Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 7.


__ADS_3

Hari semakin gelap. Dan Awan terus melajukan sepeda motornya menuju ke arah timur kota Jogja. Menyalip beberapa kendaraan. Sepertinya dia sedang mengejar sesuatu. Aku penasaran sebenarnya apa yang ingin dia tunjukkan padaku?


Sebelum perempatan Candi Prambanan, Awan membelokkan sepeda motornya ke arah kiri dan berhenti tidak lama kemudian.


Aku segera turun dari motor dan melepas helmku. Udara dingin yang sejak tadi kutahan membuat pori-pori di tanganku menyeruak. Jari-jariku juga terasa membeku karna memeluk Awan di sepanjang perjalanan tadi.


Aku berusaha menghangatkan jemariku dengan saling menggesekkan kedua tanganku. Berharap itu akan menghentikan serbuan kebekuan di jari-jemariku.


“Dingin?” Tanya Awan yang ternyata memperhatikanku.


Aku jujur dan menganggukkan kepala.


Rasanya nyawaku tercekat di ubun-ubun saat Awan tiba-tiba menangkupkan tangan di kedua pipi. Bukan apa, tangannya juga terasa sangat dingin. Tapi anehnya, ada perasaan hangat yang mengalir ke hatiku. Apa ini?


Kemudian Awan beralih menangkup kedua tanganku yang masih terkait satu sama lain. Ia juga ikut menggosok-gosokkan tangannya untuk membuatku hangat.


“Apa aku terlalu kencang membawa motor?” Tanya Awan. Aku menangkap guratan rasa bersalah dari matanya.


Aku menggeleng. Entah kenapa suaraku tidak mau keluar. Aku takut Awan mendengar nadaku yang bergetar karna perlakuan manisnya itu.


Setelah tanganku lumayan menghangat, aku menarik diri dari Awan. Situasiku bisa bahaya kalau berlama-lama seperti itu.


“Kenapa kita kesini?” Tanyaku.


“Aku ingin mengajakmu melihat sesuatu.” Awan menunjuk ke arah poster besar yang terpampang di depan kami.


SENDRATARI RAMAYANA.


Dia ingin mengajakku menonton pertunjukan Ramayana?


“Awan!” Pekik suara pria dari arah depan kami. Pria berkumis itu lantas berlari kecil mendekati kami.


“Mas...” Sapa Awan.


“Kau sudah datang? Ayo, masuk. Tunggu di dalam saja.” Ujar pria itu lagi.


“Apa masih lama mulainya? Kami mau makan dulu.”


“Satu jam setengah lagi.” Ujar pria berkumis itu.


Awan nampak menganggukkan kepala dan tersenyum. “Kalau begitu, nanti kami kembali lagi kesini.”


“Oke.” Lantas pria berkumis itu kembali pergi dari hadapan kami.


“Siapa?” Tanyaku.


“Sepupu. Kita makan dulu. Kau mau makan apa?”


“Yang simple saja. Magelangan.”

__ADS_1


Awan langsung setuju dengan keinginanku. Lantas kamipun mulai berjalan ke arah penjual nasi goreng yang berada sekitar seratus meter dari Sendratari. Sesampainya disana, Awan memesan dua porsi magelangan dan dua minuman jeruk hangat. Setelah itu, kami duduk di salah satu tikar lesehan di bawah pohon kersen yang di hias oleh lampu warna-warni yang berkerlap kerlip.


“Kau tidak ingin memesan sesuatu yang lain?”


Aku menggeleng.


“Masih dingin?”


Aku kembali menggeleng.


“Kamu ini kenapa? Tidak biasanya diam seperti itu.”


Dan aku hanya bisa tersenyum. Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan itu sedangkan jawabannya membuatku malu?


Malu?


Ya, aku malu dengan Awan. Perhatian-perhatian kecil darinya membuatku senang sampai kehabisan kata-kata.


Dua porsi magelangan sudah tersaji di hadapan kami setelah menunggu beberapa menit. Aroma gurih langsung manyeruak membuat lambung meronta. Aku segera memulai suapan pertamaku.


“Kau punya pacar?” Sebuah pertanyaan hampir membuatku tersedak.


Kebiasaan buruk Awan, dia selalu mengejutkanku saat aku sedang mengunyah makanan.


“Tidak ada.” Jawabku yang mencoba mengusai situasi kembali sebaik mungkin.


“Kenapa?”


“Tidak ada yang mau, atau tidak ada yang kamu suka?” Tebak Awan lagi.


“Bukan keduanya.”


“Maksudmu, tidak ada yang mau denganmu dan tidak ada yang kamu suka?”


