Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 65. Apa Masih Ada Aku Disana?


__ADS_3

“Apa kau tidak suka, kalau aku mengenang masa lalu?”


Pertanyaan Awan itu tidak sanggup Kuara jawab. Entahlah, ia suka, tapi pada saat yang bersamaan dia juga takut. Takut jika dirinya menyebabkan sesuatu yang membahayakan pria itu. Seperti yang selalu dikatakan orang-orang.


Kuara tidak ingin sebuah kemungkinan terburuk yang menimpa mendiang Yuta, terjadi pada Awan. Ia tidak sanggup bahkan hanya dengan membayangkannya saja.


“Entahlah, aku tidak tau. Entah apa aku masih berhak untuk mengenangnya.”


“Kenapa tidak? Tidak ada yang melarangmu.”


Kuara diam. Kemudian ia kembali melanjutkan langkah.


“Kau mau kemana? Apa masih ada kelas?” Tanya Awan yang berlari kecil demi mensejajarkan langkah dengan Kuara.


“Aku ingin menghadiri seminar di teatrical.”


“Seminar? Seminar apa?”


“Seminar penting.” Ujar Kuara yang terus melangkah.


“Aku ikut.”


“Terserah saja.” Kuara malas berdebat dengan Awan. Ia hanya membiarkan saja pria itu mengikutinya ke teatrical yang berada di dalam gedung perpustakaan.


Wajah Awan sudah merah padam. Ia duduk di samping Kuara dengan menutupi wajahnya sambil berpura-pura menggaruk kening.


“Kenapa kau tidak bilang kalau ini seminar untuk perepuan saja?”


“Kau tidak bertanya.” Puas Kuara mengerjai Awan.


Sungguh, Awan merasa sangat malu saat hanya dia satu-satunya pria yang ada di dalam teatrical itu. Apalagi beberapa mahasiswa nampak berbisik-bisik sambil melirik padanya.


“Astaga, tidak bisa begini. Aku akan keluar dan menunggumu di luar saja.” Bisik Awan lagi.


“Tidak perlu menungguku. Kau bisa pergi duluan.” Kuara mengusir secara tidak langsung.


Nampaknya Awan tidak peduli. Karna saat Kuara selesai dan keluar dari teatrical satu jam berikutnya, ia mendapati Awan masih menunggunya di sofa tunggu perpustakaan. Pria itu langsung bangun dan menghampiri Kuara.


“Sudah selesai?”


“Kenapa kau masih disini? Apa kau tidak punya kerjaan? Padahal kau nampak seperti orang sibuk.”


“Pekerjaanku bisa menunggu. Tapi waktu bersama denganmu, aku tidak bisa menjamin akan bisa mengalaminya lagi. Mumpung sedang disini, apa kau mau naik?” Tanya Awan.


Kuara nampak berfikir. Ia mengerti maksud Awan. Pria itu mengajaknya ke lantai dua. Dimana mereka dulu sering bertemu.

__ADS_1


“Boleh. Mumpung sudah disini juga. Ayo.”


Awan dan Kuara berjalan bersisian naik ke lantai dua. Kuara sudah hampir setiap hari ke sini, jadi dia tidak terlalu terkesan. Ia hanya mengikuti Awan berjalan satu langkah di belakang pria itu.


Awan berkeliling di lantai dua. Melihat-lihat rak-rak buku yang berjejer berbaris rapi.


“Sudah banyak berubah.” Ujar Awan sambil menyapu barisan buku dengan jemarinya.


“Ini sudah sepuluh tahun, Awan. Wajar kalau sudah banyak berubah. Sama seperti kita. Kita sudah banyak berubah.”


“Ya, kau juga sudah banyak berubah. Berubah semakin cantik dan membuatku semakin ingin  memilikimu.” Gumam Awan tanpa menoleh kepada Kuara.


Diam-diam, Kuara memperhatikan punggung kekar Awan. Dalam hati ia membatin, apa punggung itu masih sama seperti yang dia lihat dulu? Sebuah bayangan pungung kekar mulus putih bersih sedang bertengger manis di kepalanya.


Seketika Kuara menggelengkan kepala dengan kuat. Bermaksud untuk menapis bayangan itu.


“Kau kenapa? Pusing?” Tanya Awan yang ternyata memperhatikannya.


“Oh? O, em. Sssshhhh. Kepalaku sedikit pusing.”


“Ayo kita duduk sampai pusingmu menghilang.” Kata Awan yang langsung menarik tangan Kuara tanpa permisi.


Kini, mereka telah duduk di salah satu meja yang kosong. Duduk berdampingan. Dengan Awan yang terus menatapi wajah Kuara yang memerah.


