Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 20.


__ADS_3

Sudah seminggu aku tidak bisa menghubungi Kuara. Jadi aku memutuskan untuk bertanya kepada Mas Mahli. Aku meminta bantuannya untuk menyelidiki keadaan Kuara. Karna istri Mas Mahli merupakan sepupu Kuara. Dia pasti tau sesuatu.


Kalau menuruti egoku, aku memang sedang marah kepada Kuara karna dia tidak jadi datang ke bandara. Tapi sekali lagi, aku tidak ingin berspekulasi sendiri. Kuara tidak mungkin tidak datang kalau dia bisa. Perasaanku mengatakan, sesuatu telah terjadi dengan Kuara malam itu.


‘Kuara mengalami kecelakaan sore itu. Mobilnya menabrak trotoar di jalan menuju bandara.’


Pesan Mas Mahli itu membuat tubuhku langsung kehilangan tenaga. Aku yang baru saja keluar dari kelas langsung limbung dan hampir terjatuh.


“Are you oke?” Untung saja Ben langsung menangkapku.


Benjamin, dia adalah teman pertamaku di kampus ini.


“I’m fine. Thanks.”


Aku berusaha mengumpulkan kembali tenagaku. Memaksa mereka berkumpul di kaki agar aku bisa menopang tubuhku kembali.


Jantungku kembali berdetak tak karuan saat menatapi nomor ponsel Kuara yang baru yang di kirimkan oleh Mas Mahli. Aku segera memanggil nomor itu.


Serasa ada yang menekan dadaku saat menunggu nada dering berakhir. Dua kali panggilan, tapi Kuara tidak mengangkat telfonku. Dan hatiku kembali pias.


‘Apa dia parah?’ aku membalas pesan Mas Mahli.


‘Aku juga tidak tau jelasnya. Kata istriku lukanya lumayan parah.’


Seketika perasaan menyesal menyerbu dadaku. Aku merutuki diriku sendiri yang sempat membencinya karna dia tidak datang. Astaga, andai aku punya ilmu menghilang, aku akan menghilang untuk menemui Kuara saat ini juga.


Membayangkan Kuara terbaring di rumah sakit dengan luka di tubuhnya, darahku serasa mendidih. Menambah rasa sesal di dadaku.


Sejak Kuara tidak mengangkat telfonku, aku jadi berfikir dua kali ketika hendak menghubunginya. Dan lama kelamaan, aku semakin di sibukkan dengan aktifitas perkuliahan yang sangat padat.


Aku berusaha untuk fokus pada studyku. Tujuanku hanya satu. Aku ingin cepat menyelesaikannya dan kembali ke Indonesia. Aku ingin kembali kepada Kuara.


Karna hal ini juga selama kuliah aku tidak pernah pulang sekalipun. Hanya Mama dan Papa juga Maiga yang sesekali datang mengunjungiku di Boston.


Kuara menjadi salah satu alasanku untuk segera menyelesaikan studyku. Fotonya menjadi penyemangatku saat aku merasa lelah dan ingin berhenti saja.


Hari-hariku di Boston selalu di recoki oleh Elya. Sepertinya tujuannya kesini bukan untuk kuliah. Melainkan untuk mengekoriku. Sekuat hati aku berusaha untuk bersabar menghadapi gadis itu.


Ada suatu ketika, mungkin Elya merasa sudah sangat frustasi dengan sikapku. Dia datang ke apartemenku dan langsung marah-marah tidak jelas.

__ADS_1


“Kau ini kenapa?”


“Aku sudah bosan dengan sikapmu, Awan. Rasanya aku ingin menyerah saja.” Elya menangis.


Tidak ada rasa iba sedikitpun dalam hatiku saat melihat airmata Elya. Karna hatiku telah dipenuhi oleh seorang Intan Kuara.


“Kalau kau sudah lelah, berhenti disini saja. Sejak awal aku tidak pernah memaksamu untuk terus berharap padaku, El. Sudah berkali-kali kubilang, hatiku telah diisi oleh seseorang. Tidak ada tempat untukmu kembali.”


“Kau jahat, Wan. Kau jahat.” Elya semakin meraung kemudian pergi dari apartemenku dengan kemarahannya.


Aku fikir hal itu mampu membuat seorang Elya menyerah padaku. Tapi ternyata tidak. Dia tetap bertahan di Boston dan melanjutkan rencananya. Benar-benar gadis yang keras kepala.


