
Akibat ulah Awan semalam, Kuara hampir tidak tidur sampai pagi. Baru setelah pukul 4 ia bisa memejamkan matanya. Hatinya terus berdesir tidak karuan. Bekas ciuman Awan di pipinya terasa memanas. Bahkan Micha tidak berkutik saat ia mengganggu gadis kecil itu.
Untung saja hari ini ia masuk siang. Jadi Kuara memuaskan diri mendengkur di bawah selimutnya sampai jam 9 pagi.
Itupun ia terpaksa bangun saat poselnya tidak berhenti berbunyi. Itu adalah telfon dari Awan. Melihat nama Awan di layar ponselnya, membuat Kuara hanya mencibiri ponsel itu tanpa berniat mengangkatnya.
Lama-kelamaan, Kuara merasa kesal juga. Ia menghela nafas kasar kemudian mengangkat telfon itu.
“Ara! Lama sekali kau mengangkat telfonku. Apa tidak tau kalau aku merindukanmu? Hah?” Terdengar Awan mengomel di seberang telfon.
“Kenapa? Ada apa?” Kuara berusaha mengesampingkan ucapan Awan tentang kata rindu.
“Datanglah ke kantorku. Kita harus membahas masalah pameran.”
“Harus sekarang?”
“Em. Harus.” Tegas Awan kemudian.
“Baiklah.” Jawab Kuara dengan malas.
Kuara menyeret kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi dan berpakaian, ia langsung mengemudikan mobil dan melesat menuju ke kantor Yayasan Budaya Halim Abimanyu.
“Selamat siang, Bu. Anda sudah di tunggu oleh Pak Awan. Mari, silahkan.” Ujar Keysi yang mendapat perintah untuk menjemput Kuara di lobi.
Kuara hanya mengikuti Keysi dalam diam. Sampai lift berhenti di lantai lima dan Keysi menuntunnya menuju ke sebuah ruangan.
Keysi mengetuk ruangan itu sebelum masuk.
“Pak, Bu Kuara sudah datang.” Ujar Keysi kemudian mempersilahkan Kuara untuk masuk.
Awan langsung menyambut Kuara dengan senyum lebarnya. Ia bahkan bangkit dari kursi kerjanya dan merentangkan kedua tangan sambil berjalan mendekat kepada Kuara.
“Kau mau apa seperti itu?” Tanya Kuara dengan tatapa tajamnya. Ia memundurkan diri beberapa langkah.
“Oh, hehehehe. Astaga. Dasar tangan. Kurasa mereka ingin memelukmu.” Elak awan menyalahkan kedua tangannya.
Kuara hanya menggeleng-gelengkan kepala saja kemudian melarikan diri ke arah sofa dan duduk disana. Di ikuti oleh Awan yang duduk di depannya.
“Ini.” Awan memberikan sebuah map berisi dokumen.
Kuara segera membuka dokumen itu dan membacanya dengan teliti. Itu adalah susunan acara rinci mengenai pameran.
“Aku sudah menyelesaikan tugasmu. Kau tidak perlu menyibukkan diri lagi mengurusi pameran. Semua sudah di atur oleh Keysi.”
Kuara menghela nafas kesal. Ia kemudian meletakkan berkas itu ke atas meja dan melihat tajam kepada Awan.
__ADS_1
“Lantas, kenapa kau memintaku untuk menjadi ketua panitia pameran itu? Kalau semua sudah kau selesaikan sendiri?” Dengus Kuara kesal.
“Hehehehe. Itu hanya alasanku agar aku bisa terus dekat-dekat denganmu.” Ujar Awan santai.
Kuara kembali menghela nafas. Ia kesal sekali dengan sikap manis Awan itu.
“Jadi, karna sudah tidak ada yang perlu di bahas, aku pergi dulu.” Pamit Kuara. Ia langsung berdiri dari duduknya.
Melihat itu tentu saja Awan tidak terima. Ia memanggil Kuara untuk datang karna ingin menghabiskan waktu bersama dengan gadis itu. Ia tidak rela kalau Kuara pergi secepat ini.
“Ara.” Panggilnya. “Duduklah, masih ada yang ingin ku bicarakan.”
Melihat wajah serius Awan, Kuara mengalah dan kembali duduk di tempatnya semula.
“Apa?”
“Menikahlah denganku.”
DEG.
DEG.....
DEG!
Jantung Kuara hampir saja melompat dari dadanya mendengar kalimat keramat itu. Hatinya berdesir luar biasa.
“Aku sedang mengajakmu untuk menikah denganku. Kenapa? Kau tidak mau?”
Kuara terdiam. Ia sedang berusaha untuk menguasai emosinya. Berani sekali pria itu mengajaknya menikah setelah beberapa hari pertemuan mereka.
