Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 76. Menjadi Tidak Yakin Karna sebuah Prasangka.


__ADS_3

Kuara berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usapkan nkedua tangannya. Ia menghentikan langkah saat melewati dapur restoran. Ia mendengar suara Awan yang sedang berbincang dengan seseorang di dekat dapur.


Kaki Kuara otomatis melangkah mengendap-endap untuk mendengar lebih jelas. Ia berlindung di balik dinding. Benar, itu adalah suara Awan. Tapi siapa pemilik suara perempuan itu?


“Kau harus bertanggung jawab, Awan. Kalau tidak, aku benar-benar akan menuntutmu untuk menikahiku.”


Deg.


Seketika jantung Kuara serasa berhenti berdetak.


Pemilik suara wanita itu sedang meminta pertanggungjawaban dari Awan. Apa yang sudah Awan lakukan kepada wanita itu sehingga wanita itu berbicara seperti itu?


Berbagai fikiran buruk berkecamuk di dalam kepala Kuara. Ia mengira-ngira hal-hal buruk yang mungkin sudah di lakukan Awan kepada wanita itu.


Seketika, dadanya menjadi sesak. Ada amarah yang menderu dan memukul-nukul dadanya. Kepercayaannya kepada Awan runtuh seketika.


Benarkah Awan sudah melakukan sesuatu?


Tidak kuat berlama-lama berada di sana dan mendengarkan suara rengekan wanita itu, Kuara memilih untuk menyingkir dan kembali ke mejanya. Ia mencoba untuk menikmati makanannya kembali. Tapi, selera makannya sudah menguap entah kemana.


Apa ia cemburu?


Kuara tidak menampiknya. Ia memang cemburu saat memikirkan kalau sebuah kemungkinan terburuk, Awan sudah meniduri wanita itu. Fikiran yang terlintas di kepalanya itu membuat dadanya terus bergemuruh.


“Mbak, lihat itu.” Bisik Rini seraya menyenggol lengan Kuara. Rini menunjuk dengan kepalanya ke arah Awan yang sedang berjalan bersama dengan seorang wanita cantik.


Seketika kerut Kuara bertambah.


Mungkin wanita itulah pemilik suara perempuan yang ia dengar sedang menuntut sesuatu kepada Awan.


“Cantik.” Gumam Kuara tanpa sadar. Untung saja tidak ada yang mendengarnya.


Kuara tidak sanggup menatap ke arah Awan dan wanita itu. Ia hanya menundukkan kepala dan menikmati hatinya yang sedang terbakar api cemburu.


“Tolong perhatiannya semuanya. Disini, saya mau memperkenalkan chef sekaligus pemilik dari restoran ini. Dialah yang berada di balik makanan-makanan lezat yang sedang kalian santap itu. Kenalkan, ini Elya.”


Elya?


Kuara mengingat nama itu. Keysi pernah memberitahunya tentang orang bernama Elya. Keysi bilang, Elya adalah satu-satunya wanita yang dekat dengan Awan.


Ah, menyadari itu membuat perasaan Kuara semakin tidak enak. Dia cemburu tanpa sebab yang jelas.

__ADS_1


Kuara merasa tidak nyaman dengan prasangkanya sendiri. Apalagi, Elya nampak sesekali bergelayut manja kepada Awan.


Kuara hilang fokus. Ia sudah merasakan hatinya sedang tidak baik-baik saja berusaha untuk meredam kecemburuannya dengan meminum air putih. Namun karna konsentrasinya yang sudah terpecah, ia akhirnya malah menyenggol gelas itu dan menumpahkan seluruh isinya ke atas meja dan pangkuannya.


“Akh!” Pekik Kuara yang langsung berdiri dan menepis-nepis celananya. Seketika dia menjadi pusat perhatian di ruangan itu. Padahal sebelumnya mereka tengah memperhatikan selorohan Elya.


Mendengar Kuara berteriak, Awan langsung berlari mendekati Kuara.


“Ara, kau tidak apa-apa?” Tanya Awan panik dan membantu Kuara membersihkan tumpahan air di celananya menggunakan tisu.


Suasana restoran menjadi hening. Melihat kepada sejoli yang sedang sibuk sendiri itu.


“Kenapa?” Tanya Elya yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.


“Oh? Ehh, aku tidak sengaja menumpahkan air. Maaf karna sudah membuat mejanya basah.” Ujar Kuara kemudian.


“Tidak apa-apa. Tidak usah di fikirkan.” Jawab Elya santai.


“Awan, maaf, aku harus pulang lebih dulu.” Ujar Kuara yang langsung menyambar tasnya dan keluar tanpa berpamitan kepada rekan-rekannya.


“Ara!” Panggil Awan yang juga ikut menyusul Kuara.


