
Suasana makan malam keluarga yang hangat. Kuara benar-benar merasa di terima oleh keluarga Awan. Ia jadi tidak merasa canggung berada di antara mereka.
“Maaf ya Ara, kalau makanannya tidak sesuai dengan selera kamu.” Ujar Radina di sela makan malam mereka.
“Tidak, Ma. Makanannya enak semua.”
Selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil menghabiskan waktu dengan menonton TV. Berkali-kali Kuara melirik ke arah Ben yang selalu menempeli istrinya, Maiga. Ia terus menggoda Maiga dengan mesra.
“Sudah berapa bulan, Mai?” Tanya Kuara kepada Maiga. Ia merujuk kepada usia kehamilan Maiga.
“7 bulan, Mbak.”
“Waah. Tidak lama lagi melahirkan ya. Semoga lancar prosesnyananti.”
“Terimakasih, Mbak. Mbak Ara juga cepat menyusul. Biar anakku ada temannya.”
“Hehehehe.” Kuara tidak berani menjawab. Ia hanya menoleh kepada Awan yang sedang sibuk dengan ponselnya di sampingnya.
Awan tersenyum samar. Walaupun pandangannya fokus ke layar ponsel, pendengarannya tetap mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
“Terimakasih ya, Ara. Sudah mau menerima putra Mama.” Ujar Radina. Mengarahkan pembicaraan kepada hal yang serius.
“Tidak, Ma. Ara yang berterimakasih. Berkat Awan, Ara sudah terbebas dari prasangka buruk. Terimakasih Mama sudah merestui kami.”
“Tentu, sayang. Kamu gadis yang baik. Sayang sekali banyak prasangka buruk yang di tujukan padamu. Mulai sekarang, jangan di fikirkan lagi. Fokus saja dengan suamimu dan rumah tanggamu. Lama-lama, prasangka itu akan menghilang dengan sendirinya. Mama berharap, kalian akan bahagia sampai tua.”
Mata Kuara berkaca-kaca. Ia hampir saja menangis. Tangis bahagia. Ia sangat bahagia di terima dengan tangan terbuka oleh keluarga suaminya.
“Terimakasih, Ma.”
Radina nampak menyeka airmata di ujung matanya. Ia mengedip-ngedipkan matanya dan menolehkan wajah ke arah TV.
“Kenapa suasananya jadi serius begini?” Tanya Awan tiba-tiba.
“Mas tidak dengar? Cepat beri aku kepokanan. Agar bisa bermain dengan anakku nanti.” Seloroh Maiga.
“Sabar. Prosesnya saja belum. Kami baru menikah tadi siang, Mai. Apa kau lupa?” Dengus Awan.
“Hahahahahahah.”
Semua orang menertawakan kekesalan Awan. Wajahnya lucu sekali. Sementara wajah Kuara sudah merona malu dengan pembahasan itu.
“Ara, ayo. Kita keluar saja. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Ajak Awan. Ia berdiri dari duduknya dan di ikuti oleh Kuara.
Mereka berdua berjalan ke arah garasi rumah. Sesampainya di sana, Awan mengajaknya ke arah pojok garasi. Disana, ia membuka penutup sepeda motornya.
__ADS_1
“Wahh. Motor ini....” Kuara takjub.
Itu adalah motor Awan dulu. Dan kondisinya masih sama. Sepertinya dirawat dengan baik oleh Awan.
“Mau jalan-jalan sebentar?” Tawar Awan kembali.
Kuara segera menganggukkan kepalanya dengan antusias. Disambut oleh senyuman dari Awan.
Awan meraih dua helm yang ada di rak dekat sepeda motornya. Ia mengenakan helm pada istrinya lalu dirinya.
“Ayo.”
Kuara segera bertengger ke jok belakang. Sebelum motor melaju, ia sudah melingkarkan tangannya di pinggang Awan tanpa di minta.
Sekarang, tidak ada lagi jarak yang mengharuskan mereka untuk menjaga kemesraan. Kuara sempurna menempel di punggung suaminya. Ia mengeratkan pelukan seolah sedang berbagi kehangatan untuk mengusir angin malam.
Sementara Awan, sudah full senyum di balik helmnya. Ia memegangi tangan istrinya yang ada di perutnya dengan tangan kirinya. Mengelus-elusnya dengan lembut.
“Kita mau kemana?” Tanya Awan.
“Terserah. Aku hanya ingin seperti ini saja.” Ujar Kuara yang semakin mengeratkan pelukannya.
Ciiittt.
