
Kuara sedang terpaku di depan rumah Awan dengan mangkuk di tangannya. Berkali-kali menghela nafas namun masih belum membuat Kuara merasa lega. Berkali-kali tangannya sudah terulur hendak memencet bel di pintu pagar rumah itu. Tapi berkali-kali juga dia mengurungkannya.
“Cari siapa, Mbak?” Tanya seorang pria muda berbadan gempal.
“Oh, Awan. Ada?”
“Ada, Mbak. Masuk saja.” Pria itu membukakan pintu gerbang untuk Kuara dan mempersilahkannya masuk.
“Silahkan duduk, mbak. Saya panggilkan pak Awan dulu.” Ujar pria itu kembali.
Kuara mengikuti pria itu yang berjalan naik ke lantai 2 dengan pandangannya.
Dia sendirian duduk di sofa ruang tamu. Untuk mengusir rasa canggung, ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.
Sementara itu, ghani, asisten Awan, mengetuk pintu kamar Awan.
“Pak, ada tamu.” Ujar ghani.
“Siapa?”
“Sepertinya tetangga sebelah.”
Mendengar itu Awan langsung melompat dari sofa. Entah kenapa ia merasa kalau itu adalah Kuara.
Awan segera berlari menuruni tangga. Dan benar saja, ia langsung sumringah saat melihat Kuara yang sedang duduk manis di sofa ruang tamu.
“Ara?” Panggil Awan. Ia langsung mengambil duduk di depan gadis itu. “Sudah lama?”
“Tidak, belum. Baru saja. Ini, ibu menyuruhku untuk memberikan ini.” Ujar Kuara yang kemudian menyodorkan mangkuk berisi kue kering kehadapan Awan.
Dengan wajah sumringah Awan mengambil mangkuk itu. Ia melihat isinya dan aroma lezat langsung memenuhi rongga hidungnya.
“Wah. Nampaknya sangat lezat. Bilang terimakasih pada ibu, ya.”
Kuara hanya mengangguk. Suasana kembali berubah canggung.
“Pak, kalau begitu, saya permisi dulu.”
Awan sampai lupa kalau di sana juga ada Ghani yang ia minta untuk mengerjakan sesuatu.
“Oh, oke. Terimakasih, Ghan.”
“Sama-sama, Pak.” Ujar Ghani. Ia mengangguk kemudian berjalan keluar rumah.
“Siapa itu?” Tanya Kuara untuk mengusir kecanggungan.
__ADS_1
“Oh, asistenku di kantor. Aku memintanya datang untuk mengerjakan sesuatu.” Jelas Awan kemudian.
Saat ini, perasaan Awan sedang di liputi kebahagiaan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Kini, ada Kuara yang sedang duduk di hadapannya.
“Kalau begitu, aku permisi dulu.” Pamit Kuara hendak bangun ari tempat duduknya.
Awan nampak terkejut. Rasa dia ngin lebih lama Kuara berada di rumahnya.
“Kenapa buru-buru? Tinggallah sebentar lagi.”
Tinggal sebentar lagi? Lantas apa yang akan mereka obrolkan saat suasana menjadi canggung begini. Bahkan rasa kecupan bibir Awan masih terasa jelas di pipi Kuara. Itulah asal muasal kecanggungan ini.
“Ara...” Lirih Awan. Ia meraih pergelangan tangan Kuara untuk menghentikan gadis itu.
“Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku benar-benar ingin menikahimu. Tolong jangan terus menghindariku, Ara.”
Ucapan Awan itu terdengar sangat tulus. Kuara bisa merasakan jantungnya berdebar akibat ucapan itu.
Nafas Awan memburu. Ia semakin mendekatkan wajah kepada Kuara yang masih tetap menatapnya pias. Gadis itu, seperti sedang menikmati debaran di hatinya saat ini. Sebuah debaran yang sudah lama tidak menyinggahinya.
Dulu, Kuara merasakan debaran itu untuk Awan. Saat mereka mnejalin hubungan tanpa status. Dan kini, debaran itu kembali muncul dan membuatnya gusar.
“Aku bahkan bersedia menikahimu sekarang juga.”
Ah, Awan masih sama seperti dulu. Dia konsisten dengan perasaannya. Sedangkan Kuara, sudah singgah ke beberapa hati setelah kepergian Awan dulu.
“Ehem!”
