Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 21.


__ADS_3

“Kenapa kau membahas itu?” Aku segera menghakimi Awan begitu ayah dan ibuku pergi ke pelaminan untuk berfoto bersama.


“Kenapa memangnya? Tidak boleh?”


“Tidak boleh!” Hardikku dengan suara pelan.


“Aku hanya jujur tentang keinginanku.”


“Kan aku sudah bilang padamu.”


“Karna itu, aku berharap kau akan menungguku sampai aku selesai kuliah. Saat itu tiba, komitmenmu sudah berakhir, bukan?”


Aku hanya ternganga saja. Benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Seserius itukah Awan padaku? Bukankah perasaannya itu hanya perasaan sementara seorang pria remaja pada umumnya? Aku  menganggap semua ucapannya itu hanyalah selorohan remaja labil biasa.


“Kapan kau kembali ke jogja?”


“Entahlah. Aku belum bertanya kepada ibu.” Aku senang Awan mengalihkan pembicaraan.


“Kalau begitu, besok pagi aku akan mengajakmu ke sebuah tempat.”


“Kemana?”


“Rahasia.”


Aku mengernyit heran. Pakai rahasia segala.


Saat aku melihat ke arah pelaminan, Mbak Susan melambaikan tangan padaku. Dia juga menunjuk kepada Awan kemudian meminta kami berdua ke sana.


“Ayo, di ajak foto.” Ajakku pada Awan.


Kemudian kamipun melenggang ke pelaminan dan berfoto dengan kedua pengantin. Aku disebelah Mbak Susan. Dan Awan di sebelah Mas Mahli.


Sebenarnya sejak tadi aku penasaran dengan kedua orangtua Awan. Tapi aku tidak berani menanyakannya. Malas kalau Awan jadi besar kepala.


Malam setelah pesta, kami menginap di rumah bude. Karna sudah lelah, pukul 8 kami semua sudah terlelap di kamar Mbak Susan. Aku tidur di kamar itu bersama dengan ibu dan bude.


Aku hampir tidak mendengar saat ponselku berdering. Tanganku otomatis meraba ke nakas dan langsung mengangkatnya.


“Hem?” Jawabku setengah sadar. Entah kenapa aku seperti bisa mendengar suara Awan di seberang sana.


“Kau belum bangun?”


“Awan?”


“Iya, ini aku.”


“Ada apa?” Ah, rasanya malas sekali membuka mulut saat kelopak mataku tidak bisa diajak terbuka begini.


“Cepat bangun. Aku akan tiba setengah jam lagi.”


Dan kalimat itu langsung menyadarkanku. Kelopak mataku yang tadinya menempel seperti di lem, kini telah terbuka lebar. Aku menoleh kearah jam dinding di kamar mbak susan. Masih jam 2 lewat 10. Apa Awan ngelindur?


“Apa maksudmu tiba setengah jam lagi?”


“Kau lupa aku akan mengajakmu pergi?”

__ADS_1


“Ya tapi bukan pagi buta begini, Awan. Memangnya mau kemana pagi-pagi buta begini?”


“Ke tempat yang akan membuatmu terkenang seumur hidup.”


“Masih terlalu pagi untuk bercanda, Awan.” Dengusku. Jantungku hampir saja copot karna takut membangunkan ibu dan bude.


“Aku tidak bercanda. Cepat bangun.”


Belum sempat menyanggah, Awan sudah mematikan ponselnya.


“Kenapa, Nak?” Suara serak ibu. Aku menoleh ke samping dan melihat ibu yang sudah terbangun. Pasti karna aku berisik.


“Ehm...” Aku ragu memberitahu ibu. Takut ibu marah.


“Siapa tadi yang telfon?”


“Awan.”


“Kenapa telfon jam segini?”


“Dia bilang akan datang setengah jam lagi?”


“Kesini?”


Aku mengangguk. “Dia bilang ingin mengajakku ke suatu tempat.”


Ibu semakin mengernyit. Bersiap hendak protes.


“Palingan mau di ajak lihat sunrise di Bromo.” Celetuk bude. Entah kapan bude bangun dan mendengar pembicaraan kami.


“Biarkan saja, lah. Disana ramai kalau pagi. Mumpung disini ya, Ra. Kapan lagi lihat sunrise di Bromo.”


Kalimat bude itu membuat ibu luluh. Tatapan memicing sudah hilang dari wajahnya. Memang, aku belum pernah menginjakkan kaki ke gunung Bromo. Ini adalah kali pertamaku ke Malang karna keluarga bude baru setahun pindah ke mari dari Surabaya. Dan selama setahun itu, aku belum pernah mengunjunginya.


