
Hari ini, jam pelajaran sedang kosong dan aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan setelah mengganti pakaianku. Bukan untuk belajar. Tapi hanya sekedar mendinginkan tubuhku saja.
Aku segera memarkirkan sepeda motorku di tempat parkir di depan gedung perpustakaan.
Seorang staf perpustakaan yang memang mengetahui siapa aku, langsung mempersilahkanku untuk masuk.
Aku menghentikan langkah saat kulihat ‘Ra’ sedang mengantri di depan meja. Seketika senyumankupun langsung mengembang. Siapa sangka aku justru menemukannya disini?
Aku memutuskan untuk menunggunya keluar dari ruang penyimpanan. Kemudian segera mengikutinya naik.
Dia tidak memperhatikanku yang terus berjalan di belakangnya. Sementara aku terus mengikutinya sampai masuk ke dalam ruangan.
Saat kulihat dia sedang mengambil sebuah buku dari rak buku di atas, aku segera menyerobot buku itu begitu saja.
“Oh? Itu punyaku.” Katanya. Dia menatap heran padaku.
Ah, tatapan itu. Matanya begitu indah dan menyihirku.
“Tapi aku lebih dulu mengambilnya. Jadi ini punyaku.” Aku menahan senyum kemenangan.
Kufikir dia akan mengambilnya paksa dariku. Tapi tidak. Dia justru memintaku mengalah karna dia sangat membutuhkan buku itu.
“Kenapa aku harus mengalah? Aku juga membutuhkan buku ini. Kau bisa mencari buku yang lain.” Padahal aku sama sekali tidak membutuhkan buku itu. Aku hanya mencari alasan agar bisa berbicara dengannya.
Karna tidak lucu saat tiba-tiba aku mengajaknya berkenalan. Akan lebih baik menciptakan suasana tidak sengaja seperti ini.
“Tapi bukunya sudah tidak ada lagi. Hanya tersisa satu itu.”
Aku melihat tatapan kekecewaan pada mata indahnya. Sepertinya dia benar-benar sangat membutuhkannya.
“Kalau begitu, kau bisa menunggu dua hari lagi sampai aku mengembalikan buku ini.” Astaga. Apa yang kukatakan?
“Tidak bisakah kau meminjamkannya padaku sebentar saja? Aku harus mengumpulkan tugasku besok. Aku tidak bisa menunggumu sampai lusa. Tolong pinjami aku buku itu sebentar. Satu jam saja, tidak, tiga puluh menit. Pinjamkan aku buku itu selama tiga puluh menit. Setelah itu, kau boleh membawanya pulang.”
Dia berusaha bernegosiasi denganku. Dan akupun tersenyum karna berhasil memperpanjang urusan kami.
“Dua puluh menit.” Kataku lagi.
Dia langsung menyetujuinya. Dan akupun menyerahkan buku itu padanya. Mengikutinya pergi dan mengambil duduk di hadapannya. Aku ingin memandangi wajahnya lama.
Dia nampak sangat serius mengerjakan tugasnya. Bahkan ini sudah hampir satu jam aku menunggunya dan terus memperhatikannya. Aku membaca sekilas kartu tanda anggota perpustakaan miliknya. Dan ternyata dia seorang mahasiswi disini.
Aku mengetuk meja untuk memberitahunya.
“Sudah dua puluh menit, lewat tiga belas detik” ujarku sambil mengetuk jam tanganku.
Jelas aku berbohong. Dia sudah mengerjakannya selama lebih dari satu jam.
__ADS_1
“Apa? Benarkah? Kenapa cepat sekali? Aku belum selesai. Bisakah kau menunggu sebentar lagi saja? Tinggal sedikit lagi.”
Aku sudah kalah malu. Seharusnya aku tidak mengganggunya dan terus menungggunya sampai selesai. Maka dari itu aku langsung mengambil buku itu dan pergi dari sana.
Setelah beberapa langkah, aku menoleh padanya. Nampaknya dia sangat frustasi karna aku mengambil bukunya. Aku tidak tega melihat wajahnya yang bingung.
Buk!
Aku menjatuhkan buku itu ke atas meja kembali. Kemudian kembali duduk di tempatku semula.
“Cepat selesaikan. Aku tidak punya banyak waktu.” Alasanku saja itu. Yang sebenarnya aku punya banyak sekali waktu.
Aku tidak henti-hentinya menatapi wajah seriusnya yang sedang mengetik sesuatu di laptop. Dan aku buru-buru memejamkan mata saat melihat pergerakan kepalanya yang terarah padaku. Aku berpura-pura tidur.
