Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 11.


__ADS_3

Perjalanan pulang terasa sangat menyenangkan. Bagaimana tidak? Kesalahfahaman dari wanita yang ku cintai telah berakhir dengan mulus. Kini, aku sudah siap menjalankan rencana-recana untuk kembali mendekatinya.


“Mas, kenapa senyum-senyum terus?” Ternyata Maiga memperhatikanku. Aku mengalihkan pandangan dari ponsel kepada adikku itu.


“Ya karna bahagia.” Aku kembali melihat ponsel. Wajah Kuara yang kucuri dari ponselnya waktu itu. Senyumnya,,, duh.


Slurtt!


Aku terkejut saat tiba-tiba ponselku itu terbang dan terlepas dari tanganku.


“Kembalikan.” Tegasku kepada Maiga yang sudah memegangi ponselku tinggi-tinggi. Sementara punggungku masih menempel di sofa. Aku malas bangun untuk merebut ponselku.


“Inikah pacar baru Mas Awan?” Maiga memperhatikan dengan serius foto yang ada di ponselku.


“Kembalikan, Mai.”


“Cantik.”


“Mai...” Aku kembali memperingatkan.


“Siapa namanya? Wajahnya seperti tidak asing. Apa aku pernah bertemu dengannya?”


Aku sudah tidak sabar. Bahkan adikku itu tidak mengindahkan peringatanku. Jadi aku memaksa tubuhku untuk bangun dan kembali merebut ponselku kembali. Setelah mendapatkannya, aku segera mengamankannya ke dalam saku.


“Ada apa ini?” Suara mama mengejutkan kami.


“Ma, Mas Awan sudah punya kekasih baru.” Dan Maiga langsung mengadu. Tapi mama hanya diam saja dan mengambil duduk di sofa.


Aku tersenyum. Mama sudah tau lebih dulu soal ini.


“Apa ini? Mama sudah tau?” Maiga nampak tidak terima dan melihat tajam padaku. “Siapa namanya, Mas? Sekolah dimana? Sudah berapa lama kalian berpacaran?”


Malas sekali menanggapi ocehan Maiga. Jadi aku kemudian bangun dan pergi ke kamar. Tapi saat sampai di ujung tangga, aku berpapasan dengan papa.


“Mau kemana?” Tanya papa.


“Ke kamar, Pa. Main game.”


“Jadi tidak ada kegiatan, kan? Ayo temani Papa makan siang.”


Aku mengernyit. Pasti ada sesuatu sampai papa mengajakku makan siang. Biasanya, akan bertemu dengan orang penting dan menyangkut perusahaan.


Karna suasana hatiku sedang sangat baik, aku segera meng-iyakan ajakan papa.


“Awan ganti baju dulu, Pa.”

__ADS_1


Kami di antar oleh Mas Yusman menuju ke sebuah hotel bintang lima di kawasan Malioboro. Sebenarnya aku ingin mengemudi sendiri, tapi papa tidak mengijinkanku.


Seorang manajer hotel segera menyambut kami. Dia mengantarkan kami menuju ke sebuah ruangan privete. Disana, sudah ada seorang pria paruh baya dan seorang gadis cantik yang sedang duduk di sampingnya.


“Oh, Pak Daniyal. Selamat datang.” Sapa pria itu.


“Maaf baru datang Pak Kuncoro.”


“Tidak apa-apa. Silahkan duduk.”


Aku mengambil duduk di samping papa. Dihadapan gadis cantik itu. Entah cuma perasaanku saja, atau gadis itu memang tengah tersenyum menggoda padaku. Aku tidak peduli.


“Jadi ini putra Pak Daniyal?” Pak Kuncoro berbicara padaku.


“iya, Pak. Kenalkan. Namanya Awan.”


Akupun mengangguk sopan. Hal mendasar yang diajarkan oleh orangtuaku adalah, sopan kepada orang yang lebih tua. Sekalipun aku tidak mengenal ataupun menyukai mereka.


“Awan, Pak Kuncoro ini adalah pemilik Galeri Vane. Galeri yang bekerja sama dengan Yayasan Budaya Halim. Dan ini putrinya.” Papa menjelaskan padaku.


“Dila.” Gadis itu mengulurkan tangan padaku. Sebagai bentuk rasa sopan, aku menyambutnya.


“Putra Pak Daniyal ini, sudah memancarkan aura seorang pemimpin masa depan. Sepertinya Yayasan Budaya Halim Abimanyu akan semakin cemerlang di tangannya.”


Pujian itu, seperti banyak pujian-pujian lain yang selalu ku dengar. Pak Kuncoro ini, sedang berusaha meraih perhatianku. Tujuannya sudah sangat jelas. Apalagi dia membawa putrinya ikut serta didalam pertemuan yang sebenarnya tidak ada hubungannya denganku ataupun Dila.


