
“Apa jadwalku selanjutnya, Key?” Tanya Awan dengan masih sibuk dengan setumpuk dokumen di atas meja kerjanya.
“Ada rapat dengan Pak Ben, Pak.”
“Jam berapa?”
“Jam 7 malam ini.”
Awan terdiam. Ia hanya memandangi dokumen tanpa ekspresi. Memainkan pena di jemarinya.
“Batalkan.”
“Tapi kata Pak Ben itu rapat penting, Pak. Mengenai perusahaan yang ada di Boston.”
“Itu soal gampang. Aku ada acara makan malam penting nanti. Dan aku tidak mau melewatkannya. Ini adalah kesempatan besar untukku. Dan aku harus mendapatkannya.”
“Apa proyek ini bernilai trilyunan, Pak?”
“Lebih dari trilyun. Nilainya tidak setara dengan uang.”
Keysi nampak bingung. Ia tidak mengetahui jadwal bosnya itu kalau ada makan malam penting malam ini. Kalau Awan berkata tidak bisa di nilai dengan uang, berarti itu sangat-sangat penting. Gadis itu jadi bertanya-tanya, kenapa Awan tidak memberitahu hal sepenting itu padanya?
Untuk beberapa jam Awan berkutat pada dokumen. Ia bahkan tidak mengingat waktu.
Begitulah Awan. Kalau sudah fokus bekerja, dia akan mencurahkan seluruh perhatiannya pada pekerjaannya.
Tok, tok, tok.
“Masuk.”
“Pak, sudah jam 5. Apa Bapak tidak pulang? Bapak bilang ada makan malam penting.” Ujar Keysi yang hanya berdiri di pintu.
“Apa? Kenapa cepat sekali?” Awan melihat jam tangannya. Benar saja. Sudah jam 5 sore. Dan ia tidak ingin terlambat datang ke acara makan malam penting itu.
“Kau pulanglah dulu. Aku akan bawa mobil sendiri.” Titahnya kepada Keysi.
“Baik, Pak.” Keysi menurut saja. Ia melihat kepada Awan yang sedang membereskan dokumen di mejanya. Dan dengan segera Keysi membantu membawakan dokumen itu sampai ke mobil Awan.
Awan memutuskan untuk membawa sisa dokumen pulang ke rumah. Ia akan meninjau dokumen-dokumen itu nanti setelah makan malam.
__ADS_1
“Terimakasih, Key.” Ujar Awan. Ia segera masuk dan duduk di balik kemudi. Kemudian melajukan mobil. Meninggalkan Keysi yang masih setia menatapi mobil bosnya itu sampai menghilang dari basement. Setelah itu barulah Keysipun pergi untuk mencari taksi yang akan mengantarkannya pulang.
Di sepanjang jalan Awan mencari ide. Ia ingin membeli sesuatu. Tidak mungkin ia datang ke rumah Kuara dengan tangan kosong. Tapi ia masih belum menemukan hal yang menarik. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli sekeranjang besar buah-buahan.
Pukul 6 lewat sepuluh menit, Awan telah tiba di rumah. Ia hanya memarkirkan mobil di carport begitu saja. Lantas ia segera masuk dan mandi. Setelah berganti pakaian santai, ia bergegas pergi ke rumah Kuara.
Melihat pintu pagar rumah Kuara yang terbuka, membuat Awan langsung masuk saja. Kemudian ia mengetuk pintu rumah itu.
Tidak berapa lama kemudian Sindi membukakan pintu untuk Awan dan mempersilahkannya masuk.
“Ooh, Awan. Ibu fikir kamu tidak jadi datang. Sini, sini. Langsung duduk di meja makan saja.” Ajak Lisa ramah.
Awan hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia mengikuti instruksi Lisa dan ikut duduk di meja makan. Disana juga sudah ada Arya, ayah Kuara. Dan si kecil Micha yang sedang bergelayut manja di pangkuan sang kakek.
“Bu, ini ada sedikit oleh-oleh.” Ujar Awan memberikan keranjang buah kepada Sindi.
“Ya ampun, kenapa repot-repot segala.” Ujar Lisa merasa tidak enak hati sekaligus senang. Sudah lama ia tidak menjamu pria muda ke rumahnya. Karna sejak Kuara gagal menikah ke-empat kalinya empat tahun lalu, Kuara tidak lagi dekat dengan pria manapun. Dan karna itu tidak lagi ada yang datang ke rumah.
