
Setelah mengantarkan Kuara pulang, Awan kembali melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya. Karna ibunya juga belum sehat benar, jadi dia memutuskan untuk menginap disana selama beberapa malam.
Setelah sampai, ia segera memasukkan mobil ke alam garasi lalu masuk untuk melihat keadaan ibunya.
Keadaan rumah sudah sepi. Sepertinya Maiga juga sudah tidur.
Awan membuka pintu kamar sang ibu dengan sangat perlahan. Ia melongokkan kepalanya untuk melihat situasi. Ia baru masuk setelah melihat ibunya yang ternyata belum tidur dan sedang duduk termangu di ranjang.
“Kenapa Mama belum tidur?”
“Mama memunggumu. Kau dari mana saja?”
“Aku dari luar.”
“Apa kau bertemu dengan Kuara?” Tebak Radina.
Awan tidak ingin menutupi. Jadi ia menganggukkan kepala.
“Nak,,,”
“Ma, ada sesuatu yang ingin ku beritahu pada Mama. Aku, berencana untuk menikahi Kuara.”
Mendengar itu, tentu saja hati Radina menjadi sakit. Ia kecewa karna sepertinya putranya itu tidak mengerti akan ketakutannya.
“Tapi, Nak. Apa kamu tidak takut? Mama takut terjadi sesuatu kepadamu.”
“Ma, seperti yang ku katakan tadi. Tidak ada yang namanya kutukan atau hal-hal seperti itu. Aku merasa, semua ini terjadi karna doa-doaku.”
Mendengar itu Radina jadi mengerutkan keningnya.
“Apa maksudmu, Nak?”
“Aku jadi berfikir, selama ini, aku yang selalu berdoa agar Kuara tidak berjodoh dengan siapapun selain aku. Mungkin sudah ribuan doa yang ku panjatkan dan itu adalah doa yang sama. Aku tidak ingin Kuara menikah dengan pria selain aku. Mungkin akulah yang sudah mengutuk Kuara. Mungkin karna doakulah Kuara jadi seperti ini.”
Radina terhenyak. Ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu. Tidak, bahkan hal itu sama sekali tidak terbersit sedikitpun dalam kepalanya.
“Apa selama ini kau memnag selalu mengharapkannya?”
__ADS_1
Awan menganguk. “Tidak pernah sedetikpun aku melepaskannya dari hatiku, Ma. Aku sangat mencintai Kuara. Aku ingin menikahinya.”
Buliran air mata sudah menumpuk di kelopak mata Radina. Membentuk sebuah bendungan yang sudah siap tumpah kapan saja. Tapi, ia berusaha untuk menahan diri.
“Lantas bagaimana dengan Kuara?” Radina bertanya karna ia berfikir kalau putranya itu pasti sudah berbicara kepada Kuara. Setidaknya tentang perasaannya.
“Sebenarnya dia juga berfikiran sama seperti Mama. Dia takut kalau rumor itu benar adanya. Tapi aku berhasil meyakinkannya. Dia sudah menerima keputusanku. Kini tinggal Mama. Aku berharap, Mama mau merestui keinginanku untuk menikahi Kuara. Aku sangat mencintainya, Ma. Hanya ada nama Kuara di hatiku. Aku benar-benar sangat mencintainya.”
Awan berusaha meyakinkan ibunya akan perasaannya terhadap Kuara. Kalau ia hanya menginginkan Kuara untuk menjadi istrinya.
“Tapi, Nak... Mama...”
“Aku akan membuktikan kalau kutukan itu tidak ada. Dan aku akan menikahinya dan hidup bahagia bersamanya.”
Dari tatapan Awan, Radina tau kalau cinta putranya itu sangatlah besar. Hatinya luluh saat melihat kilatan ketulusan itu. Perlahan, hatinya memilih untuk mempercayai putranya.
“Baiklah, kalau kau memang sudah membulatkan tekadmu. Mama akan mendukungmu. Beritahu Mama kapanpun kau siap melamarnya.”
Airmata yang hampir saja tumpah, kini hanya bisa terhenti di sudut mata Radina. Kesedihan dan ketakutan di hatinya, telah tergantikan rasa percaya yang utuh kepada putra semata wayangnya itu. Ia membelai wajah tampan putranya kemudian mengembangkan senyuman.
“Terimakasih, Ma. Terimakasih. Aku menyayangi Mama.” Bisik Awan di bahu Radina.
Hati Awan sudah benar-benar lega. Tidak ada sedikitpun lagi kekhawatiran apapun di sana. Semua beban itu sudah terangkat dan menghilang dari dadanya.
