Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 9.


__ADS_3

“Tidak perlu dengarkan hujan. Dengarkan saja ini.” Ucapku sambil memutar sebuah lagu sendu di ponsel.


Itu adalah usahaku untuk membuat Awan merasa nyaman sambil menunggu hujan mereda. Aku merasa sangat berterimakasih karna dia sudah bertekad memastikan keselamatanku walaupun keadaannya sendiri menyedihkan.


Kulihat Awan tersenyum saat menoleh padaku. Kemudian ia menyelipkan kedua tangannya kedalam saku celana. Bahunya bergidik namun pria itu tersenyum senang. Kembali melemparkan pandangannya kepada rintik hujan dalam kegelapan.


Lima belas menit kemudian, hujan perlahan mulai mereda. Orang-orang yang berteduh bersama kami sudah kembali melanjutkan perjalanan.


Aku dan Awan segera berjalan ke arah motor dan aku segera betengger di belakangnya. Motor kembali melaju menuju ke kos Awan.


Ucapan Awan benar. Tidak jauh dari tempat kami berteduh, Awan menghentikan sepeda motornya di depan sebuah kos susun berlantai dua. Dia membuka pintu gerbang dan membiarkannya terbuka. Sementara meninggalkan motornya di depan gerbang begitu saja.


Aku mengedarkan pandangan ke arah sekerumpulan bapak-bapak dan ibu-ibu yang nampak sedang mengobrol di depan sebuah kamar. Mereka semua kompak melihat kepada kami. Nampaknya ini adalah kos umum.


“Baru pulang, Wan?” Tanya pria berkumis dengan perut buncit yang mengenakan kaus dalam berwarna putih.


Membayangkannya saja, membuatku bergidik dingin. Apa dia tidak dingin?


“Iya, Pakde. Kenapa belum pada tidur?”


“Sedang ada yang di bahas, Wan. Penting. Hahahahaha.” Seloroh ibu berdaster yang duduk di kursi plastik.


Aku menunggui Awan yang sedang membuka kunci. Saat dia masuk ke dalam, aku tidak mengikutinya.


“Masuklah. Tunggu di dalam saja. Biarkan pintunya terbuka.” Ujarnya lagi.


“Aku tunggu di luar saja.”


“Jangan. Masuk saja. Di luar dingin.” Tegas Awan lagi dan aku tidak bisa membantahnya.


Aku melangkahkan kaki masuk kedalam kos yang ternyata lebih luas dari dugaanku. Didalamnya juga terdapat satu kamar tidur. Ada dapur dan kamar mandi di bagian paling ujung ruangan. Dan didepan ada sofa panjang kecil di bawah jendela. Ini kos rasa rumah. Batinku.

__ADS_1


“Duduklah dulu!” Perintah Awan. Aku lalu duduk di sofa sambil terus mengedarkan pandanganku. Melirik Awan yang berjalan ke arah kamar mandi sambil membuka bajunya.


Ya. Pria itu membuka bajunya bahkan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Ahhh. Mataku. Punggung kekar itu. Membuatku menelan saliva dengan susah payah.


Sebelum aku hilang kendali, aku segera mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Tapi entah kenapa ekor mataku terus melirik kearahnya sampai menghilang di kamar mandi.


Degub jantungku sudah seperti berdisko ria di dalam sana. Bayangan punggung putih yang kekar itu membuatku berdesir. Sial.


Aku mengalihkan fikiran dengan bermain ponsel. Tapi ternyata itu belum cukup untuk mengusir bayangan punggung dari kepalaku.


Akhirnya aku memilih untuk berkeliling ruangan sambil melihat-lihat. Aku mencari foto namun tidak menemukannya. Yang ada hanya lukisan bunga yang tergantung antara kamar mandi dan kamar tidur.


Kos Awan terasa gamblang, kosong. Tidak banyak barang disana. Hanya ada lemari kecil berisi buku-buku pelajaran SMA. Itu pasti buku-buku sekolahnya dulu. Fikirku.


Dari yang ku lihat, Awan tipe pria yang suka kebersihan. Buktinya kosnya bersih dan barang-barangnya tertata dengan rapi. Bahkan dapurnya terlihat bersih dan rapi. Tidak ada satupun piring kotor disana. Dapurnya seperti tidak pernah di gunakan.


