Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 15.


__ADS_3

“Itu rumahku, hiks. Hiks.” Keysi menunjuk ke arah rumah sederhana yang ada di ujung gang. Aku segera menghentikan mobil di sana. Keysi segera turun dari mobil dan membiarkan pintunya terbuka.


“Terimakasih sudah mengantarkanku pulang. Ngomong-ngomong siapa namamu?”


“Awan.”


“Terimakasih, Awan. Aku Keysi. Aku berjanji akan membalas kebaikanmu ini suatu saat nanti. Kalau waktu mengijinkan kita untuk bertemu kembali.”


“Tidak usah di fikirkan. Aku hanya berniat membantu. Kalau begitu, aku pergi dulu.”


Aku segera melajukan mobil ke arah pulang. Tidak kembali ke cafe.


Sabtu pagi, kami semua sudah bersiap-siap untuk acara pernikahan Mas Mahli. Aku menyandarkan tubuhku di pintu kamarnya sambil bersedekap.


“Wahh. Gagah sekali.” Ujarku memuji penampilan Mas Mahli.


“Wan, bagaimana ini? Jantungku hampir meledak.”


“Jangan meledak sekarang. Kasihan calon istrimu nanti tidak jadi menikah.”


“Sialan kau.”


“Sudah selesai belum?” Suara Papa mengejutkan kami. Papa datang bersama dengan Mama untuk melihat kesiapan Mas Mahli.


“Kalau sudah selesai, ayo ke bawah. Acaranya sebentar lagi di mulai.”


Sebagian rombongan keluarga kami sudah menunggu di dekat ballroom. Aku mengikuti Mas Mahli di barisan paling belakang bersama dengan Satria.


Pluk!


Sebuah pukulan pelan dibahuku membuatku langsung menoleh.


“Awan? Ini benar-benar kau rupanya.”


“Keysi?” Aku juga terbelalak tidak percaya. “Kenapa kau ada disini?”


“Aku bekerja sebagai pelayan paruh waktu di hotel ini. Kau?”


Seketika aku memperhatikan seragam Keysi. Ternyata dia bekerja di hotel ini.


“Aku, ehm. Saudaraku menikah hari ini.”


“Oh, begitu. Waah. Tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi disini.”


Aku hanya membalas ucapannya itu dengan senyuman. Saat tiba-tiba sudut mataku menangkap sosok Kuara yang sedang berjalan hendak masuk ke dalam ballroom. Namun dia tidak jadi masuk dan malah bersandar di dinding.


Aku segera menghampiri Kuara. Meninggalkan Keysi begitu saja bersama dengan Satria.


Kuara terkejut saat aku menarik lengannya. Dia sempat melotot marah tapi kemudian wajahnya jadi merona.

__ADS_1


“Sedang apa kau disini?”


“Awan?”


Dari cerita Kuara aku tau. Kalau ternyata calon istri Mas Mahli adalah sepupu Kuara.


Sungguh sebuah kebetulan yang manis.


Selama pesta, aku menghabiskan waktu bersama dengan Kuara dan keluarganya. Aku bahkan duduk bersama mereka. Menyingkirkan rasa canggung dengan masih menyisakan sikap sopan. Aku ingin dianggap dekat dengan keluarga Kuara. Seperti Yuta.


Aku bahkan mengajak Kuara pergi melihat matahari terbit di Gunung Bromo. Aku mengambil banyak sekali foto-foto Kuara. Tentu saja tanpa sepengetahuannya.


Acara hari ini adalah makan bersama antara kedua keluarga mempelai. Keluarga istri Mas Mahli yang mengundang kami. Jadi siang ini, keluarga inti Mas Mahli datang ke rumah istrinya.


Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok gadis dengan rambut yang acak-acakan, mengenakan piyama pendek, keluar dari sebuah kamar dengan menguap lebar. Padahal aku baru saja mengirimkan pesan kepada Kuara.


Aku tidak ingin ketinggalan momen, aku segera memotret pemandangan itu diam-diam sebelum Kuara menyadarinya. Dan benar saja, wajahnya langsung memerah begitu menyadari keberadaanku. Sekejap kemudian, dia langsung kembali menghilang di dalam kamar bersama dengan ibunya.


Aku hanya terkekeh saja melihatnya. Wajahnya itu, lucu sekali. Astaga. Pantas saja dia tidak membalas pesanku. Rupanya dia sedang tidur.


Dia pasti sangat mengantuk setelah aku menyita waktu tidurnya tadi pagi-pagi sekali.


