
Sudah sebulan berlalu. Waktu terasa begitu cepat bagiku.
Keluargaku sedang menyantap makan malam di rumah kami. Kali ini dengan formasi lengkap. Karna Mas Bhanu juga sedang ada di rumah.
“Ara mau ikut ke malang?” Tanya ayah.
“Ke malang? Ada acara apa, Yah?”
“Kan Susan mau menikah.” Ibu menimpali.
Susan adalah keponakan ayah. Alias sepupuku. “Kapan?”
“Sabtu.” Jawab ibu. “Kita berangkat dari sini besok.”
“Tapi ara Masih ada kuliah hari jum’atnya.” Ujarku. Antara ingin ikut, tapi juga tidak ingin meninggalkan pelajaran.
“Sekali-kali libur juga tidak Masalah, Dek.” Mas Bhanu menimpali. “Kamu itu sudah terlalu banyak belajar. Mas takut kamu cepat botak saat belum waktunya.”
Aku menatap kesal pada Mas Bhanu. Dia berkata begitu seolah tidak ada beban. Akibat ucapannya itu, aku jadi membayangkan rambutku yang botak.
“Mas ikut?”
Mas Bhanu hanya mengangguk. Dia tetap fokus pada makanannya.
Aku berfikir sebentar. Ya, benar kata Mas Bhanu. Sekali-kali libur aku rasa tidak Masalah. Aku bisa meminjam cacatan kepada Fio atau Yuta nanti.
“Baiklah. Ara ikut.”
Ibu nampak tersenyum senang. Dan perbincangan itu masih berlanjut dengan beberapa topik lagi. Bahkan sampai kami pindah ke ruang keluarga untuk menonton tv.
Hal yang selalu kami lakukan saat Mas Bhanu pulang adalah menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama. Karna Mas Bhanu bertugas di Semarang dan hanya pulang sekali-kali saja.
Aku sedang menunggu telfon dari Awan sambil membaringkan diri di ranjang. Ragu antara ingin menelfon lebih dulu tapi malu, dan tidak sabar menunggu ponselku berbunyi.
Ting!
Aku segera sumringah melihat ada pesan masuk dari Awan.
‘Apa kau sudah tidur?’
'Belum.’
‘Maaf aku tidak bisa menelfon. Aku sedang ada acara keluarga.’
__ADS_1
Aku menatap kecewa kepada kalimat itu. Padahal aku merindukan suaranya. Sudah sejak minggu lalu kami tidak bertemu.
Ya aku tau. Terkadang aku juga merasa jahat sekali kepada Awan dan Yuta. Terlebih Awan. Aku tidak menanggapi perasaannya tapi aku menerima dengan tangan terbuka setiap perhatiannya. Jujur aku juga merasa malu pada diriku sendiri.
Selama ini aku juga sedang berusaha untuk mengendalikan hatiku agar tidak terlalu senang dengan perhatian Awan. Tapi aku masih berlum berhasil menguasai hatiku sendiri. Bahkan rencanaku tidak bisa menghalanginya.
‘Tidak apa-apa. Aku juga mau tidur.’
‘Baiklah, selamat malam. Mimpikan aku.’
Kalimat terakhir itu membuatku tersenyum. Karna inilah aku tidak bisa melarikan diri dari Awan. Dia selalu berterus terang dengan apapun yang dia rasakan dan harapkan dariku. Dia tidak pernah membatasi diri tentang perasaannya.
Pagi hari, aku sudah terbangun saat matahari bahkan belum muncul dari ufuk untuk membereskan pakaianku. Aku memasukkan beberapa baju ke dalam tas. Karna kami akan menginap di sana selama beberapa hari.
Kami semua berangkat ke bandara setelah sarapan dengan di antar oleh Mas Bagus.
“Sudah ijin?” Tanya ayah. Maksudnya perkuliahanku.
“Sudah, Yah. Aku sudah meminta Yuta untuk menuliskan surat.”
“Dek, jangan di gantung si Yuta. Kasihan.” Celetuk Mas Bhanu yang duduk di di pinggir jendela.
Aku hanya memajukan duduk dan menoleh liar kepadanya. Memperingatkannya agar tidak membahas Yuta.
“Kurang apa coba Yuta? Baik, tampan, perhatian, pintar, dan dari keluarga hebat pula.” Celetuk ibu.
“Ibu kenapa jadi ikut-ikutan?”
