
Pukul setengah 7 malam, Kuara dan Awan sudah bersiap. Awan akan mengajak Kuara ke rumah kedua orang tuanya dan mengenalkannya dengan mereka secara resmi sebagai istrinya.
“Kau sangat cantik.” Bisik Awan di telinga istrinya itu saat melihat Kuara yang sudah selesai berdandan.
Mendapat pujian itu, membuat wajah Kuara merona. “Ayo. Nanti kita terlambat.”
Beberapa jam sudah setelah mereka sah menjadi suami istri. Dan perlahan, Kuara mampu mengikis rasa canggung di dalam dirinya.
Kuara berbalik dan menghadap Awan.
“Apa, aku tidak terlihat aneh?” Ia meminta pendapat Awan.
“Tidak. Tidak.” Awan sontak menggeleng.
“Kau terlihat sangat cantik. Membuatku bertambah yakin, kalau kau memang di ciptakan sebagai Sinta-ku.”
“Apa itu rayuan?” Tanya Kuara kembali. Karna, ia merasa detak jantungnya bertambah cepat setelah mendengar ucapan Awan itu.
Bukannya menjawab, Awan malah menarik tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
“Sayang, aku tidak pandai merayu.” Bisik Awan lagi.
Sayang? Ooh, hati. Berhentilah berdebar. Aku bisa pingsan kalau begini. Keluh Kuara dalam diam.
“Yang ku katakan adalah apa adanya. Aku sangat bahagia sekali sekarang. Aku sudah berjanji pada ibu, kalau aku akan membahagiakanmu selamanya. Dan aku akan menepati janji itu. Aku mencintaimu, Ara.”
Ucapan Awan itu mampu menggerakkan tangan Kuara tanpa ia sadari. Kini, tangannya sudah melingkar erat di pinggang Awan. Membalas pelukan hangat dari suaminya itu.
“Kita hampir terlambat.” Bisik Kuara saat mereka sudah berpelukan hampir lima menit lamanya.
“Oh, astaga. Memelukmu itu benar-benar candu.”
Kuara merasa sangat berterimakasih kepada Awan. Pria itu menepati janjinya. Janji untuk tidak melakukan sesuatu terhadap dirinya saat ia belum siap menerima pernikahan mereka sepenuhnya.
Tadi saat Kuara tertidur di sofa, Awan tidak mengusiknya. Ia justru menjaganya dan menyelimutinya dengan perlahan. Dan dia pergi setelah mengecup kepala Kuara. Padahal Kuara tidak sepenuhnya tertidur. Ia juga melihat kalau Awan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Awan menggenggam tangan Kuara mesra menuju ke mobil. Ia juga membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Melindungi kepala istrinya agar tidak terantuk pintu mobil.
Lima menit perjalan, suasana hening. Mulut Kuara gatal ingin mengeluarkan suara. Namun ia tidak menemukan bahan yang cocok untuk dijadikan bahan pembicaraan.
“Rasanya masih tidak percaya. Seperti mimpi.” Lirih Awan menoleh kepada Kuara sesaat.
“Kenapa begitu?”
“Kau tau, sangat sulit mempertahankan perasaanku selama sepuluh tahun lebih. Apalagi godaan gadis-gadis di Boston, beeeuuuh. Susah. Ini adalah bentuk perjuanganku demi menjaga perasaanku padamu, Ara. Perasaan murni yang memang hanya kamulah yang berhak mendapatkannya.”
__ADS_1
Awalnya Kuara mengernyit dengan tatapan kesal. Belum sehari mereka menikah, dan Awan sudah berani membahas perihal gadis lain. Gadis Boston. Astaga.
“Bisa-bisanya kau membahas gadis Boston sekarang. Bukan waktu yang tepat, Awan.”
“Hahahahahahaha. Terpancing juga rupanya. Aku takut kalau kamu tidak cemburu setelah aku mengatakan itu.”
“Ish.” Desis Kuara kesal. Ia kena lagi di kerjai Awan.
“Hehehehehe.”
“Kita mampir dulu ke Nona Bakery ya. Aku ingin membeli oleh-oleh untuk Mama dan Maiga.” Pinta Kuara.
“Siap.”
Kuara memberitahu Awan alamat toko kue langganannya itu. Setelah sampai, ia segera mengambil kue yang telah ia pesan sebelumnya.
“Apa Mama akan menyukai ini?”
Tanpa ragu Awan menganggukkan kepala. “Mama pasti akan menyukai apapun pemberianmu.”