“Hehehehe. Tidak. Aku hanya ingin kau lebih erat memelukku.” Santai Awan. Ia kembali melajukan sepeda motornya pelan.
Kuara berfikir, ini seperti dejavu. Ia pernah mengalami hal ini dulu. Ya, waktu mereka pergi ke Sendratari di Prambanan. Awan melakukan hal yang sama.
“Jujurlah padaku. Dulu kau pernah melakukan ini. Apa itu benar-benar ketidak sengajaan?” Selidik Kuara untuk menuntaskan rasa penasarannya.
“Apa kau percaya kalau aku tidak sengaja?”
“Ish. Dasar.” Dengus Kuara.
“Hahahahahaha.”
“Malam ini, kita tidur di rumah mama saja, ya? Sepertinya mama sangat senang dengan keberadaanmu.” Pinta Awan.
“Iya. Aku juga berencana begitu.”
Satu jam mereka berkeliling, barulah Kuara mengajak pulang. Ia merasa lelah setelah hari yang mengejutkan ini.
Sesampainya di rumah, ternyata sudah sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sepertinya para penghuni sudah tidur.
“Kok sudah sepi?” Bisik Kuara kepada Awan yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
“Jam segini Mama biasanya sudah tidur.”
Kuara mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. Rasa ragu kembali menelusupi hatinya saat pintu kamar Awan terbuka. Ada perasaan yang entah.
“Masuklah. Kenapa sungkan begitu?” Tanya Awan. Ia hendak masuk ke dalam kamar mandi.
“Aku lupa tidak membawa piyama tidur.”
“Tidak apa-apa. Kau bisa pakai piyama milikku.” Awan tidak jadi masuk ke kamar mandi dan malah mengambil piyama dari dalam lemari. Kemudian ia memberikannya kepada Kuara.
Kuara nampak ragu. Namun ia segera masuk ke dalam kamar mandi mendahului Awan. Saat keluar, ia sudah siap dengan piyama tidur milik Awan. Walaupun sedikit kebesaran, namun rasanya nyaman. Senyaman ia mengenakan miliknya sendiri. Hal yang tidak pernah ia rasakan saat meminjam pakaian Fio sekalipun.
Kuara melihat Awan yang sudah siap dengan piyamanya. Pria itu sedang duduk bersandar di dipan dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
“Sudah? Sini.” Ajak Awan menepuki ranjang di sebelahnya.
Fikian Kuara menolak dengan tegas. Tapi hati dan kakinya seperti sedang bekerja sama. Langkah kakinya terus berjalan ke arah ranjang dan kemudian duduk dan memasukkan kakinya ke dalam selimut.
Tidak berani berdekatan dengan Awan, Kuara memilih duduk di pinggir sekali.
“Kenapa jauh-jauh. Sini.” Awan meminta dengan tatapan tegasnya.
Dengan malu-malu dan menghela nafas untuk menenangkan degup jantungnya, Kuara menuruti Awan. Perlahan, ia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan suaminya.
Awan tersenyum. Ia menepuk dadanya. Untuk meminta Kuara agar merebahkan kepalanya di sana.
Kuara seperti tersihir. Tubuhnya mengikuti apapun instruksi yang di minta oleh suaminya itu. Ia semakin mendekatkan diri dan kemudian merebahkan kepalanya di dada Awan.
Awan mendekap tubuh istrinya itu dengan erat. Sesekali ia mengelusi pundak Kuara dan melayangkan beberapa kecupan di kepala wanitanya.
Dekapan itu mampu meluluhkan sisa rasa canggung yang mendekam di hati Kuara. Perlahan, ia melingkarkan tangannya di perut Awan dan berusaha untuk menjemput mimpi.
“Sayang? Sudah tidur?” Bisik Awan. Ia juga sudah mengantuk.
Tidak mendapati tanggapan dari sang istri, ia kemudian perlahan merebahkan diri. Membenahi posisi Kuara.
Mendapat gangguan kecil itu, Kuara hanya melenguh kemudian mengubah posisinya membelakangi Awan.
Sebenarnya, gairah Awan sudah hampir meledak saat ini. Apalagi melihat pinggung istrinya yang sedikit terbuka itu. Awan sampai menelan salivanya dengan susah payah. Ia juga berusaha untuk terpejam. Melingkarkan tangannya dan memeluk istrinya dengan sangat erat. Tapi bukan hanya melingkar, tangannya bergerak ke sebuah titik yang pasti akan membuatnya candu.
maaf yah warga. di skip. hehehehe. beneran dah. aku tuh gak pinter bikin adegan ***-***. takut jadinya aneh gimaanaaa gitu.
__ADS_1