“Hehehehehe. Ibu cuma tidak mengerti kenapa kamu tidak mau membuka hati kepada Yuta. Padahal dia sudah cukup jelas dengan perasaanya.”
“Ara sudah bilang. Ara tidak ingin kuliah Ara terganggu.”
“Bukan karna Awan?”
Pertanyaan ayah itu bagaikan bola yang mengenai wajahku.
“Tidak! Tidak ada hubungannya sama sekali dengan dia.”
“Wahhhh, walaupun jutek, ternyata adikku ini banyak yang suka ya. Kalau Mas sih pilih Yuta. Soalnya Mas udah faham seluk-beluk Yuta. Keluarganya juga sudah dekat dengan keluarga kita.”
“Ya sudah, Mas Bhanu saja yang menikah dengan Yuta.” Aku menggerutu.
“Kalau Ayah sih, Ayah tetap dukung komitmenmu. Pacaran itu bisa nanti. Menikah sekalian. Sekarang mumpung masih muda, kejar semua yang kamu ingin raih.”
__ADS_1
Aku melirik ibu sambil mencibir tawa kepada ayah.
Aku melempar pandangan ke luar jendela. Keluargaku sedang membahas Yuta dan keluarganya. Tapi kepalaku di penuhi oleh Awan. Tidak ada ruang untuk hal yang lain.
Sampai saat ini aku masih mencari apa yang istimewa dari Awan sehingga aku luluh dari komitmenku. Padahal selama ini, tidak ada yang bisa menggoyahkanku.
Sedang asyik melamun, aku mendengar ibu yang sayup-sayup membahas Awan. Aku menajamkan pendengaran untuk mendengar lebih jelas. Walaupun aku malu untuk mengalihkan wajahku kepada mereka.
“Sayangnya masih SMA.” Celetuk ibu kemudian.
“Tapi seperti bukan anak SMA saja.” Mas Bhanu menimpali. “Kalau dia tidak memakai seragamnya, aku bahkan tidak mengira kalau dia anak SMA. Aku fikir dia seumuran dengan Ara.”
Aku hanya terdiam saja. Sampai pembahasan Awan berubah menjadi pembahasan Mas Bhanu yang tidak kunjung membawa calon istri ke rumah.
Pesawat yang kami tumpangi sudah mendarat di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Kedatangan kami sudah di tunggu oleh Mas Irlan. Dia langsung menyalami ayah dan ibu dan memelukku juga Mas Bhanu.
“Bagaimana perjalannya, Bulek, Paklek?” Tanya Mas Irlan.
“Baik, baik. Bagaimana kabarmu?” Tanya ayah.
“Baik juga, Paklek. Ayo, sudah di tunggu di rumah.” Ajak Mas Irlan kemudian.
Kami semua lantas bergegas masuk ke dalam mobil Mas Irlan.
Kedatangan kami disambut hangat oleh keluarga pakde. Susan, sepupuku yang berbeda 4 tahun lebih tua dariku itu nampak sangat ayu dalam balutan kebaya berwarna peach lengkap dengan sanggulnya.
“Apa kabar, Mbak?” Tanyaku setelah kami selesai berpelukan.
“Baik-baik. Kamu tambah cantik saja, Ara.”
Aku tersipu mendapat pujian itu. Walaupun sudah sering ku dengar, tapi setiap ada yang memujiku begitu, aku tetap merasa malu tapi senang.
Malam itu, setelah acara pengajian, aku menghabiskan waktu bersama Mbak Susan di kamarnya. Kami banyak bercerita tentang masa lalu kami.
Mbak Susan bilang, kalau pria yang akan menikahinya hari sabtu besok adalah pria yang sudah di pacarinya sejak masuk kuliah.
“Lho? Bukankah dulu Mbak bilang kalau kalian sudah putus?”
“Sudah. Sempat tiga kali putus malah. Tapi namanya jodoh tidak ada yang tau, Ra. Ternyata dia kembali lagi padaku. Atau aku yang kembali padanya? Hahahahaha.”
Aku jadi geli membayangkan saat dulu Mbak Susan bercerita sambil berurai air mata. Kami memang bisa dikatakan dekat. Tapi itu dulu, saat Mbak Susan berkuliah di Universitas Negeri ternama di kota Jogja.
Sejak Mbak Susan selesai kuliah dan kembali ke malang, kami jadi jarang berkomunikasi lagi kalau tidak ada hal yang penting untuk di bicarakan.
__ADS_1
Dan disinilah kami. Bergolek di kamarnya sambil mengenang masa lalu indahnya Mbak Susan.