Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 8.


__ADS_3

Pukul 19.30, pagelaran Sendratari Ramayana sudah mulai di gelar. Dan Awan masih diam saja. Aku jadi merasa canggung sekali. Apa karna aku telah menolak pernyataannya?


Apa tadi itu pernyataan cinta dari Awan? Bukan karna aku yang terlalu percaya diri kan?


Musik gamelan pengiring tari sudah mulai bergema ke seluruh aula. Tribun yang di penuhi sesak oleh pengunjung nampak antusias menyaksikan pertunjukan itu. Begitupun denganku.


Sekali aku melirik kepada Awan yang masih menatap lurus ke depan. Dia sama sekali tidak berkutik. Aku semakin canggung di buatnya.


Tapi semakin lama, aku semakin terkesima dengan pertunjukkan itu. Padahal aku sendiri sudah dua kali melihatnya dulu. Tapi kenapa rasanya malam ini berbeda? Terasa lebih mendebarkan.


Apa karna bersama Awan?


Setelah berkali-kali melirik dan Awan masih fokus dengan pertunjukan, akhirnya akupun ikut fokus menonton. Aku benar-benar memperhatikan tanpa jeda. Sampai pertunjukan berakhira jam kemudian.


“Tidak keluar?” Tanyaku pada Awan yang nampak masih duduk di tempatnya sementara pengunjung yang lain sudah keluar.


“Sebentar lagi. Aku malas berdesakan.” Dia beralasan.


Akhirnya aku yang tadi sudah berdiri jadi ikut duduk kembali di sampingnya.


“Ara?” Panggil Awan.


“Hem?” Aku menoleh padanya. Dan pandangan kamipun bertemu.


“Ucapanku tadi. Jangan kamu fikirkan.”


Aku mengernyit mendengarnya. Apa dia sedang menarik pernyataannya?


“Soal komitmenmu.”


“Ooh.” Aku salah faham ternyata.


“Lakukan. Lakukan apapun yang membuatmu nyaman untuk masa depanmu.” Ujarnya.


Bukankah dia sudah mengatakan hal ini tadi? Kenapa dia mengatakannya lagi?


Aku hanya mengangguk menanggapinya. Tatapan matanya kini nampak berapi-api dari sebelumnya. Aku tidak bisa membaca apa yang sedang di rencanakannya.


Kondisi di aula pertunjukan sudah sepi. Kini benar-benar hanya ada kami berdua saja. Dan sepertinya Awan masih enggan untuk bangkit.


Aku menoleh kesegala arah. Merasa tidak enak saat merasa ada beberapa staf memperhatikan kami.


“Awan. Ayo pulang.” Bisikku kemudian.

__ADS_1


Kali ini, Awan mendengarkan. Dia bangkit dan mulai berjalan sejajar denganku.


Saat keluar dari aula, udara dingin yang berhembus terasa menusuki tulang. Malam sudah semakin larut tapi keadaan masih ramai. Tanpa sadar aku memeluk tubuhku sendiri untuk mengusir hawa dingin.


“Pakai ini.” Ujar Awan sambil menyerahkan hoodienya padaku. Entah kapan dia melepasnya akupun tidak memperhatikan.


“Tidak usah. Kau di depan dan lebih membutuhkannya.” Aku menolaknya. Aku masih punya perasaan untuk tidak menerimanya.


Awan tidak menggubrisku. Dia memaksa hoodie itu masuk ke kepalaku. Dia juga mengarahkan tanganku untuk mengenakannya. Aku merasa menjadi anak bayi yang sedang dipakaikan baju oleh ibunya. Dan anehnya, aku tidak bisa menolaknya.


“Aku tidak ingin kau kedinginan.”


“Tapi kau yang di depan.”


“Aku tidak apa-apa. Sudah biasa.”


Dan lagi, Awan memakaikan helm yang sebenarnya bisa ku pakai sendiri. Tubuhku tidak bisa di ajak berkompromi untuk menolak perhatiannya. Aku lemah terhadap pria satu ini.


Awan mulai melajukan sepeda motornya. Aku masih memberi jarak antara kami agar tidak menempel.


Aku merasa kasihan melihat Awan yang hanya mengenakan kaus pendek sementara dia harus menerjang angin malam. Aku bingung bagaimana bisa aku membantunya dalam hal ini. Ingin melepas dan mengembalikan hoodienya, aku takut dia malah tersinggung nanti.


Sudah empat kali aku melihat tubuh Awan yang gemetar dan bergidik. Itu pasti karna dia kedinginan. Aku jadi serba salah. Antara kasihan dan bingung bagaimana bisa membantunya.


