
Dua tahun kepergian Yuta, akhirnya aku menerima bujukan ibu untuk mengenalkanku pada anak salah satu rekan bisnisnya yang berasal dari Jakarta. Bukan apa, aku merasa perlu untuk menemui pria itu hanya untuk menyenangkan hati ibu dan keluargaku. Tapi yang terjadi adalah, akhirnya kami gagal menikah.
Dia ini calon suami keduaku setelah kepergian Yuta. Namanya Andri. Dia adalah putra salah satu teman ibu. Dia pria yang baik sehingga pada satu waktu, aku memutuskan untuk menerima pinangannya. Aku merasa sudah saatnya aku lepas dari kungkungan penyesalan atas rasa bersalahku pada mendiang Yuta. Aku yakin, kalau Yuta juga pasti tidak ingin melihatku terus seperti ini. Itulah yang menguatkan niatku.
Andri sangat-sangat baik. mBahkan saking baiknya, Andri berkata, kalau dia juga ingin menikahi teman perempuannya yang baru di putuskan oleh sang kekasih.
Seketika aku langsung membatalkan pertunangan kami.
Entah aku yang gila atau bagaimana. Menolak pria baik hati seperti Andri.
Tahun berikutnya, ayah memperkenalkanku kepada salah seorang anak teman artisnya yang bernama Dwi.
Dwi pria tampan dengan postur tubuh mempesona. Hal yang wajar karna Dwi juga merupakan seorang artis yang sedang naik daun saat ini. Umurnya hanya selisih satu tahun diatasku. Dwi juga melamarku dan aku juga menerimanya. Bahkan, dua bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan.
Tentu saja keluargaku menyambut baik hal ini.
Hari ini, aku dan Dwi sedang sibuk mengurusi pesta pertunangan Fio dan Kak Sota. Pesta itu di laksanakan di salah satu hotel ternama di kota Jogja. Tidak banyak tamu undangan. Hanya keluarga inti dan teman dekat Om Basri dan Tante Ruth saja yang di undang.
Aku juga masih berhubungan baik dengan keluarga om basri. Tidak ada yang berubah bahkan setelah kepergian Yuta empat tahun lalu.
“Ara, ayo ikut aku.” Ajak Dwi tiba-tiba.
Dwi menggenggam tanganku dan kami naik kelantai 4. Ternyata Dwi sudah memesan sebuah kamar.
“Kenapa kau mengajakku kesini?”
“Aku ingin mengakui sekaligus menunjukkan sesuatu padamu.” Ujarnya dengan wajah serius.
Aku mengerutkan kening. Menatap heran kepada Dwi yang tiba-tiba membuka bajunya.
“Dwi! Kau mau apa?!” Pekikku yang takut setengah mati melihat dadanya yang sudah terbuka.
Dan hal berikutnya yang terjadi adalah, pria itu langsung melepas celananya dan hanya menyisakan ********** saja. Sementara aku sudah berbalik tak mau menatapnya.
“Aku ingin memastikan sesuatu sebelum terlambat, Ra.”
__ADS_1
“Memastikan apa? Kenapa kau malah membuka pakaianmu seperti itu?”
“Aku hanya ingin mengganti pakaianku.”
Ucapan Dwi itu melegakan hatiku. Benar-benar lega. Untuk beberapa saat, tidak terdengar suara Dwi.
“Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini.”
Aku berbalik dan menatapnya. Ternyata dia benar-benar sudah mengganti pakaiannya.
“Kau ini bicara apa? Menyakitiku? Apa maksudnya?”
“Sebenarnya, aku sudah punya kekasih. Tapi orangtuaku tidak menyetujuinya dan memaksaku menikahimu. Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun terhadapmu, Ra. Maafkan aku. Sungguh, aku tidak ingin menikahimu.”
Lututku melemas. Tapi kemudian aku memaksanya untuk berdiri dan berjalan ke pada pria itu. Aku segera melepaskan cincin yang tersemat di jari manisku dan langsung memberikannya padanya.
“Katakan itu pada orangtuaku dan orangtuamu.” Dan aku langsung pergi dari kamar itu.
Untuk apa menikahi pria yang bahkan hatinya tidak pernah untukku? Itu sama saja dengan menggali lubang penderitaanku sendiri. Bodoh jika aku tetap memaksa untuk melanjutkan pertunangan ini.
Tidak lama setelah itu, aku kembali di pertemukan kepada seorang pria bernama Anjas. Dia hanya pria biasa. Bekerja sebagai guru di sekolah dasar di Solo. Pertemuan kami terbilang unik.
