Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 20.


__ADS_3

Sabtu pagi. Semua orang sibuk untuk mempersiapkan acara akad nikah Mbak Susan. Kecuali aku.


Aku sibuk mempoles wajahku setelah MUA selesai mendandani Mbak Susan. Acara pernikahan Mbak Susan di adakan di sebuah hotel bintang lima di kota itu. Dan kami, sedang berada di dalam salah satu kamarnya.


“Ah, jantungku tidak bisa di kondisikan.” Adu Mbak Susan sambil memegangi dadanya.


Penampilannya semakin anggun dalam balutan kebaya berwarna putih. Nampaknya dia semakin gugup menjelang detik-detik ijab kabul.


Pernikahan, sesuatu yang pasti di impikan oleh setiap wanita. Termasuk aku. Ya, walaupun itu masih jauh dari rencanaku.


Entah kenapa saat memikirkannya, ada Awan yang tiba-tiba melintas di benakku. Seketika membuat jantungku berpacu dengan sangat cepat. Hatiku sampai berdebar di buatnya.


Ah,, mengingat Awan benar-benar bisa membuatku gila.


“Mbak, aku mau ke kamar mandi dulu.” Pamitku kepada Mbak Susan. Debaran di hatiku membuatku ingin buang air kecil.


Keluar dari kamar rias, aku lantas berjalan menuju ke kamar mandi. Di perjalanan aku bertemu dengan Mas Irlan yang sedang menggendong anak bungsunya yang berusia 2 tahun.


“Mau kemana, Ra?”


“Mau ke kamar mandi, Mas.”


“Oh. Jangan lama-lama ya. Acaranya sebentar lagi mau di mulai. Itu rombongan mempelai prianya sudah datang.” Mas Irlan memberitahuku.


“Iya, Mas.” Aku mencium pipi pria mungil yang di gendong Mas Irlan itu sebentar sebelum berlalu pergi ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi, aku hendak masuk ke dalam ballroom tempat acara di adakan. Namun tidak jadi sata kulihat rombongan mempelai pria juga berjubel di pintu masuk. Aku berencana untuk menunggu lengang saja.


Aku berdiri di dekat dinding sambil bersandar. Memakai sepatu hak tinggi membuat kakiku terasa kurang nyaman untuk berdiri lama.


“Hhh!!!!” Aku terkejut bukan main saat seseorang menarik lenganku dari samping. Aku langsung menatap marah kepada orang yang sudah berani-beraninya mengejutkanku itu.


Namun rasa terkejutku berubah menjadi bingung.


Di depanku, Awan sedang tersenyum dengan sangat lebar dengan tangan yang masih memegangi pergelangan tanganku.


Apa kau sedang berhalusinasi? Apa aku begitu merindukannya sampai-sampai ia terus berkeliaran di ingatanku?


“Sedang apa kau disini?”


Suara itu begitu nyata terdengar di telingaku. Aku yakin kalau aku tidak sedang berhalusinasi sekarang ini.


“Ra? Hei.” Awan melambai-lambaikan tangan di wajahku. Memaksa kesadaranku kembali.


“Awan?” Aku mengernyit heran tidak percaya. Itu benar-benar Awan.


“Kau seperti sedang melihat hantu.”

__ADS_1


“Kau sedang apa disini?” Tanyaku.


“Menghadiri pesta pernikahan sepupuku.” Jawab Awan. Ia menunjuk ke arah ballroom tempat rombongannya mengantri masuk.


“Sepupu?”


Jadi suami Mbak Susan itu sepupu Awan? Astaga. Kebetulan macam apa ini? Bahkan untuk bertemu Awan disini saja persentasenya sangat kecil. Dan ini sepupu? Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Takdir begitu lucu hingga selalu mempertemukan kami di waktu dan tempat yang tidak terduga.


“Iya. Mas Mahli sepupuku.”


“Jadi, sepupuku menikah dengan sepupumu?”


“Yang perempuan sepupumu?”


Aku segera mengangguk.


“Wahhh.” Ujar Awan kemudian. Ada binar bahagia yang nampak di wajahnya.


“Kenapa tertawa?” Tanyaku heran. Apanya yang lucu?


“Bukan tertawa lucu. Tapi tertawa bahagia karna bertemu denganmu.”


Sudah. Aku yakin wajahku sudah merona dan semakin merona sekarang. Awan tersenyum hingga menampakkan lesung pipinya. Aku melihat kepada beberapa orang yang melihat kepada kami.


