Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 21.


__ADS_3

“Kau ini kenapa?”


Suara Ben tidak ku indahkan. Di amenarik-narik selimut yang membungkus tubuhku. Sudah dua hari ini yang kulakukan hanya tidur, tidur, dan tidur. Aku tidak menyangka sesakit ini merasakan patah hati.


Dulu aku yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Elya. Jadi aku tidak tau kalau rasanya sesakit ini. Perasaanku Benar-Benar tulus pada Kuara. Beberapa tahun ini, dalam harapan masa depanku hanya ada Kuara. Rencanaku sudah tersusun rapi untuk menghabiskan masa tua bersamanya. Dan sekarang harapan itu telah hancur lebur tak bersisa. Entah bagaimana aku bisa bertahan kedepannya tanpa ada Kuara.


Setelah seminggu berada di tanah air, aku memutuskan untuk kembali ke Boston. Hal ini mendapat tentangan dari Mama. Karna waktu cutiku masih tersisa tiga minggu lagi.


“Kenapa cepat sekali, Nak? Kan masih lama liburnya?” Tanya Mama saat kami sedang makan malam bersama.


“Awan mau mengambil kelas khusus, Ma. Awan tidak ingin menyia-nyiakan waktu.”


Ya, itulah alasan yang ku utarakan pada Mama. Padahal, aku ingin segera pergi dari sini untuk mengasingkan hati ke negeri orang. Berharap itu bisa menyembuhkan lukaku.


“Yyyah. Kenapa cepat sekali pergi lagi.” Rengek maiga tidak terima. Aku tau kenapa dia begitu. Itu karna Benjamin. Selama beberapa hari ini dia selalu menghabiskan waktu dengan Ben. Dia pasti sudah tertarik dengan ketampanan Ben.


“Kalau sudah seperti itu maumu, ya sudah.” Papa memilih kalimat aman.


Dua hari kemudian, aku kembali ke Boston.


Ada yang berbeda dengan hatiku. Terasa kosong dan hampa. Saat aku teringat Kuara, hatiku terasa seperti diiris.


“Terimakasih sudah mengajakku berlibur, Awan. Indonesia luar biasa.” Ujar Ben saat kami berpisah di bandara. Karna Ben harus pulang ke rumah orang tuanya .


“Baiklah. Sampai bertemu besok lusa.”


“Jangan lupa hadiahnya.” Ujar Ben mengingatkan.


Aku hanya mengangguk saja kemudian masuk ke dalam taksi yang akan membawaku pulang ke partemen.


Lusa adalah hari perayaan pernikahan kedua orang tua Ben. Seperti biasa, aku di undang untuk datang makan malam bersama di rumah mereka.


Aku sudah sampai di apartemen dan langsung masuk. Aku terkejut saat ada aroma gurih sedikit gosong. Dan suara menggoreng dari arah dapur.


Aku segera menaruh koper begitu saja di dekat pintu dan bergegas ke dapur.


“El? Apa yang kau lakukan di sini?”


“Oh, Awan. Kau sudah sampai. Aku memasak untukmu. Tunggulah sebentar lagi. Ini akan segera selesai.”


Suasana hatiku sedang buruk. Dan aku tidak ingin meladeni Elya sekarang. Aku lantas masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Selesai mandi, aku keluar. Dan di meja makan, sudah tersaji dua porsi pasta hasil masakan Elya.


Walaupun enggan, aku tetap menyantap pasta itu. Rasanya enak. Mungkin karna memang Elya berkuliah di jurusan kuliner.


“Bagaimana?” Tanya Elya menatap penuh harap.


Aku mengangguk. “Enak.” Aku berkata tanpa melihatnya.


Sekilas aku melirik Elya yang sedang tersenyum girang karna pujianku. Aku tau, sikapku memang sedikit melunak kepada Elya. Itu semua akibat patah hati yang ku alami kemarin. Bahkan untuk bersikap tegas seperti biasa pada Elya, aku merasa tidak punya tenaga.


“Bagaimana kau tau aku kembali hari ini?”


“Tante yang memberitahuku. Kemarin aku menelfon dan menanyakan keadaanmu karna kau tak pernah membalas pesanku. Kenapa cepat sekali kembali? Bukankah kau libur sebulan?”


“Aku ingin mengambil kelas khusus.”


Padahal, tidak biasanya aku akan bercerita panjang lebar seperti ini kepada Elya.


“Masakanmu enak. Kau sudah bisa membuka restoran.”


