
Aku Rahwana.
Ya, kalian tidak salah dengar. Namaku benar-benar Rahwana. Lengkapnya, Rahwana Abimanyu. Putra sulung sekaligus putra tunggal dari pasangan Daniyal Abimanyu dan Radina Putri. Aku punya seorang adik perempuan, namanya Maiga yang masih duduk di bangku lekas 3 smp.
Mamaku sangat menyukai tokoh-tokoh dalam sejarah. Dan salah satunya adalah Rahwana. Itulah alasan kenapa aku dinamai begitu.
Aku masih sekolah. Kelas 3 SMA. Tapi postur tubuhku sudah tumbuh melebihi umurku yang sebenarnya.
Orang bilang aku tampan, postur tubuh atletis, dan gagah. Tentu saja. Aku berkecukupan dalam hal gizi.
“Mas. Ayolah... Antar aku ke Beringharjo. Aku ingin mencari kain batik untuk prakarya.” Rengek Maiga padaku suatu minggu pagi.
“Mintalah Pak Yusman mengantarmu.”
Hari minggu adalah hari kebesaranku. Hari dimana biasanya aku tidak ingin diganggu dan akan melakukan apapun sesuka hatiku. Entah itu tidur sepanjang hari, bermain game, atau sekedar keluar nongkrong bersama teman-temanku.
“Mas... Tapi Pak Yusman sedang mengantar Mama ke bandara.”
“Kalau begitu tunggu dia pulang. Setelah itu minta antar ke sana.”
“Baiklah kalau begitu. Ahhh, kapan Mama pulang, ya?? Tiba-tiba aku ingin bercerita.” Ujar Mai yang malah melemparkan diri di sofa di depanku.
“Cerita apa?”
“Cerita kalau selama ini Mas cuma pura-pura pergi ke perpustakaan padahal pergi keluyuran tidak jelas.”
Dia mengancamku.
“Awas saja kalau berani bilang Mama.” Aku balik mengancamnya.
“Beringharjo.” Ujarnya kemudian melakukan gerakan seolah sedang mengancingkan mulutnya dengan tangan.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengalah.
“Tapi naik motor saja.” Paksaku.
Walaupun menggerutu, tapi Mai tetap naik ke atas motorku.
Sesampainya di Beringharjo, aku yang menjadi pengawal dadakan Mai hanya mengikutinya berkeliling pasar untuk mencari kain yang dia inginkan.
Inilah kenapa aku malas menemaninya belanja. Pilihannya itu sangat rumit. Sudah berkeliling dua kali tapi masih belum menemukan yang dia mau. Kakiku sudah mulai pegal karna terus mengikutinya. Ditambah harus berdesakan dengan pengunjung lain.
Aku berdiri di belakang Mai yang sedang menanyakan sesuatu kepada penjual di salah satu toko kain. Aku memilih untuk bermain ponsel sambil sesekali memperhatikan apa yang sedang dia lakukan.
Tapi tiba-tiba, aku mendengar dia sedang ribut dengan pengunjung lain dan memperebutkan sesuatu.
__ADS_1
“Maaf, Mbak. Tapi saya dulu yang memilihnya.” Tegas Mai.
“Enak saja. Dari tadi saya sudah milih yang ini.”
“Enak saja. Mbak itu baru datang. Saya sudah dari tadi disini.” Mai mulai meninggikan suaranya.
“Saya sudah datang lebih dulu. Saya cuma pergi ke sana sebentar.” Pelanggan wanita itu juga bersikeras.
“Tidak mau. Pokoknya ini punya saya.” Mai menarik lipatan kain itu dan mendekapnya kuat.
Teruskan, Mai. Aku suka melihat keributan. Hahahahaha.
Sruutt!
Lawan Mai berhasil menarik dan merebut kain itu dari Mai.
“Mbak beli yang lain dong.”
“Sudah tidak ada lagi. Tinggal ini saja.” Ujar penjual yang nampak bingung melihat dua pelanggan memperebutkan satu kain.
Lawan, Mai. Lawan. Aku menyoraki Mai dalam hati. Aku suka melihat keributan ini.
Tapi, lama kelamaan, keadaan semakin buruk. Mai yang memulainya lebih dulu dengan menarik lengan baju lawannya dengan keras. Dan pergumulanpun terjadi. Menyebabkan orang-orang berkerumun untuk melihat apa yang terjadi.
Melihat kondisi yang tidak kondusif, aku berniat memisahkan mereka.