“Benarkah?” Kuara menjadi antusias.
“Tentu saja. Kau kan tau kalau Mama sangat menyukaimu sejak dulu.”
Kuara tersenyum simpul. Ya, ia tahu kalau Radina memang tidak membencinya.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Kuara membenahi pakaian dan rambutnya terlebih dahulu. Ia tidak ingin memberikan kesan urakan kepada mertuanya itu. Padahal, dulu Radina sudah melihatnya acak-acakan dalam balutan piyama tidur waktu di malang.
“Ayo.” Awan mengulurkan tangan meminta untuk menggenggam tangan istrinya.
“Hhuuufff.”
Awan terkekeh kecil. Ternyata Kuara gugup juga.
“Kenapa? Gugup?”
“Hem.” Kuara mengangguk.
“Kan kalian sudah lama saling kenal.”
“Tetap saja. Kemarin aku bukan menantunya.”
“Tenang saja. Mertuamu tidak semenakutkan itu.” Bisik Awan.
Kuara melirik tajam kepada Awan. Ia menahan diri untuk tidak mencubit pinggang pria itu.
__ADS_1
“Ma, kami datang.” Ujar Awan menghampiri Radina yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Maiga dan juga Ben.
“Oh, kalian sudah datang?” Sambut Radina. Ia langsung berdiri dari sofa dan memeluk Kuara erat.
“Selamat datang, sayang.” Sambut Radina.
Tidak mau kalah dengan Radina, Maiga juga ikut bangun dan menyambut kakak iparnya itu. Ia juga memeluk Kuara dengan sangat erat. Ia senang sekali dengan kedatangan Kuara.
“Astaga. Kenapa tidak dari dulu begini.” Ujar Maiga.
“Apa ini? Apa kalian tidak melihatku?” Dengus Awan kesal karna merasa di abaikan.
“Em. Kami tidak melihatmu. Sudah bosan.” Jawab Maiga.
“Apa? Sini kau!” Hardik Awan. Ia hendak meraih tangan adiknya itu namun Maiga keburu menghindar ke belakang Kuara. Meminta perlindungan dari kakak iparnya itu. Ia menjulurkan lidah untuk mengejek Awan.
Kuara hanya bisa terkekeh melihat keakraban adik dan kakak itu.
“Hei, berhenti mengganggu istriku.” Balas Ben.
“Sebelum menjadi istrimu, dia adikku.” Balas Awan kembali.
Kuara merasakan kehangatan dalam hatinya. Kedekatan keluarga Awan sama seperti keluarganya. Tidak jauh berbeda. Sama-sama hangat. Dia dengan Bhanu juga seperti Awan dan Maiga. Saling menjahili jika merasa rindu.
“Ya ampun, kalian ini. Maaf ya Ara. Begitulah tingkah suamimu itu. Seperti anak kecil saja kalau sudah di rumah.” Ujar Radina. Ia merasa tidak enak hati karna menantunya itu harus melihat kerecokan kecil itu.
“Hehe. Tidak apa-apa, Ma. Mereka lucu.” Kuara benar-benar senang berada di tengah-tengah keluarga yang hangat.
“Sudah, sudah. Ada Ara. Apa tidak malu?” Akhirnya Radina
memaksa anak-anaknya untuk berhenti berkelahi.
Ah, Awan baru sadar setelah di beritahu Radina. Sesaat ia lupa kalau ada Kuara di sana. Saat melihat kepada istrinya itu, ia jadi malu sendiri.
“Ayo, kita makan. Makanannya sudah di siap dari tadi.” Ajak Radina pada akhirnya.
Semua orang menurut. Termasuk Awan. Ia menggenggam erat tangan Kuara dan membimbingnya menuju ke ruang makan.
“Jangan terkejut dengan apa yang kau lihat tadi, ya.” Bisik Awan sambil berjalan.
“Hihihihi. Ternyata kau seperti Mas Bhanu kalau di rumah. Jahil.”
“Hehe. Mereka adalah orang-orang yang sangat ku sayangi. Aku harap, kau bisa akrab dan membaur dengan mereka. Jangan merasa canggung atau apapun.”
“Jangan khawatir. Sepertinya, aku akan akrab dengan Mama dan Mai. Mereka sefrekuensi denganku.”
__ADS_1
“Terimakasih, sayang. Love you.”
Bisik-bisik tetangga itu baru berhenti setelah keduanya duduk di kursi makan.