“Memang itu rencanaku. Aku ingin membuka restoran saat kembali ke Jogja.” Jawab Elya. “Awan, apa kau sudah mulai membuka hati padaku? Sikapmu berubah sekarang.”


Elya mencibir padaku. Aku tidak peduli. Setelah makan, aku kembali membungkus diriku dalam selimut. Aku merasa lemas dan lelah. Dan ingin tidur. Melarikan diri ke alam mimpi.


**


**


Sejak siang aku sudah sibuk mencari hadiah untuk kedua orangtua Ben. Aku masuk ke sebuah toko pernak-pernik demi mencari sesuatu yang kukira akan cocok dengan mereka.


Aku berkeliling toko. Melihat-lihat apa kira-kira yang akan kuberikan kepada meraka sebagai hadiah.


Aku memilih sebuah hiasan dinding yang merupakan sebuah bingkai berbentuk klasik. Kemudian meminta kepada pegawai toko untuk membungkusnya.


Sementara menunggu pesananku, aku berkeliling kembali. Aku berhenti di sebuah kotak cincin yang terbuat dari perak. Melihat itu, aku jadi teringat dengan Kuara. Cincin itu pasti akan sangat manis jika Kuara yang mengenakannya.


Ah, mengingat Kuara membuat hatiku kembali sakit. Aku segera beralih dari sana karna teringat kalau di jari Kuara telah tersemat sebuah cincin pertunangan.


Beranjak malam, aku pergi ke rumah keluarga Ben. Seperti biasa, aku disambut dengan sangat hangat oleh mereka.


“Welcome, dear.” Sambut nyonya Abraham. Dia memelukku dengan hangat.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun pernikahan Tuan dan Nyonya Abraham.” Ujarku sambil menyerahkan hadiah pada ibu Ben.


“Ya ampun. Kenapa repot-repot. Seharusnya tidak perlu sampai membawa hadiah segala.” Ujar tuan Abraham, ayah Ben.


“Ben mengancamku. Dia bilang aku harus membawa hadiah.” Aku tersenyum mengadukannya.


“Hei! Kau!” Hardik Ben yang baru muncul dari dalam dapur dengan membawa nampan berisi kue ulang tahun.


“Kau hampir terlambat, Awan.” Ujar Lisa. Adik Ben yang hanya berbeda satu tahun dengan kami.


“Hai Lisa. Kau semakin cantik.” Aku memujinya karna memang dia terlihat manis malam ini.


“Jangan memujiku kalau kau tidak ingin menjadi kekasihku.” Dengus Lisa.


Dia sudah biasa berseloroh begitu denganku. Dan aku merasa tidak masalah. Ini sedikit menjadi penghiburan di tengah keruntuhan hatiku.


“Kau bukan tipeku.”


Dan kami semua menghabiskan malam dengan mengobrol ringan seputar hari-hari kami.


Keluarga Ben merupakan orang terpandang di kota ini. Tuan Abraham sendiri merupakan seorang Senator. Sementara ibunya berasal dari keluarga pebisnis yang lumayan di segani. Mereka semua orang-orang hebat.


“Kau curang, Awan. Kau mengajak Ben liburan ke Indonesia. Sementara kau tidak mengajakku.” Keluh Lisa. Dia memasang wajah kesal.


“Lain kali aku akan mengajakmu. Aku janji.”


“Kalau kau sampai mengingkari janjimu itu, aku bersumpah akan menjadikanmu suamiku. Hahaha.”


“Coba saja kalau kau bisa. Sebelum itu, sepertinya kau harus mengurus Jason terlebih dahulu. Aku tidak ingin menjadi suami keduamu.”


“Sialan kau, Awan.”


Lisa gadis yang baik dan juga ramah. Cara bercandanya memang seperti itu. Padahal dia sudah punya kekasih yang sudah dipacarinya selama empat tahun bernama Jason. Ucapannya itu hanyalah sebagai bercandaan antara


kami. Bahkan dia akan berseloroh seperti itu ketika ada Jason bersama kami. Dia memang suka bercanda.


“Aku bersungguh-sungguh, Lisa. Kalau kau datang ke Indonesia, aku akan mengajakmu berkeliling ke tempat-tempat yang bagus.”


“Aku pegang janjimu. Awas saja kalau sampai kau mengingkarinya.”


Aku hanya tertawa saja mendapat ancaman itu.

__ADS_1


__ADS_2