Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 25.


__ADS_3

Aku terbangun saat kudengar suara ribut yang memanggil-manggil namaku. Dan aku segera membuka mata.


“Ara! Kita sudah sampai. Ayo.” Ujar Awan. Kulihat dia sedang menurunkan tas kami dari bagasi.


Aku melihat ke luar jendela. Dan di luar masih nampak gelap.


Aku segera bangun dan keluar dari peron. Berjalan mengikuti Awan di belakangnya keluar dari stasiun.


“Ara!” Panggil suara yang sangat ku kenal.


Yuta tengah berlari menghampiriku dan Awan.


“Yuta. Kenapa kau bisa ada disini?”


“Semalam Ibu menelfonku dan memintaku untuk menjemputmu.” Terang Yuta.


Astaga ibu. Padahal ada Mas Bagus di rumah. Dan ibu malah meminta Yuta untuk menjemputku. Yang benar saja. Ibu membuat posisiku sulit diantara dua pria ini.


“Sini.” Yuta meminta tasku yang dibawa oleh Awan. “Ayo. Kita pulang.”


“Awan, kami bisa mengantarmu kalau kau mau.” Aku menawari. Karna jujur aku merasa tidak enak hati meninggalkannya begitu saja di sana.


“Tidak usah. Aku naik taksi saja.” Awan menolak.


“Ya sudah kalau begitu.”


Aku dan Yuta bergegas masuk ke dalam mobil dan kami segera pergi dari stasiun.


“Kenapa kalian bisa bersama?” Tanya Yuta.


“Oh. Awan adalah saudara dari suami Mbak Susan.” Kurasa itu cukup menjelaskan bagi Yuta.


“Oo. Jadi bagaimana perjalanan kalian?” Entah apa maksud Yuta bertanya seperti itu. Aku merasa nada suaranya lain dari biasanya.


Apa dia cemburu?


“Entahlah. Aku tidur di sepanjang perjalanan.” Jujurku.


Aku tidak berbohong. Aku memang tertidur di sepanjang perjalanan.


**


**


Sejak hari itu, hubunganku dengan Awan tetap berjalan baik seperti biasanya. Hingga tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.


Belakangan ini, Awan jarang menemui ataupun menelfonku. Dia sedang sibuk mempersiapkan ujian nasional untuk kelulusannya. Dan aku juga tidak ingin mengganggunya. Aku berharap dia mendapatkan nilai terbaik.


Sore ini aku melepas penat di perpustakaan. Mengerjakan beberapa tugas kuliah.


Tuk. Tuk. Tuk.


Sebuah ketukan di meja di depanku membuatku langsung mengangkat wajah untuk melihat siapa orang yang mengetuk itu.


“Oh? Awan.”


“Sudah ku duga kau ada disini?”


“Kenapa kau disini? Bukankah kau sedang ujian?”

__ADS_1


“Ujianku sudah selesai minggu lalu.” Jawab Awan. Dia mengambil duduk di hadapanku.


“Bagaimana dengan ujianmu? Apa sulit?”


“Yang jelas tidak sesulit menahan rindu padamu. Hehehehe.”


“Chh. Kau ini. Selalu begitu.” Gerutuku.


“Lantas, apa kau tidak merindukanku?”


“em. Aku tidak merindukanmu.”


“Apa itu? Benarkah?” Aku terkekeh melihat Awan yang nampak kecewa dengan jawabanku.


“Padahal kukira kau akan sangat merindukanku setelah beberapa pekan tidak bertemu.” Katanya lagi.


Tentu saja aku merindukannya. Tapi aku harus tetap menjaga gengsiku. Aku tidak mau mengatakannya.


“Ara?”


“Hem?”


“Apa kau ada waktu malam ini?”


“Kenapa?”


“Aku ingin mengajakmu makan malam. Ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu.”


“Kenapa tidak bicara disini saja?”


Aku mengangkat wajah melihat kepada Awan. Ternyata dia sedang serius menatapku. Aku jadi tidak enak sendiri.


“Kalau begitu. Aku akan menjemputmu pukul 7 malam.”


“Oke.”


Kami tidak lama berada di perpustakaan karna aku harus segera pulang. Dan tepat pukul tujuh malam, Awan benar-benar menjemputku ke rumah. Seperti biasa, dia akan meminta ijin kepada ayah dan ibuku untuk membawaku keluar.


“Kita mau kemana?”


“Makan.”


Awan membawaku ke sebuah restoran di hotel bintang lima.


“Apa kita akan makan disini?” Bisikku.


