Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 22.


__ADS_3

Aku serius memandangi nafasku yang berasap akibat udara yang terlalu dingin. Bahkan jaket tebal yang membungkus tubuhku kurasa masih belum cukup untuk menghalaunya.


“Dingin?” Tanya Awan.


Aku mengangguk. Berusaha memeluk tubuhku sendiri mengeratkan jaket.


“Mau pakai jaketku?” Tanya Awan lagi.


“Ha? Tidak. Tidak usah. Aku baik-baik saja.”


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Ternyata banyak juga orang yang datang ke Bukit Cinta ini. Dan mereka kemari hanya untuk menikmati binar emas dari sang jingga pagi. Orang-orang ini, rela melawan udara dingin yang mencapai 5⁰ celcius hanya untuk melihatnya. Aku semakin bersemangat.


“Ara. Ayo.” Ajak Mbak Ratih. Aku segera mengikutinya untuk menapaki anak tangga menuju ke spot terbaik untuk menyaksikan sunrise.


Aku sibuk bercerita dengan Mbak Ratih sampai tidak memperhatikan kalau Awan tidak ada di belakangku. Baru setelah sampai di atas, aku menoleh dan tidak menemukan Awan.


Aku mengedarkan mataku untuk mencarinya. Di kejauhan, Awan nampak berlari menyusul kami.


“Wan. Kami kesana dulu, ya.” Pamit Mbak Ratih yang bergelayut di lengan suaminya.


Kulihat Awan hanya mengangguk saja.


“Dari mana?” Tanyaku begitu Awan sampai disampingku.


“Hehehe. Sini.” Awan segera menarikku mendekat padanya.


Awan memakaikan kupluk ke kepalaku. Setelah itu memakaikan sarung tangan tebal ke tanganku. Aku tidak bisa berucap. Hanya memperhatikan saja. Perhatian itu, lagi-lagi membuat jantungku berdetak sangat cepat.


“Masih dingin?” Tanya Awan sambil membenahi kupluk di kepalaku.


Aku menggeleng. Debaran hatiku sudah menjalarkan kehangatan di setiap pembuluh darah.


Pandangan kami bertemu saat aku menatap Awan. Aku merasakan kedua tangannya menangkup telingaku dan tersenyum.


“Ya ampun. Cantiknya...”


Ahhhhh. Darahku semakin mendidih. Apalagi saat melihatnya mengenakan kupluk dan sarung tangan miliknya yang sama dengan yang ku kenakan.


“Ayo, kita cari tempat terbaik.” Ajak Awan yang langsung menarik tangaku.


Aku masih berfikir. Kenapa saat bersamanya, aku sama sekali tidak bisa berkutik? Aku pasrah menerima setiap perlakuannya padaku. Padahal saat dengan Yuta, aku tegas memberi batasan untuk pria itu.


Tapi dengan Awan, aku seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Menurutinya tanpa protes sedikitpun. Menerima semua perlakuannya dengan tangan terbuka.


“Disini saja, ya?” Tanya Awan saat dia sudah menemukan tempat yang menurutnya paling pas.


Dia bahkan tidak menunggu jawabanku dan langsung menarik lenganku dan menempatkanku di hadapannya. Berada bersamanya benar-benar sangat membahayakan jantungku.


Aku merapatkan perutku ke pagar pembatas. Hatiku benar-benar tidak bisa di kendalikan. Apalagi Awan berdiri di belakangku dengan kedua tangan yang menopang pagar di sampingku. Seolah mengunci posisiku untuk tidak bergerak kemanapun. Dia melindungiku dari himpitan para pengunjung yang berdesakan.


Kira-kira, apa Awan tau kalau jantungku sedang berdisko? Semoga tidak.


“Lihat itu.” Bisik Awan tepat di telingaku.

__ADS_1


Aku memandang jauh ke depan. Disana, semburat jingga keemasan mulai muncul dan membentuk siluet gunung.


“Mau berfoto?” Tanya Awan lagi. Aku melihat ke arah samping kiri dan kanan dimana orang-orang mulai mengeluarkan ponsel dan kamera mereka untuk mengabadikan momen itu.


“Tidak. Aku akan memotretnya di dalam kepalaku.” Ujarku lagi.


Sebenarnya, aku tidak ingin terikat kenangan dengan Awan. Karna hal yang akan terjadi ke depan masih begitu tidak jelas.


“Ya, kurasa itu jauh lebih abadi. Aku suka gayamu.”


Aku hanya tersenyum saja. Entah Awan tau atau tidak.


“Kau tau kenapa tempat ini di namakan bukit cinta?”


Aku menggeleng. “Kenapa?”


“Warga disini percaya kalau bukit ini merupakan tempat bertemunya Roro Anteng dan Joko Seger.”


“Siapa mereka?” Aku mendengarkannya dengan antusias.


