
Dila masih menatapku tidak terima. Aku mengira dia akan marah atau bahkan menyiramku atau melemparkan sesuatu padaku. Tapi tidak, Dila malah tersenyum walau senyuman itu nampak di paksakan.
“Ya sudah. Sepertinya Mas Awan sudah punya kekasih. Maaf kalau aku terlalu mendesak.”
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. Kemudian menyeruput sisa kopiku dan bangkit dari dudukku. Karna ku lihat Papa dan Pak Kuncoro sudah keluar dari ruang private.
Aku mengikuti Papa berjalan ke tempat parkir kemudian masuk ke dalam mobil. Dan mobil kembali melaju menuju ke arah pulang.
“Maaf Papa harus mengajakmu, Nak. Papa tidak mengira kalau Pak Kuncoro membawa serta putrinya. Papa fikir kenapa dia meminta Papa untuk mengajakmu juga. Ternyata dia punya maksud lain selain bisnis.”
“Tidak apa-apa, Pa.”
“Kamu tau, kan. Papa tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai properti bisnis. Walaupun kamu penerus yayasan, tapi Papa tidak mau memaksamu saat waktunya belum tepat. Papa percaya, kamu bisa mengatasi ini nanti setelah selesai kuliah dan siap mengambil alih yayasan. Untuk sekarang, puas-puaskan bersenang-senang. Asalkan jangan lupa dengan sekolah.”
Papa menepuk bahuku pelan sambil menebarkan senyumannya.
Inilah yang kusuka dari orangtuaku. Mereka tidak pernah memaksakan kehendak mereka hanya karna aku anak laki-laki satu-satunya. Mereka membebaskanku dengan pilihanku sendiri selama itu tidak merugikan yayasan ataupun tidak memalukan keluarga.
Papa dan Mama, mereka selalu menegaskan kalau setiap tindakan itu punya batasan yang harus di jaga. Dalam melakukan suatu hal, menahan diri lebih baik dari pada harus menyesali konsekuensinya di kemudian hari. Jadi, aku selalu berusaha untuk tidak melewati batas sehingga mereka selalu percaya padaku.
“Anggap saja sebagai pelatihan sebelum kamu benar-benar terjun ke yayasan, ya. Kedepannya, akan lebih banyak orang-orang yang berusaha untuk menjilatmu. Bahkan mereka rela untuk menukar putri mereka demi mendapatkanmu. Jadi, berhati-hatilah dalam memilih pacar. Papa percaya padamu.”
“Aku mengerti, Pa. Papa tidak perlu khawatir.”
Ya, aku tidak khawatir. Karna gadis yang akan menjadi pendamping hidupku nanti adalah Kuara. Gadis luar biasa yang telah berhasil menarik perhatianku dengan sikap biasanya.
Bolehkan kalau aku menempatkan Kuara dalam rencana masa depanku?
Karna sekarang hubunganku dengan Kuara sudah kembali membaik seperti semula. Bahkan beberapa hari ini, aku rutin menelfonnya saat malam untuk sekedar melepas rindu. Entah apa Kuara juga merindukanku atau tidak. Tapi dia tidak pernah menolak panggilanku dan tetap membalas pesan-pesan yang kukirim padanya.
**
**
Hari ini, guru pengajar olahraga tidak masuk dan membebaskan kami untuk berolah raga sendiri. Itulah yang Dilakukan teman-teman sekelasku. Tapi tidak denganku.
__ADS_1
Aku berencana untuk pergi ke perpustakaan. Apalagi kalau tidak untuk menguji keberuntunganku bertemu dengan pujaan hatiku, Kuara.
Tidak ada yang berani menghentikanku untuk pergi. Apalagi kalau bukan karna aku anak pemilik yayasan. Aku memang tidak pernah membolos kalau sedang ada pelajaran. Tapi kalau jam kosong begini, aku akan keluar dan sekedar menghabiskan waktu di perpustakaan kampus Halim.
Aku sudah selesai memarkirkan sepeda motorku di depan gedung perpustakaan. Aku bersiap untuk masuk ke dalam gedung saat tiba-tiba kulihat sosok gadis pujaanku yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu lampu merah.
Sekilas kulihat jam tanganku. Masih jam 10 pagi. Mau kemana dia?