“Em. Aku ingin mentraktirmu sesuatu yang lezat dan mahal.”


“Yang lezat tidak perlu mahal, Awan.”


Entah kenapa aku tidak terkejut saat seorang pelayan restoran langsung menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk mengikutinya. Pelayan itu membawa kami ke sebuah meja yang ada di pojokan.


Awan duduk di hadapanku dengan terus menatapku intens.


“Kau ingin bicara apa?”


“Kita makan dulu.” Awan mengulur waktu lagi. Padahal aku sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan dia sampaikan.


Bahkan begitu selesai makanpun, Awan masih terdiam. Tidak seperti biasanya. Malam ini, dia terlalu banyak diam.

__ADS_1


“Apa aku melakukan kesalahan?”


“Kenapa kau bertanya begitu?”


“Karna sejak tadi kau hanya diam saja. Kamu bilang ingin mengatakan sesuatu tapi kau tak kunjung mengatakannya.”


Mendengar itu, Awan malah menghela nafasnya. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan sesaat kemudian dia malah merangsek maju dan melipat tangannya di atas meja. Awan nampak gelisah.


“Ara?”


“Apa? Katakan saja. Aku mendengarkan.”


“Besok aku akan pergi.”


Aku terdiam. Pergi?


“Kemana?”


“Boston. Besok malam.”


Boston? Itu terdengar sangat jauh.


Ah, apa ini sudah saatnya Awan pergi?


“Apa aku egois kalau memintamu untuk menungguku kembali?”


Setelah lama terdiam, Aku mengangguk. “Em. Kau egois kalau kau memintaku menunggu.”


“Ara...”


“Awan. Aku tidak akan menunggumu. Aku akan menjalani jalan yang sudah ada di hadapanku. Aku tidak ingin menyiksa diriku dengan menunggumu. Dan kau, kau juga harus menjalani jalanmu sendiri. Dan akan kita lihat, apakah waktu berkenan untuk memberikan ruang kepada kita lagi. Mari jangan saling berharap satu sama lain. Biarkan kenangan ini berujung sampai disini.”


Astaga. Apa yang telah ku katakan? Aku pasti telah menyakiti hatinya.


Dan sejujurnya, ucapan itu tidak hanya menyakiti Awan. Tapi menyakiti hatiku juga. Bahkan kata-kata yang keluar dari mulutku mampu menggoreskan luka di hatiku sendiri.


Aku tidak sanggup membayangkan kalau aku harus menunggunya kembali dalam waktu yang tidak sebentar. Dan aku yakin, dalam rentang waktu itu, akan banyak kejadian yang tidak bisa kita prediksi. Aku tidak mau menyiksa diriku dengan menunggu sebuah hal yang tidak pasti.


Lama sekali Awan terdiam dan menatapku pias. Sementara aku harap-harap cemas atas apa yang akan diucapkannya selanjutnya.


“Heheheh. Maaf kalau begitu. Aku masih belum sadar kalau kita tidak dalam ikatan apapun. Ya, kau benar. Aku tidak punya hak untuk memintamu menunggu. Aku akan meralat ucapanku. Jangan tunggu aku.”


Aku terkejut dengan ucapan Awan. Dia nampak berbesar hati untuk menerima penolakanku. Senyumnya itu nampak pias di mataku. Aku jadi tidak tega melihatnya.


“Kalau begitu, bisa kau habiskan waktu malam ini bersamaku? Ayo kita jalan-jalan sampai puas.”


Aku ragu. Meng-iyakan atau menolak ajakannya. Rasa tidak tega menumpuk di hatiku dan akhirnya aku menyanggupinya.


“Oke.”


Awan terus tersenyum. Dan aku tau dia terpaksa melakukannya.


Apa aku jahat?


Ya, aku sendiri merasa begitu. Jujur hatiku sakit saat mendengar Awan hendak pergi ke Boston untuk melanjutkan jenjang pendidikannya.


Hatiku juga pias. Aku menyukai Awan. Sungguh. Hanya saja aku gengsi untuk menjilat ludahku sendiri atas komitmen yang sudah kubuat untuk diriku sendiri. Betapa malunya kalau aku menarik kembali kata-kataku itu. Malu kepada diriku sendiri, dan malu kepada orang-orang terdekatku yang telah mengetahuinya.


Kalau boleh aku mengakuinya, aku menyesal telah membuat janji itu. Karnanya, aku telah menyakiti hati Yuta dan Awan.

__ADS_1


__ADS_2