
Sejak pagi sampai siang ini, aku di bantu oleh Bi Sarni membereskan pakaianku. Rencana tidak membawa banyak barang, ternyata 3 koper terisi penuh juga.
Sambil membereskan pakaian, aku sembari berfikir untuk menemui Kuara sore ini.
Langit mendung sedang menghiasai langit kota Jogja. Aku memacu sepeda motorku menuju ke perpustakaan kampus Halim. Perasaanku, Kuara sedang ada disana. Aku sengaja tidak menghubunginya lebih dulu untuk menguji keberuntunganku. Lagipula, aku takut menjadi tidak tega kalau aku menelfonnya lebih dulu.
Dan ternyata keberuntunganku masih terisi penuh. Aku melihat Kuara sedang fokus di depan layar laptop di meja di di lantai dua.
Hampir sepuluh menit aku hanya memandanginya saja dari balik rak buku. Merasakan hatiku yang mencelos seperti tertimpa batu.
Namun kemudian aku memaksa kakiku untuk melangkah menghampirinya. Dia langsung sumringah dengan senyum lebarnya saat melihatku.
“Oh? Awan.”
“Sudah ku duga kau ada disini?”
Aku mengajak Kuara untuk keluar makan malam. Dia tidak keberatan saat kubilang ada yang ingin ku bicarakan.
Namun sesampainya di restoran, aku masih bimbang tentang bagaimana caraku menyampaikan hal ini padanya. Entah apa yang membuatku ragu untuk bersuara.
“Kau ingin bicara apa?”
Mungkin karna aku sudah terlalu lama terdiam, jadilah Kuara bertanya lebih dulu.
“Kita makan dulu.” Aku masih ingin mengulur waktu.
“Apa aku melakukan kesalahan?”
“Kenapa kau bertanya begitu?” Aku terkejut dia bertanya begitu.
“Karna sejak tadi kau hanya diam saja. Kamu bilang ingin mengatakan sesuatu tapi kau tak kunjung mengatakannya.”
Aku menatapnya pias. Menahan hatiku yang mulai terasa perih. Debaran menyenangkan itu berubah menjadi debaran ragu. Aku menghela nafas untuk menetralisir keraguan itu.
“Ara?” Jantungku berdetak semakin cepat.
__ADS_1
“Apa? Katakan saja. Aku mendengarkan.” Dia memajukan wajahnya dan melihat serius padaku.
“Besok aku akan pergi.”
“Kemana?”
“Boston. Besok malam.”
Kuara terdiam. Tatapannya berubah. Begitu juga dengan raut wajahnya. Aku bisa menangkap guratan kesedihan di netranya.
“Apa aku egois kalau memintamu untuk menungguku kembali?”
Kami saling menatap dalam. Dadaku sudah hampir meledak karna tatapan itu.
“Em. Kau egois kalau kau memintaku menunggu.”
Rasanya jantungku sudah hampir melompat dari dada. Aku seperti bisa mendengar suara degup jantungku sendiri yang sedang menunggu kalimat selanjutnya dari Kuara.
“Awan. Aku tidak akan menunggumu. Aku akan menjalani jalan yang sudah ada di hadapanku. Aku tidak ingin menyiksa diriku dengan menunggumu. Dan kau, kau juga harus menjalani jalanmu sendiri. Dan akan kita lihat, apakah waktu berkenan untuk memberikan ruang kepada kita lagi. Mari jangan saling berharap satu sama lain. Biarkan kenangan ini berujung sampai disini.”
Aku merasa jantungku sudah melorot dan jatuh ke lantai. Aku tidak bisa mendengar degupannya lagi. Ujung jariku gemetar. Karna takut ketahuan Kuara, aku menariknya dan menyimpannya di atas paha.
Aku kecewa atas harapanku sendiri. Aku kira Kuara akan bersedia menungguku walaupun dalam waktu yang sangat lama. Ternyata, perasaannya tak sedalam perkiraanku.
Bagaimana bisa dengan santainya dia berkata begitu? Apa aku masih belum bisa mengalahkan komitmennya?
“Heheheh. Maaf kalau begitu. Aku masih belum sadar kalau kita tidak dalam ikatan apapun. Ya, kau benar. Aku tidak punya hak untuk memintamu menunggu. Aku akan meralat ucapanku. Jangan tunggu aku.”
