Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 70. Kabar Yang Mengkhawatirkan.


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu.


Saat ini, Kuara sedang sibuk-sibuknya mengurusi pameran amal yang baru di mulai kemarin. Dengan adanya Keysi, Kuara merasa sangat terbantu sekali.


Dan selama satu bulan ini hubungannya dengan Awan masih berjalan baik. Bahkan Kuara menjalin hubungan baik dengan Radina juga yang sesekali datang ke rumah Awan.


Kuara dan Keysi sedang makan siang di sebuah cafe yang berada di dekat kampus. Karna memang pameran amal itu di adakan di kampus halim.


“Trimakasih ya, Key. Sudah membantuku.”


“Sama-sama, Bu.”


Keysi tersenyum saja. Sebenarnya itu bukan tugasnya. Tapi karna ia mendapat perintah langsung dari Awan, ia tidak punya pilihan lain. Lagipula, ia tau seperti apa arti Kuara bagi bosnya itu.


“Sudah berapa lama kau bekerja dengan Awan?”


“Ehm, sekitar 5 atau 6 tahun.”


“Wow. Sudah selama itu?”


“Iya. Sebelumnya saya bekerja dengan mendiang Pak Daniyal.”


“Ooh. Apa kau sudah menikah?”


“Tidak, belum. Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya di tuntut fokus dengan pekerjaan.”


Kuara terhenyak. Ternyata ada juga wanita yang seperti dirinya. Tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Walaupun di landasi oleh latar belakang dan sebab yang berbeda, tapi mereka tetap memilih jalan yang sama.


Yaitu menyendiri dan menyibukkan diri dalam pekerjaan.


“Jadi, apa selama ini Awan tidak pernah dekat dengan wanita?”


Entah kenapa Kuara bisa sampai menanyakan hal itu. Setelah menyadarinya, ia jadi malu sendiri.


“Setahu saya, Pak Awan hanya dekat dengan Elya. Tapi mereka hanya berteman. Ibu tidak usah khawatir."


Khawatir? Siapa? Aku? Batin Kuara malu sendiri. Karna sepertinya Keysi menanggapi pertanyaannya berbeda.

__ADS_1


Di tempat pameran, Radina datang bersama dengan Maiga. Tanpa Awan. Karna Awan punya banyak pekerjaan di kantor.


Di tempat pameran, Radina dan Maiga di sambut oleh seorang saudara mereka.


“Bude!” Panggil Rini, keponakan jauh dari Radina yang juga merupakan salah satu anggota panitia pameran.


“Kalian sudah datang? Ayo, silahkan masuk.” Rini mengajak Radina dan Maiga untuk masuk ke salah satu area pameran yang menampilkan berbagai lukisan dan instalasi seni lainnya.


Radina nampak takjub dengan pemandangan di sekitarnya. Ia merasa pameran amal tahun ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Kali ini lebih meriah dan lebih banyak hal yang di ikut sertakan dalam pameran.


“Aku sangat penasaran siapa panitianya. Ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya.” Ujar Radina. Dan Maiga hanya mengangguk setuju. Padahal ia tidak terlalu mengerti, tapi ia juga bisa merasakan.


“Ketua panitianya itu salah satu dosen ilmu sejarah, bude. Mbak Kuara.” Jelas Rini lagi.


“Kuara? Oooh. Iya, Mama pernah dengar kalau Kuara jadi dosen disini.” Ujar Radina kepada putrinya.


“Bude kenal sama Mbak Kuara?”


“Ya kenal, dong. Dia tetangganya Mas Awanmu.” Jelas Radina lagi.


“Ooh.”


“Mbak Kuara sih sudah tidak di ragukan lagi kehebatannya dalam pekerjaan. Tapi sayangnya dia itu punya kutukan.”


“Kutukan? Apa maksudmu, Rin?”


“Lho, Bude tidak tau? Semua orang sudah tau kalau Mbak Kuara itu dikutuk, Bude. Dia selalu gagal menikah. Kabarnya sudah 5 atau 6 kali gitu dia gagal menikah.” Jelas Rini berapi-api. Dia suka menceritakan tentang orang lain.


Begitulah kabar, bisa bertambah, atau berkurang. Tergantung dari mulut orang yang mendengarkan dan menceritakan.


“Sebanyak itu. Bagaimana bisa?” Maiga juga tidak kalah penasarannya.


