Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 24.


__ADS_3

Rasanya sangat menyakitkan. Menyimpan perasaan bersalah di dalam hati, seperti menyimpan ribuan jarum di sana. Aku merasa tidak sanggup. Aku harus memberitahu keluarga mendiang Yuta tentang kebenarannya. Aku tidak sanggup menanggung rasa yang sangat menyakitkan seperti ini.


Aku dan keluargaku ikut mengantarkan mendiang Yuta ke rumah peristirahatannya yang terakhir. Aku sengaja menyembunyikan diri di antara kerumunan karna tidak ingin Kuara melihatku.


Kuara tak henti-hentinya menangis. Sesekali dia nampak limbung dan hampir terjatuh. Tak kuasa menahan kesedihan akibat di tinggalkan calon suaminya.


Hari ini, seharusnya menjadi hari paling membahagiakan untuk Kuara dan Yuta. Hari ini, seharusnya mereka telah menjadi sepasang suami istri yang bahagia. Tapi karna campur tanganku, Kuara menjadi kehilangan sosok yang di cintainya.


Melihat wajah sayu Kuara, hatiku semakin sakit saja.


Mendiang Yuta di makamkan di komplek pemakaman keluarga. Menurut beberapa cerita yang kudengar dari pelayat, disana akan dibangun sebuah masjid untuk mengenang mendiang Yuta.


Setelah tujuh hari barulah aku memberanikan diri untuk datang ke kediaman Pak Basri. Tujuanku hanya satu. Aku ingin mengakui dan menceritakan kebenarannya tentang Yuta. Bukan apa, karna selama tujuh hari ini Kuara selalu berada di kediaman Pak Basri dan aku tidak sanggup bertemu dengannya.


Aku melakukan ini karna tidak sanggup menanggung beban rasa bersalah yang semakin menyakitiku. Bukan demi keluarga Yuta. Tapi demi diriku sendiri.


Aku tidak mau terkungkung oleh rasa bersalah seumur hidup. Aku merasa ini adalah hal yang benar yang harus ku lakukan. Kuharap, ini bisa mengurangi rasa bersalahku terhadap keluarga Pak Basri dan juga Kuara.


Takdir begitu lucu mengikatkan tali diantara kami. Secara tidak langsung, aku telah membunuh calon suami dari wanita yang sangat kucintai.


“Ada apa, Nak Awan?” Tanya Pak Basri. Aku, Pak Basri, istrinya dan juga Sota, kami sedang duduk di ruang tamu setelah aku memberitahu ingin membicarakan hal yang sangat penting.


“Kenapa, Awan?” Tanya Mas Sota.


Aku menarik nafas dalam-dalam. Memandangi satu persatu anggota keluarga mendiang Yuta.


Perlahan, aku mulai menceritakan pertemuanku dengan mendiang Yuta saat di Boston beberapa hari yang lalu. Disaat bercerita, rasa sedih menggelayutiku dan membuat mataku berkaca-kaca. Apalagi saat istri Pak Basri kembali menangis sambil memeluk suaminya.


“Saya minta maaf, Pak, Bu, Mas Sota. Kalau saja saya tidak memberikan tiket saya waktu itu, mungkin Yuta masih ada disini bersama dengan kalian. Saya benar-benar minta maaf.” Aku tidak kuasa membendung laju airmataku. Airmata kesedihan bercampur rasa bersalah.


Untuk beberapa saat kami semua terdiam. Hanya terdengar isak tangis istri Pak Basri. Sementara aku menundukkan kepala sambil merusaha menghentikan airmataku.


“Awan, ini bukan salahmu. Kenapa ini bisa jadi salahmu karna berniat membantu Yuta? Tidak, tidak. Ini bukan salahmu. Jadi kami minta, jangan salahkan dirimu karna hal ini.” Suara serak Mas Sota  membuatku menatapnya.


“Benar nak Awan. Ini semua karna sudah janjinya Yuta dengan Sang Pencipta. Ini sudah takdirnya. Tidak ada yang perlu disalahkan disini.” Pak Basri menimpali.


“Kami sudah ikhlas atas kepergian Yuta. Karna sudah ikhlas, kami tidak ingin menyalahkan siapapun. Lagipula ini bukan salahmu. Kami tidak mau melihatmu menyalahkan diri, Awan. Karna itu akan menyakiti hati kami. Sekali lagi saya katakan, kamu tidak bersalah. Bebaskan rasa bersalahmu itu. Jangan membuat hatimu terbebani karna yuta. Kasihan dia.”


Ada sedikit perasaan lega dalam hatiku setelah menceritakan semuanya. Apalagi setelah mendapat kebesaran hati dari Pak Basri dan keluarganya untuk memaafkanku.


“Terimakasih banyak Pak, Bu, Mas Sota. Terimakasih banyak.” Ujarku.

__ADS_1


Mereka semua mengantarku sampai ke depan rumah. Sebelum pergi, aku menyalami mereka semua sebagai bentuk rasa hormatku kepada mereka.