“Permisi. Hei. Aku sudah selesai.”
Aku mendengar dia memanggilku. Tapi jiwa usilku muncul. Aku menunggu reaksinya kemudian.
Apa dia akan membangunkanku, atau malah meninggalku begitu saja. Aku merasakan dia mendekat kepadaku. Dan aku segera menangkap tangannya, kemudian membuka mata.
“Aku sudah bangun.”
Kulihat dia terkejut dengan aksi jahilku. Tangannya begitu lembut dan halus.
Dia kemudian berterimakasih padaku karna aku bersedia meminjamkan buku itu padanya.
Dia menjawab, kalau bukan kisah cinta mereka yang menjadi perhatiannya. Tapi sejarah yang ada pada kisah itu. Mengingat Ramayana, aku jadi teringan Rahwana.
“Kalau begitu, kau pasti juga tau tentang Rahwana?”
“Tentu saja. Siapa yang tidak tau tentang kisahnya?”
Dan selanjutnya dia mulai Menjabarkan ceritanya. Aku fokus mendengarkan walaupun sebenarnya aku juga sudah tau kisah itu.
“Sudah ya, aku harus pergi. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya.”
Ucapannya itu membuatku terhenyak. Aku maish ingin mengobrol lebih banyak lagi. Tapi dia langsung pergi begitu saja. Aku bahkan belum sempat untuk bertanya siapa namanya.
Ah. Aku hanya bisa menggaruk-garuk keningku saja. Menatapi punggungnya yang sudah menghilang dari pandanganku.
Dan selama dua hari ini, aku rutin berkunjung ke perpustakaan sepulang sekolah. Berharap untuk bertemu dengannya lagi.
Untunglah, hari ini aku melihatnya disana. Saat aku datang, dia sudah ada di sana dan sedang membaca buku di salah satu meja. Aku langsung menghampirinya.
“Hai. Ketemu lagi.” Aku tersenyum padanya. Bahkan aku juga merasa aneh sendiri. Kenapa aku tersenyum padanya?
Lama sekali dia menjawab sapaanku. Membuatku menjadi salah tingkah sendiri. Malu karna pasti dianggap sok kenal sedangkan gadis di hadapanku hanya diam saja menatapku heran.
__ADS_1
Apa dia tidak mengingatku? Tidak mungkin. Wajah setampan ini biasanya sangat sulit untuk di lupakan.
“Oh, hai.”
Ah, dia masih mengingatku.
“Sedang apa?”
“Mengerjakan tugas, lagi. Apa kau kemari untuk mengembalikan buku?”
Buku? Buku apa?
Ah, ya. Buku yang kemarin. Padahal aku tidak membawa buku itu pulang. Aku meletakkannya di meja pengembalian.
“Bagaimana kau tau?” Pertanyaan bodoh.
“Kemarin kau yang memberitahuku. Apa kau lupa?” Benar dugaanku kalau dia akan menjawab begitu.
“Ah, begitukah? Aku kurang ingat.” Alasan saat aku sudah mati kutu.
Kali ini, aku tidak ingin membuang waktu. Aku memulai dengan menanyakan tentang nilainya. Dia menjawab kalau dia mendapat nilai bagus berkatku. Aku senang mendengarnya.
“Tapi ngomong-ngomong, siapa namamu?” Aku harap-harap cemas menanti jawabannya.
“Kuara, Intan Kuara.”
Hatiku berbunga-bunga mendengar nama itu. Nama indah yang sama sekali tidak masuk dalam prediksiku kemarin. Pantas saja temannya memanggilnya ‘Ra’. Ara.
Aku menyambut uluran tangan Ara. Dan hatiku, semakin berbunga-bunga.
“Awan.”
“Awan?” Dia menunjuk ke arah atas. Aku tau. Dia pasti teringat dengan sekumpulan asap di langit.
“Ya, bisa dibilang begitu.”
“Namamu tidak umum.”
Aku tau. Dia pasti terkejut saat mengetahui nama asliku.
“Jadi, Awan, apa kau menikmati kisah Ramayana dan Sinta?”
Entahlah. Aku tidak membaca buku itu. Aku harus mencari alasan lain.
“Tidak terlalu. Aku lebih tertarik dengan Rahwana.”
“Rahwana?
__ADS_1
Aku menjelaskan alasanku. Alasan yang sepenuhnya mengarang saja atas dasar cerita yang pernah ku dengar. Aku menempatkan Rahwana sebagai sosok pria yang tragis karna cintanya tidak kesampaian. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.