Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 83. Jejak Cinta Rahwana.


__ADS_3

Awan sedang dalam perjalanan untuk menjemput istrinya di kampus. Walaupun pekerjaannya sangat banyak, tapi ia menyempatkan diri untuk menjemput.


Saat melewati gerbang kampus, Awan mengernyit melihat Kuara yang sedang berpelukan bersama dengan seorang wanita.


Awan terus melajukan mobilnya melewati mereka. Kemudian memarkirkannya di sisi gedung serbaguna. Ia keluar dari dalam mobil.


Kuara mengenali mobil Awan saat mobil itu melintas di depan mereka. Ia kemudian tersenyum saat Awan keluar dari mobil dan berlari kecil ke arahnya.


“Siapa?” Tanya Awan tanpa suara.


“Fio.” Jawab Kuara juga dengan tanpa suara.


Awan tidak mengerti dengan gerakan mulut Kuara. Jadilah ia mengernyit penasaran.


“Pokoknya, kalau bertemu dengan Awan, aku akan menghajarnya habis-habisan.”


“Kenapa ingin menghajarku?”


Suara Awan membuat Fio seketika melepaskan pelukannya dari Kuara. Ia menoleh ke belakang dan terbelalak melihat pria itu.


“Awan?!” Pekik Fio masih dengan ternganga.


“Apa? Kau benar-benar akan menghajarku?” Hardik Awan pura-pura marah.


“Waah. Kalau setampan ini, aku tidak akan menghajarmu. Asalkan kau perlakukan Ara dengan baik.”


“Kalau itu, tidak perlu kau suruh.” Jawab Awan. Ia menarik Kuara sambil menggenggam tangan istrinya itu.


“Apa kalian sedang memamerkan kemesraan di hadapanku?”


“Apa kau iri?” Balas Kuara.


“Hah. Iri? Enak saja. Sebentar lagi juga suamiku akan datang kesini.”


Dan sedetik kemudian, mereka tergelak bersama-sama.


Fio, dia sudah jauh lebih baik selama beberapa tahun belakangan ini. Walaupun ia masih belum berani untuk memiliki anak karna trauma masa lalu. Untungnya, dia punya suami yang sangat pengertian dan tidak menuntutnya.


Setelah lama mengobrol bersama dengan Fio, Awan dan Kuara memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dan makan siang bersama.


“Mau makan dimana?”


“Terserah kamu saja.”


Awan segera melajukan mobil ke arah hotel yang masih dalam naungan yayasan yang di pimpinnya. Hotel itu di kelola oleh saudara sepupunya.


Sesampainya di sana, dia langsung mengajak Kuara ke arah restoran. Manajer restoran yang sudah mengenalinya langsung menyambutnya dengan hormat. Begitu juga dengan beberapa karyawan yang lainnya.


Kedatangan Awan bersama dengan seorang wanita tentu saja menjadi perbincangan hangat di kalangan pegawai. Apalagi, sikap Awan terhadap Kuara nampak manis dan mesra. Mereka mengira-ngira siapa gerangan wanita itu. Mereka tidak tau kalau mereka sudah menikah.

__ADS_1


Makanan sudah tersaji di atas meja. Aromanya sungguh menggugah selera. Dan Kuara terus menatap antusias ke arah meja.


“Silahkan, Pak. Kalau butuh sesuatu, silahkan panggil saya.” Pesan si manajer yang menghidangkan makanan itu pribadi.


“Baik. Terimakasih.”


Sebelum makan, Awan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya dan memberikannya kepada istrinya.


“Apa ini?” Tanya Kuara sambil menerima amplop itu.


“Buka saja.”


Perlahan, Kuara membuka amplop berpita itu dan mengeluarkan isinya. Di sana, ia bisa melihat dua lembar tiket menuju ke Boston, Amerika Serikat. Kuara mengernyit dan mengalihkan pandangannya kepada Awan.


“Aku sudah memastikan jadwal mengajarmu. Dan lusa kita berangkat. Anggap saja ini bulan madu. Yaaa, walaupun kita udah bulan madu di rumah mama. Hehehehehe.”


“Ya ampun. Terimakasih, Awan. Aku tidak sabar menunggu kau untuk menunjukkan dan menceritakan apa-apa saja yang sudah kau lakukan di Boston dulu.”


“Tentu saja. Kita akan napak tilas disana nanti. Sekarang ayo kita makan dulu. Nanti makanannya dingin.”


Kuara sangat antusias menantikan perjalanan mereka. Sudah lama ia tidak jalan-jalan ke luar negeri. Tepatnya, sejak kematian Yuta. Ia jadi takut naik pesawat. Seiring berjalannya waktu, ia jadi tidak memikirkan untuk pergi walaupun traumanya sudah menghilang.


Dan sekarang, ia jadi antusias dengan rencana suaminya itu.


“Kuara?” Sebuah panggilan dari seorang pria membuat Kuara dan Awan kompak menoleh.


Di samping mereka, tengah berdiri seorang pria berkumis tipis. Menatap marah kepada Kuara dan Awan. Kehadiran pria itu membuat mereka menghentikan makan mereka.


“Ooh. Rupanya kau sudah punya gandengan baru? Apa kau ingin membuat pria ini mati juga?” Sinis Anjas.


“Apa maksudmu?” Awan ganti menimpali. Ia masih mengingat wajah Anjas. Tapi sepertinya Anjas sudah tidak mengingatnya.