Aku tau, hati ibu mana yang tidak khawatir anak gadisnya pergi bagi buta dengan pria yang bahkan belum ibu kenal. Mungkin kalau dengan Yuta, ibu akan langsung menyetujui. Tapi Awan, kami belum tau apapun tentang Awan selain latar belakang keluarganya.


“Boleh, Bu?” Aku setengah takut bertanya.


“Janji hati-hati. Kalau ada apa-apa, cepat telfon Ibu.” Ucap ibu.


Aku  tersneyum dan memeluk ibu. Lantas aku segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka. Mengganti pakaian tidur dengan pakaian tebal.


“Pakai jaket yang tebal. Soalnya nanti dingin disana.” Bude memberitahu.


“Tapi aku tidak membawa jaket.”


“Pakai saja jaket Mbakmu itu di lemari. Pilih yang kamu suka.” Tawar bude kembali.


Aku tersenyum kemudian memilih jaket tebal dan panjang selutut berwarna coklat muda. Kufikir itu akan cukup menghangatkanku nanti.


Ibu mengantarkanku ke luar rumah untuk menunggu Awan. Tidak lama berselang, ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah.


Awan muncul dari kursi belakang dan langsung menghampiri kami. Dia menyalami ibu dan bude dengan membungkuk sopan.


“Bu, boleh saya mengajak Ara pergi?”

__ADS_1


Aku terkejut mendengar ucapan Awan. Tidak menyangka kalau dia akan memintakan ijinku pada ibu.


“Iya. Hati-hati bawa putri Ibu, ya.” Pesan ibu yang nampak lega saat melihat ada seorang wanita yang duduk di depan.


“Iya, Bu. Saya pasti akan menjaganya dengan baik.” Hatiku bahkan bergetar mendengar janji itu. Memalukan.


“Ara pergi dulu, Bu.” Pamitku menyalami ibu.


Ternyata, bukan hanya ada Awan di mobil itu. Melainkan ada sepupu jauh Awan dengan istrinya juga. Aku baru tahu saat masuk ke dalam mobil.


“Hai.” Sapa wanita yang duduk di samping kemudi.


“Kenalkan, ini Mbak Ratih. Dan ini suaminya, Mas Arif.”


“Aku Ara, Mbak, Mas.” Aku memperkenalkan diri dengan canggung.


Sebelum berangkat, Mbak Ratih juga sempat mengangguk pada ibu dan bude.


Mobil mulai melaju dalam sepinya malam. Lama kelamaan, mulai menapaki jalanan yang agak menanjak.


“Kita mau kemana?” Bisikku pada Awan. Karna dari tadi suasana di dalam mobil sangat canggung dan membuatku bosan.


“Ara sudah pernah ke Bromo?” Tanya Mbak Ratih.


“Belum, Mbak.”


“Kesempatan baik ini, Ra. Kita bakalan lihat sunrise nanti.” Jelas Mbak Ratih lagi. Mas Arif jarang sekali membuka suara. Sepertinya dia tipe pria pendiam.


“Bagus ya, Mbak?” Tanyaku lagi.


“Bangettttt.” Mbak Ratih mengiming-imingiku. Aku jadi tidak sabar.


“Jadi ini pertamu kemari?” Bisik Awan.


“He-em.”


“Aku akan memastikan kau tidak akan melupakan momen ini.” Bisiknya lagi.


Astaga, apa yang dia katakan?


“Kalian sudah lama berpacaran?” Tanya Mbak Ratih lagi.


Pacaran? Siapa? Aku dan Awan?


“Mbak, tolong jangan tanyakan itu. Kami malu.” Ujar Awan.


Jawaban macam apa itu?


“Hahahahahahaha.”


Aku terkejut saat Mas Arif tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Apanya yang lucu?


“Ya sudah. Semoga kalian langgeng, ya.” Kata Mbak Ratih lagi.


Ah, untung saja gelap. Aku beruntung Awan tidak melihat wajahku yang pasti sudah merona.

__ADS_1


Mobil terus menanjaki jalanan yang entah menuju kemana, aku tak tahu. Tapi tidak lama kemudian, mobil sudah berhenti di sebuah tempat parkir yang ternyata lumayan ramai. Aku melirik jam tangan, sudah pukul 04.25. Ternyata lama juga perjalanan kami dari rumah ke mari.


__ADS_2