Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 23.


__ADS_3

Aku baru saja sampai di apartemen setelah kembali dari bandara. Aku memutuskan untuk kembali setelah pernikahan Kuara dan Yuta saja.


Aku merebahkan diri di sofa dan menyalakan TV. Sebuah berita yang sedang di tayangkan membuatku terkejut setengah mati. Aku langsung bangun dan berdiri menatapi layar TV tidak percaya. Itu adalah sebuah berita tentang kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan yang hampir kunaiki.


Aku langsung teringat dengan Yuta. Yuta menggantikanku menaiki pesawat itu. Dan sekarang pesawat itu terjatuh? Tidak mungkin.


JLEK!


Aku menoleh saat seseorang membuka pintu apartemenku. Dan ternyata itu adalah ben.


“Awan! Thanks God. Kau baik-baik saja. Untungnya kau menukar tiket pesawatmu dengan orang lain.” Ujar Ben yang menepuk-nepuk bahuku.


Bukan itu yang menjadi masalah sekarang. Tapi Yuta. Bagamana dengan Yuta? Dia akan menikah besok lusa. Aku berharap sedikit keajaiban untuk keselamatan Yuta.


“Apa yang terjadi? Apa kau tau sesuatu? Itu maskapai milik keluargamu, kan?”


Itulah kenapa aku bisa menukar tiket milikku untuk Yuta. Karna maskapai penerbangan ini merupakan milik perusahan keluarga Abraham.


“Aku belum tau pasti. Aku belum mendengar kabar apapun. Saat ini, ayah dan ibuku sedang sibuk mengumpulkan informasi.”


“Temanku ada di pesawat itu, Ben! Lakukan sesuatu!” Pekikku. Tanpa sadar aku mencengkeram kerah baju Ben.


“Hei! Kau ini kenapa?!”


Dadaku tiba-tiba saja terasa sesak. Saat sadar, tubuhku lunglai tak bertenaga. Cengkeraman tanganku terlepas dari Ben dan aku jatuh terduduk di sofa.


“Kau kenapa, bro?”


“Temanku, temanku ada di pesawat itu.”


“Tenanglah, Awan. Tim pencarian sudah di kerahkan untuk  mencari para korban.” Ben berusaha menenangkanku.


“Menurutmu, berapa persen kemungkinan ada yang selamat?”


Padahal aku sudah tau jawabannya. Selama ini, sangat kecil kemungkinan ada penumpang selamat dalam kecelakaan pesawat. Apalagi saat pesawat hancur berkeping-keping di dasar lautan yang dalam.


Aku sontak memikirkan bagaimana nasib Kuara saat mendengar kabar ini. Membayangkan kesedihannya saja sudah membuatku tidak kuat.


Aku memutuskan untuk membantu pihak KBRI dalam mencari korban warga negara Indonesia. Setiap menunggu informasi sekecil apapun tentang para korban.

__ADS_1


Tiga hari pencarian, akhirnya tim penyelamat berhasil menemukan Yuta yang sudah dalam kondisi tidak bernyawa.


Di kamar jenazah rumah sakit, aku pias mendengarkan raungan tangis dari ibu Yuta. Aku sedikit merasa bersalah atas insiden ini. Karna aku memberikan tiketku pada Yuta, dan akhirnya malah dia yang menjadi korban pesawat yang seharusnya aku yang ada di posisi itu.


“Terimakasih sudah membantu pemulangan Yuta.” Ujar ayah Yuta yang menyalamiku dengan erat.


Hatiku seperti hancur berkeping-keping mendapat perlakuan itu. Tapi mulutku tetap terkunci untuk memberitahu mereka. Aku tidak berani bilang kalau aku yang memberikan tiketku pada Yuta, dan menukar nyawanya dengan nyawaku.


“Saya hanya membantu sebisa saya, Pak. Saya turut berduka cita.”


“Terimakasih.”


Hari ini, aku ikut rombongan keluarga mendiang Yuta kembali ke Indonesia. Pihak Abraham airways telah menyediakan pesawat untuk mengantarkan kami. Tidak hanya Yuta yang menjadi korban. Tapi ada 9 warga negara Indonesia lain yang turut menjadi korban dan sedang kembali ke indonesia bersama kami. Pihak KBRI juga menemani kami dan membantu mengurus semua administrasinya.


“Terimakasih Mas Awan. Untung saja ada Mas. Jadi tidak berbelit.” Ujar bapak KBRI  yang duduk di sebelahku.


“Sama-sama, Pak. Senang bisa membantu.”