Kuara terus menghindariku. Entah kenapa aku merasa kalau dia sedang malu padaku. Apa karna aku memergoki penampilannya tadi? Apa dia malu hanya karna itu?


Uh. Aku semakin gemas saja.


Selesai makan bersama, aku mengikutinya yang nampak menyibukkan diri untuk membereskan meja makan. Sepertinya Kuara sedang tidak fokus hingga sayur yang dipegangnya hampir saja terjatuh. Dengan sigap aku menarik mangkuk dan menahannya agar tidak jatuh.


“Aku tidak apa-apa. Kenapa tidak memberitahuku kalau mau datang kemari?”


“Aku sudah memberitahumu.”


“Kapan?”


“Tadi. Aku mengirimimu pesan saat aku baru sampai di sini.”


“Kau sebut itu memberitahu?”


Aku tertawa melihat ekspresi kesalnya. Benar-benar lucu sekali. Ingin rasanya aku mencubit pipinya itu.


“Heheheheh. Kenapa? Apa kau terlalu bahagia melihatku?” Aku tidak tahan untuk tidak menggodanya.


“Berhenti meledekku, Awan.”


Aku senang Kuara terpancing. Wajahnya semakin merona saja.


Astaga. Entah sampai kapan aku bisa menahan diri seperti ini. Gadis ini benar-benar membuatku sangat gemas. Aku mengikutinya yang kembali berjalan hendak meninggalkanku. Aku tidak akan membiarkannya menghindar dariku lagi.


Blup.

__ADS_1


Saat Kuara berbalik, aku tidak sempat menghindar. Dan alhasil, wajah Kuara kini mendarat di dadaku.


Aku merasa seperti sedang terjun dari tempat yang sangat tinggi. Hatiku berdesir luar biasa. Kalau saja tidak ada orang lain disana, mungkin aku akan merengkuh tubuh Kuara kedalam pelukanku dan tidak akan melepaskannya.


“Kau ingin berpelukan apa bagaimana?”


Aku melihat Mama sedang melirik kepada kami dikejauhan. Aku tidak tahan dengan seringai mengejek yang Mama tunjukkan untukku.


“Malam ini, aku ingin mengajakmu makan malam. Bagaimana?” Aku berharap dia tidak akan menolakku.


“Tidak. Aku harus bersiap-siap karna malam ini aku harus kembali ke Jogja.”


Aku terkejut mendengarnya. Aku fikir dia akan pulang besok pagi. Kenapa jadi malam ini?


“Aku sudah libur kemarin. Aku tidak ingin libur lagi.”


Begitulah jawabannya sebelum pergi meninggalkanku. Sementara itu, aku melihat Mama kemudian menghampirinya.


“Kamu masih belum mau mengenalkan dia pada Mama?”


“Awan belum berhasil sempurna, Ma. Tunggu nanti.”


“Apa dia menolakmu?”


“Tidak menolak. Karna Awan juga tidak pernah mengajaknya berpacaran.”


“Kamu ini bagaimana, sih? Tidak mengajak pacaran tapi sudah mesra-mesraan seperti tadi.”


“Itu sesuatu yang tidak bisa awan hindari karna alam membantu Awan. Hehehehe.”


“Jadi, kamu mau pulang kapan?”


“Malam ini saja. Mumpung ada temannya.” Aku menyeringai senang sambil mengajak Mama kembali masuk ke dalam rumah.


Disana, aku melihat Kuara yang sedang membujuk ibunya agar di perbolehkan pulang sendiri naik kereta api. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku yakin kalau ibu Kuara akan mengijinkan jika aku yang menemaninya pulang.


“Ibu tidak usah khawatir. Biar aku yang mengantar Ara. Lagipula, aku juga harus masuk sekolah besok.”


“Benarkah?”


“Iya, Bu.”


“Ohh. Terimakasih banyak, Awan.”


Aku tersenyum penuh kemenangan setelah mendapatkan ijin dari ibu Kuara. Aku tidak peduli saat kulihat Kuara melayangkan protesnya dengan tatapan tajam padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.


Dia sudah tidak punya cara untuk menolakku. Aku memainkan sebelah mataku hingga membuat Kuara semakin mendengus kesal padaku.


Aku tidak suka saat melihat Kuara seperti sedang memberi jarak batasan antara kami. Aku memahami ketidaknyamannya antara perasaanku dan komitmennya.

__ADS_1


Apa aku terlalu membebaninya? Tapi aku benar-benar tidak bisa untuk jauh darinya. Aku suka menikmati perasaanku yang menggebu saat berdekatan dengannya. Aku kira dia merasakan hal yang sama. Apa tidak begitu?


__ADS_2