
Rahwana, sedang mondar-mandir di depan sebuah ruang bersalin dengan wajah khawatir luar biasa. Berkali-kali ia menggigiti kuku jemarinya demi mengusir rasa sesak yang hinggap di dadanya. Padahal ini bukan kali pertamanya ia di hadapkan dengan kondisi seperti itu. Ini sudah yang ke lima kalinya. Tapi tetap saja, rasa gugup itu tak bisa ia bendung.
“Awan, duduklah. Kamu membuat mama pusing.” Protes Radina yang kesal melihat putranya itu yang sudah seperti setrikaan saja. Mondar-mandir tidak jelas.
“Iya, Wan. Kamu ini. Seperti baru pertama saja menemani istri melahirkan.” Lisa, mertuanya ikut menimpali.
Yang di protes hanya bisa garuk-garuk kepala sambil cengengesan.
Awan baru saja hendak menapakkan bokongnya ke kursi saat ia mendengar suara tangis bayi dari dalam ruangan.
“Alhamdulillah.” Dengung Lisa dan Radina bersamaan. Kedua besan itu saling berpelukan demi menyalurkan kebahagiaan masing-masing.
Sementara Awan, sudah merangsek masuk kedalam ruangan bahkan sebelum ia di minta oleh dokter untuk masuk. Dia langsung menyambangi Kuara yang masih terbaring lemah di ranjang persalinan. Ia mengecupi kening istrinya itu berkali-kali sampai rasanya keringat yang ada di kening Kuara berpindah semua ke mulutnya. Tapi pria itu tidak perduli.
“Sayang. Kamu hebat.” Bisiknya di telinga Kuara. Wanita itu hanya bisa tersenyum saja mendengarnya. Kalimat itu, mampu menghangatkan hatinya setelah perjuangannya melawan maut demi menambah populasi manusia di dunia.
“Laki-laki apa perempuan?” tanya Awan seketika kepada dokter yang menangani.
“Selamat, Bu Ara. Sepertinya anda akan punya saingan di rumah.” Ujar dokter.
Mendengar itu, sorot mata Awan langsung berbinar seiring senyumnya yang melebar.
“Perempuan?” tanya Awan tak percaya.
“Iya, Pak. Selamat, Pak.”
“Ya ampun. Terimakasih, Dokter.”
“Bukan saya yang menjadikan anak ini perempuan, Pak. Hehehe.” Seloroh dokter.
__ADS_1
“Sayang, kita punya anak perempuan. Ya ampun. Sayang aku bahagia banget.”
Seorang suster membawa bayi mungil yang sudah terbungkus kain bedong itu. Bayi cantik dengan pipi yang merona merah bak buah delima. Matanya yang masih belum terbuka sempurna dan tubuh mungilnya yang bergerak-gerak di balik bedong.
Kuara tak kuasa meneteskan airmatanya saat putri kecilnya itu di letakkan di lengannya. Ia langsung terisak dan membuat Awan juga merasa pias.
“Sayang, kok malah nangis?”
Bahkan untuk menjawab ucapan suaminya itu, Kuara tak mampu mengeluarkan suaranya.
Beberapa saat setelahnya, Kuara sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Seperti biasa, Awan akan menyewa sebuah kamar VIP untuk kenyamanan istrinya itu selama pemulihan pasca persalinan.
Awan sedang sibuk melihati putri kecil yang selalu mereka idam-idamkan yang tengah tertidur di ranjang khusus. Ia tidak mengira bahkan untuk mendapat bidadari kecil seperti ini, harus melalui 4 kali percobaan dulu baru berhasil. haha.
Sementara Kuara sedang di temani oleh ibu dan mertuanya. Lisa dan Radina. Mengobrol ringan bercerita tentang pengalaman masing-masing saat melahirkan. Padahal, Kuara sudah sering mendengar cerita yang sama berkali-kali.
Srekkkk.
