Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 31.


__ADS_3

Aku sedang duduk manis di kamarku bersama dengan Fio. Seseorang mtengah memakaikan haina di kakiku. Hari ini, seharusnya Yuta sudah tiba di rumah. Aku menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif.


Tiba-tiba ibu masuk ke dalam kamarku dengan wajah yang nampak sangat panik dan pucat. Ibu bahkan langsung memelukku dengan sangat erat. Menangis menderu sambil memelukku.


“Kenapa, Bu?”


“Nak, Yuta... Yuta...” Ibu tak kuasa melanjutkan kalimatnya dan malah menangis sejadi-jadinya. Membuatku saling pandang dengan Fio.


“Yuta kenapa?”


“Pesawat yang di tumpangi calon suamimu jatuh.”


DEG.


Seperti guntur yang menyambar, tubuhku langsung melemas seketika. Bahkan ponselku yang sedang melakukan panggilan ke ponsel Yuta sampai terjatuh dari tanganku.


“Ibu ini bicara apa? Jangan bercanda, Bu.”


Tanpa diperintah, Fio segera menyalakan TV di kamarku. Dan benar saja, di sana, sedang ditayangkan sebuah berita kecelakaan pesawat di Boston. Pesawat itu jatuh di laut saat baru beberapa menit lepas landas. Dan sedang dilakukan pencarian oleh tim penyelamat setempat.


Pandanganku berkunang-kunang. Perutku terasa sangat mual. Fikiranku sedang berkecamuk luar biasa. Itu benar adalah pesawat yang dinaiki oleh Yuta. Dia sempat mengirimiku foto tiket penerbangan beserta foto selfienya di bandara.


“Tidak mungkin. Tidak. Yuta tidak ada disana. Katakan padaku kalau Yuta tidak ada disana!” Teriakku. Dan Fio langsung memelukku erat.


“Ara....”


“Yuta. Tidak. Tidak. Tidak boleh begini. Tidak boleh. Yuta......”


Air mata terus berjatuhan dari mataku. Semakin deras dan semakin deras. Ibu berkata, saat ini, keluarga Yuta sudah dalam perjalanan ke Boston untuk melihat dengan pasti apakah Yuta menjadi salah satu korban meninggal dunia. Membayangkannyapun sudah membuatku gila.


Kami akan menikah besok. Yuta tidak boleh pergi seperti ini. Tidak boleh.

__ADS_1


Dan setelah itu. Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku, berubah menjadi hari paling menyakitkan. Kami semua berkabung setelah memastikan kalau nama Yuta menjadi salah satu penumpang dalam pesawat nahas itu.


Tragedi itu merenggut seluruh penumpang dan awak pesawat. Tidak ada satupun yang selamat setelah pesawat menghantam air dan hancur berkeping-keping.


Sudah dua hari ini yang kulakukan hanya menatapi layar televisi. Aku ingin pergi ke Boston dan ikut mencari jenazah Yuta yang belum di temukan. Tapi keluargaku tidak setuju. Hanya Kak Sota yang langsung terbang ke sana untuk melihat keadaan. Satu jam sekali aku akan menelfon Kak Sota untuk menanyakan kabar disana.


Aku akan menangis sejadi-jadinya saat di TV kulihat barang-barang milik korban yang berhasil di temukan. Disana, terdapat dompet dan sepatu milik Yuta. Aku tau itu karna aku yang memilihkan model sepatu itu untuknya.


Dalam hati aku terus berharap akan sebuah keajaiban untuk salon suamiku. Keajaiban sekecil apapun agar Yuta bisa ditemukan dalam kondisi hidup.


Aku tidak masalah jika kaki atau tangan Yuta patah. Aku hanya berharap, dia akan kembali dalam keadaan masih bernafas.


Tapi, harapanku itu seketika pupus saat Kak Sota mengabarkan kalau jenazah Yuta sudah berhasil di temukan.


Jenazah?


Jenazah?


Seketika duniaku terasa hancur. Fikiranku berhenti bekerja. Hanya sesal yang kini menguasaiku sepenuhnya.


Aku kembali teringat dengan pesan yang di kirimkan Yuta tempo hari.


‘Sayang, aku akan segera kembali.’


Kembali?


Aku fikir dia akan kembali ke pelukanku. Aku fikir dia akan kembali menghiasi hari-hariku. Aku fikir dia akan kembali lalu menikahiku dan kami hidup bahagia selamanya.