Pertama, ia sudah meminta maaf kepada Kuara perihal meninggalnya Yuta. Yang ternyata Kuara sudah tau tentang itu. Kedua, ia sudah berhasil meyakinkan Kuara dan membujuk gadis itu untuk menerima perasaannya. Dan ketiga, ia juga sudah mendapatkan restu dari sang ibu untuk menikahi pujaan hatinya, Intan Kuara.
Dan rencananya yang ke empat, rencana yang belum terealisasikan, ia akan menikahi gadis itu dalam waktu dekat. Sebelumnya, dia masih harus mendapatkan ijin dari kedua orangtua Kuara terlebih dahulu. Ia akan melamar gadis itu setelah pameran ini selesai.
“Mama juga menyayangimu, Nak. Mama berharap, semoga setelah ini tidak ada lagi yang melintangi keinginanmu untuk berbahagia bersamanya.” Tulus Radina.~~~~
Awan melepaskan pelukannya dari ibunya. Kemudian ia mempersembahkan sebuah senyuman lega kepada sang ibu. Radina bisa merasakan betapa putranya itu sedang merasa bahagia saat ini.
“Mama tidurlah.” Ujar Awan.
Mendapat permintaan itu, Radina membaringkan diri kemudian Awan membantu menyelimutinya.
Awan menunggu dan tetap berada di kamar ibunya sampai ibunya tertidur lelap. Baru setelah ia memastikan kalau ibunya sudah tidur, Awan keluar dan menutup pintu dengan hati-hati. Ia tidak ingin membangunkan ibunya.
__ADS_1
Awan masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang. Ia merogoh ponselnya untuk memeriksa. Dan ternyata dia mendapatkan sebuah pesan dari nomor Kuara.
‘Sudah sampai rumah?’
Langsung saja Awan tersenyum dengan bahagianya. Ia kemudian duduk dan bersila di atas ranjang sambil membalas pesan dari Kuara.
‘Maaf, aku tidak tau kau mengirimkan pesan. Sudah sampai rumah. Kau sedang apa? Kenapa belum tidur?’
Lumayan lama Kuara membalas. Membuat Awan harap-harap cemas menunggunya.
‘Aku tidak bisa tidur.’
Membaca kalimat itu, langsung saja Awan menghubungi Kuara dengan panggilan video.
Tidak berapa lama, Kuara mengangkat telfonnya.
“Hai?” Sapa Kuara dari seberang.
Melihat wajah Kuara membuat sebuah rindu kembali membuncah di hati Awan. Baru beberapa saat yang lalu mereka bertemu, tapi Awan sudah sangat merindukannya.
“Astaga, Ara. Apa kau memang selalu secantik ini?” Keluh Awan mengerutkan keningnya. Rasanya ia tidak sanggup dan ingin segera memeluk gadis itu.
“Apa kau memang semahir ini dalam merayu seorang gadis?” Balas Kuara. Padahal, jantungnya juga sedang berdisko ria. Bahkan sebelum mengangkat telfon Awan tadi, ia sempat merapikan rambut dan memastikan wajahnya baik-baik saja. Memasang angle paling sempurna yang terlihat di kamera.
“Hahahaha. Mana mungkin. Aku tidak pernah merayu wanita lain. Aku bersumpah akan hal itu.”
“Tidak mungkin. Kau berkata begitu seolah ingin menyangkal kebenaran.”
“Hei. Enak saja. Aku hanya berani merayumu. Kau satu-satunya wanita yang ingin ku rayu. Tidak ada yang lain.”
Sudah, hati Kuara sudah tak terbilang lagi keadaannya. Blingsatan tak karuan. Ia merasa seperti jutaan kupu-kupu sedang memenuhi kamarnya saat ini. Sesak, tapi juga terasa indah dan membahagiakan.
“Kenapa kau tidak bisa tidur? Apa kau sudah merindukanku? Astaga, Ara. Kita baru bertemu beberapa saat yang lalu.” Ujar Awan.
Ia menuduh Kuara, padahal, ia sendiri yang merasa seperti itu. Ia sudah merindukan Kuara bahkan semakin merindukannya setelah melihat wajah dan mendengar suaranya di ponsel.
Lama sekali mereka bertelfon. Bercerita ini-itu sampai Kuara tertidur dengan ponsel yang masih mengarah ke wajahnya. Dan Awan, tetap membiarkan panggilan itu berlangsung bahkan setelah ia sendiri terlelap.
__ADS_1