“Tidak apa-apa, Bu.” Ujar Awan yang mengambil duduk di dekat Arya.
Arya, pria paruh baya itu terus memperhatikan wajah Awan lekat-lekat. Ia seperti sedang mengingat-ingat, sepertinya ia pernah bertemu dengan Awan. Karna wajah Awan nampak tidak asing.
Sementara Arya sibuk mencari ingatannya yang hilang, Awan sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Mengedarkan pandangannya seolah sedang mencari sesuatu.
“Ara, mana, Bu?” Jujur Awan.
“Oh, Ara mungkin sedang mandi. Dia juga baru saja pulang tadi. Tunggu saja sebentar lagi dia juga turun.”
Dan benar saja, tidak lama setelahnya, Kuara turun. Rambutnya basah. Nampak jelas kalau dia baru selesai mandi. Aroma wangi sabun menyeruak di sekitarnya. Kuara mengambil duduk tepat di depan Awan.
“Hai.” Sapa Awan. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum pada Kuara.
Kuara membalas senyuman Awan. Ia juga tersenyum walaupun nampak dipaksakan. Nampak agak canggung sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. Ia melirik Awan sekilas kemudian melemparkan pandangan kepada Micha.
Makan malam itu berlangsung meriah. Walaupun hanya ada mereka saja, tapi Awan benar-benar membuat suasana menjadi lebih ramai. Ia banyak mengobrol tentang hari-harinya saat tinggal di Boston dulu.
“Jadi, kamu tinggal sendirian di sebelah?” Tanya Lisa.
“Iya, Bu.”
__ADS_1
“Terus Mama sama Papa?”
“Mama tinggal di rumah lama sama adik, Maiga dan Ben, suaminya. Ben itu teman yang tadi saya ceritakan. Kalau Papa, sudah meninggal tiga tahun lalu.”
Setelah mendengar penjelasan Awan, semua orang kompak melihat padanya. Ada tatapan pias dari mereka untuk Awan. Dan Lisa merasa menyesal telah menanyakan itu.
“Ya ampun. Ibu minta maaf. Ibu tidak tau.”
“Tidak apa-apa, Bu. Kami semua sudah ikhlas.”
Kuara sama sekali tidak ikut dalam pembicaraan. Dia menjadi pendengar dan pemerhati saja. Soalnya tidak tau harus membahas apa saat ada orang tuanya bersama mereka.
“Saya pindah ke sebelah cuma biar dekat dengan Ara saja, Bu.”
Deg.
Kalimat itu mampu membuat Kuara mengalihkan pandangannya dari piring dan menatap Awan.
“Dekat denganku?” Gumamnya tanpa sadar.
“Hem. Kau tau aku sangat suka dekat-dekat denganmu. Hahahahha.”
Kuara hanya mencebikkan bibir saja menanggapi selorohan Awan itu.
“Waaahhh. Ibu senang kamu pindah ke sini. Tolong jangan segan-segan ya, Awan. Kalau butuh sesuatu, atau kalau kamu ingin makan sesuatu, langsung bilang sama Ibu. Ibu akan buatkan untukmu.” Tawar Lisa dengan senang hati.
“Jangan sungkan-sungkan juga main kemari. Rumah ini selalu terbuka untuk kamu.” Arya menimpali.
“Baik, Pak, Bu. Saya akan mengingatnya.” Jawab Awan dengan sumringah. Ia melemparkan senyuman kepada Kuara yang menatapnya jengah.
“Bunda, malam ini Micha tidur dengan Bunda ya.” Ijin Micha memecah kesenangan Awan menatapi wajah Kuara.
“Oke.” Jawab Kuara.
Dan Micha tertawa dengan girangnya setelah mendapat ijin itu.
“Micha sini duduk sama Oom.” Awan mencoba merayu si kecil Micha. Ia ingin terlihat akrab agar Kuara tertarik. Namun di luar dugaan, Micha malah melengos dan mencibir kepada Awan. Membuat semua orang langsung tertawa melihat tingkah lucunya.
Terlebih Kuara. Nampaknya dia puas sekali melihat penolakan kecil itu.
__ADS_1