
Dan sudah seminggu ini aku benar-benar memutus kontak dengan Awan. Aku mem-blok nomornya agar dia tidak menghubungiku lagi. Aku benar-benar kesal setengah mati.
Minggu pagi, aku tidak ada kegiatan dan hanya bermain dengan kucingku di pekarangan samping. Sesekali mengganggu Sindi yang sedang membersihkan taman herbal mini milik ibu.
“Jalan-jalan yuk, Dek.” Suara Mas Bhanu membuatku menoleh.
“Mas, ajaklah pacarmu. Jangan ajak aku. Aku sedang malas keluar rumah.” Aku menjawab dengan masih fokus bermain.
“Tapi Mas bosan di rumah.”
“Pulang sekali-kali juga, bilang bosan di rumah.”
“Ya karna Ayah dan Ibu tidak ada di rumah.”
Ayah dan ibu kami sedang pergi ke acara pesta ke tempat kenalannya. Sebenarnya aku di ajak, tapi aku sedang malas melakukan apapun apalagi sampai keluar rumah.
Mas Bhanu yang kecewa akhirnya memilih untuk kembali ke dalam rumah.
“Permisi!!” Terdengar suara seseorang dari pintu gerbang.
Sindi yang juga mendengarnya langsung meninggalkan pekerjaannya dan melihat siapa yang datang.
Beberapa saat kemudian Sindi sudah kembali dan menghampiriku.
“Mbak, ada yang mencari.” Ujar Sindi padaku.
“Aku?” Menatap Sindi penasaran. Siapa yang mencariku pagi-pagi begini? “Siapa?”
“Dia bilang namanya Awan, Mbak.”
Deg!
Awan? Kenapa dia datang ke mari?
“Bilang padanya aku sedang tidak ada di rumah.”
“Aku butuh bicara denganmu, Ra.” Suara Awan yang tiba-tiba muncul di belakang Sindi membuatku membelalakkan mata.
Aku enggan menemuinya, tapi sekarang dia ada di rumahku.
Aku langsung berdiri dan menatapnya marah. Aku masih kesal karna dia mempermainkanku.
__ADS_1
“Kau berani datang kemari?” Sanggahku menatap tajam padanya.
“Tolong maafkan aku, Ra. Aku tau aku salah. Aku sama sekali tidak berniat melakukannya.”
“Justru itu yang membuatku marah. Kau tidak berniat tapi kau tetap melakukannya.”
“Aku hanya takut kehilanganmu. Aku takut kau malu berteman denganku karna aku masih sekolah. Aku benar-benar membutuhkan pengertianmu.”
Aku mendengus. Malas menanggapinya. Aku hanya ingin dia pergi dari hadapanku secepatnya.
“Pergilah.” Usirku terang-terangan. Aku lantas menggendong kucingku dan berlalu meninggalkannya.
“Aku menyukaimu, Ra!” Teriak Awan tiba-tiba. “Aku sangat menyukaimu. Aku menyayangimu!”
Teriakan Awan itu membuat kakiku tidak mau bergerak maju. Jadilah aku mematung di tempat.
Perlahan, aku berbalik dan menatapnya. Tatapan Awan nampak pias padaku. Untung saja Sindi sudah tidak ada di sana hingga aku tidak perlu malu.
“Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu. Aku memang masih sekolah, tapi perasaanku tulus padamu. Tolong maafkan aku. Aku bisa gila melihatmu seperti ini.”
Awan mulai berjalan mendekatiku. Kini jarak kami hanya tersisa setengah meter saja.
tatapan Awan, aku mencari ketulusan sesungguhnya dari pria itu disana.
Raut wajah Awan nampak bersungguh-sungguh. Aku bisa merasakan ketulusannya sekarang.
Hatiku berubah luluh dan melembut saat melihat tatapan putus asa di matanya
”Kenapa kau meminta maaf padaku? Aku tidak ada hubungannya denganmu, Awan.”
“Bagaimana bisa tidak ada hubungannya? Aku sudah mengatakan kalau aku menyukaimu.”
“Kenapa kau menyukaiku sementara kau sudah punya kekasih? Itu cuma cinta monyet yang masih labil.”
“Ini bukan cinta monyet, Ra. Perasaanku benar-benar tulus. Dan kekasih? Apa maksudmu?” Awan ganti mengernyit padaku.
“Bukankah kau sudah punya kekasih? Kenapa masih berani menyatakan perasaan padaku?”
“Aku tidak punya kekasih, Ra.”
