
Kuara mengerjapkan matanya perlahan. Ia bisa merasakan tangan Awan yang masih melingkar di perutnya. Bedanya, kali ini, ia merasa kulit mereka saling bersentuhan langsung. Tubuh Awan yang hangat juga menempel di belakangnya.
Seketika ingatan Kuara melayang. Teringat apa saja yang sudah mereka lakukan tadi malam. Malam yang panas dan penuh peluh. Iangatan itu membuat wajah Kuara merona tak terhingga.
Ia bahkan masih bisa melihat pakaian mereka yang berserakan di lantai.
Perlahan, Kuara hendak bangun. Tapi, pelukan Awan sangat sulit di lepaskan.
“Nanti saja. Kita tidur dulu. Aku masih mengantuk.” Gumam Awan dengan suara beratnya.
“Aku harus ke kamar mandi.” Jawab Kuara.
Alasan itu tidak bisa di tolak Awan. Perlahan ia membua matanya dan melepaskan tangannya.
Kuara bangun. Ia duduk dan menutupi bagian tubuhnya dengan selimut. Melirik ke arah suaminya sebentar, yang ternyata Awan tersenyum melihatnya dengan tatapan sayu.
“Pejamkan matamu.” Pinta Kuara dengan malu-malu. Ia tidak ingin suaminya melihatnya polos saat berjalan ke kamar mandi. Karna ia tidak bisa menjangkau pakaiannya.
“Tidak perlu malu. Aku suamimu.”
Tetap saja. Kuara merasa sangat malu. Padahal mereka sudah melewati malam panas bersama.
Awan terkekeh kecil. Kemudian ia kembali memejamkan mata. Dan saat itulah Kuara langsung turun dari ranjang.
Rasa sakit di daerah intinya membuat Kuara menghentikan langkah. Ia mengernyit merasakan perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Kuara sadar apa yang sudah terjadi semalam. Kini, ia sudah menyerahkan segalanya kepada Awan. Walaupun rasa malu itu masih bergelayut di dalam kepalanya.
Perlahan, Kuara memaksa diri untuk berjalan ke arah kamar mandi. Ia mematung di depan cermin. Memandangi bagian dadanya yang penuh dengan bekas merah akibat perbuatan Awan. Setelah membersihkan diri, ia mengganti pakaiannya.
Di kamar, Awan juga sudah bangun. Pria itu bertelanjang dada dan hanya memakai celana piyamanya saja. Ia mengernyit saat melihat Kuara berjalan dengan sedikit tertatih.
“Sakit?” Awan mulai khawatir.
Kuara mengangguk. Awan bangun dari duduknya dan menghampiri istrinya. Membantu Kuara untuk duduk di sofa. Kemudian, ia berjongkok di hadapan wanita itu.
Awan menggenggam erat tangan Kuara di pangkuan wanita itu. Menatap istrinya itu dengan penuh keteduhan.
“Maaf. Aku yang membuatmu begini.” Lirih Awan.
“Tidak apa-apa.”
Awan tersneyum bahagia. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya. Menatap penuh cinta kepada istrinya itu.
“Ahhh, aku tidak tau bagaimana aku mengungkapkan dalamnya perasaanku padamu, Ara.”
__ADS_1
“Tidak perlu di ungkapkan. Aku sudah tau.”
Awan bangkit dan langsung menenggelamkan wajah istrinya ke dadanya. Mengelus belakang kepala Kuara dengan penuh cinta.
“Apa tidak apa-apa kalau kita pulang? Aku harus ke kantor. Tadi Keysi menelfon dan bilang ada meeting penting.”
“Tidak apa-apa. Kita pulang saja. Aku juga harus ke kampus. Hari ini anak-anak ujian.”
“Baiklah. Tapi kita sarapan dulu, ya.”
Setelah mendapatkan anggukan kepala dari istrinya, Awan kemudian mandi dan berganti pakaian.
Kuara takjub. Padahal dia sudah sering melihat penampilan Awan dengan balutan jas lengkap begitu. Tapi kenapa pagi ini rasanya berbeda?
“Apa kau memang selalu setampan ini?” Kuara tidak lagi menyembunyikan rasa malunya.
“Apa kau baru sadar sekarang?” Balas Awan. Ia sedang mematut dirinya di cermin dan bersiap memakai dasi.
“Em. Aku baru sadar sekarang.” Kuara bangun dan perlahan menghampiri suaminya. Ia meminta dasi dari Awan kemudian memasangkannya.
Akibat ulahnya itu, ia mendapat hadiah lu matan di bibir mulusnya. Baru setelah puas, keduanya turun ke bawah.
