Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 23.


__ADS_3

“Kalian tidak lapar?” Suara Mbak Ratih yang berasal dari arah belakang kami.


“Ayo makan.” Ajak Mas Arif.


“Ayo.”


Aku mengikuti Awan berjalan. Kami masuk ke dalam warung sederhana dan Awan memesankan 4 porsi mie goreng untuk kami dengan ekstra telur.


“Coba berdiri disana.” Tunjuk Awan memerintahku ke arah tulisan ‘Love Hill’. Kami sudah menyelesaikan sarapan sederhana kami dan bersiap untuk pergi ke Bromo.


“Kenapa?”


“Cepat.”


Awan tidak memberiku alasan. Dan aku tetap menurutinya. Aku berdiri di depan papan nama itu. Ternyata Awan memotretku menggunakanponselnya.


“Hei!” Aku tidak terima karna Awan tidak meminta ijinku lebih dulu. Aku mengejarnya seketika.


Awan hanya terkekeh saja kemudian menyimpan ponsel ke dalam saku celananya.


Ini perjalanan yang menyenangkan dan aku menyukainya. Apalagi Mas Arif menyewa sebuah jeep untuk perjalanan kami itu. Ini semakin menyenangkan.


Hamparan pasir membentang sejauh mata memandang. Di hadapan kami, Gunung Batok nampak lebih mempesona mataku ketimbang Gunung Bromo itu sendiri. Lekukan-lekukan di sepanjang sisinya, itu sangat indah.


Menaiki anak tangga yang nampak menjulang tinggi menuju kawah Bromo, membuat lututku melemas di tengah perjalanan.


“Mau ku gendong?” Tawar Awan sambil menahan senyum. Aku mencibir kesal padanya.


Bahkan Mbak Ratih dan Mas Arif sudah sampai di puncak. Ternyata tenaga mereka jauh lebih banyak dariku.


“Kenapa mereka masih punya banyak tenaga?” Gumamku melihat kepada Mbak Ratih yang melambaikan tangan kepada kami.


“Namanya juga pengantin baru. Mereka punya banyak simpanan tenaga. Hahahaha.”


“Jadi mereka itu pengantin baru?”


“Hem. Baru dua bulan menikah.”

__ADS_1


“Mereka tiggal dimana?”


“Jakarta.”


Aku berusaha untuk menegakkan tubuhku. Terhenyak saat Awan mengulurkan tangan ke hadapanku.


“Ayo.”


Sepertinya aku memang sangat membutuhkan bantuannya saat ini. Tidak punya tempat untuk gengsi menerima bantuan Awan. Aku segera menyambut uluran tangan itu dan Awan membantuku menaiki sisa anak tangga.


“Wahhh.” Ujarku tanpa sadar. Pemandangan kawah yang mengeluarkan sedikit asap di beberapa sisi itu nampak mengerikan sekaligus menakjubkan.


Kami tidak lama berada disana. Karna sengatan matahari mulai memanas.


Pukul 10 pagi, kami semua sudah beranjak dari tempat itu dan menuju ke arah pulang. Cukup melelahkan namun juga menyenangkan.


Sepulangnya dari Bromo, aku kembali melanjutkan tidurku yang terganggu. Bahkan ibu tidak berani menggangguku.


Pukul dua siang aku terbangun akibat suara riuh tawa yang menggelegar dari ruang tamu. Mataku yang masih terasa berat tidak bisa ku ajak berkompromi untuk terbuka. Bahkan saat terdengar suara pintu kamar terbuka.


“Ara? Dek?” Panggil ibu mengguncang pelan bahuku. Aku sudah bangun, hanya saja kesadaranku masih mengambang.


Mendengar itu, aku sontak membelalakkan mataku. Memaksa kesadaranku untuk kembali.


Aku mengucek-ucek mata sambil keluar dari kamar mengikuti ibu. Aku bahkan masih menguap sambil menggaruk kepalaku.


Aku terpaku di tampatku berdiri. Tidak berani bergerak sedikitpun saat orang-orang yang ada di runga tamu kompak melihat kepadaku. Perlahan aku menurunkan tannganku dari kepala untuk menyelamatkan harga diriku.


Disana, diantara sekumpulan orang-orang yang duduk di ruang tamu, ada sosok Awan yang berdiri sambil melihat kepadaku. Dia bahkan menyunggingkan senyuman padaku. Seketika aku berharap kalau ini hanya mimpi di siang bolongku saja.


