
Hatcim!!
Aku terus bersin-bersin akibat kehujanan semalam. Suhu tubuhku juga naik dan aku merasa sangat pusing.
Bahkan ibu sampai memanggil dokter pribadi kami untuk datang dan mengobatiku. Ibu melarangku untuk keluar dari kamar sampai pusingku hilang.
Setelah minum obat, aku tertidur dan baru terbangun pukul 3 sore hari. Seketika aku teringat dengan janjiku dengan Awan. Aku segera bangun dan mandi lalu berpakaian.
Pusing di kepalaku sudah menghilang. Demamku juga sudah turun. Hanya saja kau masih sesekali bersin.
“Sudah mendingan?” Tanya ibu saat aku menemuinya di ruang keluarga.
“Sudah lebih baik, Bu. Ibu kenapa tidak ke kantor?”
“Mana mungkin Ibu tinggalkan kamu sendirian di rumah dalam kondisi sakit begini. Lagi pula itu si Awan kenapa membiarkanmu kehujanan seperti itu.”
“Bukan salah Awan, Bu. Ara yang memaksanya untuk nekat pulang. Dia juga sebenarnya menolak.”
“Kamu ini. Padahal kan kamu tau kalau kamu kehujanan, bisa langsung sakit. Kenapa keras kepala?”
“Sudahlah, Bu. Yang penting sekarang kan Ara sudah sembuh.” Aku tidak tahan mendengar ibu mengomeliku.
“Kamu mau kemana lagi sudah rapi begini?”
“Ara ada janji akan mengantarkan Awan, Bu.”
“Mengantarkan Awan? Kemana?”
“Malam ini Awan berangkat ke Boston.”
“Ooh.”
“Ara bawa mobil sendiri ya, Bu?”
“Memangnya sudah sehat betul?”
Aku mengangguk meyakinkan ibu.
“Ya sudah. Tapi hati-hati bawanya.”
“Oke.”
Aku mengecup pipi ibu kemudian langsung bergegas keluar.
Sudah pukul 4 lewat. Sepertinya aku masih bisa mengejar waktu untuk bertemu dengan Awan sebelum dia pergi. Karna memang jarak bandara sangat jauh dari kota Jogja.
Hatcih!
Dengan sesekali bersin, aku masih bisa fokus di jalan raya. Waktuku terbuang sangat banyak saat mengantri di tempat pengisian bahan bakar yang mengular panjang. Tapi aku memperkirakan masih punya cukup waktu sebelum jam 6.
Pukul 18.45, aku sudah hampir sampai di bandara saat tiba-tiba ponselku berbunyi. Itu adalah telfon dari Fio. Aku segera memencet tombol yang ada di kemudi.
“Ya, Fio?”
__ADS_1
“Sssrttt.. Dsrttttt... Bsbsststrtt.” Suara Fio sama sekali tidak terdengar.
“Fio?”
“R-Ra...” Bisik Fio dengan suara yang sangat lemah. Dia juga terdengar sedang menangis terisak-isak.
“Ada apa? Kamu kenapa?”
“R-Ra. T-tolong a-aku.”
“Fio kamu kenapa?” Aku yang panik karna mendengar tangis Fio langsung menghentikan mobil di pinggir jalan.
“Tolong aku, Ra. Aku... Ssrsrttt.. Ssrttstt.”
“Fio!” Aku semakin panik. “Kamu dimana?”
Tut... Tut... Tut... Sambungan telfon malah terputus dan membuatku semakin khawatir.
Sesaat kemudian, aku menerima sebuah lokasi dari ponsel Fio. Dan tanpa berfikir lagi, aku segera berbalik arah dan tancap gas menuju lokasi itu.
Aku berhenti di depan sebuah gudang ekspedisi yang kutau itu adalah tempat kekasih Fio bekerja. Butuh waktu 20 menit sampai aku tiba disana.
Suasana nampak sepi. Bahkan tidak ada lampu yang menyala. Aku menggunakan ponselku sebagai penerangan.
“Fio?” Panggilku. Tapi aku hanya mendengar suara ketukan lirih dari dalam gudang yang terkunci. Melihat pintu gudang yang terkunci dari luar, aku segera menggeser kancingnya.
Dan betapa terkejutnya aku saat tiba-tiba sekelebatan bayangan manusia melewatiku begitu saja. Bahkan ponselku sampai terlempar saat aku jatuh terduduk.
“Fio!” Panggilku. Fio berlari dan langsung masuk ke dalam mobilku.
“Ra! Cepat, Ra! Cepat!!!!!” Pekik Fio sebelum dia menutup pintu mobil.
Aku yang panik tidak sempat bertanya atau berfikir apapun. Aku hanya ikut berlari dan masuk ke dalam mobil.
