
Awan dan Kuara baru saja menginjakkan kakinya di Bandara International Jenderal Edward Lawrence Logan, Massachusetts. Wajah antusias nampak jelas terpampang dari Kuara. Ia tidak melepaskan gelayutannya di lengan Awan. Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya demi memperhatikan apa yang bisa di jangkau oleh matanya.
“Wahhhh.” Senang sekali rasanya hati Kuara. Kalau tidak berada di tempat umum, ia mungkin akan jingkrak-jingkrak tak karuan karna saking bahagianya. Ingin salto dan berguling-guling di lantai.
“Senang?” Tanya Awan.
“Tentu saja.”
Awan melepaskan tangan Kuara kemudian meletakkan tangannya ke pundak istrinya itu. Menariknya dan mendekapnya erat. Sementara Kuara, melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Seolah ingin pamer kepada semua orang kalau mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia.
Seorang supir sudah menjemput mereka di terminal kedatangan. Sopir milik keluarga Ben. Pria muda yang langsung menganggukkan kepala kepada Awan karna mereka memang sudah saling kenal sebelumnya.
“Selamat datang, Sir.” Sapa supir itu.
“Hai.”
Supir membantu memasukkan koper milik Awan dan Kuara ke dalam bagasi. Sementara Awan membukakan pintu mobil untuk Kuara dan mereka duduk bersisian di belakang.
Mobil mulai melaju membelah jalanan menuju ke apartemen milik Awan. Sesampainya di apartemen, supir membantu membawakan koper mereka sampai ke dalam rumah.
“Terimakasih, John.”
“Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
John pamit undur diri.
Kuara sedang berkeliling menikmati suasana rumah Awan. Ia memperhatikan satu demi satu benda-benda yang ada disana. Terakhir, ia menuju ke jendela balkon dan berdiri menatap ke luar. Pemandangan kota yang indah dan rapi tersaji di hadapannya.
Ia bahkan tidak terkejut saat tiba-tiba Awan melingkarkan tangan dan memeluknya dari belakang. Mengecupi tengkuk dan kepalanya dengan penuh kelembutan.
“Rumah ini bersih sekali. Padahal tidak ada yang menghuninya.” Kata Kuara.
“Aku menyewa orang untuk membersihkannya setiap minggu.”
“Ooh.”
“Apa kau lapar? Ayo kita makan di luar.” Ajak Awan kemudian.
“Apa tidak lelah? Baru saja sampai sudah pergi lagi?”
“Mana mungkin aku lelah, sayang. Kalau demi kamu, aku tidak punya rasa lelah.” Gombal Awan. Ia menggelitik samping perut istrinya sampai Kuara berjingkat-jingkat karna merasa geli.
Setengah jam kemudian, mereka keluar untuk makan malam. Awan tak mau melepaskan genggaman tangannya di sepanjang perjalanan. Berjalan berdua di trotoar, mereka berdua nampak sangat mesra sekali.
Sesekali Awan menunjuk dan memberitahu sesuatu kepada Kuara. Tempat dan hal-al yang sering di datangi dan di lakukan olehnya.
__ADS_1
“Aku sering berolahraga di taman itu bersama Ben.”
“Apa rumah Ben ada di dekat sini?”
“Tidak. Rumah keluarganya lumayan jauh. Tapi Ben sering menginap di tempatku.”
“Oooh.”
“Kau ingin makan apa?”
“Aku ingin pergi ke restoran yang sering kamu kunjungi dulu.”
“Baiklah, ayo kita kesana.”
Mereka kembali melanjutkan langkah. Menuju ke sebuah restoran yang memang tidak jauh dari apartemen nawa.
Makan malam romantis. Nawa dan Kuara menyelingi makan malam mereka dengan mengobrol ringan seputar kegiatan Awan dulu.
“Besok aku akan mengajakmu berkeliling kampus. Janji Awan menjadi penutup makan malam mereka. Tentu saja Kuara menyambutnya dengan lebih antusias lagi.
Ia ingin mengenal dan mengetahui apa saja yang telah Awan lakukan selama berada di Boston. Ia suka mendengar saat Awan bercerita tentang penantian dan perasaan yang selalu di simpan untuknya. Itu membuat Kuara merasa melambung. Tenggelam dalam dekapan cinta Awan yang tak terhingga.