Aku sudah memperhitungkan waktu kelulusan Kuara. Dan dengan bantuan Mas Mahli, aku tau kalau tidak lama lagi Kuara akan lulus kuliah. Dan itu berarti, masa berlaku komitmen yang dia jaga akan berakhir. Aku menyambut hal ini dengan sukacita.


Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku kembali ke Indonesia. Aku mengajak serta Ben untuk sekalian berlibur ke Indonesia.


Hal pertama yang kulakukan saat kembali ke Indonesia adalah menemui Kuara. Ben telah aku titipkan kepada Maiga untuk mengajaknya berkeliling kota Jogja.


Aku menghentikan mobil tepat di depan pintu rumah Kuara. Mengatur nafas untuk mengumpulkan keberanian.


Setelah keberanianku terkumpul, aku keluar dari mobil dan memencet bel di pintu gerbang rumah Kuara.


“Cari siapa, Mas?” Tanya anak itu.


“Kuara. Ada?”


“Ehm. Mbak Kuara lagi ada di Hotel Royale. Hari ini acara pertunangannya.”


Deg.


Pertunangan?


“Siapa? Kuara? Kuara bertunangan? Dengan siapa?”


“Mas Yuta.”


DEG.


DEG.

__ADS_1


DEG!!!


Kuara bertunangan. Dengan Yuta. Kuara bertunangan.


Hanya kalimat itu yang terus terulang di kepalaku. Aku mencengkeram kuat kemudi mobilku dan mengarahkannnya ke Hotel Royale.


Aku mencari letak aula outdoor hotel dengan membabi buta setelah bertanya kepada resepsionis hotel.


Langkahku tercekat saat melihat sebuah pemandangan yang membuat duniaku runtuh. Disana, Kuara dengan penampilannya yang sangat cantik, sedang bertukar cincin dengan Yuta.


Nafasku terengah. Dadaku sesak seakan ada setumpuk batu yang menindihnya.


Kuaraku. Kuaraku telah menjadi milik orang. Orang paling beruntung karna bisa mendapatkan hatinya. Aku terlambat selangkah dari Yuta.


Hatiku seperti teriris oleh pedang samurai yang sangat tajam. Sakit saat mendapati kenyataan kalau di jari manis Kuaraku telah tersemat sebuah cincin tanda ikatan.


Kuara benar-benar tidak mau menungguku.


Suara sorak sorai menggema di sekitarku. Gema yang langsung meruntuhkan hatiku saat itu juga. Mereka sedang bersuka cita dengan pertunangan Kuara dan Yuta.


Sebelum seseorang mengenaliku, aku segera membalikkan badan meninggalkan area itu. Menyeret kakiku untuk kembali ke dalam mobil.


Di dalam mobil, aku melampiaskan semua rasa sakit hatiku kepada kemudi. Aku memukul-mukul kemudi sampai tidak terasa kalau perbuatanku itu menyakiti tanganku sendiri.


Seketika aku menyesali keputusanku pergi ke Boston. Tapi apa gunanya menyesal sekarang? Dulu aku terlalu percaya dengan perasaan Kuara padaku. Aku percaya dengan harapan kalau Kuara tidak akan menerima pria lain selain diriku, karna aku yakin dengan perasaanya.


AAAARRRGGGHHHHH!!!!!


Aku terus memukuli kemudi yang sama sekali tidak bersalah.


Pupus sudah. Alasanku untuk segera menyelesaikan study telah hilang.


Kulajukan mobil meninggalkan area hotel dan langsung pulang ke rumah. Aku melemparkan tubuhku ke atas ranjang. Meratapi sakit hatiku yang luar biasa ini.


Semangat hidupku serasa telah menguap begitu saja. Hilang tak berbekas. Separuh kesadaranku memaksa untuk melampiaskan ke club malam atau apapun itu. Tapi separuhnya lagi berusaha menahan diriku untuk tetap berada di rumah.


Aku menguatkan diri. Aku memang kecewa dengan pertunangan Kuara dan Yuta. Tapi itu bukan berarti aku harus merusak diriku karna patah hati, kan?


Memangnya di dunia ini hanya ada Kuara seorang? Tidak. Masih banyak wanita yang mau denganku. Elya salah satunya.

__ADS_1


Tapi kenyataannya adalah, hanya ada Kuara seorang di dalam hatiku. Hanya Kuara yang ada di duniaku. Aku hanya berusaha untuk mengalihkan kesedihanku dengan memikirkan hal-hal lain. Dan itu tetap tidak berhasil.


__ADS_2