Sebuah deheman yang berasal dari depan pintu masuk mengejutkan Awan dan Kuara.
“Mama?”
Kuara semakin di buat terkejut karna Awan memanggil wanita paruh baya yang sedang menatap mereka heran itu dengan sebutan ‘mama’.
Seketika suasana canggung semakin kentara di dalam rumah itu. Radina terus menatapi pemandagan tak biasa di hadapannya itu.
Radina terkejut saat masuk ke dalam rumah dan tidak mendengar tanggapan putranya. Ia lansung masuk begitu saja dan mendapati putranya sedang bersama dengan seorang gadis. Bahkan wajah mereka hampir bersentuhan.
Mendapat tatapan seolah terpergok tengah melakukan sesuatu yang jahat, Kuara segera menarik tangannya sampai terlepas dari Awan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya tanda ia sedang merasa tidak enak hati atas situasi yang sudah tercipta.
“Kapan Mama datang?” Tanya Awan yang juga merasa canggung karna ibunya memergokinya bersama dengan Kuara.
“Ehm, siapa ini?” Selidik Radina. Ia tersenyum dan berjalan ke arah Awan.
Sebenarnya Radina tidak marah dengan apa yang dia lihat. Dia justru senang karna melihat putranya nampak intim bersama dengan seorang wanita. Karna memang selama ini Awan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita selain Elya dan Keysi.
__ADS_1
Elya dan Awan hanya berteman baik. Sementara Keysi merupakan sekretarisnya. Walaupun Radina mengharapkan salah satu di antara mereka bisa meluluhkan hati putranya, tapi ternyata tidak. Bahkan sampai waktu berlalu selama ini.
“Oh, ini. Tetangga. Namanya Kuara.”
Mendengar nama Kuara, mata Radina berubah berbinar. Ia masih ingat betul dengan nama itu. Nama gadis yang ia tau masih menempati ruang hati putranya.
“Oh, Kuara. Apa kabar? Kamu semakin cantik saja. Maaf Tante tidak mengenalimu.” Ramah Radina.
“Apa kabar, Tante? Lama sekali tidak bertemu. Apa Tante sehat?” Kuara juga berusaha mengimbangi keramahan Radina.
“Sehat, sehat. Ya ampun, ternyata kamu tinggal di sebelah? Pantas saja...” Radina nampak mengerlingkan mata kepada Awan.
Awan tau apa maksud ibunya. Radina pasti telah menebak tujuan Awan pindah ke rumah ini.
“Ya ampun, Tante senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Ayah sama ibu, sehat?”
“Sehat, Tante. Silahkan main ke rumah kalau Tante ada waktu.”
“Dengan senang hati. Tante pasti akan mampir kalau ada kesempatan.” Janji Radina. “Ngomong-ngomong kalian sedang apa disini?” Kembali ke awal.
“Oh, ini, aku di suruh ibu mengantarkan kue buat Awan. Baiklah Awan, kalau begitu aku pulang dulu. Mari, Tante.” Kuara buru-buru mempercepat langkahnya untuk keluar dari rumah itu. Ia sudah tidak sanggup manahan rasa canggung yang mendera.
Radina dan Awan hanya bisa ternganga tanpa sempat menjawabnya.
Plak!
Sebuah pukulan mendarat di bahu Awan.
“Auh! Apa sih, Ma?”
“Ternyata ini tujuanmu yang sebenarnya membeli rumah ini? Dasar. Kenapa tidak bilang pada Mama?” Radina langsung melayankan protesnya.
“Hehehe.. Maaf. Aku berencana memberitahu Mama kalau semuanya sudah jelas.”
“Jelas bagaimana?”
“Ma, saat ini aku sedang berjuang untuk mendapatkan cintaku kembali. Bagaimana menurut Mama?”
Radina diam sebentar lantas tersenyum. Ia kembali mengelus punggung putranya itu.
“Kamu tau kalau Mama tidak akan mempermasalahkannya, kan? Sejauh yang Mama tau, dia gadis yang baik.”
Dan Awan semakin melebarkan senyumannya. Merasa mendapat kekuatan dari sang ibu.
“Tidak dulu tidak sekarang, kenapa kamu sulit sekali mendapatkannya?”
__ADS_1
“Hehehehe. Inilah yang buat Awan semakin semangat, Ma. Awan merasa tertantang karna dia memang sulit untuk di dapatkan.”