“Apa kau benar-benar sakit?” Tanya Awan. Ia mengkhawatirkan kondisi Kuara. Wajahnya memerah. Mungkin Kuara benar-benar sedang sakit.


Ah, ada sebuah perasaan hangat yang mengaliri pembuluh darahnya. Hatinya berdebar. Sehingga membuat harapan yang sempat ia simpan di sudut hatinya kembali muncul ke permukaan.


“Tidak panas. Tapi kenapa wajahmu memerah?”


Apa Awan pura-pura bodoh? Batin Kuara dalam hati.


Yang membuat wajah Kuara memerah bukan karna gadis itu sakit. Tapi karna Awan terus menyentuhnya.


“Mau ku antar ke rumah sakit?” Tawar Awan kemudian.


“Tidak, tidak. Aku hanya merasa sedikit pusing. Sudah hampir hilang.” Alasan Kuara.


Awan menarik diri dari Kuara. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, kemudian melihat ke sekeliling. Ia kembali terkenang masa lalu.


“Tempat ini punya banyak kisah.” Gumam Awan. “Aku ingin membaca buku itu.”


“Buku apa?”


“Ramayana dan Sinta. Yang itu.” Awan membantu Kuara mengingat.

__ADS_1


“Sepertinya sudah tidak ada, Awan. Buku-buku lama sudah di gantikan dengan buku-buku baru.”


“Begitukah?”


“Kau ini. Suka sekali mengenang masa lalu.”


“Karna kenangan bersamamu itu pantas untuk di kenang.”


Awan menoleh kepada Kuara. Ia menatapi wajah gadis itu dalam-dalam. Entah apa yang membuat genangan air muncul di pelupuk matanya. Membuat Kuara salah tingkah sekaligus merasa heran.


Yang sebenarnya Awan rasakan adalah, masih ada perasaan sesal atas meninggalnya Yuta. Satu hal yang belum bisa ia lakukan adalah, meminta maaf kepada Kuara atas hal itu. Sebenarnya Awan sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Kuara.


Tapi ada perasaan takut yang muncul bersamaan. Ia takut Kuara kembali membencinya karna kejadian masa lalu itu. Ia tidak siap karna ia sungguh berharap Kuara mau kembali padanya.


“Ara?”


“Hem?”


“Di dalam hatimu. Sedikit saja. Hanya sedikit. Apa masih ada aku disana?”


Pertanyaan Awan itu membuat dada Kuara bergemuruh hebat. Ingin rasanya ia menganggukkan kepala dan berkata,


‘Masih. Kau masih ada di dalam hatiku, Awan. Hanya saja, aku menyimpan namamu rapat-rapat dan menguncinya agar ada ruang untuk nama yang baru. Karna dulu, aku tidak bisa berharap padamu.’


“Tidak. Untuk apa aku menyimpanmu di dalam hati. Tidak akan muat.” Kali ini, Kuara ganti berseloroh. Seperti yang kerap Awan lakukan.


Awan ternganga. Suasana romantis dan intim yang susah payah dia bangun hancur berantakan. Ia jadi mendengus kesal pada Kuara.


“Hahahahahahahaha.”


“Kau ini. Menyebalkan sekali.” Dengus Awan.


“Astaga. Kau ini serius sekali. Sudah. Ayo. Aku harus kembai ke kantor.” Ujar Kuara. Masih banyak tugas mahasiswanya yang belum ia periksa.


“Tapi aku masih ingin bersamamu, Ara.”


“Awan, apa kau lupa kalau kita bertetangga?”


“Oh, iya. Hahahahaha. Baiklah, baiklah.  Sepertinya aku juga harus kembali ke kantor.” Ujar Awan sambil melihat jam tanganya.


Lantas keduanya pergi dari sana. Awan pergi menuju ke tempat parkir sementara Kuara hendak ke fakultas.


“Sampai bertemu nanti di rumah, Ara.” Ujar Awan sebelum berbalik dan berpisah.


Kuara hanya tersenyum saja menatapi punggung Awan yang menjauh. Dia masih berusaha untuk menekan harapannya kedalam sudut hati yang paling dalam.

__ADS_1


Hidup berdampingan dengan kabar dan cerita-cerita kurang menyenangkan dari orang-orang, membuat Kuara merasa tidak berani mengambil resiko. Ia takut kalau semua ucapan orang-orang itu benar. Tentang maut yang akan menghampiri lelaki yang akan menikahinya. Ia takut, keadaan seperti Yuta akan kembali terjadi. Dan dia tidak ingin itu terjadi kepada Awan. Tidak, tidak. Ia tidak mau.


__ADS_2