Aku belum sepenuhnya lega. Masih ada yang mengganjal. Ini tentang Kuara. Aku ingin meminta maaf langsung kepada Kuara. Tapi aku sudah tidak punya keberanian. Keberanianku telah kuhabiskan untuk keluarga Pak Basri tadi.


Aku menghentikan mobilku di seberang rumah Kuara. Pandanganku tidak luput dari rumah besar itu. Aku mengira-ngira sedang apa kiranya Kuara saat ini. Aku merindukannya. Tapi rasa bersalah telah mendorong rindu itu untuk bersembunyi di sudut hatiku.


“Maafkan aku, Kuara.”


Tidak sanggup berlama-lama disana, aku memutuskan untuk pergi dari sana. Melajukan mobilku ke sebuah restoran yang ada di kawasan Condong Catur.


Aku menghentikan mobil di parkiran restoran ‘L’. Ya, itu adalah restoran milik Elya yang baru buka satu tahun belakangan. Restoran bergaya vintage dengan beberapa meja outdoor, dengan dihiasi pohon-pohon kersen yang menjulang. Nampak menyejukkan.


“Awan!” Teriak Elya yang baru saja keluar dari restorannya. Kebetulan sekali.


Aku melempar senyuman padanya.


“Kau pulang? Kenapa tidak mengabariku?”


“Yang penting aku sudah disini, kan?”


“Hehehehe. Iya, sih. Masuklah.”


Aku mengikuti Elya masuk ke dalam restoran dengan interior mewah itu. Banyak juga pengunjung yang sedang bersantap malam di sana.


“Tentu saja. Aku bekerja sangat keras untuk membuatnya menjadi seperti ini. Apa kau tidak ingin memujiku?”


Aku hanya tersenyum saja.


“Anggur?” Ujar Elya setelah kembali dari dapur. Ia memegang sebotol anggur di tangannya.


“Sepertinya kau sedang ada masalah. Aku harap ini bisa menghiburmu.” Elya menuangkan isi botol kedalam gelas.


“Terimakasih.”


“Mau kumasakkan sesuatu? Aku punya menu baru yang belum ku keluarkan. Kuharap, kau bisa memberiku saran sebelum ku keluarkan dalam daftar menu.”


“Dengan senang hati.”


Elya terkekeh. “Tunggu sebentar.” Kemudian dia menghilang di balik pintu.


Setengah jam kemudian, Elya telah keluar dengan membawa baki.

__ADS_1


“Ini, cobalah. Pasta rendang.”


Aku mengernyit. Pasta rendang?


“Aku ingin membuat inovasi dengan menggabungkan menu pasta dengan citarasa lokal. Makanlah, dan beritahu aku pendapatmu.” Elya nampak antusias.


Aku segera menyuapkan satu sendok pasta ke dalam mulut. Rasanya unik. Kenyalnya pasta berpadu dengan gurihnya bumbu rendang. Lumayan enak.


“Bagaimana?” Tanya Elya yang sepertinya tidak sabar dengan penilaianku.


“Rendangnya terlalu mendominasi. Aku kira, aku sedang makan di warung padang.”


“Ya!! Haruskah seperti itu ucapanmu itu?!” Elya mendengus. Membuatku terkekeh.


“Katanya kau ingin pendapatku.”


“Ish!”


“Hehehehe. Tapi enak. Aku fikir kau harus mengurangi rasa rendangnya. Pastanya jadi tidak terasa.”


“Begitukah? Sepertinya aku masih harus menyempurnakan resepku.”


Aku tersenyum. Aku tetap menghabiskan pasta itu untuk menghargai kerja keras Elya. Gadis ini, sudah banyak berubah. Dia tidak seperti dulu yang sangat betah mengekoriku.


“Ahhh. Awan.”


“Hem?”


“Sepertinya, sekarang aku lebih menyukai memasak daripada menyukaimu. Aaah, kenapa aku tidak menyadarinya sejak dulu?”


“Baguslah kalau begitu. Tidak ada lagi yang mengekoriku kemana-mana.”


“Tapi kau harus tetap waspada. Kalau nanti aku sudah mulai bosan dengan memasak, aku akan kembali mengekorimu.”


“Aku mohon jangan lakukan itu. Aku akan berdoa dengan tulus agar kau semakin menyukai dapurmu daripada aku. Hahahahaha”


“Ch! Dasar kau. Kalau kau ingin makan sesuatu, jangan sungkan bilang padaku.”


“Pasti. Aku akan terus meminta pajak sebagai bentuk ganti rugi karna kau dulu merecokiku terus.”


“Astaga. Kau ini. Pamrih sekali.”

__ADS_1


Selesai makan dan menghabiskan minumanku, aku meminta pamit kepada Elya. Aku ingin pulang dan meringkuk di balik selimut. Menjemput alam mimpi, sepertinya itu yang sangat kubutuhkan saat ini.


__ADS_2