“Hati-hati, Mas. Jangan mau dekat-dekat dengan perempuan ini kalau masnya mau hidup. Dia ini sudah di kutuk. Tidak boleh punya suami.” Desis Anjas lagi.


Awan hampir kehabisan kesabaran. Dia menunggu reaksi Kuara.


“Jaga bicaramu, Anjas!” Kuara juga sudah kehabisan kesabaran.


“Memangnya aku salah? Aku sudah tau, kalau kau itu pembawa sial. Untung saja aku tidak jadi menikahimu. Huh! Kau tau? Sekarang aku bahkan sudah mendapat pengganti yang jauh lebih baik. Dia bekerja sebagai manajer di Yayasan Abimanyu.” Bangga Anjas.


Sementara Awan tersenyum smirk setelah mendengar yayasannya di sebut.


“Apa dia tau kalau kau mantan narapidana?” Balas Kuara tak mau kalah.


“Kurang ajar. Awas kalau kau sampai mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Aku akan membuat perhitungan padamu, Kuara.”


“Hei, jangan berani-beraninya kau mengancam istriku. Apa kau belum kapok mendekam di balik jeruji besi?!” Awan jadi tersulut emosinya. Ia bahkan langsung berdiri dari duduknya.


“Istri?” Anjas mengernyit tidak percaya.

__ADS_1


“Ya, Kuara istriku. Kami sudah menikah. Jadi jangan sekali-kali kau berani mengancamnya apalagi sampai menyakitinya!”


“Menikah? Tidak mungkin. Kenapa kau tidak mati?”


“Anjas!!!” Pekik Kuara yang sudah tidak tahan mendengar bicara Anjas.


Di tempat yang tidak jauh, nampak seorang wanita berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka. Dengan nafas yang  tersengal, ia menghampiri mereka dan menarik lengan Anjas untuk mundur beberapa langkah.


“Pak, maafkan kami.” Ujar wanita itu.


“Linda, apa tidak bisa kau cari pria yang jauh lebih baik dari sampah ini?” Tegas Awan kepada manajernya itu. Sementara wanita bernama Linda itu terus menundukkan kepalanya. Merasa tidak enak hati karna kekasihnya sudah menghina bosnya.


“Apa-apaan ini? Sayang, kenapa kau takut dengan pria ini? Memangnya siapa dia?”


“Aku Awan, pemilik Yayasan Halim Abimanyu. Sekaligus atasannya Linda.” Pamer Awan. Ia sengaja membusungkan dadanya sebagai bentuk dari dominasi atas kemenangannya.


“Apa?” Mendengar pengakuan Awan itu, membuat Anjas memundurkan langkah karna saking terkejutnya.


“Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf.” Ujar Linda. Ia benar-benar takut kalau gara-gara masalah ini ia akan di pecat dari pekerjaannya. Ya walupun Awan tidak mungkin akan melakukan itu. Awan tidak pernah mencampur adukkan masalah pekerjaan dan masalah pribadi.


Linda segera menarik Anjas untuk pergi dari restoran. Sementara Kuara kembali duduk di kursinya. Ia hanya menatapi sisa makanannya yang belum habis karna sudah kehilangan selera makan.


Seolah merasakan kesedihan istrinya, Awan kemudian mengajak Kuara untuk pulang.


“Sayang, kamu baik-baik saja?” Tanya Awan di dalam mobil.


Kuara hanya mengangguk sambil menundukkan kepala. Ternyata masih ada orang yang menganggapnya pembawa sial. Dan hal itu membuat hati Kuara sakit. Seketika ia kembali merasa takut akan kehilangan Awan.


Tes,, tes,,


Airmata Kuara menetes di pangkuannya. Untung saja Awan melihatnya. Ia lantas segera menghentikan mobilnya.


“Kamu kenapa? Kenapa menangis?” Awan menatap Kuara dengan perasaan khawatir.


“Aku pembawa sial. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Hiks.”


Mendengar itu, Awan segera menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


“Sayang. Tolong, buang jauh-jauh fikiran seperti itu. Aku tidak akan kemana-mana dan tidak akan terjadi apapun padaku. Kalaupun ada, itu bukan karnamu. Itu karna takdir. Aku mohon, keluar dari zona sakitmu. Aku akan membawamu pergi menuju kebahagiaan. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Termasuk diriku sendiri. Aku mencintaimu, Ara. Aku tidak ingin melihatmu bersedih.” Lirih Awan.


Walaupun tidak langsung bisa menenangkan, tapi ucapan Awan itu mampu mengikis kesedihan yang Kuara rasakan. Perlahan, hatinya mulai merasa lega.


Sebenarnya ia juga benci dengan hatinya yang lemah begini. Tapi, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya sesuka hati.


Ya, seharusnya dia sudah bisa keluar dari zona sakitnya. Toh sudah ada Awan yang siap menemai dan melindunginya. Seharusnya dia percaya kalau kutukan itu tidak benar-benar ada. Hanya takdir yang akan menentukan waktu dan orang yang tepat untuk menjadi pasangan kita.


Dan sekarang, Kuara telah menemukan pria yang tepat untuk dirinya di waktu yang tepat.


Ya, pria itu adalah Rahwana Abimanyu. Yang telah menjejakkan cintanya selama bertahun-tahun lamanya untuk seorang Intan Kuara. Jejak-jejakcinta Rahwana yang kini akan membawa kebahagiaan untuk rumah tangga mereka.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2