“Hanya sepasang kekasih yang saling mencintai. Mitosnya, kalau sepasang kekasih datang ke tempat ini, hubungan mereka akan langgeng sampai tua.”


Tapi kami bukanlah sepasang kekasih. Gumamku dalam hati.


“Aku menyukaimu. Karna itu aku akan terus menunjukkan usahaku. Kau tidak perlu menanyakannya.”


“Awan, aku...”


“Jangan menyela. Dengarkan saja. Aku akan terus berdoa agar aku menjadi jodohmu. Aku akan terus memohon kepada Tuhan, agar tidak ada satupun pria yang pantas untuk menjadi suamimu, selain diriku.”


“Tidak apa-apa. Kita jalani saja apa adanya seperti sekarang. Menikmati perasaan tidak perlu terikat dalam sebuah status.”


Awan sangat mengerti tentang perasaanku. Aku bahkan tidak perlu mengutarakan fikiranku.


Di sana, jauh di depan, matahari perlahan mulai merangkak naik. Menebarkan cahayanya ke seluruh alam semesta.


Pemandangan menakjubkan mulai terpampang di depan mata. Himpitan gunung-gunung memukau mata siapapun yang memandang. Yang paing kusukai adalah, sebuah gunung yang berada paling tinggi dan paling belakang. Itu terlihat sangat kokoh dan menawan.


“Itu gunung Bromo.” Tunjuk Awan. Aku hanya menganggukkan kepala.


“Kalau itu?” Tunjukku ke arah gunung yang terlihat paling tinggi.


“Itu gunung Semeru. Puncaknya namanya Mahameru.”


Aku mematri setiap apa yang kulihat dan kurasakan. Udara dingin, pemandangan barisan gunung yang memukau, dan ucapan Awan. Aku menyimpan semua itu di dalam hati. Di sudut yang paling istimewa.


“Kau mau naik ke gunung Bromo?”


“Boleh.”


“Tapi nanti saja. Tunggu agak panas. Ini masih terlalu dingin.”


“Dimana Mbak Ratih?” Aku mengalihkan pembicaraan saat Awan menarik kedua lengannya dari sampingku. Aku baru bisa bernafas lega.

__ADS_1


Satu persatu orang yang ada di sekitar kami mulai pergi.


Sementara aku masih ingin memandangi pemandangan itu lebih lama lagi.


“Ceritakan lebih banyak tentang Joko Seger dan Roro Anteng.”


“Hahahahah.” Awan beralih ke sampingku. “Kau bisa mencarinya di internet. Disana tersedia informasi apapun yang kau butuhkan.” Elak Awan.


Halah, pasti karna dia juga tidak tau banyak tentang kisah itu. Makanya dia bilang begitu.


“Kapan kau kembali ke Jogja?”


“besok sore. Mau pulang bersamaku?”


Aku segera menggeleng. Aku harus menetapkan sedikit batasan. Sudah cukup kami menghabiskan waktu bersama hari ini.


“Apa kau datang kemari sendiri?” Akhirnya aku menanyakan hal itu. Sudah sejak kemarin aku penasaran.


“Tidak. Aku datang bersama kedua orangtuaku tentu saja. Kenapa? Mau ku kenalkan dengan mereka?”


“Tidak, tidak. Lain kali saja.” Aku menolak. “Apa kau menginap di hotel?”


Awan mengangguk. Dan aku sudah tidak punya bahan untuk di bicarakan lagi.


“Ara?”


“Hem?” Aku menoleh padanya. Pria itu, nampak fokus menatap jauh ke depan.


“Aku berharap kau tidak melupakan ucapanku tadi. Aku benar-benar tulus akan harapanku.”


Ah, kenapa dia harus membahas ini lagi?


Aku tidak berani bereaksi atas ucapannya. Sejak awal, aku sudah menegaskan kalau aku tidak bisa menerimanya saat ini. Aku tidak ingin menelan ludahku sendiri. Menarik ucapan dan komitmen yang ku ucapkan dengan mulutku sendiri. Aku tidak akan melakukan itu.


Aku hanya akan menikmati perasaanku saat ini. Mengagumi Awan


tanpa sesumbar. Mungkin kalian berfikir aku jahat karna sudah mempermainkan


perasaan Awan.


Satu hal, aku tidak pernah mempermainkan perasaannya. Aku


tegas dengan keputusanku. Dan dia sangat tau itu.


Kalaupun dia terus memberikan perasaannya padaku walaupun


dia sudah tau itu, aku bisa apa? Aku hanya bisa menerima perhatiannya itu untuk


menghargai perasaannya.


**


yuhuu, selamat hari senin lagi, warga. aku menanti dukungan kalian. lemparkan vote kalian untuk ara dan awan. like, dan komentarnya juga.

__ADS_1


sekedar mengingatkan, lombanya masih berlangsung ya, jadi buruan kirimkan poin sebanyak-banyaknya.


lop yu warga.


__ADS_2