Aku memaksa bibirku untuk tersenyum. Aku tidak ingin meninggalkan kesan menyedihkan untuk Kuara sebelum aku pergi.
“Kalau begitu, bisa kau habiskan waktu malam ini bersamaku? Ayo kita jalan-jalan sampai puas.”
“Oke.”
Aku kembali kesal saat dia meng-iyakan tanpa berfikir.
__ADS_1
Ah, ritik kembali turun. Aku tidak peduli karna datangnya jarang-jarang. Sebagian besar kebersamaan kami di hiasi dengan hujan. Satu hal yang tidak ku sukai. Dan kini, aku akan menyukainya karna terselip secuil kenangan tentang Kuara.
Hatiku semakin perih saat Kuara memelukku dari belakang. Aku mencengkeram pedal gas kuat-kuat agar tanganku tidak terlepas akibat gemetar.
Kami sudah sampai di Alun-Alun Kidul. Gerimis kecil sudah menjadi hujan yang lumayan deras. Aku mengajak Kuara untuk berteduh di salah satu tenda penjual makanan.
Fikiranku sedang melayang. Hatiku sedang sibuk meratapi rasa sakit yang timbul akibat ucapan Kuara. Karna itu, aku hanya bisa diam saja. Menatapi rintik hujan yang temaram akibat terpaan lampu taman.
“awan, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tau aku telah menyakiti hatimu. Aku tidak akan mencari pembenaran atas ucapanku tadi. Aku hanya tidak ingin tersiksa dalam penantian yang tidak pasti.”
Aku menoleh padanya. Ucapannya terdengar datar. Tapi aku seperti bisa melihat genangan airmata di pelupuknya. Apa aku salah lihat? Ah, mungkin itu tetesan hujan yang jatuh di wajahnya.
Tidak mungkin Kuara bersedih atas kepergianku. Tadi dengan tegasnya dia berkata begitu. Jadi tidak mungkin dia sedih.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti situasimu. Maaf aku yang sudah egois memintamu menungguku padahal kita tidak ada hubungan apa-apa. Aku sudah melewati batas.”
“Aku minta maaf juga karna tidak bisa membalas perasaanmu. Aku benar-benar minta maaf.”
“Sudahlah, kurasa kita tidak perlu saling meminta maaf. Ini aneh.”
Suasana menjadi aneh saat kami saling meminta maaf. Padahal jelas tidak ada yang salah dengan perasaan kami. Hanya saja, perasaan yang muncul ini di waktu yang kurang tepat. Itu perasaanku.
Kuara berjanji akan mengantarkanku ke bandara besok malam. Hal itu sudah cukup untuk menegaskan kalau kami masih akan saling berhubungan baik setelah ini. Itu membuatku lega.
Kami kembali terdiam. Sekilas aku menoleh dan Kuara sedang menghapus airmatanya. Dia menangis diam-diam. Mungkin karna malu kepada orang-orang yang ada di sekitar kami.
Tanpa berfikir panjang, aku segera menarik tangan Kuara menuju ke derasnya hujan. Berhenti di depan beringin kembar dan menyuruhnya memejamkan mata kemudian kami berjalan melewati beringin itu.
Aku tidak memejamkan mata. Aku terus melangkah melewati beringin. Dalam hati terus mengutuk pertemuan ini.
‘Kau adalah milikku, Kuara. Aku tidak akan pernah merelakanmu bersama dengan pria lain. Aku akan datang padamu lagi nanti. Aku berjanji. Hatiku sudah dipenuhi oleh namamu. Tidak ada lagi ruang untuk orang lain. Aku berharap. Aku benar-berharap waktu masih menyimpan sedikit keberuntungan untuk bertemu kembali denganmu. Malam ini, beringin ini menjadi saksi atas harapanku. Aku akan menitipkan sedikit keberuntungan itu untukmu.’
Aku terus bergumam dalam hati. Memanjatkan permohonan kepada Sang Pengabul Doa.
“Buka matamu, Ra. Menangis saja kalau kau ingin menangis. Disini tidak ada yang akan memperhatikanmu. Paling-paling mereka menganggap kita orang gila.”
__ADS_1
Aku ingin Kuara menumpahkan semua kesedihannya saat ini juga. Aku sudah salah sangka tadi dengan mengira Kuara tidak sedih atas perpisahan ini. Ternyata dia menahan diri untuk tidak bersedih.