“Wahhh. Masih semuda ini sudah bijaksana. Pak Daniyal beruntung sekali. Hahahahaha.”


Astaga. Tertawanya, sumbang sekali.


“Nak Awan, bisa tolong kau ajak Dila ngobrol di luar? Aku dan papamu mau ada yang dibahas. Masalah pekerjaan.” Ujar Pak Kuncoro lagi.


Cara yang sangat kuno untuk mendekatkanku dengan Dila. Tapi tidak apa. Mumpung suasana hatiku sedang baik.


Aku segera bangkit dari duduk dan berjalan keluar. Dila mengikutiku di belakang.


“Kita duduk disana saja. Bagaimana?” Tanyaku menunjuk ke sebuah kursi kosong di dalam restoran itu.


“Boleh.”


Kami duduk saling berhadapan. Aku sengaja memperhatikan Dila dari ujung kepala hingga kaki. Aku suka membuatnya salah tingkah. Padahal aku sama sekali tidak tertarik dengannya.


Aku memesan secangkir kopi hitam saat seorang pelayan datang. Sementara Dila memesan Americano. Gayanya sudah seperti kelas atas. Geli sekali melihatnya.


Apalagi cara duduknya. Seolah dia ingin menunjukkan kalau dia berada di strata sosial yang tinggi. Entah apa yang dia baanggakan dari statusnya itu.

__ADS_1


Tidak seperti pujaan hatiku, Kuara. Walaupun dia berasal dari keluarga yang terpandang, tapi sikapnya biasa saja, tidak menonjolkan sisi keagungan strata yang ia miliki. Yang begitu, justru semakin menarik untuk di perjuangkan.


Aku tersenyum saat Dila nampak blingsatan karna pandanganku. Dia pasti berfikir aku sedang menikmati kecantikannya. Apalagi saat dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Sebuah anting berlian nampak menghiasi telinganya.


Memang Dila cantik. Ku akui itu. Tapi masih kalah cantik dengan Kuaraku.


“Kau masih sekolah? Kelas berapa?”


“Kelas 2 SMA.”


Oh, dia masih adik kelasku.


“Mas Awan tampan sekali. Apalagi kalau di lihat dari dekat seperti ini.”


“Kau juga cantik, Dila.”


Alhasil, gadis itu semakin tersenyum simpul. Ia tersipu akibat pujianku yang sebenarnya setengah hati ini. Haha.


“Bolehkah aku lebih mengenalmu, Mas Awan?”


Entah kenapa, aku geli mendengar dia memanggilku ‘Mas’. Hanya untuk menghormatinya. Sekali algi kutegaskan, hanya untuk menghormatinya, akupun menganggukkan kepala.


Aku faham dengan konsekuensinya saat aku menganggukkan kepalaku. Kalau gadis itu pasti akan berharap lebih padaku. Bukan aku besar kepala. Hanya saja itu hal yang sudah berkali-kali ku alami. Jadi aku sudah faham situasinya.


“Kalau begitu, bolehkan aku meminta nomor ponselmu?”


“Bagaimana ya... Aku tidak sembarang memberikan nomor ponselku pada seseorang.” Sepertinya aku harus menetapkan batasan padanya.


“Lagipula, kita tidak punya hal yang bisa di bahas. Jadi kurasa tidak perlu bertukar nomor ponsel.” Ujarku  lagi. Karna sepertinya Dila masih tidak mengerti penolakanku.


“Tapi Papaku bekerjasama dengan Papamu, Mas.”


“Yang bekerjasama itu mereka. Apa hubungannya dengan kita? Apa kau akan membahas masalah pekerjaan Papamu denganku?”


Dila ternganga. Dia memandang jengah padaku. Mungkin dia fikir aku pria yang mudah untuk di dekati. Tapi tidak. Aku selalu menetapkan batasan kepada para gadis di luar keluargaku. Saat ini, hanya Kuara satu-satunya gadis yang ku ijinkan untuk menyentuhku. Bahkan Elya saja, sudah kubatasi karna hubungan kami sudah berakhir.


“Mas Awan galak.”


“Memangnya apa yang kau harapkan dari hubungan kita, Dila?”


“Ya, kita bisa berteman.”


“Atau berpacaran...” Aku memotong kalimatnya. Dila nampak terkejut dengan tebakanku.


“Mas Awan kok bicaranya begitu?”

__ADS_1


“Kamu harus tau ini, aku tidak pernah menjalin kedekatan dengan anak dari rekan bisnis papaku. Tidak pernah. Karna kau tidak ingin membuat sebuah hubungan dalam lingkaran bisnis. Aku masih sekolah dan aku masih ingin bersenang-senang dengan hidupku. Hal-hal seperti yang ada di fikiranmu sekarang, masih jauh dari bayanganku. Jadi jangan berharap lebih.”


__ADS_2