
Setelah makan siang bersama, para tamu sudah pulang. Bahkan keluarga Awan juga sudah pulang. Kini hanya ada Kuara, Awan, Lisa, Arya, dan Bhanu. Mereka sedang duduk di ruang tamu.
“Apa kamu begitu terkejut?” Tanya Arya kepada putrinya.
“Bagaimana tidak terkejut, Yah? Tega sekali kalian menyembunyikannya dariku.” Dengus Kuara menatap kesal pada ayah dan Awan bergantian.
“Hehehehe. Maaf. Aku hanya tidak ingin kau cemas.” Ujar Awan mengerti posisi Kuara.
“Walaupun begitu, bukankah lebih baik kalian berunding denganku dulu?” Kuara masih meluapkan kekesalannya.
“Sudahlah, Dek. Tidak ada gunanya protes. Sudah sah ini.” Bhanu menimpali.
Kuara membenarkan ucapan Bhanu sehingga ia tidak bisa membantahnya.
“Apa ini jadi masalah bagimu?” Selidik Awan lagi.
“Kalau kau ingin pesta resepsi yang meriah, itu urusan gampang.” Imbuh Awan. Ia fikir Kuara kecewa karna tidak bisa menikah seperti keinginan gadis pada umumnya.
“Bukan begitu. Aku hanya kesal karna tidak ada yang memberitahuku. Aku tidak perlu pesta meriah. Ini saja sudah cukup.” Ujar Kuara terang-terangan.
“Kamu benar-benar tidak ingin resepsi?” Imbuh Lisa kemudian.
“Tidak, Bu. Itu tidak perlu.” Tegas Kuara kembali.
“Ya sudah. Terserah kamu saja.”
“Jadi, sekarang kamu bereskan pakaianmu dengan sindi. Karna kamu sudah menjadi istri Awan, kamu harus pindah dan ikut suamimu.”
Mendengar itu, mata Kuara malah jadi berair. Sesaat kemudian, ia malah jadi meraung-raung seperti anak kecil.
“Ara? Kamu kenapa?”
“Apa Ara harus pergi dari rumah ini? Hiks.” Ternyata, Kuara merasa berat untuk meninggalkan ayah dan ibunya.
“Ara tidak ingin pergi dari sini.” Seketika jiwa anak-anak Kuara muncul dan mendominasi. Ia menangis sesenggukan. Benar-benar seperti Micha saat sedang merajuk minta mainan.
__ADS_1
Tidak ada yang sedih dengan kelakuan Kuara itu. Yang ada, mereka semua malah mengegleng-gelengkan kepala saja melihatnya.
“Ya ampun, Ra. Kita hanya akan pindah ke sebelah, bukan ke planet mars.” Celetuk Awan yang merasa lucu dengan tingkah istrinya itu.
“Hahahahahahaha.” Bhanu tertawa dengan sangat kerasnya.
Sebenarnya, bukan hanya karna ia berat berpisah dengan orangtuanya yang membuat Kuara merasa berat hati. Tapi, bayangan tentang hidup berdua bersama dengan Awanlah yang sebenarnya ia takuti. Bukan apa, ia merasa siap tidak siap dengan kenyataan kalau dia dan Awan sudah menikah.
Mereka harus tinggal di rumah yang sama, tidur di kamar yang sama, makan di meja berdua. Ah, membayangkan itu membuat fikiran Kuara meliar kemana-mana.
“Sudah, sana. Sindi, bantu Ara, ya.” Pinta Lisa kepada Sindi yang juga sedang mengu lum senyum. Merasa lucu dengan Kuara.
“Tidak usah, Bu. Biar aku yang menemani Ara. Ayo. Aku bantu.” Ajak Awan yang langsung berdiri dari duduknya.
Sementara Kuara nampak bengong mendongakkan kepalanya menatap heran kepada Awan. Bibirnya mengerucut seolah tidak terima dengan saran Awan itu.
Namun, walaupun begitu, Kuara tetap mengusap bekas airmatanya kemudian mengikuti Awan berdiri. Kuara berjalan di depan Awan untuk menunjukkan jalan kepada suaminya itu.
Melihat pasangan pengantin baru itu pergi, Lisa, Arya, dan Bhanu kompak tertawa sambil menutup mulut.
“Entahlah, lucu sekali melihatnya seperti itu. Ya ampun, ibu masih tidak percaya kalau akhirnya Ara sudah menikah.” Lirih Lisa sambil mengusap genangan airmatanya yang baru saja terjatuh.