Sebuah keuntungan bagiku karna mengenal keluarga Ben dengan sangat baik.


Hari sudah malam saat kami tiba di bandara Internasional Yogyakarta. Karna sebelumnya kami harus berhenti di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, untuk memindahkan jenazah yang lain.


Peti jenazah Yuta segera diangkut menggunakan ambulance menuju ke rumah duka. Sementara aku pulang ke rumah terlebih dahulu.


“Mama mau minta maaf dengan anaknya Pak Basri.”


“Kenapa, Ma?” Tanyaku.


Airmata Mama meleleh di pipi. Aku dan Papa hanya bisa saling pandang saja.


“Mama bersyukur karna kamu tidak jadi naik pesawat itu. Karna itu Mama merasa bersalah dengan Pak Basri.” Mama masih terisak.


“Sudahlah, Ma. Ini sudah takdir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa.” Papa mengelus punggung Mama.


Beberapa hari yang lalu, keluargaku sempat kalang kabut saat mendengar pesawat yang seharusnya ku naiki telah jatuh di laut. Mereka mengira kalau aku menjadi salah satu penumpangnya.


Saat Mama menelfonku, dia terdengar lega karna aku masih mengangkat telfonnya. Dan aku menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bahwa aku telah memberikan tiketku kepada Yuta. Yang ternyata tiket menuju ke surga.


“Mama merasa bersalah kepada Yuta. Astaga, bagaimana ini.. Huhuuhuhu.”

__ADS_1


Selain isak tangis Mama, tidak ada yang bersuara. Baik aku, Maiga dan pApa, kami hanya terdiam.


Apa yang dirasakan Mama sama seperti apa yang kurasakan. Aku merasa bersalah karna secara tidak langsung, aku yang membuat Yuta berada di dalam pesawat itu.


Pagi harinya, aku, Mama, dan Papa, kami semua berangkat menuju ke rumah duka di kawasan Turi, Sleman. Banyak sekali pelayat yang hadir. Begitu juga dengan karangan bunga yang sudah berjejer di sepanjang jalan di sekitar rumah duka.


Kami segera masuk kedalam untuk menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga mendiang Yuta.


Langkahku terhenti di depan pintu. Disana, di dekat peti mati Yuta, Kuara sedang menangis sambil memeluki peti itu. Mengusap-usapnya lembut. Dia nampak sedang mengatakan sesuatu. Airmatanya terus meleleh. Sakit sekali hatiku melihatnya.


Aku tidak jadi melanjutkan masuk ke dalam. Aku berbalik dan keluar dari halaman rumah itu.


“Awan!” Sebuah panggilan membuatku menoleh. Nampak Mas Sota yang sedang berjalan menghampiriku.


Mas Sota adalah kakak mendiang Yuta yang kemarin ikut pergi ke Boston bersama dengan ayah dan ibunyanya.


“Mas.”


“Awan. Maaf kemarin saya tidak sempat mengucapkan terimakasih padamu. Saya mengucapkan terimakasih banyak karna sudah membantu mempercepat kepulangan kami. Kalau bukan karna kamu, mungkin sekarang kami masih tertahan di administrasi.”


Ah, hatiku semakin sakit. Mas Sota tidak tau kalau Yuta menggantikan tempatku.


“Tidak apa-apa, Mas. Saya yang harus minta maaf karna cuma bisa membantu seperti ini.”


“Tidak, tidak. Ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih banyak ya ,Awan.”


Aku bahkan tidak sanggup menjawab ucapan terimakasih itu. Aku gugup. Rasa bersalah semakin menggebu dan memukul-mukul dadaku.


“Kenapa tidak masuk?”


“Sudah tadi, Mas. Gantian sama yang lain.”


Tidak, tidak. Itu hanya alasanku semata. Aku tidak sanggup melihat Kuara yang terus menangis. Hatiku hancur melihatnya.


“Ya sudah kalau begitu. Terimakasih sekali lagi sudah hadir untuk mengantarkan adikku ke peristirahatannya yang terakhir.


Oh, ya tuhan. Dadaku sesak. Pandanganku mulai berkunang. Aku bahkan sudah tidak bisa mendengar dengan jelas saat Mas Sota pamit untuk pergi ke tempat lain.


Seketika tubuhku limbung dan jatuh terduduk di atas tanah.

__ADS_1


“Mas, kenapa? Masnya baik-baik saja?”


Aku hanya bisa mengangguk lemah. Kemudian aku duduk di kursi dengan bantuan seseorang yang bertanya tadi.


__ADS_2