“Awan! Ayo!” Teriak seorang pria yang entah siapa itu aku tidak tau.


“Ayo.” Awan mengajakku untuk masuk bersama.


Awan memintaku untuk duduk di sebelahnya. Dan aku menurutinya. Entah kenapa kok aku berani sekali melakukan itu. Aku melihat ibu yang juga melihat ke arahku. Ibu juga melirik ke arah Awan.


Prosesi akad nikah Mbak Susan dan suaminya berjalan lancar. Hanya dengan sekali tarikan nafas, Mbak Susan sudah sah menjadi istri dari Mas Mahli.


“Apa kau sedang membayangkan dirimu yang ada disana?” Bisik Awan mengejutkanku. Nafasnya terasa menghembus di telingaku. Aku tidak berani menoleh karna merasa wajah Awan sangat dekat denganku.


“Kau ini bicara apa?”


“Jawab saja.”


“Kenapa aku harus membayangkannya?”


“Bukankah itu yang setiap wanita inginkan?”


“Entahlah. Aku tidak memikirkan sampai kesana. Belum.”


“Kenapa?”


“Sudah. Jangan berisik. Kau mengganggu.”

__ADS_1


Aku menoleh saat merasakan kepala Awan yang sudah menjauh dariku. Pria itu sedang tersenyum sambil menatap lurus ke arah pelaminan.


Lagi-lagi, hatiku diam-diam mengagumi senyuman itu. Dia nampak lebih manis dalam balutan kemeja batik.


Selesai acara akad nikah, kemudian di lanjutkan dengan makan-makan. Aku pamit kepada Awan untuk menghampiri ibu yang memanggilku.


“Kenapa Awan bisa ada disini?” Tanya ibu. Aku menemaninya mengambil makanan di prasmanan.


“Awan sepupu siaminya Mbak Susan.” Jawabku.


Ibu menoleh sebentar kepadaku. Ya, ibu pasti juga tidak menyangka.


Aku fokus mengambil soto untuk diriku. Kemudian kami berjalan ke meja yang sedari awal di duduki keluargaku. Aku tidak melihat Mas Bhanu. Entah dia pergi kemana.


“Ayah, mau Ara ambilkan makan?” Tanyaku pada ayah yang nampak hanya duduk diam saja. Aku tau ayah enggan bangun karna di bagian prasmanan masih banyak ibu-ibu. Bukan hanya ayah yang memilih untuk duduk saja sambil menunggu para ibu selesai. Tapi bapak-bapak yang lain juga sama.


“Soto itu terlihat enak.” Ujar ayah sambil melongok ke mangkuk sotoku.


Aku tersenyum. “Biar Ara ambilkan.”


Aku kembali bangun untuk mengambil pesanan ayah. Saat hendak kembali ke meja kami, aku melihat seseorang yang sudah mengambil tempat dudukku. Dia sedang berbicara kepada ayah dan ibu. Mereka nampak akrab.


“Ini, Yah.” Aku menyodorkan mangkuk soto ke hadapan ayah. Kemudian mengambil duduk di antara ibu dan Awan.


“Jadi, ada rencana melanjutkan kemana setelah tamat?” Tanya ayah pada Awan.


Aku mencoba untuk tidak peduli. Padahal, telingaku selalu mendengarkan. Walaupun wajahku fokus menatap soto yang sedang ku santap.


“Rencananya mau ke MIT, Pak.”


“MIT itu bukannya di boston, ya?” Aku mendengar ibu juga ikut menimpali.


“Iya, Bu.”


“Ooohh.” Aku menyempatkan diri untuk melirik kepada ayah yang nampak mengangguk-anggukkan kepala.


“Rencanamu hebat. Semoga tidak putus di tengah jalan, ya.”


“Terimakasih, Pak. Semoga Ara masih mau menungguku sampai selesai.”


“Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Aku melirik terkejut kepada Awan. Tapi pria itu hanya tersenyum saja menoleh kepadaku. Sungguh menyebalkan sekali.


“Hahahahahaha. Rupanya kamu juga serius dengan Ara.” Ayah menimpali.


Aku berusaha memberi ayah kode untuk menghentikan obrolan tidak berfaedah itu. Karna ujung-ujungnya, aku bisa menjadi bulan-bulanan keluargaku lagi.


“Tapi Aranya cuma menganggap bercanda, Pak.” Awan terdengar seperti sedang mengadu kepada ayahku.

__ADS_1


“Hahahahahaha.” Kini ibu juga ikut tertawa.


Habislah aku.


__ADS_2