“Lihat. Kau menjadi tontonan orang banyak. Malu.” Dia masih memarahi temannya.
Sementara kain yang menjadi rebutan sudah sobek dan terinjak-injak di lantai.
“Apa kau sangat membutuhkan kain itu?” Tanya gadis itu kepada Mai. Kulihat Mai mengangguk.
“Aku harus membuat prakarya untuk tugas sekolah.” Jawab Mai.
“Kau dengar itu? Dia jauh lebih membutuhkannya daripada kau.”
Aku yang berdiri di belakang gadis itu masih memperhatikan mereka.
“Bagaimana ini? Kainnya sudah rusak.” Ujar gadis itu kembali. “Oh ya. Bagaimana kalau aku memberikanmu ini?” Gadis itu merogoh ke dalam tasnya kemudian memberikan kain dengan motif yang sama persis dengan yang menjadi rebutan.
“Tapi itu punyamu, Ra.” Ujar temannya.
“Tidak apa-apa. Aku tidak terlalu membutuhkannya. Ini. Untukmu saja. Ambillah.” Gadis itu memberikan kain miliknya kepada Mai.
“Terimakasih, Mbak.”
__ADS_1
“Sama-sama. Maaf sudah mengganggu.” Ucapnya kemudian kepada para pengunjung yang ada disana. Kemudian, gadis cantik itu kembali menarik lengan temannya dan pergi dari sana.
“Terus, bagaimana dengan kainku yang sudah rusak ini?” Tanya penjual nampak kesal.
“Biar saya yang membayarnya.” Aku segera merangsek dan mengelurkan uang pecahan 100 ribu sebanyak empat lembar.
“Ini banyak sekali, Mas. Harganya cuma 200 ribu saja.” Penjual itu mengembalikan dua lembar padaku.
“Tidak apa, Bu. Simpan saja lebihnya. Maaf adik saya sudah menyebabkan keributan.”
Aku segera menyambar kain yang sudah rusak itu dari atas lantai dan pergi dari sana. Mai mengikuti pergi.
Sesampainya di luar, aku segera membuang kain rusak itu ke dalam tong sampah karna sudah tidak bisa di gunakan lagi.
“Mas! Tunggu!” Mai berteriak memanggilku yang terus berjalan meninggalkannya di belakang.
Saat kami sudah naik ke atas motor, aku melihat sosok gadis tadi dari balik kaca helmku. Mereka sedang menyeruput es dawet di dekat tempat parkir. Gadis itu nampak membenahi rambut temannya yang acak-acakan akibat di jambak oleh Mai tadi.
“Kenapa belum berangkat?” Tanya Mai dari belakang.
Kemudian, aku segera melajukan sepeda motorku meninggalkan tempat parkir. Sesampainya di rumah, aku segera malayangkan protes kepada Mai. Menurutku, tingkahnya sangat kekanak-kanakan.
Sebenarnya dia memang masih anak-anak.
“Kau ini memalukan. Kau bisa mengalah dan kita bisa mencari di tempat lain kenapa harus memperebutkannya?” Gerutuku sambil menghempaskan tubuh di sofa ruang keluarga.
“Sudah tidak sempat, Mas.” Alasan Mai. Dia langsung pergi masuk ke dalam kamarnya.
Aku melanjutkan bermain ponsel. Bayangan gadis cantik yang sedang tertawa di tempat parkir itu sangat menggangguku. Aku ingin mengenalnya.
Tidak membuang waktu, aku kembali menancap gas menuju ke tempat parkir pasar Beringharjo. Aku pasti sudah gila.
Sayangnya aku sudah tidak menemukan gadis itu lagi disana. Sepertinya mereka sudah pergi.
Ra. Temannya tadi memanggilnya, Ra.
Dan sepanjang perjalanan pulang, aku terus mengulang nama itu dalam kepalaku.
Ra.
Ra siapa? Akupun mencoba menggabungkan berbagai nama dengan akhiran ‘Ra’. Tapi, entah kenapa aku merasa tidak ada yang cocok dengan gadis itu.
“Mas darimana?” Tanya Mai yang sedang menyantap makan siangnya.
Aku diam saja. Malas menjawabnya. Aku lalu masuk ke dalam kamar dan memilih untuk bermain game saja.
__ADS_1
Tapi nama itu, masih terus terngiang-ngiang di kepalaku. Senyumannya manis.
Apa dia sudah punya kekasih?