“Astaga Awan. Bolehkan aku memukulmu sekali saja? Hem?” Aku geram setengah mati. Dia pura-pura tidak mengerti ucapanku padahal dia sangat mengerti. Aku tau itu dari kekehan menggodanya.


“Hahahahahahaha. Jadi kenapa? Jawab yang jelas.”


“Aku ingin fokus dengan studyku. Jawabku.”


“Buuhh.” Awan tersedak. Apa karna jawabanku? Aku menoleh heran padanya.


“Kenapa?”


“Kau ini hidup di abad berapa? Kita hidup di abad 21 dimana belajar bisa bersanding mesra dengan kesenangan. Kau bisa fokus study, dan kau juga bisa berpacaran untuk bersenang-senang. Jangan terlalu fokus. Otakmu bisa meledak.”


“Ada beberapa orang yang sepertiku, Awan. Mementingkan study dan pendidikan di atas kesenangan.” Aku merasa tersinggung dengan selorohan Awan barusan. “Kami tidak pernah mensejajarkan keduanya.”


“Tapi aku baru menemukan satu yang seperti ini. Ternyata kau cukup berambisi juga. Apa cita-citamu?”

__ADS_1


“Dosen. Aku ingin mengajarkan sejarah kepada para mahasiswaku nanti.”


Aku sedang kesal. Seolah aku tidak pernah punya kesempatan untuk mengulik pribadi Awan dan mengorek informasi mendetail tentangnya. Dan malah aku yang selalu menceritakan sisiku padanya.


“Jadi, kalaupun aku mengatakan kalau aku menyukaimu, apa kau akan menolaknya mentah-mentah?”


Ah, hal yang sebenarnya selalu terlintas di benakku belakangan ini tentang ujung muara dari pertemanan kami.


“Aku tidak akan meminta maaf padamu. Tapi aku harus konsisten dengan tujuan dan komitmenku. Apa kau kecewa?”


Aku menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.


“Tidak terlalu. Karna sebenarnya aku juga belum yakin dengan perasaanku. Aku akan mengatakannya lagi nanti saat aku sudah yakin.”


Dan lagi, aku terkecoh dengan situasinya. Pria itu, benar-benar sukses membuatku malu.


“Berapa banyak pria yang sakit hati karna komitmenmu itu, Ara?”


Entahlah. Aku tidak tau. Yang jelas, sebanyak yang pernah mengutarakan perasaan padaku. Mungkin sekitar tiga, atau empat? Oh ya, ada Yuta juga.


“Apa aku jahat karna ingin berkomitmen dengan tujuanku?” Aku menjadi rendah diri karna pertanyaan Awan.


“Aku tidak bermaksud merendahkanmu. Jujur aku malah semakin kagum padamu. Aku tidak pernah menjumpai gadis milenial yang seperti ini.”


“Seperti ini?”


“Aku suka kau fokus pada tujuanmu.”


“Kata-katamu itu membuatku merasa seolah aku ini sombong. Seolah-olah fokus pada study bukanlah sesuatu yang harus ku lakukan.”


“Maaf kalau aku membuatmu merasa seperti itu. Aku yakin kau pasti punya alasan kuat dan aku tidak berhak mendoktrin tentang masa depanmu. Lakukan apapun yang kau suka. Sementara aku memantapkan perasaanku.”


Ah, ada perasaan berat yang bergelayut di dadaku. Rasanya sangat berbeda saat aku harus menolak Yuta. Kali ini, seperti ada sisiku yang tidak terima dengan keputusanku sendiri. Rasanya ada bagian dari diriku yang tidak menyukai komitmen yang sudah ku buat. Baru kali ini ada sisi memberontak dalam hatiku.


Awan benar-benar sudah membuatku goyah. Dan aku tidak suka itu.


Baru kali ini ada pria yang mampu mengusik komitmenku tentang rencana masa depanku. Aku bahkan tidak sanggup mengakui kalau aku mulai menyukai Awan.


“Acaranya sudah hampir di mulai.” Ujar Awan yang langsung berdiri dari duduknya. “Ayo.”


Aku setuju. Aku butuh pelarian dari situasi membingungkan ini. Lantas akupun segera mengikuti Awan di belakangnya. Kali ini, dia yang membayar makanan kami.


Sepanjang jalan kembali ke Sendratari, Awan hanya terdiam saja. Entah apa yang sedang di fikirkannya. Raut wajahnya nampak serius ditengah terpaan cahaya temaram lampu jalanan.


*


yo, warga! jangan lupa komennya, likenya juga. terus rate bintang limanya yaaa.. yang mau follow igku, boleh.


@ini_piel

__ADS_1


tapi maaf, di ig belum ada apa-apanya. baru buat soalnya. hahaha.


__ADS_2