“Selamat pagi, Ma.”
“Iya, Ma. Ada meeting penting.”
“Apa itu lebih penting dari istrimu? Kalian baru menikah kemarin. Masak sudah mau kerja? Nikmati waktu berdua dulu. Urusan kantor kan ada Keysi.”
“Tidak apa-apa, Ma. Lagipula aku juga harus ke kampus. Ada ujian.” Kuara ikut menimpali.
Radina menghela nafas pelan. Ia tidak mau menahan anak dan menantunya. Walaupun ia sangat ingin melakukannya.
“Mana Mai, Ma?” Tanya Kuara yang melihat hanya ada ibu mertuanya saja di meja makan.
“Masih tidur. Sejak hamil, dia lebih banyak tidur.”
Selesai sarapan, Radina mengantarkan Awan dan Kuara sampai ke depan rumah. Menatapi mobil anaknya itu sampai menghilang dari pandangannya.
“Apa kau baik-baik saja ke kampus dalam keadaan seperti itu?” Tanya Awan di sela mengemudi.
“Maksudmu?”
“Kau kan sedang sakit.”
“Ooh. Tidak apa-apa. Sakitnya sudah berkurang. Kita pulang ke rumah dulu ya. Aku harus ganti baju.” Pinta Kuara.
__ADS_1
Awan melajukan mobilnya menuju ke rumah mereka. Setelah sampai, Kuara segera mandi dan mengganti pakainnya. Kemudian, mereka kembali pergi.
Awan mengantarkan istrinya ke kampus terlebih dahulu. Dan kedatangan mereka sangat mengejutkan beberapa mahasiswa kampus. Apalagi saat Awan mengecup kening Kuara tepat di depan mata mereka.
“Aku ke kantor dulu. Nati aku akan menelfonmu.” Ujar Awan pamit.
Kuara mengangguk. Ia sadar telah menjadi pusat perhatian dari beberapa mahasiswanya. Sekarang ia tidak masalah dengan itu. Toh Awan adalah suaminya.
Mobil Awan mulai melaju meninggalkan kampus. Menghilang dari pandangan Kuara. Baru setelah itu dia masuk ke dalam fakultas.
Sehabis siang, Kuara sedang bersiap untuk pulang. Saat ia mendapat telfon dari Fio yang mengabarkan kalau temannya itu sedang ada di kampus dan ingin bertemu dengannya. Kuara hanya meng-iyakannya saja sambil tersenyum
Fio menunggu di bawah beringin gerbang kampus sambil menyeruput es dawet.
“Fio!” Pekik Kuara melambaikan tangan.
Fio membalas melambaikan tangan tetapi tetap menyeruput minumannya. Kuara mempercepat langkahnya dan menghampiri Fio yang sedang duduk. Iapun duduk di samping sahabatnya itu.
Plak!
Tiba-tiba kura mendapatkan pukulan di bahunya.
“Ah! Apa??”
“Dasar. Tega-teganya tidak mengabari aku? Apa aku setidak berharga itu bagimu, Ra?” Ucap Fio. Matanya mulai berkaca-kaca.
Kuara tau apa yang di maksud oleh Fio. Pasti ini perihal pernikahannya dengan Awan.
Brukkk.
Fio seketika merangkul dan memeluk tubuh Kuara. Dia menangis sejadi-jadinya sampai di lihati oleh para penjual makanan dan mahasiswa yang ada di sekitar mereka.
“Ya ampun, Ra.. Huhuhuuhu. Kau bilang cuma bertunangan, kenapa malah menikah? Hiks. Aku kesal karna kamu tidak memberitahuku. Tapi aku juga sennag karna kamu sudah menikah. Terlebih dengan Awan. Hiks. Selamat yaaa Ara,,, huhuhuuhu.”
Kuara justru terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu. Ia mengelus-elus pungung Fio untuk menenangkannya.
“Maaf. Aku saja tidak tau kalau Awan berencana langsung menikahiku kemarin. Lagipula siapa suruh pergi ke Singapore?”
“Ish. Kalian jahat sekali. Kalau bertemu Awan,aku akan memukulnya.” Ancam Fio. Ia melepaskan pelukannya dan menatap kesal kepada Kuara.
“Coba saja kalau berani.”
Melihat tanggapan Kuara, Fio bertambah kesal. Tapi, ia kembali memeluk sahabatnya itu dengan erat. Ia kembali tergugu.
“Sudah, sudah.” Kuara kembali mengelus punggung Fio. Namun ia tetap masih terkekeh lucu.
__ADS_1