Aku tidak jadi masuk ke perpustakaan. Aku kembali berjalan menghampiri Kuara. Dia tidak menyadari kedatanganku. Bahkan setelah beberapa saat aku berdiri di belakangnya.
Memperhatikan wajahnya dari samping begini, membuat hatiku semakin berdebar saja. Aku tersenyum saat Kuara perlahan mengusap perutnya pelan. Sepertinya dia lapar.
Lampu APILL sudah hampir berubah hijau. Aku segera menyambar tangan Kuara dan menggenggamnya. Dia nampak terkejut dengan kelakuanku itu.
“Kau sudah makan?”
Kuara hanya menggelengkan kepalanya saja. Sepertinya dia masih terlalu terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.
“Kalau begitu ayo kita makan siang.”
Setelah lampu APILL berubah hijau, aku segera menarik tangan Kuara untuk menyeberang. Saat kutanya dia ingin makan apa, dia menunjuk restoran ayam goreng cepat saji.
Makan sambil mengobrol, di tambah sesekali memandangi wajah ayu pujaan hatiku, sepertinya ini akan menjadi candu baruku setelah ini.
Berdekatan dengan Kuara aku hampir tidak bisa mengendalikan debaran jantungku. Ah, kenapa perasaanku terus bertumbuh kepada gadis ini? Padahal dia hanya gadis biasa. Penampilannya biasa, sikapnya biasa, tertawanya biasa, suaranya biasa. Tapi semua ‘biasa’ itulah yang membuat hatiku jumpalitan dan terus berdebar.
Ah, aku ingin cepat jadi dewasa dan membuatnya menjadi milikku seutuhnya.
“Awan?”
“Hem?”
“Kau pasti berfikir aku wanita yang jahat.”
“Kenapa begitu?”
__ADS_1
“Aku tidak pernah menanggapi perasaanmu dengan gamblang.”
Aku sudah merasa bahwa dia pasti merasa tidak enak hati padaku. Itu tidak masalah bagiku. Yang penting aku sudah tau kalau dia juga mempuyai perasaan yang sama padaku. Itu sudah cukup. Aku menghormati komitmennya. Dan aku tidak mau mengganggu rencana masa depannya. Aku bisa menunggu dan aku akan menunggu.
“Aku tidak keberatan dengan hal itu.”
“Walaupun kau berkata begitu, apa tidak ada sedikitpun di dalam hatimu, kalau kau marah padaku?”
“Tidak sama sekali.”
Bagaimana aku bisa marah padanya?
“Apa aku terkesan menggantung perasaanmu?”
“Kalau aku tergantung, aku sudah mati.”
Aku sudah tidak ingin membahas masalah ini. Baik aku dan Kuara, kami sama-sama tau perasaan satu sama lain. Hanya saja, ada sebuah komitmen tentang keseriusan dari masa depan yang sudah dia persiapkan. Dan aku tidak mau mengganggunya. Masih terlalu dini kalau aku memaksa untuk melepaskan komitmennya. Aku juga tidak mau melihat Kuara menelan ucapannya sendiri.
“Aku tidak main-main, awan.”
“Main apa? Kelereng?”
“Awan?!”
“Sudahlah. Tidak usah membahas itu. Aku sudah cukup senang dengan kau tau perasaanku. Aku tidak akan mengganggu hal lainnya. Yang penting jangan melarangku untuk memperhatikanmu.”
Apa dia mengerti maksudku? Aku harap begitu. Aku tidak ingin Kuara merasa terbebani dengan perasaanku.
“Aku mau kulitnya.”
Aku tersenyum pada Kuara. Pandangan kami bertemu. Suasana canggung yang hampir singgah kembali pergi.
“Kau suka ini?” Aku melepas kulit ayam gorengku dan memberikannya padanya.
Satu hal yang aku baru tau dan akan ku ingat. Kuara suka kulit ayam.
__ADS_1
Setelah makan, aku mengajaknya untuk berkeliling naik motor. Aku tersenyum sumringah saat Kuara tidak menolakku saat aku mengambil tangannya dan melingkarkannya di perutku.
Kini kami sudah sama-sama tau perasaan masing-masing. Tidak butuh sebuah ikatan dalam hal ini. Karna aku memang benar-benar ingin menghormati komitmennya.