Siapa yang menyangka kalau ternyata Yuta kembali ke dekapan Sang Pencipta? Bukan kepadaku.


Duniaku sudah benar-benar hancur. Entah bagaimana hidupku nanti tanpa Yuta di sampingku. Rencana masa depanku yang penuh dengan Yuta, kini hilang bagai di hempas badai.

__ADS_1


Aku terduduk diam di samping peti jenazah Yuta yang baru saja tiba di rumah duka. Airmataku tak mau berhenti mengalir. Memandangi foto Yuta yang sedang tersenyum yang bertengger di atasnya. Aku bertahan untuk tidak meratapi kepergiannya.


Tapi itu hanya bertahan selama beberapa jam saja. Rasa sedih akibat kehilangan pria yang sangat kucintai, membuatku tak sanggup menahan diri untuk tidak memeluk peti jenazah itu.


“Yuta... Sayang... Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini. Aku minta maaf karna sudah marah padamu. Kumohon, jangan seperti ini. Tanpamu aku harus bagaimana?” Aku tidak peduli dengan orang-orang yang ada disana. Aku hanya ingin meraung untuk memanggil kekasih hatiku kembali.


“Ara, sabarlah, Nak. Ikhlaskan kepergiannya.” Ujar ibu mengusap pundakku.


“Bagaimana Ara bisa mengikhlaskannya, Bu? Yuta pergi saat Ara sedang marah padanya. Ara belum sempat meminta maaf padanya. Ara tidak bisa membiarkan Yuta pergi. Tidak jika seperti ini.” Dan aku kembali meraung.


Ini adalah perpisahan paling menyakitkan. Karna aku sadar, aku tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan Yuta. Tidak bisa lagi mendekap tubuh hangatnya. Tidak bisa lagi tertawa bersamanya.


Kini Yuta sudah pergi. Pergi ke tempat yang paling jauh dariku. Dan kami, tidak akan pernah bertemu lagi di dunia ini.


“Yuta. Bukankah kau berjanji akan kembali padaku? Kenapa kau mengingkarinya? Kenapa kau justru kembali dalam keadaan seperti ini? Aku harus bagaimana, Yuta? Aku harus bagaimana?”


Aku tau aku tidak boleh meratapi kepergiannya. Tapi aku tidak bisa seketika mengikhlaskannya begitu saja. Kepergiannya begitu mendadak dan itu membuatku sangat hancur.


Yuta sayang. Maafkan aku.


Rasa sesal itu masih sering terbawa mimpi bahkan setelah satu tahun kepergian Yuta. Aku masih belum bisa menghapus kenanganku bersamanya.


Keluargaku sudah mencoba mengenalkanku pada pria lain tapi aku masih belum bisa menerimanya. Hatiku masih dipenuhi oleh senyuman Yuta.


“Ara. Jangan begini. Coba temui saja dulu. Dia teman Mas Bhanu yang berada di kesatuan yang sama. Barangkali dia bisa menggantikan Yuta.” Ujar ibu pada suatu hari.


“Tidak ada yang bisa menggantikan Yuta, Bu. Tidak ada. Yuta hanya satu dan tidak ada yang bisa menggantikannya.”


Aku belum bisa menerima sesalku karna saat pertemuan terkahir kami, aku malah marah padanya. Hal itulah yang masih memberati hatiku.


Rasanya aku belum puas kalau belum meminta maaf secara langsung dengan Yuta. Walaupun aku sadar betul hal itu tidak akan mungkin terjadi.

__ADS_1


Aku rutin menghibur diri dengan mendatangi makam Yuta. Menceritakan semua hal yang ku lalui padanya. Aku juga memberitahunya kalau aku sudah berhasil menjadi dosen. Entah dia mendengarkan atau tidak. Aku hanya ingin menceritakan semua hal padanya.


Yuta Mahendra. Tempatnya selalu terdepan di hatiku. Entah sampai kapan aku terlarut dalam kehilangan seperti ini. Bukan aku tidak berusaha. Aku sudah berusaha  untuk terlepas dari duka. Tapi perasaan kehilangan itu masih sangat nyata kurasakan. Aku akan merasa sangat bersalah kalau aku menyingkirkannya dari hatiku.


__ADS_2