
Setelah ujian tengah semester, kuliah di liburkan selama satu minggu. Sudah dua hari ini aku tidak punya kegiatan. Kerjaanku hanya memandangi hasil pekerjaan Awan dalam merawat lukaku di telapak tangan.
Oh iya, ada satu lagi. Saat sore hari, aku akan menunggu kedatangan Awan yang akan menjengukku. Sepulang sekolah, Awan pasti akan datang ke rumahku.
Menunggu sore tiba, aku menghabiskan waktu dengan menonton tv. Belum ada satu jam menonton, tapi aku sudah merasa bosan.
Rumah sepi. Hanya ada aku sendiri. Ibu pergi ke kantor. Dan ayah pergi memancing bersama dengan teman-temannya. Sementara Sindi, sedang mendapat tugas belanja bulanan dari ibu dengan di antar oleh Mas Bagus.
Ding-dung!
Aku lagsung berjingkat saat mendengar bel rumah berbunyi. Itu pasti Awan, fikirku.
Aku melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 11 siang.
Ah, itu pasti bukan Awan. Karna tidak mungkin Awan datang di jam pelajaran begini. Apa mungkin Yuta? Tapi biasanya Yuta akan menelfon kalau mau datang.
Aku membuka pintu dan terkejut dengan penampakan Awan yang sedang tersenyum padaku. Lebih terkejut lagi pria itu mengenakan seragam lengkap beserta tas ranselnya.
“Hei, kau bolos?” Sergahku langsung.
“Enak saja. Mana ada aku bolos.” Jawab Awan yang nampak mengangkat bungkusan plastik beraroma gurih yang tercium.
“Tapi ini masih jam sebelas.”
“Jam kosong. Tenang saja. Pokoknya aku tidak membolos.” Ucapnya meyakinkanku.
Tapi kenapa aku tidak percaya padanya? Dia pasti berbohong.
“Kau akan membiarkanku di sini?” Sindirnya kemudian.
“Ah, aku lupa. Masuklah.” Aku mempersilahkan.
Awan tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah. Dia duduk manis di sofa.
“Ini. Untukmu.” Katanya sambil menyerahkan plastik yang ia bawa.
Aku segera menerimanya dan membukanya. Itu adalah camilan kulit ayam dengan bumbu balado yang bertabur di atasnya. Aku terkekeh kepada pria itu.
“Terimakasih. Hehehehe.” Aku segera mengeluarkan makanan itu dari pembungkusnya.
“Kemana Ibu dan Bapak? Sepi sekali.” Tanya Awan sambil menelisik ruangan tamu.
“Mereka sedang di luar.”
“Ooh. Bagaimana keadaanmu? Apa lukanya masih sakit?” Awan terlihat sedang meneliti telapak tanganku.
“Tidak. Sudah lebih baik.”
“Syukurlah. Aku masih merasa bersalah karnanya.”
__ADS_1
“Kenapa berfikir jauh sekali?”
“Aku tidak suka melihatmu terluka. Hatiku sakit melihatnya.”
Aku ternganga. Ucapan awan terlalu dalam untuk ku cerna. Namun di waktu yang bersamaan, hatiku merasa damai mendengarnya. Ingin tersenyum, tapi aku menahanya sekuat tenaga.
“Berjanjilah untuk tidak terluka lagi.”
Aku mengangguk pelan.
“Libur berapa hari?”
“Satu minggu.”
“Untunglah. Itu waktu yang cukup untuk pemulihan.”
“Tapi aku bosan.”
“Aku akan kesini setiap hari untuk menemanimu.”
“Hah? Tidak perlu.” Sergahku cepat. Aku tidak ingin awan bertemu dengan keluargaku setiap hari. Masih teringat betapa malunya aku saat awan memberitahu perasaannya kepada orang tuaku. Karna itu aku masih menjadi bahan bulan-bulanan ibu sampai sekarang.
“Kalian sedang apa?” Sebuah suara membuat kami langsung menoleh ke arah pintu masuk. Disana, Yuta sedang berdiri dengan menatap kami curiga.
“Yuta!” Pekikku. “Oh, ehm. Tidak ada. Kami hanya mengobrol saja.” Sanggahku cepat.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Yuta. Dia langsung menarik tangan kananku dan menelitinya.
Aku sudah canggung setengah mati. Apalagi Awan nampak menatap tajam kepada Yuta. Rasanya aku ingin menghilang saja.
“Aku baik-baik saja. Kenapa kau kemari?”