“Orang bilang, pria yang mau menikah dengannya pasti akan meninggal. Karna itu tidak ada yang berhasil sampai ke pelaminan. Kasihan juga Mbak Kuara itu sebenarnya.”


Tidak ada yang menyadari akan perubahan dari raut wajah Radina. Wanita paruh baya itu tiba-tiba diserang rasa cemas yang berlebihan. Fikriannya hanya tertuju pada putra semata wayangnya. Karna ia tau kalau putranya itu sedang memperjuangkan cintanya untuk Kuara.


Radina takut, kalau apa yang di katakan oleh Rini itu adalah benar. Karna kabar tidak mungkin muncul tanpa sebab begitu saja. Disaat ada asap, tentulah ada api.

__ADS_1


Bukan apa, sebagai seorang ibu, dia tidak ingin putranya mengalami nasib nahas. Apalagi sampai kehilangan nyawanya. Memikirkannya saja membuat Radina ingin menangis.


“Mama kenapa? Mama menangis?” Tanya Maiga yang keheranan melihat airmata sudah meleleh di pipi sang ibu.


“Ha? Tidak. Mama tidak menangis. Habis menguap. Jadi matanya berair.” Radina beralasan.


Perasaan Radina sedang limbung. Di satu sisi, ia senang karna putra kesayangannya sudah menemukan tambatan hati. Tapi mendengar cerita Rini, ia juga merasa takut. Bagaimana tidak, ini menyangkut dengan nyawa.


“Mai, kita pulang saja, ya. Mama merasa tidak enak badan.” Ujar Radina mengajak putrinya pulang.


“Lho, tapi kan kita baru sampai, ma. “ protes Maiga.


“Besok-besok saja kemari lagi. Lagipula acaranya masih seminggu lagi.”


Radina tidak menunggu tanggapan Maiga. Ia hanya berbalik dan berjalan menuju ke tempat parkir. Dengan terpaksa Maiga mengikuti ibunya.


“Mama kenapa? Apanya yang sakit? Mau mai antar ke rumah sakit?” Tanya Maiga saat sudah dalam perjalanan. Ia berusaha membagi fokusnya ke jalan raya dan ibunya yang meringsut di bangku di sebelahnya. Nampak jelas kalau ibunya itu sedang mengkhawatirkan sesuatu.


“Tidak usah. Kita pulang saja. Mama hanya perlu istirahat sebentar.”


Dan akhirnya Maiga mengalah. Ai menuruti ibunya dan melajukan mobil ke arah pulang.


Sesampainya di rumah, Radina langsung masuk ke dalam kamarnya. Bahkan wanita itu tidak keluar kamar sampai hampir menjelang malam.


Maiga di buat bingung dengan sikap ibunya. Apalagi ia tengah mengandung dan itu membuatnya berfikiran yang macam-macam. Pun karna ben sedang ada di boston sehingga tidak ada yang bisa ia ajak bicara di rumah itu.


Tapi dari sekian banyak fikiran, Maiga tidak dapat menebak apa yang sedang di fikirkan oleh ibunya.


Sudah berkali-kali Maiga membagunkan sag ibu dan menawarinya makan. Tapisang ibu menolak. Radina hanya meringkuk saja di balik selimut. Ia benar-benar merasa takut akan kehilangan putranya kalau Awan menikah dengan Kuara.


Tapi di sisi lain, Radina merasa tidak tega untuk menahan putranya. Karna ia tau, seberapa dalam Awan menyayangi Kuara.


Radina di ambang kebingungan. Antara rasa takut dan rasa tidak tega. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang ibu. Dan Awan adalah putranya.


Maiga tidak sabar melihat ibunya seperti itu. Ia lantas memutuskan untuk menghubungi Awan yang sedang berda di kantornya.


“Mas? Bisa tidak pulang ke rumah sebentar? Sepertinya mama sedang tidak enak badan.” Ujar Maiga saat sambungan terlfon terhubung.

__ADS_1


Mendengar kabar itu, Awan seketika meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ia meminta Ghani untuk membereskan meja kerjanya sementara ia mengemudi ke rumah ibunya sendiri.


Sepanjang jalan ia di serang perasaan khawatir. Berbagai fikiran buruk mulai menggentayangi kepalanya.


__ADS_2