Saat itu aku sedang menemani ibu ke Solo untuk bertemu dengan kliennya. Dan saat siang tiba, aku dan ibu memutuskan untuk makan di sebuah warung soto. Dan disana, aku menumpahkan semangkuk soto yang tepat mengenai paha Anjas.
Kamipun berkenalan dan saling bertukar nomor telfon. Anjas sering datang ke Jogja hanya untuk sekedar bertemu denganku. Dua bulan kami menjalin hubungan, dan Anjas memberanikan diri untuk meminangku langsung kepada ayah dan ibu. Akupun langsung menerimanya. Karna selama kebersamaan kami, Anjas pria yang sangat perhatian dan bertanggung jawab. Tapi ternyata aku belum tau semua tentang dirinya.
Suatu malam, aku dan Anjas sedang makan malam bersama. Setelah makan, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Malioboro demi menghabiskan waktu bersama.
Saat sedang berjalan-jalan itu, aku bertemu dengan salah satu teman pria saat kuliah dulu. Dan kamipun bercerita panjang lebar. Mengenang masa-masa saat kami berkuliah.
Satu hal yang tidak cepat kusadari adalah, ternyata Anjas merasa terganggu dengan hal itu. Jadi dia langsung menarikku begitu saja dan menyeretku masuk ke dalam mobil.
“Kau kenapa?” Tanyaku yang masih butuh penjelasan darinya.
“Masih tanya kenapa?! Aku tidak suka melihatmu berbicara dengan pria lain selain aku!!”
__ADS_1
Aku sangat terkejut melihat perubahan sikap Anjas. Sebelumnya dia tidak pernah membentakku seperti itu. Bahkan untuk bicara dengan nada tinggi saja, dia tidak pernah.
“Tapi dia hanya temanku saat kuliah dulu!” Aku ganti berteriak. Kesal karna Anjas meneriakiku seperti itu.
“Sekali kubilang tidak suka ya tidak suka! Kau harus mendengarkanku tanpa membantah.”
“Kenapa aku harus mendengarkanmu? Kita bahkan belum menikah. Lagipula dia hanya teman. Kenapa kau sampai marah seperti ini?”
“Aku tidak suka kau membantahku, Ara.”
Dan di detik selanjutnya, Anjas sudah mencekik leherku dengan sangat kuat. Aku bahkan sampai tidak bisa bernafas. Hingga pandanganku menjadi gelap dan aku tidak ingat apapun.
Aku tidak tau siapa yang menolongku. Yang aku dengar samar-samar ada yang memaksa membuka pintu mobilku dan membawaku keluar dari mobil. Selebihnya, ada banyak suara yang berteriak-teriak dan memaki-maki Anjas. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.
Dan akhirnya, untuk yang ke empat kalinya aku gagal menikah. Tidak ada satu priapun yang berhasil menikah denganku.
Sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk tidak lagi dekat dengan lelaki manapun. Aku hanya akan fokus dengan pekerjaanku. Mengajar di kampus dan sibuk menghabiskan waktu atas proyek baruku.
Ya, aku di ajak bekerjasama dengan yayasan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang beberapa kebudayaan di Indonesia. Terutama di pulau Jawa.
Tentu saja aku menyambutnya dengan senang hati. Itu lebih dari cukup untukku membunuh waktu kesendirianku.
Aku senang dengan kesendirianku. Aku hanya perlu fokus dengan diriku sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Pergi bersenang-senang dan memanjakan diriku sendiri. Aku berusaha berdamai dengan keadaan ini.
Menjalin hubungan benar-benar membuatku trauma. Lagipula, sekarang banyak rumor beredar di sekitarku. Kalau aku ini telah di kutuk sehingga tidak ada pria yang berhasil sampai di pelaminan bersamaku. Kalaupun sampai, pasti pria itu akan meninggal karnaku. Karna hal itu juga, sehingga para pria takut untuk mendekatiku.
Aku tidak masalah dengan itu. Aku tidak pusing memikirkannya. Menikmati hidup sendiri jauh lebih penting daripada mengurusi rumor tidak jelas begitu.
Aku benar-benar tidak peduli walaupun rumor itu akan menyebabkan aku sendirian seumur hidup.
^TAMAT^
**
tenang aja warga. yang tamat cuman pov Kuara kok. setelah ini masih ada pov-nya si tukang kutuk, Rahwana. sehat-sehat selalu ya kalian.
__ADS_1