
“Bayangkan kalau aku tidak datang, kau pasti sudah basah kuyup karna kuah sayur.”
Awan sedang membanggakan dirinya. Menyebalkan.
“Kau tidak apa-apa, kan?”
“Aku tidak apa-apa. Kenapa tidak memberitahuku kalau mau datang kemari?”
“Aku sudah memberitahumu.”
“Kapan?”
“Tadi. Aku mengirimimu pesan saat aku baru sampai di sini.”
“Kau sebut itu memberitahu?”
Aku kesal karna tidak membaca pesan Awan karna ketiduran.
“Heheheheh. Kenapa? Apa kau terlalu bahagia melihatku?”
“Berhenti meledekku, Awan.” Aku berkata sambil mulai
berjalan ke dalam.
“Jadi benar.” Ternyata Awan mengikutiku.
Praduga Awan itu membuatku kesal dan berhenti. Aku berbalik untuk melayangkan protesku padanya. Tapi aku tidak mampu melakukannya karna kini wajahku sempurna menempel di dada Awan. Aku tidak memprediksi jarak kami sebelumnya.
Aroma tubuh Awan yang membuatku candu itu kembali menyeruak ke dalam hidung.
“Kau ingin berpelukan apa bagaimana?”
Aku segera mendorong dada Awan untuk menjauh. Kemudian kembali berbalik dan mempercepat langkahku.
“Ara! Tunggu!”
Aku tidak peduli. Aku hanya terus berjalan dengan cepat. Aku menghindari Awan dengan duduk di teras depan rumah bude. Dan ternyata pria itu masih mengikutiku juga. Dia bahkan langsung duduk di sebelahku tanpa permisi.
“Apa kau malu karna aku memergokimu tadi?”
“Kenapa kau harus malu?”
“Karna biasanya penampilanmu selalu cantik. Aku tidak menyangka kalau kau semakin cantik dengan baju tidur tanpa lengan itu. Aku ingin melihatnya lagi.”
“Awan! Berhenti mengejekku.”
“Aku serius. Bukan mengejek. Tadi itu kau sangat cantik, Ara.” Bisik Awan di telingaku.
Wajahku meremang dan memanas. Aku menahan diri agar wajahku tidak memerah. Astaga, aku benar-benar dibuat mati kutu olehnya.
“Malam ini, aku ingin mengajakmu makan malam. Bagaimana?”
__ADS_1
“Tidak. Aku harus bersiap-siap karna malam ini aku harus kembali ke Jogja.”
“Malam ini? Bukan besok?”
“Aku sudah libur kemarin. Aku tidak ingin libur lagi.”
Sebenarnya aku hanya spontan mengatakannya. Padahal kami memang berencana pulang besok pagi.
Tapi aku kembali berfikir. Sepertinya ini bukan ide yang buruk. Aku bisa langsung pulang malam ini dengan menggunakan kereta. Dengan begitu aku tidak perlu libur kuliah besok. Masalah membujuk ayah dan ibu, aku akan memikirkannya nanti. Dan aku juga bisa sekalian kabur dari ajakan Awan.
Dan aku segera merealisasikan rencanaku itu. Aku meninggalkan Awan begitu saja di depan rumah sementara aku masuk untuk menemui ibu. Begitu menemukan ibu, aku segera mengutarakan keinginanku.
“Tidak bisa. Ibu tidak bisa membiarkanmu melakukan perjalanan panjang sendirian. Selama ini kamu tidak pernah bepergian sendiri.”
“Tapi Ara tidak ingin libur lagi, Bu. Nanti Ara tertinggal pelajaran.” Aku tau alasanku tidak kuat. Tapi aku tetap ingin mencobanya. Aku tidak punya alasan lain selain perkuliahanku.
“Tapi Ibu khawatir, Dek. Perjalanan Malang-Jogja itu tidak sebentar.”
“Karna itu, Ara ingin pulang malam ini agar besok bisa masuk kuliah.” Aku terus mendesak ibu.
“Biar Ibu suruh Masmu untuk mengantarkanmu pulang.”
“Tidak mau. Aku masih ingin bersenang-senang menghabiskan libruanku.” Jawab Mas Bhanu yang memang sejak tadi mendengarkan kami.
Ibu menghela nafas menatap Mas Bhanu kesal.
“Buu....” Aku terus merengek pada ibu. Mengguncang-guncang lengannya untuk merayunya. Tidak peduli kalau ibu Awan pasti juga mendengarkanku karna ia duduk di sebelah ibu.
“Tapi ibu khawatir kalau ada apa-apa denganmu nanti di jalan.”