“Mama!!!!!!” pekik bocah yang paling kecil, Ansel. Bocah itu langsung berlari merangsek ke arah ranjang menghampiri ibunya.
“Ansel, kalau keras-keras teriaknya nanti adik kecil bangun.” Ujar Lisa memperingatkan cucunya itu.
Ansel nampak celingukan dan berakhir menatap ayah mereka yang sedang berdiri di sebelah keranjang bayi. Sementara si nomor 2, Arion, langsung menatap sumringah.
“Apa itu adik bayi?” tanya arion yang langsung berjalan menghampiri adik barunya.
“Iya, dan dia perempuan.” Jawab Radina.
Si sulung Aksa, dan si nomor 3 Aarav juga tak kalah antusiasnya. Dalam sekejap, mereka semua sudah berkumpul mengelilingi bayi mungil yang sedang tertidur itu.
__ADS_1
“Wajahnya kecil sekali.” Seloroh Ansel. Tangannya sudah terulur hendak menoel pipi adik kecilnya yang begitu menggemaskan.
“Ansel, sekarang, belum boleh memegang adik bayi karna Ansel belum mandi. Kalian kan baru dari sekolah, jadi masih banyak kuman di tubuh kalian. Pulanglah dulu bersama paman Arbi. Setelah itu, kalian boleh kembali lagi kemari dan boleh menyentuh adik bayi.” Pesan Awan dengan hati-hati.
Dan ke empat bocah itu nampak mengangguk mengerti.
Ya, sebelum di karuniai bidadari kecil yang menggemaskan itu, mereka telah lebih dulu di karuniai 4 pria menggemaskan. Aksa si sulung yang berusia 11 tahun, Arion berusia 8 tahun, Aarav berusia 6 tahun, dan Ansel yang baru berumur 4 tahun dan sudah sekolah PAUD.
Selama ini, Kuara menjadi satu-satunya si cantik yang ada di rumah. Namun, posisinya kini telah tergeser berkat kehadiran putri mungil mereka yang baru saja launching itu.
“Tapi kami mau disini, Pa. Menemani adik bayi.” Aarav ikut menimpali.
“Kalian pulang dulu. Nanti kalau sudah mandi, boleh kesini lagi.” Radina yang ikut menasehati.
Aarav dan Ansel nampak memajukan bibirnya. Menunjukkan kekecewaan mereka. Sedangkan Aksa dan Arion bersikap biasa saja.
Ke empat bocah itu lantas menuruti pulang ke rumah bersama dengan supir mereka, Arbi.
Tiga hari di rawat di rumah sakit, Kuara sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Begitu juga dengan putri kecil mereka yang sudah nampak semakin gemuk.
Dan tepat di hari ke 21, keluarga itu mengadakan syukuran besar-besaran untuk aqiqah putri mereka. Itu semua adalah bentuk dari rasa syukur mereka. Awan dan Kuara mengundang anak-anak yatim dan memberi santunan kepada mereka.
Tidak ada yang tahu perdebatan sengit antara sepasang suami istri itu dalam menentukan nama yang akan di pakai oleh putri mereka. Selama hampir dua minggu Awan dan Kuara berdebat memperebutkan pilihan masing-masing.
Dan setelah perdebatan panjang itu, akhirnya di putuskanlah sebuah nama indah yang akan tersemat kepada putri kecil mereka. Nama yang akan menjadi harapan kepada si bayi dari kedua orang tuanya.
Alenvi Dinar Abimanyu
Kini, keluarga kecil mereka nampak lebih sepurna dengan kehadiran Alenvi. Para kakak-kakaknya juga sangat menyayangi adik kecil mereka. Dan lengkaplah sudah kebahagiaan Kuara dan Awan. Seolah tak ada lagi tujuan hidup mereka selain memberikan seluruh yang terbaik untuk putra dan putri mereka.
__ADS_1
Mereka akan bahagia sampai tua. Sampai di pisahkan oleh maut nantinya.