“Cepat pergi dari sini!!” Pekik Fio dengan nada ketakutan.
Aku segera melajukan mobilku meninggalkan gudang. Dan kembali terkejut saat melihat penampakan Fio yang sudah berantakan. Sudut bibirnya berdarah dengan rambut yang sudah acak-acakan. Bajunya sobek di sana sini. Dan yang lebih mencengangkan, Fio tidak mengenakan bawahan apapun.
“Fio kamu kenapa?!”
“Cepat, Ra. Cepat!” Fio hanya terus memintaku untuk menambah kecepatan. Sesekali dia menoleh ke belakang dengan ekspresi ketakutan.
Aku melihat Fio yang menyusutkan tubuhnya di bawah jendela. Sementara di samping, nampak dua orang yang mengendarai sepeda motor dan berteriak-teriak kearah kami.
“Cepat, Ra! Jangan sampai mereka menangkapku.” Bisik Fio. Dia benar-benar nampak sangat takut.
“Bukankah itu kekasihmu? Kenapa mereka mengejar kita?”
“Mereka bajingan, Ra. Dia bajingan.”
“Apa maksudmu?”
Sebenarnya sudah ada sebuah jawaban di kepalaku. Tapi aku tidak ingin menerka-nerka dan segera meminta Fio untuk memberitahuku.
__ADS_1
“Dia memperkosaku dan menggilirku dengan teman-temannya!!!!”
DUAR!!!
Walaupun aku sudah mengira kemungkinan terburuk itu, tapi aku tetap tidak menyangka. Digilir? Betapa biadabnya pria itu.
Dadaku ikut memanas. Apalagi saat Fio jadi meraung-raung tak terkendali.
“Fio, tenanglah. Ku mohon.” Aku jadi ikut panik. Semakin menekan pedal gas untuk mempercepat laju mobilku.
BRAKKK!!!!!!
Kemudian yang kurasakan adalah, kepalaku berdenyut dan terasa sangat sakit. Pandanganku berkunang-kunang dan berputar-putar hingga perutku mual tak terkendali. Tubuhku terasa mati dan tidak bisa kugerakkan. Dadaku juga sesak dan aku merasa ingin tidur saat itu juga.
Lirih ku dengar suara isak tangis yang entah siapa itu. Aku berusaha membuka mata namun kurasakan kelopak mataku tidak bisa terbuka sebelah. Aku hanya bisa membuka mata sebelah kiri saja.
Aku mengerjapkan mataku dengan kuat karna kepalaku terasa sangat pusing.
“Ara! Nak!” Aku mengenali suara itu. Itu suara ibu.
“Ibu?”
“Iya. Ini Ibu, sayang.”
“Ara?” Dan sekarang ayah yang memanggilku. Aku menoleh ke kanan. Ayah sedang membelai kepalaku lembut.
Kepalaku masih terasa pusing. Sekujur tubuhku seolah remuk redam. Aku berusaha untuk duduk dengan di bantu oleh ayah.
“Ya ampun, sayang. Syukurlah kamu sudah sadar.” Ucap ibu yang malah menagis sesenggukan.
Aku melihat ke arah kaki kananku yang telah ter gips dengan rapi.
Ah, tadi kami kecelakaan.
“Fio. Dimana Fio?” Hal yang pertama kuingat adalah Fio.
“Fio sedang menjalani visum.”
“Visum?”
“Kamu tidak usah khawatir. Fio tidak terluka parah. Dan sekarang dia sedang menjalani visum untuk bukti laporan kepolisian.” Ujar ibu.
Aku mengerti. Pasti Fio sudah menceritakan kondisinya kepada ibu. Aku jadi bisa bernafas lega.
Kemudian ibu menceritakan kronologinya. Ibu sedang ada dirumah saat dihubungi oleh salah seorang pengacara di kantor hukumnya. Kebetulan, pengacara itu ada di tempat kejadian saat aku menabrak pembatas jalan dan mobilku terbang ke persawahan. Begitulah akhirnya kami selamat sampai rumah sakit.
“Sudah jam 9?!!” Aku begitu terkejut saat melihat jam dinding di dekat TV.
“Kamu pingsan hampir 2 jam. IBU dan Ayah sangat khawatir. Fikiran kami jadi kemana-mana.” Jawab ayah.
“Pamitnya pergi mengantar Awan ke bandara. Kenapa jadi begini?” Gumam ibu kemudian. Ia mengelus kakiku yang sedang dalam balutan gips.
Awan?
__ADS_1
Ah, benar, Awan.
Bagaimana dengan Awan? Tubuhku melemas menyadari waktu yang ternyata sudah berlalu tanpa memberikan kami ruang untuk bertemu.