“Hahahaha. Ya ampun. Ternyata ada sedikit gangguan. Ayo, silahkan kembali di nikmati. Kalau kalian butuh sesuatu, jangan sungkan memberitahu kami.” Ujar Elya kemudian. Ia mencoba memecah keheningan akibat ulah Awan dan kekasihnya tadi.


“Tidak perlu memikirkanku. Kau kembalilah ke dalam.” Pinta Kuara kembali.


Ada sesuatu yang ganjal. Kuara, tidak mau menatap Awan. dan itu membuat Awan yakin kalau Kuara sedang marah padanya. Membuat pria itu mengerutkan keningnya heran.


“Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu selama kau di kamar mandi?” Tebak Awan.


“Tidak. Tidak terjadi apa-apa.” Kuara berbohong. Padahal dia sedang sibuk dengan kecemburuannya saat ini. Bukannya bertanya, dia malah sesuka hati menyimpulkannya.


Kuara berbalik dan hendak meninggalkan Awan kembali. Namun Awan segera menarik dan menghentikannya.


“Kita pulang sama-sama.” Paksa Awan dengan terus menarik pelan tangan Kuara dan mempersilahkannya masuk ke dalam mobil.


Akhirnya, Kuara tidak punya pilihan lain selain menuruti Awan. Namun, ia masih diam saja bahkan saat Awan mulai melajukan mobilnya.


“Ara? Kau kenapa? Apa aku membuatmu salah tanpa sepengetahuanku? Aku merasa kau sedang marah padaku.”


Kuara diam. Hanya terdengar helaan nafasnya saja. Ia memandangi dan memutar-mutar cincin pemberian Awan yang melingkar di jari manisnya.

__ADS_1


“Ara?”


“Awan, apa kita harus melanjutkan rencana kita?”


“Apa maksudmu?”


“Aku menjadi tidak yakin untuk menerima lamaranmu.”


Ciiiit.


Awan yang mendengar kalimat mengejutkan itu langsung menghentikan mobilnya. Untung mereka sedang ada di jalanan yang sepi sehingga tidak ada mobil lain di belakangnya.


“Kau ini bicara apa? Apa maksudmu kau tidak bisa menerimaku?”


“Awan, jujurlah padaku, kau punya wanita lain selain aku, kan?”


Awan mengernyit. Ia sangat mengerti apa arti ucapan Kuara. Tapi ia tidak mengerti apa maksud Kuara menanyakan hal itu.


“Aku mendengar semuanya tadi. Maaf, aku tidak bermaksud menguping. Aku tidak sengaja mendengarnya.” Merasa sedih, air mata Kuara sudah menggenang di pelupuk matanya dan sudah siap tumpah bahkan hanya dengan gerakan kecil saja.


Sementara Awan, ia semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti. Tepatnya apa yang sudah Kuara dengar hingga dia marah padanya?


“Apa yang kau dengar?”


“Aku mendengar kalau gadis itu sedang meminta pertanggungjawaban darimu.”


Awan memutar bola matanya. Dia berusaha mengingat kejadian yang di maksud oleh Kuara. Setelah mengingatnya, Awan justru tertawa terbahak-bahak.


“Hahahahahahahahaha. Astaga. Ternyata kau mendengarnya?”


Melihat reaksi Awan, membuat Kuara marah dan kesal setengah mati.


“Ya ampun, Ra. Apa yang kamu fikirkan sampai kau marah begini? Elya memang meminta pertanggungjawabanku, tapi itu karna hal yang menyangkut dengan makan malam ini. Bukan mengenai hal yang lain.”


Kuara terdiam. Ia masih belum percaya dengan alasan Awan.


“Aku bilang padanya, kalau ada yang meminta sesuatu atau ada yang meminta makanan tambahan, Elya tidak boleh menolaknya. Karna aku yang akan membayar semuanya. Karna itulah Elya bilang kalau dia benar-benar akan meminta pertanggung jawabanku yang bersedia untuk membayar lebih.” Jelas Awan panjang lebar.


Namun, ternyata tidak mudah menghilangkah kecemburuan seorang Kuara. Gadis itu masih saja merengut dan menundukkan wajahnya.


“Ara, tidak akan ada wanita lain untukku. Selama sepuluh tahun ini, apa itu belum cukup menjadi bukti tentang kesungguhanku?” Lirih Awan yang memaksa Kuara untuk melihatnya.

__ADS_1


Pandangan Kuara menjadi sendu saat ia bersitatap dengan netra Awan. Ia memang menemukan kesungguhan di sana, tapi ia sudah terlanjur malu karna sudah salah faham dengan Awan dan Elya. Jadi, Kuara memilih untuk tetap diam saja.


__ADS_2