“Apa kau tidak mendengar kabar tentangku, Awan? Berani sekali kau mengajakku menikah.” Gerutu Kuara lagi. Entah kenapa dia merasa kesal dengan ajakan menikah dari pria itu.
“Memangnya ada kabar apa?”
“Apa kau mau mati?”
Awan nampak mengernyit mendengarnya. “Mati? Apa hubungannya menikah denganmu, dengan mati?”
“Hufh. Dengarkan aku baik-baik. Aku ini gadis terkutuk. Aku tidak boleh dekat apalagi sampai menikah dengan seorang pria. Atau pria itu akan mati.” Kuara sengaja mengucapkannya dengan kasar karna dia kesal.
Kesal karna ajakan Awan itu semakin membuat harapan yang ia kunci di hatinya memberontak untuk keluar.
“Benarkah itu? Aku tidak percaya dengan hal-hal yang seperti itu.” Padahal, tentu saja Awan sudah tau semua mengenai rumor tentang Kuara.
“Awan, aku tidak sedang bercanda.”
__ADS_1
“Aku juga. Tidak main-main.”
“Aku akan melupakan ucapanmu itu. Aku akan menganggap tidak pernah mendengarnya.” Ujar Kuara kembali. Ia langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu.
“Ara! Tapi aku benar-benar ingin menikah denganmu! Ayo kita menikah!”
Kuara tidak peduli. Dia hanya terus berjalan pergi dari sana.
Di dalam mobil, Kuara menenggelamkan wajahnya ke lengan yang memeluk kemudi. Ia bisa merasakan debaran jantungnya yang tidak terkendali.
Bukan apa, dia benar-benar takut jika sesuatu terjadi kepada Awan. Fikirannya dipenuhi oleh praduga-praduga tidak baik jika menyangkut pernikahan.
Dan selama seminggu, Awan selalu menyempatkan diri untuk menemui Kuara di rumahnya saat pagi atau sore hari. Namun Kuara memiliki berbagai alasan. Kadang ia sengaja pulang malam agar tidak bertemu dengan Awan.
Lewat pesan di ponsel, Awan rutin mengirimkan kalimat ajakan untuk menikah. Walaupun Kuara tidak pernah membalasnya.
Seperti hari minggu ini, Awan sedang menatapi ponselnya. Membaca ulang pesan-pesan yang ia kirimkan pada Kuara. Ia sedang menyesap
minuman kopi di balkon kamar. Berharap akan bisa melihat wajah Kuara. Tapi sudah selama seminggu ini pintu balkon Kuara tidak pernah terbuka sedikitpun.
Kuara tidak berani membuka pintu balkon. Karna ia tau kalau Awan akan ada di balkon kamarnya. Ia takut akan melihat Awan disana. Bahkan hanya dengan pesan saja Kuara tidak berani menanggapi.
Tapi entah dorongan darimana, pagi ini, Kuara lupa dan malah membuka pintu balkonnya. Seketika ia bisa melihat Awan yang langsung tersenyum ketika melihatnya. Pria itu melambaikan tangan padanya.
“Ara! Menikahlah denganku!” Pekik Awan tiba-tiba.
Sudah kalah malu, Kuara hanya membalas senyuman itu kemudian kembali masuk dengan membiarkan pintu itu tetap terbuka.
Di dalam kamar, ia merutuki dirinya sendiri atas kecerobohannya membuka pintu. Padahal ia tau kalau Awan selalu berada di balkon kamarnya di seberang.
“Ara! Kau mau kemana?!” Masih terdengar teriakan Awan dari luar.
Ara tetap tidak mau menjawab. Ia justru turun ke bawah untuk melarikan diri dari bayangan Awan. Memilih bergabung bersama ibunya yang sedang membuat kue di dapur.
“Kenapa wajahmu memerah seperti itu, Dek?” Tanya Lisa.
“Merah? Panas, Bu.” Kilah Kuara.
“Tadi ibu seperti mendengar teriakan Awan? Apa dia di rumah?”
Kuara hanya mengankat kedua bahunya saja sebagai jawabannya.
“Ini hari minggu. Pasti dia di rumah.” Lisa berujar dengan tersenyum. Kemudian, ia menempatkan beberapa kue kering itu kedalam mangkuk dan menyodorkannya ke hadapan Kuara.
“Ini, antar untuk Awan.”
__ADS_1
Spontan saja Kuara langsung melotot matanya. Sudahlah dia berusaha menghindari Awan. Malah di suruh untuk pergi mengantarkan kue pada pria itu. Ditambah, ia tidak memiliki alasan saat ibunya terus memaksanya pergi.