
Kuara mengusap bibirnya setelah mendapatkan serangan dari Awan. Wajahnya merona serona-ronanya. Ia bahkan tidak berani menatap Awan yang masih terkekeh kecil karna melihat wajah istrinya yang sangat lucu itu.
“Aku, akan mengganti pakaianku dulu.” Lirih Kuara sambil bangun dari pangkuan Awan.
“Mau ku bantu?” Goda Awan.
“Ish.” Kesal Kuara. Ia langsung berlari mengambil pakaian di dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.
Awan masih terkekeh. Ia memegangi dadanya. Merasakan debaran menggelikan sekaligus menyenangkan yang terus menyerang hatinya. Ia memandangi pintu kamar mandi seraya masih mengembangkan senyuman.
Lega sekali rasanya. Kini Awan telah berhasil melewati semua rintangan. Dan kini ia sudah berhasil membuat Kuara menjadi istrinya. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari pada statusnya menjadi seorang suami dari gadis yang di idam-idamkannya selama bertahun-tahun.
Sementara itu, Kuara juga sedang merasakan perasaan yang kurang lebih sama.
Seharusnya hari ini dia hanya menjadi tunangan Awan. Tapi yang terjadi justru ia malah menjadi istri pria itu.
Ia sama sekali tidak ada persiapapn apapun. Dan Awan sempurna membuatnya terkejut luar biasa.
Kuara menatapi bayangan dirinya di cermin washtafel. Sudah sepuluh menit berlalu, tapi ia belum juga mengganti pakaiannya. Bahkan wajahnya masih terpoles oleh make up.
Setelah kesadarannya kembali, ia segera membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi dengan melongokkan kepalanya terlebih dahulu.
Kuara mengernyit saat tidak mendapati Awan di dalam kamarnya. Kemudian ia keluar dan mengedarkan pandangannya. Awan benar-benar sudah tidak ada di kamarnya. Kopernya juga sudah tidak ada.
Saat Kuara keluar dari kamarnya, ia bsia mendengar suara Awan yang sudah ada di bawah. Sepertinya pria itu sedan pamit kepada keluarga Kuara untuk membawa istrinya itu tinggal di rumahnya mulai sekarang.
“Kok Ibu jadi sedih begini, ya. Padahal kamu cuma bawa Ara tinggal di sebelah. Ya ampun.” Lisa jadi malu sendiri. Ia mengusap bekas airmatanya.
Kuara memang hanya akan tinggal di sebelah. Tapi status Kuara yang telah menjadi istri, membuat hati Lisa pias. Sedewasa apapun umur Kuara, tapi bagi Lisa, Kuara tetaplah anak kecil yang selalu ingin dia manjakan.
Dengan berakhirnya status lajang dari Kuara, membuat Lisa menyadari, kalau kini, putrinya itu telah bebas dari tanggung jawabnya. Kini putrinya itu telah mejadi milik pria yang sedang menatapnya iba di hadapannya itu.
“Aku janji akan memperlakukan Ara dengan baik, Bu. Ibu jangan khawatir. Ara bisa pulang sesuka hatinya. Dan Ibu juga bisa ke rumah kami kapanpun Ibu mau. Jadi tolong jangan bersedih lagi. Dan maaf aku telah mengambil putri Ibu satu-satunya.”
__ADS_1
Mendengar itu, Lisa bukannya berhenti menangis. Ia justru semakin terisak.
Begitu pula halnya dengan Kuara. Diam-diam ia meneteskan airmatanya mendengar pembicaraan mereka. Namun, ia segera mengusap wajahnya kemudian menguatkan hati dan menemui mereka.
Sebelum pergi bersama Awan, Kuara memeluk ibunya erat dan lama sekali. Kemudian, ia juga memeluk ayahnya dan juga bhanu. Terkahir, ia memeluk dan menciumi Micha. Jujur, Awan sebenarnya juga merasa tidak tega dengan pemandangan ini.
“Bunda, mau kemana? Micha tidak di ajak?” Tanya Micha dengan wajah lucunya.
“Bunda mau pergi ke rumah Om Awan dulu. Nanti Bunda pulang lagi. Micha nanti jalan-jalan saja sama Papa, ya?” Rayu Kuara.
Micha merengut. Ia menunjukkan muka sedihnya. Ia ingin ikut dengan Kuara.
“Ayo.” Ajak Awan kemudian.
