
Selama satu minggu aku terus berfikir tentang apa yang harus ku lakukan tentang perasaanku terhadap Kuara.
Status kami yang tanpa ikatan membuatku bingung harus bagaimana. Mau memutuskan tetapi kami tidak pacaran. Menyuruhnya menunggu, tapi kami tidak pacaran. Jadi bagaimana?
“Sedang apa?” Suara Mama membuatku sangat terkejut. Entah sudah berapa lama Mama berdiri di pintu kamarku.
Aku yang sedang tiduran di sofa sambil memandangi foto-foto Kuara di ponselku pun langsung bangun dan duduk.
“Ma...”
“Bagaimana persiapannya? Barang-barangnya sudah di rapikan ke dalam koper? Apa perlu Mama suruh Bi Sarni membantumu?” Tanya Mama yang ikut duduk di pinggir ranjangku.
Aku melemparkan pandanganku ke arah koper kosong yang berdiri di pojok kamar. Lusa, adalah keberangkatanku menuju ke Boston. Sementara aku masih ragu bagaimana cara untuk memberitahu kepergianku kepada Kuara.
Aku tidak sanggup melakukan perpisahan ini. Membayangkan kalau aku akan sangat merindukannya, membuatku sudah patah hati.
“Kamu sedang memikirkan apa?”
“Ma, aku harus bagaimana? Soal Kuara.”
Mama terdengar menghela nafas pelan. “Kenapa dengan Kuara?”
“Aku ingin dia menungguku kembali.”
“Jangan lakukan itu, Nak. Kasihan anak orang. Menunggumu kembali dalam waktu yang entah kapan itu, akan menyiksanya. Kalian bisa saja menjalin hubungan jarak jauh, tapi Mama tidak yakin kalian akan kuat menjalaninya. Tapi bukankah kalian tidak pacaran?”
“Kami memang tidak dalam sebuah status hubungan. Tapi kami saling tau perasaan satu sama lain. Karna itu aku berencana menyuruhnya menunggu.”
“Kalau kamu menyuruhnya menunggu, itu berarti kamu egois. Serahkan semua pada waktu. Untuk saat ini, jalani apa yang ada di hadapan kalian. Kalian masih muda. Perjalanannya masih panjang. Cinta memang penting, tapi untuk sekarang, lebih penting untuk membangun jalan menuju masa depan kalian lebih dulu.”
Intinya, aku egois kalau menyuruhnya menunggu.
“Memangnya kamu sudah memberitahu dia kalau mau pergi?”
Aku menggeleng.
“Jadi semua ini cuma persepsi pribadimu saja?”
Aku mengangguk.
“Nak, alangkah baiknya kalau kalian membicarakan masalah ini bersama. Dengarkan apa pendapatnya. Baru kamu bisa menarik kesimpulan. Jangan mempersepsikan semua sendiri. Sama saja itu tidak akan membuahkan jalan keluar.”
Apa yang dikatakan Mama benar. Aku tidak bisa menarik kesimpulan sementara aku belum tau seperti apa pendapat Kuara. Mungkin saja dia bersedia menunggu.
“Baiklah, Ma. Besok aku akan menemuinya dan membicarakan hal ini.”
Aku berharap, Kuara benar-benar mau menungguku. Sepertinya tidak akan jadi masalah untukku kalaupun kami harus menjalin hubungan jarak jauh. Tapi entah dengan Kuara.
__ADS_1
Aku tersentak saat ponselku berbunyi. Itu adalah tlfon dari Papa yang memintaku untuk mengantarkan sebuah berkas yang tertinggal di ruang kerjanya.
“Ya sudah, cepat antarkan. Sepertinya Papa butuh cepat.” Ujar Mama.
Aku segera menyambar hoodie kesayanganku. Hoodie yang pernah menghangatkan tubuh Kuara malam itu. Kemudian mencari berkas yang di maksud Papa dan langsung meluncur ke kantornya di kawasan Tamansiswa.
“Mas Awan. Sudah di tunggu Bapak.” Ujar Mas Ulil yang sepertinya sedang menungguku di lobi kantor.
“Dimana Papa?”
“Ada di ruangannya, Mas.”
Bersama dengan Mas Ulil, aku segera naik ke lantai 5 dimana ruangan Papa berada. Aku mengetuknya kemudian masuk setelah mendengar suara Papa menyuruhku.
“Ini, Pa.” Aku menyerahkan berkas kepada Papa. Aku terkejut saat ternyata ada Keysi yang tengah duduk bersama dengan dua pria lain di sofa.