Tapi tidak. Aku sadar kalau ini semua nyata saat ibu memukul pundakku.


“Kamu ini. Bisa-bisanya keluar dari kamar begini? Bukannya cuci muka dulu.” Ibu merepet sambil berbisik. Sepertinya dia juga malu dengan penampakan putrinya yang sangat berantakan ini.


Ibu segera menolakku untuk kembali masuk ke dalam kamar.


“Tidak sopan. Masak kamu keluar dengan berpakaian begini. Lihat rambutmu ini?” Dengus ibu yang kesal.

__ADS_1


Aku mematut diriku di cermin dan hanya bisa ternganga saja melihat betapa berantakannya penampilanku. Dan Awan, aku teringat dengan senyuman menyeringainya tadi. Astaga, malunya aku.


“Kenapa mereka ada disini, Bu?”


“Mereka keluarga inti Mahli. Suami Susan.”


“Kenapa Ibu tidak memberitahuku tadi?”


“Ibu lupa. Hehehe. Sudah. Cepat mandi dan ganti pakaianmu.” Desak ibu yang kemudian meninggalkanku di dalam kamar.


Selesai mandi, rasanya aku tidak ingin keluar untuk bergabung bersama mereka. Aku masih malu setelah semua orang melihat penampilan urakanku tadi. Tapi aku tidak punya pilihan lain, kan?


Perlahan, aku membuka pintu dan menutupnya kembali dengan pelan. Aku tidak ingin ada orang yang menyadari keberadaanku. Aku berjalan dengan sedikit membungkuk kemudian bersembunyi di balik punggung ibu. Melirik kearah Awan yang masih tersenyum kearahku.


Ibu juga lupa memberitahuku kalau sore ini, mereka mengadakan acara makan bersama dan pada akhirnya menunda kepulangan kami hingga senin pagi. Dan itu berarti aku terpaksa bolos satu hari lagi.


Saat makan berama berlangsung, sialnya Awan yang duduk di kursi di seberangku terus menatap kearahku yang duduk di sebelah ibu. Kami semua sedang duduk mengitari meja panjang yang sudah di siapkan di taman belakang rumah.


“Jadi ini putrinya, Bu?” Tanya seorang wanita paruh baya yang nampak anggun.


“Iya, Mbak. Ini anak saya. Namanya Ara. Dia kuliah di Halim. Baru semester awal.” Jelas ibu. Entah kenapa ibu harus menjelaskan itu pada mereka.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kaku kepada wanita itu.


Selebihnya, aku hanya mendengar pembicaraan mereka. Aku tidak berani mengangkat kepalaku karna tidak mau bertemu tatap dengan Awan. Aku masih malu karna Awan harus melihat keadaanku yang paling kacau.


Dari perbincangan itu, aku sedikit tau kalau ternyata Mas Mahli sudah tidak punya orangtua lagi. Dan sepasang paruh baya yang kulihat mendampingi Mas Mahli di pernikahan kemarin merupakan bulek dan pakleknya yang menjadi walinya. Dan ternyata, itu adalah orangtua Awan. Aku fikir mereka orangtua Mas Mahli. Lengkap sudah rasa maluku.


Aku sangat syok mendapati kenyataan itu.


Sebuah keberuntungan bagiku, baik ibu dan bude tidak ada yang membahas perihal kepergianku bersama dengan Awan tadi pagi. Mereka sibuk membahas Mbak Susan dan Mas Mahli.


Aku mencari alasan untuk meninggalkan tempat itu setelah selesai makan. Mencoba menyibukkan diri dengan membantu para asisten rumah tangga bude dengan membawa bekas makanan kami. Hal yang tidak pernah ku lakukan dan ternyata itu membutuhkan banyak tenaga.


Baru dua kali bolak-balik, kakiku sudah merasa pegal. Hingga mangkuk besar yang berisi sayur hampir saja tumpah karna kakiku tidak sengaja tersandung satu sama lain. Untung saja, seseorang menangkap mangkuk itu hingga tidak jadi jatuh ke lantai. Sementara aku berpegangan pada lengan Awan hingga kemejanya sedikit melorot.


“Oh, maaf.”

__ADS_1


“Hati-hati.”


Aku ingin meminta mangkuk itu kembali. Tapi Awan segera menyerahkan kepada asisten rumah tangga yang kebetulan lewat di dekat kami.


__ADS_2