanitanya sudah ada disni.” Ujar pak RW.


Mempelai?


Kuara masih tidak mengerti. Namun ia hanya diam saja. Tidak berani protes. Sementara semua orang kecuali Kuara, sudah di beritahu oleh Arya beberapa menit sebelum Kuara turun.


Lisa menyambut pemberitahuan dari suaminya itu dengan sukacita. Ia kemudian bersalaman dan berpelukan dengan Radina.


Pak Imam membacakan sebuah doa yang di ikuti oleh Arya dan Awan. Kuara masih belum memperhatikan kalau ayahnya sedang berjabat tangan dengan Awan. Karna ia selalu menundukkan wajahnya.


Barulah setelah ia mendengar ayahnya mengucapkan kalimat ijab, kepala Kuara spontan terangkat dan melihat ke arah ayahnya. Dia tidak sempat berfikir karna kini Awan tengah mengucapkan kalimat kabul dari mulutnya.


Mahar yang di persembahkan oleh Awan untuk Kuara adalah, emas murni dengan berat 3.130 gram. (kalian gak usah ngitung berapa duit. Haha). Angka itu adalah umur Kuara dan Awan yang dalam bentuk satu set perhiasan.


Kuara sempurna ternganga. Dia bukan tidak tau apa yang baru di ucapkan oleh ayahnya maupun Awan tadi.


Dan dengan berkumandangnya kata ‘sah’ dari para saksi, kini, Kuara telah sah menjadi istri Awan. Mereka memang masih menikah siri. Dan Awan akan mengurus sisanya nanti setelah ini.

__ADS_1


Suara Kuara masih tercekat di tenggorokan. Ia tidak bisa bersuara walaupun sangat ingin menanyakan apa yang baru saja terjadi. Apa Awan benar-benar sudah menikahinya?


“Ara, nak? Sini.” Panggil Arya dengan melambaikan tangannnya. Walaupun masih heran dan terkejut, namun Kuara tetap menuruti panggilan ayahnya.


“Ara, sekarang, Awan sudah sah menjadi suamimu. Dan kini, kamu sudah sah menjadi istrinya. “


Ternyata, Kuara tidak sedang bermimpi. Ia sadar betul akan ucapan ayahnya.


Istri. Suami.


Kuara menoleh kepada Awan. Pria itu tersenyum dengan sangat lebarnya.


“Aku sudah membuktikan, kalau ‘kutukan’ itu tidak ada.” Ujar Awan membuat tanda kutip dengan kedua jarinya.


“Dan, tidak perlu ke pelaminan untuk bisa menikahimu.” Imbuhnya lagi.


Itu karna Awan pernah mendengar kalau tidak ada pria yang akan sampai di pelaminan bersama dengan Kuara.


“Kok malah melamun. Ayo, salim sama suamimu.” Titah pak Imam lagi.


Kuara seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Ia hanya menurut karna kesadaranya sedang mengambang entah kemana.


Setelah Kuara mencium pungung tangannya, Awan justru mendaratkan sebuah kecupan di kening gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


Hal yang tidak di ketahui Kuara adalah, kalau beberapa hari yang lalu, Awan merencanakan pernikahan ini bersama dengan Arya, ayahnya.


Dan tentu saja, saat Awan mengutarakan rencananya itu, Arya justru mendukungnya tanpa berfikir. Ia juga sebenarnya merasa sedih dengan kabar-kabar di luaran sana mengenai putrinya. Jadi dia tidak perlu berfikir lagi untuk meng-iyakan rencana Awan.


Dan mereka mempersiapkan semuanya tanpa sepengetahuan Kuara.


Awan hanya tidak ingin membuat Kuara khawatir. Karna ia tau, Kuara masih cemas memikirkan kegagalannya hingga rumor-rumor itu bermunculan.


“Apa ini nyata?” Akhirnya Kuara bersuara juga. Ia menatap Awan dengan tatapan berkaca-kaca.


Dan saat Awan tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, airmata Kuara tumpah begitu saja. Ia melihat ayah dan ibunya bergantian dengan air yang terus meleleh di pipinya.


Lisa juga tidak kuasa menahan diri. Ia berlari ke arah putrinya dan memeluknya dengan sangat erat. Kini keduanya malah sama-sama menangis. Meluapkan kesedihan dan kebahagiaan bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2