
Acara sudah dimulai dan kami semua tengah duduk di dalam gedung serbaguna. Ada ratusan mahasiswa yang akan di wisuda hari ini.
Fio duduk di sebelahku dengan tubuh yang gemetar. Dia terus mencengkeram tanganku dengan sangat kuat. Aku mengusapnya lembut untuk menenangkannya.
“Tidak apa-apa, Fio. Ada aku dan Yuta. Tidak apa-apa.” Bisikku padanya. Aku benar-benar tidak mau trauma Fio mengacaukan wisudanya hari ini.
“Mari kita sambut tepuk tangan yang meriah kepada yang terhormat Bapak Daniyal Abimanyu, sebagai ketua yayasan Halim Abimanyu.” Suara MC menggema di seluruh ruangan.
Seorang pria paruh baya naik ke atas podium. Wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang pernah mengisi hari-hariku dulu. Seseorang yang bahkan tidak pernah menghilang dari ingatanku.
Selama beberapa tahun ini, aku menyembunyikan nama Awan jauh di dalam hatiku sehingga membuat debarannyapun perlahan menghilang. Aku tidak pernah menghubunginya walaupun aku punya nomor kontaknya yang ku minta dari Mas Mahli. Aku hanya menyimpan nomor itu di ponselku tanpa berniat untu menghubungi pemiliknya. Karna kami sudah berjanji untuk menatap jalan masa depan yang ada di depan kami masing-masing.
Awan. Aku bukan melupakan pria itu. Aku hanya merasa bersalah karna tidak bisa menepati janjiku untuk mengantarkannya pergi.
Kira-kira, bagaimana kabarnya sekarang?
Pak Daniyal terus memberikan wejangan-wejangan terbaiknya untuk kami. Aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi karna wajahnya benar-benar mengingatkanku dengan Awan.
Dan seperti janji ayah. Selesai acara wisuda, kami semua menuju ke sebuah restoran terbaik di kota. Ayah sudah memesan tempat untuk kami semua.
Ada orangtua Fio, dan orangtua Yuta yang juga ikut serta bersama dengan kami.
Ini adalah sebagai bentuk syukuran ayah atas lulusnya kami bertiga. Bahkan kami tidak sempat untuk mengganti pakaian.
“Dimana Yuta?” Tanya ayah saat tidak melihat Awan bersama kami di ruangan private itu.
“Katanya dia mau ke kamar mandi dulu.” Jawab tante ruth.
Dan tidak berapa lama kemudian, Yuta muncul bersama dengan Kak Sota. Masing-masing mereka membawa buket bunga yang sangat cantik.
Dan Yuta, menyodorkannya kepadaku.
“Selamat ya. Sudah menjadi sarjana.” Ujar Yuta kemudian.
Dan Kak Sota juga mengucapkan selamat kepada Fio.
“Terimakasih. Selamat juga untukmu.” Yuta tersipu. Aku bisa melihat wajahnya yang merona. Sangat tidak biasa.
“Selamat untuk kalian bertiga. Sekarang duduklah. Kita makan siang dulu.” Kata ibu.
Aku duduk di antara ibu dan Fio. Sementara Yuta duduk tepat di hadapanku.
“Setelah ini, apa rencana kalian?” Tanya Om Basri.
“Ara mau melanjutkan S2, Om.” Jawabku.
“Fio?”
__ADS_1
Kami semua menatap Fio. Menunggu jawabannya. Tapi kemudian dia menggelengkan kepala. Sepertinya, Fio masih belum siap untuk keluar dari tempurungnya. Dia belum siap untuk bertemu dengan lebih banyak orang lagi.
“Tidak apa-apa. Fio bisa magang di kantor kalau mau.” Ujar ibu.
“Di kantor? Tapi Fio bukan jurusan Ilmu Hukum, Bu Lisa.” Ujar ayah Fio.
“Tidak apa-apa. Dia bisa bantu-bantu disana nanti. Bagaimana, Fio? Mau, kan?”
Perlahan, Fio menganggukkan kepalanya.
Semua orang nampak sangat senang dengan keputusan Fio. Aku tersenyum padanya dan menggenggam tangan Fio dengan erat. Aku bangga dengan usaha Fio untuk terus bangkit.
“Kami sangat berterimakasih pada Bu Lisa dan keluarga. Sangat-sangat berterimakasih.” Ujar ibu Fio.
“Tidak masalah, Bu. Fio kan teman Ara. Jadi sudah sewajarnya kami membantu.”
