Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 14.


__ADS_3

Hari ini, aku sedang mengantarkan Mama dan Mas Mahli berkeliling kota Jogja untuk mencari seserahan untuk pernikahan Mas Mahli.


Dua minggu lagi, Mas Mahli akan menikah dengan gadis pujaan hatinya yang berasal dari Malang. Hendak menikah, raut wajah Mas Mahli nampak jauh lebih segar dan bersinar. Senyumnya tak pernah pudar.


“Kenapa tidak cari seserahan di Malang saja, Mas?” Tanyaku sambil fokus mengemudikan mobil.


“Tidak ada yang mencari kalau disana. Bulek tidak sempat ke Malang.”


“Cari disini juga sama saja. Nanti tingggal dibawa ke sana. Ada mobil ini.” Mama menimpali dari kursi belakang.


“Sesenang itu mau menikah. Senyum terus...”


“Nanti kamu bakalan tau bagaimana rasanya, Wan. Sekarang aku beritahu kisi-kisinya dulu.”


“Kisi-kisi?” Aku terkekeh mendengarnya. Terdengar seperti ujian sekolah saja pakai kisi-kisi.


“Bahagianya susah di jelaskan, Wan. Pokoknya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain berhasil menikahi gadis impianmu.”


Ah, mendengar uraian Mas Mahli membuatku tidak sabar untuk segera dewasa. Tamat sekolah, lulus kuliah, bekerja dan kemudian menikahi Kuara, pujaan hatiku.


Bayangan-bayangan membahagiakan itu memenuhi kepalaku. Dadaku jadi geli sendiri. Ada yang berdesir. Seperti ribuan kupu-kupu mengitari perutku.


“Kenapa kau senyum-senyum begitu?”


Aku langsung menoleh kepada Mas Mahli yang ternyata sedang mengernyit memperhatikanku. Aku jadi menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal. Jadi salah tingkah sendiri ketahuan sedang berkhayal.


“Hehehehehe.”


“Kamu  mengkhayal apa, Nak?” Ternyata Mama juga memperhatikanku. Aku tambah malu saja.


“Untuk sekarang, simpan dulu khayalanmu itu. Masih panjang jalan yang harus di lalui. Sekolah saja belum tamat. Setelah tamat sekolah masih harus kuliah. Setelah itu masih harus mempersiapkan diri untuk yayasan. Setelah itu, baru boleh menyusul Mas Mahli.” Ujar Mama panjang lebar.


Aku hanya mengangguk sambil mengatupkan bibirku rapat-rapat.


“Sudah punya incaran, Wan?” Tanya Mas Mahli.


“Sedang dalam proses untuk mendapatkan, Mas. Hehehehehehe.”


“Semoga lancar ya, Wan.”


Ya, doa itu yang juga selalu ku panjatkan. Semoga Kuara mau menungguku menyelesaikan daftar perjalanan panjangku nanti.

__ADS_1


*****


Jum’at sore, aku dan keluargaku sudah tiba di Malang. Acara pernikahan Mas Mahli akan dilaksanakan besok di ballroom hotel tempat kami menginap.


Malam ini, kami mengadakan pesta bujangan untuk Mas Mahli yang akan segera melepas masa lajang.


Aku, Mas Mahli, Mas Feri, Mas Arif, Satria, dan beberapa teman kerja Mas Mahli. Kami semua berkumpul di sebuah cafe yang sudah di sewa oleh teman-teman Mas Mahli.


Kami semua menghabiskan waktu dengan mengobrol santai. Mas Mahli lebih banyak mengobrol dengan teman-temannya. Semantara aku dan Satria, kami hanya mendengarkan saja karna pembahasan mereka melebihi umur kami. Jadi kami tidak punya pengalaman untuk ikut dalam pembicaraan.


“Mau kemana?” Tanyaku saat melihat Satria yang berdiri dari duduknya.


“Keluar.”


“Tunggu aku.”


Aku dan Satria keluar dari cafe. Kami duduk di depan cafe di kursi bambu yang ada disana.


“Mau?” Satria menyodorkan sebungkus rokok padaku.


“Tidak. Terimakasih.” Tolakku. Karna memang aku tidak merokok.


“Kau harus mencoba ini, Wan. Ini adalah proses untuk menuju dewasa.” Ujar Satria yang selesai menyulut rokoknya.


“Tidak ada yang bilang. Ini seperti, rahasia umum.”