“Bilang tidak punya tapi aku melihatmu bermesraan dengannya.”
__ADS_1
Awan nampak bingung dengan ucapanku. Sementara aku hanya melengos tidak percaya dengan ucapannya. Kalimatnya terdengar seperti ucapan seorang cassanova.
“Maksudmu saat di kampus waktu itu?”
Aku tidak menjawab. Sebenarnya aku malu membahas hal ini dengan Awan. Aku tidak percaya kalimat ini terucap dari mulutku sendiri.
“Hemh. Itu bukan kekasihku. Itu kakak sepupuku. Dia memang selalu manja denganku. Dengan saudara yang lain juga dia begitu. Namanya Mbak Heni.”
Aku merasakan intonasi Awan berubah. Dia menyeringai dan aku tidak suka melihatnya. Seringai itu seolah memojokkanku dan menghakimi pendapatku.
Dan bukan intonasi Awan saja yang berubah. Tapi wajahku juga. Astaga. Aku malu sekali. Rasanya aku ingin menarik kulit wajahku dan menyimpannya ke dalam saku.
Sebongkah sesal bertumpuk di dadaku. Aku menyesal karna sudah membahas kemesraan Awan yang ternyata itu adalah sepupunya. Aku menyimpulkan apapun yang ada di fikiranku, menanyakannya kepada Awan dengan segudang rasa percaya diri yang kumiliki. Dan ternyata semua kesimpulanku itu salah.
“Jadi, apa kau cemburu sampai tidak mau mengangkat telfonku?” Ujar Awan dengan tatapan menyelidik. Aku bisa melihat senyuman samar di kedua sudut bibirnya. Menyebalkan.
“Untuk apa aku cemburu? Aku tidak punya waktu untuk itu.” Aku mendengus untuk menyamarkan rasa maluku.
Secara alami, topik pembicaraan kami berubah arah. Sedikit-demi sedikit menghapus kecanggungan yang terasa. Dan secara tidak langsung, itu mulai membuat kemarahanku menghilang. Suasana hatiku juga mulai membaik.
“Jadi, kau sudah memaafkanku, kan? Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu lagi. Kalau kau bersedia mendengarkan, aku akan menceritakan semua hal tentangku. Semuanya, tanpa terkecuali.”
“Entahlah. Aku tidak tau, Awan. Apa aku berhak mendengarkan semua kisahmu itu.”
Bukan apa. Kami tidak punya hubungan yang istimewa sampai harus menceritakan kisah satu sama lain. Sudah cukup aku membuat satu hati milik Yuta terluka karna komitmenku. Dan aku tidak mau membuat hati lain merasakan hal yang sama.
Sedangkan untuk menerima salah satu dari mereka, tidak mungkin. Itu sama saja aku menjilat ludahku sendiri. Itu menjijikkan. Aku tidak ingin goyah oleh apapun. Aku akan melakukan pacaran atau apapun itu setelah aku menyelesaikan studyku nanti.
“Kenapa tidak? Kau hanya perlu mendengarkan saja.”
“Baiklah. Aku akan mendengarkannya kalau ada waktu. Dan aku harus menegaskan satu hal padamu, Awan.”
“Tentang komitmenmu? Aku tau. Aku sudah bilang kalau kau boleh melakukan apapun maumu. Entah itu menolakku atau apa. Kau juga boleh untuk tidak menganggap ucapanku tadi. Aku tidak keberatan. Yang penting aku sudah lega karna sudah mengatakannya. Aku sama sekali tidak akan memaksamu untuk melepaskan komitmenmu. Karna aku tau, aku tidak berhak ikut campur atas rencana masa depanmu itu.”
Aku tidak bisa lagi berkata-kata. Hanya bisa menatap heran kepada Awan. Kenapa dia bisa begitu dewasa pemikirannya dengan umur yang semuda itu? Hal itulah yang membuatku tidak habis fikir kalau ternyata dia masih
sekolah.
Tidak ada satu hal pun yang menunjukkan kalau dia masih seorang siswa SMA. Mungkin kalau waktu itu aku tidak memergokinya, sampai saat ini aku masih belum tau.
“Jadi, bisa kau berhenti mem-blok nomorku? Karna aku masih ingin bercerita tentang Rahwana. Kali ini, aku akan menceritakan semua tentang Rahwananya Ara.”
__ADS_1
Lidahku benar-benar kelu. Menatap dalam ke netra Awan membuat hatiku kembali berdebar. Meruntuhkan sisa kemarahan akibat salah faham yang kubuat sendiri.