“Keysi?”
“Awan?”
Nampaknya Keysi juga terkejut dengan kemunculanku.
“Kenapa kau ada disini?” Tanyaku. Aku penasaran.
“Oh, kalian sudah kenal?” Tanya Papa yang bangun dari kursinya dan beralih duduk di sofa.
“Kami berkenalan waktu di Malang.” Aku menjelaskan.
Wahh, aku tidak menyangka ternyata Keysi murid yang berprestasi.
“Dan perkenalkan, ini putraku, Rahwana. Kalian bisa memanggilnya Awan. Setelah lulus, dia akan menjadi atasan kalian. Saya harap kalian bisa membantu anak saya ini dalam mengelola yayasan.”
Dengan rasa tidak enak hati aku menjabat tangan mereka satu persatu.
Ini adalah hal rutin yang dilakukan yayasan kami setiap tahun. Mencari beberapa bibit unggul yang berprestasi namun yang berasal dari keluarga yang kurang mampu dan memberikan beasiswa kuliah S1 sampai S2. Mereka akan di jamin seluruh biaya pengeluarannya selama berkuliah dan juga biaya hidupnya.
Di pertengahan masa perkuliahan, mereka di haruskan untuk magang di yayasan. Ada yang magang di perusahaan yang di kelola oleh yayasan juga. Ini di maksudkan untuk belajar sebelum mereka benar-benar terjun ke pekerjaan yang sesungguhnya.
Tapi tahun ini nampaknya berkurang pesertanya. Biasanya setiap tahun akan terpilih lima orang yang lulus seleksi untuk mendapatkan beasiswa.
“Lil, antar mereka keluar. Kalian sudah bisa pulang. Selebihnya, Pak Ulil ini yang akan mengurus keperluan kalian nanti.” Ujar Papa kembali.
Aku sedikit melihat kepada Keysi dengan senyum ramahku. Namun gadis itu nampak canggung dan hanya menundukkan kepala saja.
Sepeninggalnya mereka, aku kembali duduk di sofa di dekat Papa.
“Cuma tiga, Pa?”
__ADS_1
“Sebenarnya lima. Tapi yang dua mengundurkan diri.”
“Ooh.”
“Jadi bagaimana persiapanmu? Sudah selesai beres-beres?”
“Belum, Pa. Besok saja. Tidak banyak barang yang di bawa. Jadi santai.”
“Berhati-hatilah disana. Papa dan Mama akan menyempatkan diri berkunjung sebulan sekali untuk menjengukmu.”
“Aku mengerti, Pa.”
“Apa, kau dekat dengan Keysi?”
Aku menggeleng. “Tidak. Kami hanya kebetulan bertemu dan aku menolongnya saat di Malang waktu itu.”
“Nampaknya dia sangat terkejut tadi.”
“Wajar saja. Dia tidak tau siapa aku.”
“Papa harap, mereka benar-benar bisa membantumu kelak.”
Aku mengerti kekhawatiran Papa.
“Apa Elya sudah memberitahumu?”
Aku mengernyit. Kenapa tiba-tiba Papa membahas Elya?
“Kenapa tiba-tiba membahas Elya?”
“Jadi dia belum, memberitahumu? Dia juga akan kuliah di Boston.”
“Ha?!!!”
“Tenang saja. Bukan di MIT. Di kampus lain. Sepertinya dia benar-benar belum mau berhenti mengejarmu. Hahahahahaha.”
Aku mencibir mendapat ejekan itu. Astaga, gadis satu itu. Benar-benar keras kepala sekali.
Kabar ini membuat moodku langsung menguap. Membayangkan akan di ‘rusuhi’ oleh Elya bahkan saat aku berada di luar negeri, membuatku menjadi kesal.
Memang kami tidak satu kampus. Tapi satu kota. Dan itu sama saja. Kami bisa saja bertemu bahkan dalah situasi yang tidak terduga. Apalagi dia sangat kekeh dengan tujuannya. Jadi sudah dipastikan kalau dia akan terus berusaha bertemu denganku.
Memikirkannya saja sudah membuatku pusing.
“Pa, aku pulang dulu.”
Papa mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
__ADS_1
“Iya, Pa.”
Aku segera keluar dari ruangan Papa dan menuju ke tempat parkir. Kemudian, aku melajukan mobil ke arah kos untuk mengambil barang-barang yang akan ku bawa ke Boston .