Aku tidak setuju dengan stigma itu. Stigma yang tumbuh di kalangan remaja masa kini. Seolah kalau tidak merokok, maka tidak keren dan dianggap tidak bisa bergaul.


Di ruamahku, tidak ada yang merokok. Bahkan Papa juga tidak merokok. Papa bilang, untuk mendidikku menjadi pribadi yang baik, maka harus di mulai dari Papa dan Mama selaku orangtuaku. Saat mereka bersikap baik, maka otomatis aku akan meniru sikap itu.


“Kau tau apa yang lucu?” Tanya Satria sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.


“Papaku selalu memarahiku untuk tidak merokok. Tapi lucunya, dia selalu merokok di depanku. Bukankah itu terlihat aneh? Setidaknya, kalau dia ingin menasehatiku, jangan kepulkan asap di depanku. Jadi aku tidak merasa lucu.”


Inilah yang kumaksud. Karna itu Papa tidak pernah merokok di depanku. Walaupun aku tau dulu Papa merupakan seorang perokok berat. Tapi setelah paru-parunya bermasalah, Papa berhenti merokok seketika. Dia tidak ingin aku mengalami sakit yang serupa.


“No komen.” Aku tekekeh melihat Satria merengutkan bibirnya.


“Lepaskan, Ja!”


Aku dan Satria sontak menoleh ke arah suara. Di dekat kami, sepertinya sedang terjadi pertengkaran antar kekasih.

__ADS_1


Si gadis terus saja memberontak minta di lepaskan. Sementara si pria tidak mau melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan si gadis.


“Dengarkan dulu penjelasanku.” Ujar si pria.


“Tidak.. Aku tidak mau lagi mendengar penjelasanmu. Sudah cukup aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.” Kemudian si gadis menyentakkan tangannya hingga terlepas.


“Keysi!”


Itu benar-benar tontonan yang sangat menarik. Aku kira hanya bisa melihatnya saja di aplikasi berbagi video. Ternyata benar-benar ada kejadian nyata yang seperti ini.


“Kau! Kau bisa ambil sampah ini untukmu. Karna sekarang aku sudah membuangnya, maka silahkan pungut sampah ini untukmu!” Ujar gadis bernama Keysi itu kepada seorang gadis yang nampak menatap takut di dekat mereka.


Aku dan Satria hanya melihatnya saja. Saat gadis itu berbalik, kami pura-pura mengalihkan pandangan ke arah lain. Merasa tidak enak karna sudah menjadi penonton gratisan.


Namun, sepasang kaki yang berdiri di hadapanku membuatku kembali menatap. Itu adalah Keysi yang sedang menangis sambil melihat tajam padaku.


Kenapa dia berdiri dan menatapku seperti itu?


“Kau sudah menonton drama gratisan. Jadi aku minta bayaranmu.” Ujar Keysi sambil mengusap airmata di pipinya.


Aku dan Satria saling pandang. Tidak mengerti maksud gadis yang matanya menghitam akibat ayeliner yang luntur itu.


“Bayaran apa?”


“Bantu aku pergi dari sini. Aku ingin menyelamtkan sisa harga diriku.” Ujarnya kembali.


Gadis ini nampak tegar, tapi airmata terus meleleh di pipinya. Membuatku merasa kasihan dengannya.


Aku menoleh kepada Satria dan dia hanya mengangkat kedua bahunya saja. Kemudian aku kembali melihat kepada gadis itu. Dia masih menatap penuh harap padaku.


“Baiklah, ayo pergi dari sini.”


Gila! Aku pasti sudah gila. Rasa kasihanku kepada gadis ini membuatku memilih untuk membantunya. Ya, ini hanya sebatas rasa simpatiku sebagai sesama manusia.


Aku berdiri kemudian berjalan menuju ke mobil. Keysi mengikuti di belakang. Aku mempersilahkannya untuk masuk.


“Masuklah. Aku akan mengantarkanmu pulang.”


Tak banyak bicara, Keysi segera masuk ke dalam mobil dan aku mengantarkannya pulang.


Ah. Ini adalah hal paling aneh yang pernah aku lakukan. Mengantarkan gadis asing pulang sementara gadis itu terus meraung di dalam mobil. Mengucapkan kata-kata makian dan kutukan kepada pria bernama Lija.

__ADS_1


Dan sesaat kemudian, dia kembali merutuki kebodohannya sendiri. Keysi terus mengomel sambil menangis di sepanjang perjalanan. Aku benar-benar merasa risih.


__ADS_2