
Jam istirahat adalah waktu yang paling kutunggu-tunggu. Aku dan teman-teman segera keluar kelas hendak menuju ke kantin. Tapi seseorang yang sedang berdiri tepat di depan pintu menghentikanku.
Elya sedang menatapku marah. “Awan, ayo kita bicara.”
“Tidak ada yang ingin ku bicarakan.” Jawabku dingin. Aku terus berjalan melewatinya sambil menyimpan kedua tangaku di dalam saku celana.
“Aku punya banyak hal yang ingin ku katakan padamu.” Elya menarik lenganku. Memaksaku berhenti.
Beberapa anak melihat kepada kami. Dan aku paling tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.
Baiklah, aku akan menuruti kemauan Elya kali ini. Aku mengikuti kemana Elya menarikku. Ternyata ke belakang kelas.
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Kenapa kau selalu menghindariku?”
“Karna aku malas melihatmu.”
Apa dia akan sakit hati atas kejujuranku?
“Awan. Aku masih mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah darimu. Tolong jangan begini.”
“Tapi aku sudah tidak ingin bersamamu lagi.”
“Apa kau begitu sakit hati karna kejadian yang dulu? Itu tandanya kau sangat mencintaiku. Aku minta maaf. Kumohon, kembalilah padaku.”
Astaga. Bagaimana caranya membuat anak ini mengerti? Aku sudah tidak punya perasaan apapun untuknya.
Sepertinya dia salah faham. Aku bukan tipe pria yang akan menangisi seseorang yang mencampakanku. Tidak ada waktu untuk itu.
Aku bukannya sakit hati di selingkuhi. Aku hanya merasa kalau sudah berakhir, ya sudah. Waktuku terlalu berharga untuk menangisi seorang Elya. Aku sudah puas memacarinya selama 2 tahun.
“Memang benar aku mencintaimu. Tapi itu dulu. Sekarang, tidak lagi. Hatiku, sudah punya pemilik.” Aku berniat untuk tegas kepada Elya. Sepertinya kalau hanya kiasan, dia tidak bisa memahaminya.
“Tidak. Tidak mungkin. Aku tau kau sangat mencintaiku, Awan. Aku tau kalau kau tidak mungkin secepat ini berpaling dariku. Ya, aku salah karna sudah berselingkuh darimu. Tapi aku sudah meminta maaf padamu berkali-kali. Apa kau masih belum bisa memaafkanku?”
“Aku tidak pernah marah padamu. Jadi apa yang harus ku maafkan? Berselingkuh? Itu hakmu. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Kau perlu tau satu hal, El. Aku, sama sekali tidak pernah merasa sakit hati saat kau menyelingkuhiku.”
“Apa maksudmu kau tidak sakit hati? Apa kau tidak mencintaiku?”
“Entah. Aku harus bilang itu perasaan apa. Tapi yang jelas, itu bukan cinta. Aku hanya sebatas menyukaimu. Itu saja. Dan waktu itu kufikir tidak ada ruginya kalaupun kita menjalin hubungan.”
Aku melihat wajah Elya berubah merah padam. Sepertinya dia sedang benar-benar marah saat ini.
__ADS_1
“Sekarang, kuharap kau mengerti dan berhentilah mengejarku. Karna aku juga sedang mengejar wanita yang ku cintai.”
“Itu berarti perasaanmu tidak terbalas, kan? Hemh.” Elnya tersenyum sinis.
“Itu urusanku.”
“Kalau begitu, aku juga perlu menegaskan satu hal padamu. Aku, tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu kembali.”
Elya pergi meninggalkanku. Sifatnya memang seperti itu. Keras kepala. Dia akan berusaha mendapatkan apapun yang dia mau.
Tapi jangan salah. Aku punya kepala yang sama kerasnya dengan Elya. Dan aku, juga akan mendapatkan apa yang kumau.
Sepulang sekolah, aku berniat untuk mampir ke kampus. Mengundi keberuntunganku apakah aku akan bertemu dengan Kuara, atau tidak. Aku ingin membuat seolah kita bertemu dalam sebuah situasi yang tidak terduga. Biasanya, wanita suka hal-hal yang mengejutkan begini. Dan tempat yang paling strategis untuk menunggunya adalah, pintu gerbang kampus.
Sebenarnya kau tidak tau apakah Kuara sudah pulang atau belum. Aku hanya akan mempertaruhkan keberuntunganku saja hari ini.