Ah, aku bangga dengan ayah dan ibuku. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi putri mereka.
Kami melanjutkan obrolan sambil makan. Ada hal yang aneh menurutku. Sejak tadi, Yuta tidak bersuara. Dia nampak sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya terus menunduk menatapi piring makanan.
“Yuta? Kenapa kau diam saja?” Aku yang merasa aneh dengan sikap diam Yuta yang tidak biasa langsung saja protes.
Yuta menatapku tanpa berkedip. Membuatku takut dan heran.
Dia lantas bangun dari duduknya dan menghampiriku. Berdiri di sebelahku lalu berlutut.
Ya! Yuta berlutut di sebelahku.
Yuta terus menatapku dengan intens. Sedangkan kami semua kompak melihat padanya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Ia menggenggam sesuatu dan menyodorkan genggamannya padaku.
“Ara. Menikahlah denganku.”
GLEK.
Aku membeku.
Benarkah Yuta sedang melamarku sekarang? Didepan semua keluarga kami? Darimana dia mendapatkan keberanian sebanyak itu?
“Yuta...”
“Kau sudah lulus. Dan kau sudah terlepas dari komitmenmu. Kau tau aku sudah lama menunggu saat ini.”
Pias tatapan Yuta tertuju kepadaku. Pandangan kami bertemu dan aku merasakan debaran aneh di hatiku. Debaran yang baru kali ini kurasakan untuk Yuta.
Semua orang terdiam. Aku tidak mendengar suara sedikitpun. Yang kudengar hanya degup jantungku yang meningkat pesat.
“Ara?”
__ADS_1
“Eh, hem?”
“Aku menunggu.”
“Mana cincinnya?”
Seketika Yuta tersenyum dengan lebar. Dia kemudian membuka kepalan tangannya dan muncullah sebuah cincin berlian disana.
“Cepat pasangkan.” Aku mengulurkan tanganku.
Nampak sekali raut kebahagiaan di wajah Yuta. Dia segera memasangkan cincin itu di jari manisku. Ukurannya sangat pas. Dia tau betul apa yang menjadi kesukaanku.
Semua orang yang ada di rungan itu langsung bersorak dan bertepuk tangan bahagia. Bahkan ibu langsung memelukku dengan sangat erat. Kemudian Tante Ruth juga menghampiri dan memelukku.
“Terimakasih, Ara sayang.”
Kenapa aku menerima Yuta?
Karna tidak ada pria yang sangat mengertiku dibanding dia. Yuta sudah lama menahan perasaannya padaku. Dan debaran tadi, telah membuatku yakin kalau aku juga punya perasaan pada Yuta.
“Tapi aku punya permintaan.”
Seketika semua orang terdiam.
“Kita akan menikah setelah aku lulus S2.”
Yuta mengangguk setuju. Senyumnya tak pernah lepas lagi dari bibir seksinya.
“Ah. Akhirnya, Mas Arya. Kita bakal jadi besan.” Ujar Om Basir. Kedua pria itu langsung berpelukan mesra.
Nampaknya, semua orang sangat bahagia dengan keputusanku. Membuatku semakin yakin, kalau Yuta adalah pilihan terbaik untukku.
“Aku mencintaimu, Intan Kuara.” Bisik Yuta di telingaku.
Aku tersenyum. Hatiku berkata, aku juga mencintai Yuta.
Dan selanjutnya, keluarga membahas tentang pelaksanaan pertunangan kami. Mereka berembuk untuk mencari hari terbaik untukku dan Yuta melangsungkan pertunangan.
Dan sebuah hari telah di sepakati. Hari minggu depan.
Aku tidak menolak. Karna ku fikir, semakin cepat akan semakin baik juga. Aku dan Yuta terus saling tatap dengan mesra. Aku lega karna hatiku juga merasakan hal yang sama kepada Yuta. Dia baik, dan aku menyayanginya.
“Selamat ya, Ra. Apa ku bilang?” Bisik Fio padaku.
“Bagaimana kau bisa tau?”
“Mmmmmm. Firasat?”
__ADS_1
“Hahahahahha. Kali ini, firasatmu tidak menyesatkanku. Terimakasih untuk itu.”
Sebenarnya aku tidak menduga kalau Yuta benar-benar akan melamarku saat itu juga. Walaupun aku sudah bersiap karna memang sudah lulus. Ku fikir, Yuta tidak akan langsung melamarku setelah beberapa jam kami di wisuda. Dan ternyata firasat Fio benar. Yuta benar-benar melakukannya.