Aku baru saja kembali dari meneliti bagian dapur. Saat tiba-tiba Awan keluar dari kamar mandi dan membuatku terkejut sampai menghentikan langkah di dekatnya.


Awan juga nampaknya terkejut dengan keberadaanku. Dia hanya terpaku dan langsung berhenti. Dia tidak jadi mengusap rambut dengan handuk yang di pegangnya dan malah menatapiku lekat-lekat.


Jarak antar dinding yang sempit membuatku sulit untuk melangkah. Di tambah ada Awan yang sedang berdiri di depan kamar mandi. Aku celingukan dan tidak berani menatapnya. Aku merasa seperti sedang berada dalam bahaya.


Aku menunggu Awan untuk menyingkir lebih dulu. Tapi pria itu tetap berada di posisinya setelah beberapa saat. Membuatku semakin canggung saja.


Tidak bisa menunggu lebih lama lagi, akhirnya aku memaksa diri untuk menerobos Awan dan kembali duduk di sofa. Itu rencanaku. Kenyataannya, aku malah berhenti saat tangan kanan Awan menghalangiku dengan bertumpu pada dinding.


Aku yang terkejut langsung menatap padanya. Ada yang berbeda dari tatapan Awan. Sendu, dan... Entahlah. Aku tidak berani mengartikannya.


Aku berniat membungkuk untuk melewati rintangan tangan Awan. Tapi belum sempat aku melakukannya, tubuh Awan tiba-tiba merangsek ke hadapanku. Membuatku tercekat setengah mati.

__ADS_1


Tatapan kami bertemu. Aku bisa merasakan hembusan nafas Awan yang perlahan berhembus di wajahku. Jarak kami sangat dekat hingga hanya menyisakan ruang beberapa senti meter saja.


“Kau mau apa?” Lirihku. Aku merasa suarakupun ketakutan sampai tidak bisa keluar semua. Segala fikiran kurang ajar tiba-tiba menyerang kepalaku.


Aku tidak kuat menatap wjah Awan dari jarak yang sedekat itu. Karna jantungku rasanya mau meledak. Lantas aku segera menundukkan wajahku.


“Lihat aku..” Gumam Awan.


“Tidak mau.” Ujarku.


“Lihat aku, Kuara.” Suaranya terdengar lembut dan dalam. Aku masih tidak menurutinya. Aku benar-benar tidak kuat menatapnya.


Aku melihat Awan menjatuhkan handuk yang ia pegang. Dan dengan tiba-tiba tangan kirinya menarik pinggangku sampai tubuhku melekat padanya. Aku spontan menahan diri dengan kedua tangan yang ku lipat di dadaku.


Perbuatan Awan itu membuatku terpaksa menatapnya. Ekspresi Awan datar. Hanya saja tatapannya menyiratkan akan sebuah hasrat. Tatapan itu seolah mengikatku untuk tidak memberontak. Entah kenapa aku tidak berusaha untuk melepaskan diri darinya.


Hembusan nafas Awan teratur menerpa wajahku. Perlahan, ia semakin mendekatkan wajahnya. Aku yang tidak sanggup hanya bisa memejamkan mata kuat-kuat. Pasrah akan apapun yang akan dilakukan pria itu kepadaku.


“Kau milikku.” Ujar Awan.


Aku merasakan tangan kanan Awan yang bertumpu di dinding terlepas. Dan aku masih tidak berani membuka mata.


“Hemh.” Aku mendengar suara Awan menyeringai. “Kenapa kau memejamkan matamu?”


Pertanyaan itu membuatku berani membuka mata. Hal pertama yang kudapati adalah, wajah Awan sudah menjauh dariku dan pria itu sedang tersenyum lebar melihatku.


Awan menyentil hidungku seraya berkata, “Kau ini memikirkan apa?”


Aku benar-benar sudah kalah malu dengan fikiran kotorku sendiri. Aku bisa merasakan wajahku yang memanas dan pasti sudah merona. Aku menolak tubuh Awan dengan paksa kemudian berjalan menjauh darinya.


Kekehan Awan masih terdengar di belakangku. Aku tidak peduli. Aku terus berjalan keluar dari kos dan menunggu di luar saja.

__ADS_1


Aku berdiri di luar kos Awan dengan masih berusaha mengatur nafasku. Memegangi kedua pipiku yang masih terasa panas.


Hufh. Apa yang baru saja ku fikirkan??


__ADS_2