“Awan! Kalau kau kedinginan, pelan-pelan saja.” Saranku. Karna aku melihat dia masih menggigil.


Aku berusaha untuk menarik tanganku. Tapi tangan Awan menahannya dengan kuat.


“Begini saja. Aku kedinginan.” Ujarnya yang membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Ucapannya membuatku merasa tidak enak hati.


Merasa bersalah karna membuat Awan kedinginan, aku membiarkan tanganku membagi sedikit kehangatanku untuknya. Aku berfikir setidaknya aku bisa melindungi perutnya dari terpaan udara malam.


Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu kurasakan sangat lama. Aku sudah tidak tega melihat Awan kedinginan. Rasa kasihanku meronta-ronta.


Satu persatu rintik hujan mulai turun. Benar-benar tidak mendukung situasi kami. Membuatku semakin kefikiran tentang keadaan Awan.


Dan beberapa detik kemudian, hujan deras tiba-tiba turun dengan sangat cepat. Membuat kami tidak bisa menghindar.


Awan segera membelokkan motor ke halaman minimarket yang sudah tutup. Kami segera turun dan berlari. Disana juga ada beberapa orang yang tengah berteduh juga. Sebagian adalah pengemudi ojek online.


Aku mengibas-ngibaskan hoodie Awan yang basah. Kulirik Awan yang juga melakukan hal yang sama pada kausnya.


Kaus bagian depan Awan sudah basah kuyup. Karna memang hujannya datang dengan tiba-tiba dengan curah yang sangat deras. Aku semakin pias melihatnya.

__ADS_1


Awan beralih memegang bahuku dan menghadapkanku padanya. Dia menyapu tubuhku dari kepala sampai kaki. Keningnya nampak berkerut khawatir.


“Ya ampun. Lihat ini. Kau jadi basah begini.” Ujarnya yang mengkhawatirkanku. Dia menyapu sisa-sisa air di hoodie yang ku kenakan. “Kau pasti kedinginan.”


“Bukan aku yang harusnya kau khawatirkan. Lihat bajumu. Lebih basah daripada aku.”


Awan melihat ke arah kausnya. “Hemh. Tidak apa-apa.” Dia berkata sambil tersenyum.


Awan terus berkata kalau dia tidak apa-apa. Tapi aku bisa melihat tubuhnya menggigil kedinginan.


“Awan, kau tidak perlu mengantarku. Aku akan naik ojek saja. Kau pulanglah.” Aku memberi saran yang menguntungkan bagi kami berdua.


“Mana bisa begitu. Aku yang membawamu dan aku juga yang akan mengantarkanmu pulang. Aku harus memastikan kau sampai di rumah dengan selamat.”


“Tapi kau basah kuyup.”


“Aku tidak apa-apa, Ra.”


“Kau selalu bilang begitu. Tapi tubuhmu sudah menggigil kedinginan.” Keningku sampai berkerut karna melawannya.


Keningku tambah berkerut saat melihat Awan yang justru terkekeh setelah kumarahi.


“Kau tertawa?” Aku jadi kesal kan.


“Aku senang kau memperhatikanku seperti ini.”


“Orang lain akan melakukan hal yang sama. Bukan cuma aku.”


“Aku tidak peduli dengan orang lain. Yang penting kamu.”


Ucapannya membuatku mati kutu dalam kebekuan. Hati, berhentilah berdebar.


“Ahh. Dingin sekali. Aku harus mengganti pakaianku. Apa tidak masalah kalau kita mampir ke kosku sebentar untuk mengganti bajuku? Tidak jauh dari sini. Setelah itu, aku akan mengantarkanmu.”


Tidak berfikir panjang aku segera menganggukkan kepalaku. Menyutujui idenya karna memang aku tidak tahan melihatnya menggigil kedinginan.


“Kenapa selalu datang hujan setiap kali aku bersamamu?” Gumamnya sambil menatapi tetesan hujan yang jatuh dari atap minimarket.


“Kau begitu membenci hujan?”


“Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak menyukainya. Suaranya berisik dan aku jadi tidak bisa mendengar apapun.”


Aku mengeluarkan headset portable dari dalam tas. Sebelah ku pasang di telingaku. Kemudian sebelah lagi kupasang di telinga Awan. Aku sendiri heran darimana aku mendapat keberanian semacam itu. Kami saling melempar tatapan kemudian tersenyum.

__ADS_1


**


selamat hari senin warga. yuk dukung terus ara dan awan dengan jatah vote kalian yaa.. sekedar mengingatkan, lomba top fansnya masih berlangsung sampai novel ini tamat. cuss buruan di kumpulin poinnya.~~~~


__ADS_2