Suara itu sontak membuatku langsung menoleh. Awan, pria itu berdiri di samping ibunya dan tersenyum padaku.
Aku segera melakukan protes dengan menatapnya tajam.
“Benarkah?”
“Iya, Bu.”
“Ohh. Terimakasih banyak, Awan.”
Sial. Umpatku dalam hati. Sekarang posisiku terpojok. Berniat ingin melarikan diri tapi malah terjebak di situasi yang mengharuskanku bersama dengan Awan. Bukan aku tidak suka berada bersamanya. Aku suka, bahkan senang bisa berdekatan dengan Awan. Aku hanya ingin tetap tegas dalam batasanku.
Karna berada bersama Awan, sangat membahayakan jantungku. Aku tidak ingin mati muda karna serangan jantung.
Ibu Awan nampak berbicara lirih kepada putranya itu. Entah apa yang di bicarakan mereka, aku tidak bisa mendengarnya.
Sekarang, bagaimana aku harus menolak ini? Sementara aku yang memulainya lebih dulu.
“Kau tidak keberatan kalau pulang bersama denganku, kan?” Tanya Awan kembali.
Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya kesal. Aku melihat ibu yang sepertinya sedang menunggu jawabanku.
__ADS_1
Astaga. Aku ingin bilang kalau aku keberatan. Tapi aku tidak punya penjelasan setelahnya. Dan pada akhirnya, aku menganggukkan kepalaku pelan.
Sialnya, Awan tersenyum seolah telah memenangkan lotre.
**
**
Kami diantar ke stasiun oleh Mas Irlan. Dia juga yang memesankan tiketku dan Awan. Dan tepat pukul delapan malam, kereta yang kami naiki sudah melaju di atas lintasan besi.
Satu jam pertama, aku hanya membuang pandanganku ke luar jendela. Padahal tidak ada apapun yang bisa ku lihat dalam gelapnya malam itu. Awan duduk di sampingku dan aku merasa kalau dia terus melihatku.
“Jangan memberi batasan.” Ucapnya. Aku menoleh kepadanya.
“Apa maksudmu?”
“Sekarang kau sedang memberi batasan untukku, kan? Jangan lakukan itu. Atau aku akan memaksamu untuk mengalahkan komitmenmu.”
Dia mengancamku lagi?
“Kau ini bicara apa?”
“Aku tau kau sedang menghindariku. Kau menolak ajakan makan malamku dan kau tidak pernah menatapku langsung. Boleh kutau alasannya?”
Tidak. Aku tidak akan mengatakan alasanku seharian ini tidak menatapnya langsung. Aku tidak berani. Karna saat aku melakukan itu, jantungku rasanya mau meledak.
“Aku malu.”
“Malu kenapa?”
“Karna kau sudah melihat wujudku yang berantakan.” Astaga. Alasan apa ini?
Awan terdiam sebentar. Namun tiba-tiba dia terbahak dengan keras. Sehingga membuat beberapa orang memperhatikan kami. Aku menyenggol lengannya untuk memperingatkan.
“Kan sudah ku bilang. Walaupun penampilanmu berantakan seperti tadi. Kau tetap terlihat cantik, Ara. Tidak usah malu. Kau bahkan sudah melihat dadaku yang berbulu.”
Seketika aku terbelalak dan langsung membungkam mulutnya. Ucapannya itu terlalu vulgar bila di katakan di tempat seperti ini.
Tapi tunggu. Berbulu? Aku tidak melihat ada bulu di dada Awan waktu itu.
Dan lagi, Awan kembali terkekeh saat melihatku bingung dengan fikiranku sendiri. Dan saat itu aku sadar kalau dia sedang mengerjaiku. Lagi.
Aku segera melepaskan tanganku dari mulutnya. Rasanya aku ingin memukul pria ini sampai memar.
Tanganku sudah siap melayangkan seranganku. Tapi tiba-tiba Awan menangkisnya dan malah menggenggamnya dengan erat. Saat aku berusaha untuk menarik tanganku, Awan malah memeratkan genggamannya.
“Awan. Lepaskan.”
“Tidak mau. Tangan ini akan begini sepanjang malam sampai kita tiba di Jogja.”
“Awan...”
__ADS_1
Dia tidak menggubrisku sama sekali. Dia malah memjamkan mata dan tertidur.
Sikapku memang membingungkan. Bahkan bagi diriku sendiri. Aku menyukai genggaman tangan Awan itu. Bahkan saat kurasakan genggamannya mulai melonggar, aku tidak lantas menariknya. Aku hanya membiarkannya saja seperti itu. Kemudian akupun bersiap pergi ke alam mimpi.