“Huuaaahhhmmh.” Kuara menguap saat mereka barusaja keluar dari restoran. Perut kenyang dan kantuk, merupakan satu kombinasi yang sempurna untuk menuju pulau kapuk yang indah.
“Em. Tadi di pesawat aku tidak bisa banyak tidur.” Ujar Kuara.
Mendengar jawaban istrinya, Awan malah terkekeh saja. Teringat saat di pesawat. Kuara lebih banyak tidur daripada dirinya. Begitu di bilang tidak bisa tidur. Dia bahkan mendengkur beberapa kali. Dan Awan terpaksa menyenggolnya untuk menghentikan suara yang sangat mengganggu itu.
“Kenapa tertawa?”
“Apa kau benar-benar tidak bisa tidur?”
“Iya.” Jawab Kuara pasti.
“Hehehehe.”
“Kenapa kau malah mentertawakanku?”
“Tidak apa-apa. Kau bilang tidak bisa tidur, lantas siapa yang mendengkur di pesawat tadi?”
Tingkah Awan berhasil menyulut kekesalan Kuara. Ia merengut malu. Wajahnya sudah merona membayangkan gangguan yang ia timbulkan di pesawat akibat suara dengkurannya.
“Apa aku mendengkur sekeras itu?”
“Tidak. Hanya cabin first clas saja yang mendengarnya.”
__ADS_1
“Itu sama saja keras.” Gerutu Kuara.
“Hehehehe. Tidak usah di fikirkan. Kau tidak mengenal mereka. Kenapa malu?”
“Ish. Tetap saja.” Kuara memukul pelan lengan suaminya untuk melampiaskan kekesalannya.
“Yasudah, sekarang ayo kita pulang. Kita lanjutkan dengkuran yang tadi.” Awan benar-benar tidak mau berhenti menggoda istrinya. Alhasil, ia kembali mendapatkan cubitan di pinggangnya dari Kuara. Cubitan manja.
“Aw, aw, aw. Sakit.”
“Berhenti meledekku.”
“Iya, iya. Aku minta maaf.”
Namun, kata maaf dari Awan belum mampu melunturkan kekesalan Kuara. Ia mendengus kemudian berjalan cepat meninggalkan Awan.
Melihat istrinya nagmbek, Awan bukannya cemas malah semakin terkekeh. Ia senang melihat wajah Kuara yang mengkerut. Dan ia senang menggodanya.
“Sayang! Tunggu! Jangan cepat-cepat, nanti kamu tersesat.” Awan memulai langkah lebarnya untuk mengejar istrinya.
Kuara tidak menggubris. Ia bukan anak TK yang akan tersesat di jalan yang sudah ia lewati sebelumnya. Ia sudah hafal bahkan dengan hanya sekali lewat saja.
“Sayang! Apa kau marah?!” Teriak Awan yang masih tertinggal beberapa langkah di belakang Kuara.
Kuara masih diam. Enggan menyahut. Rasa kesalnya semakin menumpuk. Padahal masalahnya sederhana saja. Ia kesal karna Awan terus mengejeknya. Kan dia malu.
Langkah Kuara terhenti saat Awan berhasil meraih pergelangan tangannya. Ia memaksa Kuara untuk berbalik dan menatapnya.
“Hei. Kenapa jadi marah karna hal yang sepele? Aku minta maaf. Sudah marahnya, ya?”
“Kau menyebalkan.” Dengus Kuara.
“Awan melemparkan senyuman. Meraih kepala istrinya dan menenggelamkannya di dada. Mengelus belakang kepala Kuara dengan lembut dan penuh cinta.
“Aku minta maaf.” Lirih Awan.
Setelah lama berpelukan, Awan melepaskan pelukannya. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah istrinya. Menatap penuh perasaan hangat. Dan sedetik kemudian, ia melu mat bibir seksi itu tanpa ampun. Tidak peduli beberapa orang lewat di sekitar mereka. Keduanya hanya saling melepaskan hasrat untuk meluluhkan perasaan kesal yang sempat mampir.
hai, siapa yang nungguin bonchap? cung!
maaf ya lama,,, belum nemu ide yang pas. harap maklum kalau bagian bonus ini updatenya agak lamaan sedikit, nunggu ide mampir di kepala dulu. masih ada bonchap, tapi aku gak janji bisa update kapan. seperti yang ku bilang, nunggu ide mampir yang cocok buat awan-ara, baru ku tulis lagi.
__ADS_1