Kuara berjalan mengikuti Awan di belakang suaminya itu. Dengan diantar oleh seluruh keluarganya sampai di depan rumah. Ia sesekali menoleh ke belakang.
Kuara sedang duduk di ruang tamu rumah Awan. Menatapi sekelilingnya dengan seksama. Saat Awan muncul dengan membawakan air putih untuknya.
“Minum dulu. Sepertinya kau butuh minum.” Ujar Awan.
“Istirahatlah dulu. Nanti malam, kita ke rumah Mama.”
Kuara mengangguk.
Awan mengajak Kuara untuk menunjukkan kamar mereka. Jantung Kuara hampir saja melompat saat langkah kakinya mulai masuk ke dalam ruangan itu. Ia seperti tau apa yang akan terjadi saat ia masuk kesana bersama dengan suaminya.
“Kenapa berdiri saja di situ? Sini.” Ajak Awan yang melihat istrinya hanya berdiri di depan pintu saja.
“Awan, aku....”
“Hehehehe. Kau ini kenapa? Takut? Aku tidak akan memakanmu. Tenang saja. Sini.” Awan meletakkan koper milik Kuara di samping lemari besarnya. Ia melihat Kuara yang nampak takut, entah malu, entah canggung, atau apa. Ia hanya tersenyum kemudian menghampiri istrinya itu. Awan menarik dengan lembut istrinya itu dan kemudian duduk di tepian ranjang. Ia bisa merasakan tangan istrinya yang sedikit gemetar.
“Apa aku begitu menakutkan?” Tanya Awan lagi.
__ADS_1
“Em.” Seketika Kuara mengangguk.
Saat ini, fikiran Kuara sedang di penuhi dengan hal-hal yang sudah sewajarnya terjadi antara suami-istri. Itulah yang membuatnya malu sekaligus takut.
“Ara,,, jangan memikirkannya. Aku tau apa yang kau takutkan. Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya sekarang. Kita lakukan nanti secara perlahan. Saat kau sudah merasa nyaman denganku. Sekarang istirahatlah. Kau pasti lelah. Aku akan mandi dulu.”
Sebelum beranjak, Awan mendaratkan kecuman singkat di kening istrinya. Kuara menatap punggung Awan yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan perasaan yang entah.
Sebenarnya Kuara merasa sangat bahagia saat ini. Ia merasa sudah benar-benar terbebas dari ‘kutukan’ yang selalu melekat pada dirinya.
Perasaannya saat ini seperti, seseorang telah menarik dan menyelamatkannya dari dalam sumur yang dalam dan gelap. Sumur yang membuatnya kehabisan oksigen untuk bernafas. Dan sebelum ia benar-benar kehabisan nafas, Awan datang dan menyelamatkannya dari sumur terkutuk itu.
Jeglek.
Kuara sontak menoleh saat terdenagr pintu kamar mandi terbuka. Ia melihat Awan keluar dari dalamnya dnegan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnnya.
Astaga, Kuara sampai menahan nafas melihat pemandangan itu. Ia malu, tapi sialnya kepalanya tidak mau dialihkan. Seolah matanya ingin terus menatap dada bidang Awan beserta roti sobeknya. Apalagi buliran-buliran air
yang mengalir di tubuh pria itu membuat Kuara menelan salivanya dengan susah payah.
“Bagaimana? Aku menggoda, kan?” Goda Awan yang ternyata menyadari kalau istrinya sedang menatapnya.
Pertanyaan itu membuat Kuara terbangun dari lamunannya. Memaksanya meninggalkan lamunan melenakan itu.
Kenapa kau melihatnya sampai seperti itu? Bukankah dulu kau sudah pernah melihatnya?”
“Awan. Berhentilah menggodaku.” Kesal Kuara.
“Hahahahahah.”
Mendapat protes membuat Awan semakin ingin menggoda istrinya itu. Ia yang hendak berjalan ke arah lemari akhirnya tidak jadi dan malah mendekat kepada Kuara yang masih duduk di tepaian ranjang.
Kuara terhenyak saat tiba-tiba Awan menarik tangannya dan menempelkannya ke dada pria itu. Untung saja ia masih berhasil bernafas kembali setelah beberapa detik nafasnya terhenti.
__ADS_1
“Apa kau menginginkannya?”
Seketika Kuara menarik tangannya dan berlari keluar dari kamar. Meninggalkan Awan yang hanya terkekeh saja. Merasa lucu karna berhasil menggoda istrinya.