“Awan!” Pekik suara manja yang sudah kuhafal betul itu milik siapa. Heni. Sepupuku yang paling centil.
“Mbak Heni?”
“Kau sedang apa disini?”
“Tidak ada. Aku... Ehmm. Mau beli cincau.” Astaga. Alasan macam apa itu. Memangnya hanya disini ada penjual cincau?
Mbak Heni memang suka melakukan itu. Dengan saudara yang manapun. Tidak peduli wanita atau pria, dia suka sekali menggandeng orang.
“Heheheh. Terimakasih.”
Disana. Dari arah dalam, aku melihat Kuara yang berhenti dan memperhatikanku. Awalnya aku tidak mengerti kenapa dia mematung begitu saja bahkan setelah kusapa.
Wajahnya merona. Dia tidak berani menatap mataku langsung. Saat kuajak bicara, dia hanya jelalatan melihat kesamping kiri dan kanan.
Ekspresi itu, aku pernah melihatnya. Dan aku tau perasaan apa yang bisa membuat ekspresi wajah seorang wanita menjadi kaku dan canggung begitu. Apa dia sedang cemburu padaku?
Sontak hatikupun girang bukan main. Kalau Kuara merasa cemburu padaku dan Mbak Heni, itu berarti dia juga punya sedikit perasaan padaku, kan?
Jadi, aku akan menaikkan taruhanku hari ini.
“Sudah mau pulang?”
Kuara mengangguk. Senyumnya terlihat kaku. “Ya sudah, aku pergi dulu. Daaa..”
Dan tanpa ku duga, Kuara langsung pergi begitu saja dari sana. Ia menghentikan taksi dan langsung pergi. Aku hanya bisa menatapi saja taksi yang membawanya menjauh.
__ADS_1
“Siapa itu, Wan?”
“Calon kekasih.”
“Astaga.” Mbak Heni terkejut dan seketika langsung menarik dirinya menjauh beberapa langkah. “Apa aku membuatnya salah faham? Dia nampak marah padamu. Bagaimana ini?”
Aku hanya tersenyum. “Justru aku malah senang kalau dia memang cemburu.” Karna itu berarti dia memang punya perasaan padaku.
Plak!
Mbak Heni memukul lenganku. “Kau ini. Hal yang paling harus dihindari oleh pria-pria sepertimu adalah, jangan sampai memebuat wanitamu cemburu. Apa kau tidak tau betapa mengerikannya kalau wanita sudah cemburu?” Mbak Heni mendengus kesal.
Aku kembali terkekeh. Tapi, kemarahan itu pasti karna dia punya perasaan pada kita, kan? Kalau Kuara tidak peduli padaku, dia tidak mungkin cemburu.
“Apa dia berkuliah disini?”
Aku mengangguk.
“Wahhh, seleramu kenapa jadi yang lebih tua?”
“Cuma beda satu atau dua tahun. Tidak masalah.”
“Hahahahaha. Kau ini. Ternyata suka dengan yang lebih dewasa.”
Entahlah, perasaan yang kumiliki saat ini untuk Kuara, terasa berbeda. Perasaan itu menggebu dalam hatiku. Dulu saja aku berfikir kalau perasaanku ini mungkin hanya ketertarikan sementara saja. Tapi semakin kesini, aku semakin menyukainya. Aku ingin memilikinya di sisiku.
“Mau kuantar?” Aku menawarkan diri pada Mbak Heni.
“Tidak usah. Aku bawa mobil sendiri.”
“Ya sudah kalau begitu. Aku pulang dulu.”
“Daaa Awan.” Mbak Heni melambaikan tangan padaku.
Gara-gara bertemu Kuara, aku jadi lupa untuk membelikan Mbak Heni es cincau.
Ekspresi wajah Kuara masih menggelitik di ingatanku. Entahlah, membayangkan kalau Kuara cemburu padaku, itu sudah cukup membuat hatiku girang bukan kepalang.
Apa ini berarti perasaanku terbalas? Apa itu berarti Kuara juga punya perasaan terhadapku? Sepertinya aku harus gencar melancarkan seranganku.
“Sudah pulang, Nak?” Suara mama mengejutkanku. “Sedang memikirkan apa sampai kaget begitu?”
“Hehehehe. Tidak ada, Ma.”
__ADS_1
“Hai, Wan.” Aku langsung sumringah melihat Mas Mahli muncul dari dapur. Dia adalah sepupuku dari pihak papa. Dia yatim piatu, jadi papa dan mama yang membantunya.