“Iya. Maaf ayah tidak mangajak ibu ikut serta dalam rencana Awan ini. Dia yang memintanya.”
“Tidak apa-apa, Yah. Kalaupun Ayah memberitahu Ibu, Ibu sudah pasti akan setuju seribu persen.”
Sementara itu di kamar.
Kuara melirik Awan yang duduk di ranjangnya. Pria itu sedang mengedarkan pandangannya. Sesaat setelahnya, Awan bangun dan berkeliling kamar. Niatnya untuk membantu Kuara berkemas jadi teralihkan dengan barang-barang yang ada di kamar Kuara.
“Katanya mau bantu?” Protes Kuara.
“Santai saja, lah. Cuma di sebelah ini. Bawa beberapa dulu. Atau tidak bawa sama sekali juga tidak apa-apa. Nanti aku akan membelikannya untukmu.” Santai Awan. Dia terus bekeliling. Menatapi deretan buku-buku yangada di rak kamar itu. Dan tatapannya berhenti pada sebuah buku yang sangat ia kenali.
“Waaah, ternyata Rahwana ini masih setia di sini.” Gumam Awan kemudian ia mengambil buku itu dan membuka-bukanya.
__ADS_1
Kuara hanya melihatnya sekilas. Kemudian ia kembali sibuk melipat dan memasuk-masukkan beberapa baju dan perlengkapan dalam ke dalam koper kecil miliknya. Setelah di rasa cukup, ia menutup dan mengancingnya rapat-rapat.
Kuara melihat Awan yang malah sibuk membaca buku di meja belajarnya. Ia lantas menghampiri pria itu dan berdiri di sampingnya.
“Apa yang kau baca?” Tanya Kuara. Ia sedikit membungkukkan badan untuk melihat lebih jelas.
Awan menoleh dan mendapati kalau wajah mereka berada di jarak bahaya. Tidak menunggu waktu lama, seolah mendapat kesempatan, Awan langsung menarik tubuh Kuara sampai mendarat di pangkuannya.
“Hhh!” Kuara yang terkejut tidak bisa berkutik saat kedua tangan Awan menguncinya di antara tubuh Awan dan meja.
“Apa kau sedang memancingku? Kau tau, sekarang aku tidak akan bisa lagi menahan diri padamu.” Bisik Awan tepat di telinga Kuara.
“Awan,, lepaskan. Nanti ada yang melihat.” Lirih Kuara. Tapi anehnya, dia tidak memberontak. Dia tidak berani karna ia menyadari kalau sekarang, ia sudah menjadi hak milik Awan.
“Tidak ada yang akan melihat kita.” Desis Awan masih di telinga Kuara. Hembusan nafasnya menderu dan mengenai telinga Kuara. Membuat tubuh Kuara meremang seketika.
Ya, Awan tidak akan bisa menahan diri lagi. Terlebih, ia sudah teramat ingin memeluk Kuara sejak lama. Hanya saja, selama ini dia memang memaksa diri untuk menahan dirinya. Tapi sekarang, ia sudah tidak punya batasan untuk tidak melakukan apapun yang ia inginkan terhadap tubuh istrinya itu.
“Ara?”
“Hem?”
“Apa kau mencintaku?” Bisik Awan lagi.
Kuara terdiam sesaat. Kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mendapat anggukan kecil itu, membuat Awan tak bsia mengendalikan diri lagi. Desiran di hatinya menuntut untuk di penuhi.
Perlahan, Awan menolehkan kepala Kuara hingga menghadapnya. Ia meneliti setiap bagian wajah istrinya itu dengan pandangan penuh hasrat. Nafasnya semakin terdengar memburu.
Kuara sudah pasrah. Dia menyadari betul posisinya sebagai istri Awan. Walaupun ini pernikahan mendadak, Kuara tetap tidak bisa menolak sentuhan Awan.
“Aku mencintaimu, Ara.” Bisik Awan sesaat sebelum ia melu mat lembut bibir istrinya.
Kuara tak kuasa menolak aliran hasrat yang kini juga mengaliri setiap pembuluh darahnya itu. Apalagi, Awan sangat mahir memainkan lidahnya. Membuatnya terbuai dengan permainan pria itu.
__ADS_1
Awan yang tidak mendapat penolakan, semakin memperdalam aksinya. Ia memindahkan satu tangannya ke tengkuk Kuara. Dan keduanya terhanyut dalam kenikmatan itu. Sesekali mereka jeda untuk bernafas. Kemudian melanjutkan kembali aksi mereka.