“Tante menelfonku tadi pagi dan memberitahuku kalau kau terluka. Maaf aku baru sempat datang.” Sesal Yuta.
Aku tersenyum canggung kepada Yuta. “Tidak apa-apa.” Ujarku kemudian.
“Kenapa bisa terluka?”
“Tergores kayu. Tapi tidak apa-apa. Lukanya tidak dalam.” Aku mendengar Yuta mendengus kesal.
“Lain kali hati-hati. Bagaimana jika meninggalkan bekas nanti?” Yuta masih meneliti perban di telapak tanganku
“Sudah. Jangan berlebihan.” Aku kemudian menarik tanganku. Sungguh aku merasa sangat canggung akan situasi ini.
Sekali aku melihat kepada Awan yang duduk di hadapanku. Saat pandangan kami bertemu, aku segera menundukkan kepalaku kembali.
“Ehm, kalian mau minum? Tunggu sebentar ya, aku buatkan minum dulu.” Ujarku yang langsung berdiri dari sofa.
“Suruh Sindi saja.” Yuta menghentikanku dengan meraih tanganku dan memaksaku untuk duduk kembali.
__ADS_1
“Sindi sedang pergi belanja. Tunggu sebentar. Aku akan membuatkan kalian minuman.” Aku memaksa diri untuk bangun dan pergi ke dapur.
Sebenarnya, aku sedang melarikan diri dari mereka berdua. Berada di antara dua pria itu benar-benar membuatku tidak bisa bernafas. Dadaku di sesaki oleh rasa canggung dan rasa tidak nyaman.
Aku sengaja berlama-lama berada di dapur. Dari sana, aku bisa mendengar suara Awan dan Yuta yang sedang mengobrol. Tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Entah mereka mengobrolkan apa.
Saat aku kembali dengan membawa nampak berisi dua gelas teh, Awan langsung berlari menyambutku dan merampas nampan dari tanganku.
“Biar aku saja yang bawa. Kau duduklah.”
“Bicaramu sangat tidak sopan. Dia jauh lebih tua darimu. Panggil yang benar.” Desis Yuta kesal.
Awan nampak tidak peduli dengan protes yang di lakukan Yuta. Dia hanya menghidangkan teh untuk Yuta dan juga dirinya.
“Silahkan di minum. Maaf tidak ada camilannya.” Ujarku.
“Tidak masalah.” Awan yang menjawab. Karna memang aku berkata sambil melihat ke arahnya.
Dan hal selanjutnya yang terjadi adalah kecanggungan lagi. Benar-benar membuatku mati kutu. Aku sama sekali tidak punya bahan pembicaraan yang bisa ku bahas. Yang sekiranya tidak menyinggung salah satu di antara mereka. Aku jadi pusing sendiri.
Kami semua hanya terdiam. Aku mengusir kebosanan dengan bermain ponsel. Walaupun aku sama sekali tidak fokus kepada ponsel. Saat ada kesempatan, aku melirik sedikit kepada Awan. Dan kulihat dia sedang menatapku.
“Sudah siang. Sepertinya aku harus pulang.” Ujar Awan yang langsung bangkit dari duduknya. Menyambar tas ransel dari sofa dan langsung mengenakannya.
“Kenapa buru-buru?”
“Aku harus mengerjakan PR. Kamu tidak pulang?” Tanyanya lagi kepada Yuta.
Aku menoleh kepada Yuta yang masih santai duduk di tempatnya. Keningnya nampak berkerut heran.
“Kenapa aku harus pulang?” Tolak Yuta mentah-mentah. Karna dia memang sudah biasa di sini.
“Jadi kamu mau berduaan disini? Kalau begitu, aku juga tidak jadi pulang.” Awan kembali duduk di sofa.
Astaga. Aku harus bagaimana?
Yuta nampak tidak terima. Dia jadi menatap kesal pada Awan.
“kalian berdua pulanglah. Aku harus istirahat agar cepat pulih.” Akhirnya aku mencari jalan aman.
“Kamu dengar itu? Araku harus istirahat.”
“Araku?” Yuta jadi melotot marah.
“Sudah, sudah. Sana!” Aku menarik tangan Yuta untuk berdiri kemudian mendorong keduanya untuk keluar dari rumahku.
“Aku akan menelfonmu.” Ujar Awan sambil melambaikan tangan setelah dia naik ke atas motornya.
Aku tidak mengangguk. Tidak berani. Karna Yuta menatapku tajam.
__ADS_1