Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Kuara 26.


__ADS_3

Saat kami keluar dari restoran, rintik hujan mulai turun. Awan tidak peduli. Dia terus melajukan sepeda motornya menuju ke alun-alun selatan.


“apa kau dingin, ra?” Tanya Awan.


“tidak.” Jawabku. Karna memang aku memakai baju yang cukup tebal.


Entah hanya aku yang merasa canggung, tapi yang jelas, aku merasa sangat tidak enak hati kepada Awan. Dia juga tidak protes saat aku melipat kedua tanganku di belakang punggungnya untuk memberi jarak antara kami. Biasanya, dia akan menarik tanganku dan melingkarkannya di perutnya.


Kami sudah sampai di alun-alun dan Awan sudah memarkirkan sepeda motornya. Kami berteduh di sebuah tenda warung yang ada disana. Tidak banyak orang karna memang situasinya sedang hujan. Pun hari sudah hampir larut.


“kau mau sesuatu?” Awan mulai membuka mulut.


“nanti saja. Masih kenyang.”


Aku manatapi rintik gerimis kecil yang di terpa cahaya temaram lampu taman. Ah, aku benar-benar merasa sangat canggung sekali sekarang.


Perlahan, gerimis mulai berubah menjadi hujan. Orang-orang berlarian untuk mencari tempat berteduh.


“Awan, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tau aku telah menyakiti hatimu. Aku tidak akan mencari pembenaran atas ucapanku tadi. Aku hanya tidak ingin tersiksa dalam penantian yang tidak pasti.” Lirihku. Karna jarak kami sangat dekat, aku yakin Awan mendengar apa yang ku ucapkan.


“Tidak apa-apa. Aku mengerti situasimu. Maaf aku yang sudah egois memintamu menungguku padahal kita tidak ada hubungan apa-apa. Aku sudah melewati batas.”


“Aku minta maaf juga karna tidak bisa membalas perasaanmu. Aku benar-benar minta maaf.”


“Sudahlah, kurasa kita tidak perlu saling meminta maaf. Ini aneh.”


Aku setuju. Ungkapan perminta maafan itu justru membuat suasana kami menjadi canggung dan aneh.


Hujan turun semakin deras. Aku melihat jam tangan, sudah pukul 10 malam. Aku mengirim pesan kepada ibu dan memberitahu kalau mungkin aku akan terlambat pulang.


Sedetik kemudian, ibu malah melakukan panggilan video padaku.


“Ya, Bu?”


“Kalian dimana hujan-hujan begini?”


“Kami sedang di alun-alun, Bu. Kami akan pulang saat hujan sudah reda.” Kataku. Aku mengubah kamera belakang sebentar untuk menunjukkan kalau aku tidak sedang berbohong.


“Ya sudah. Hati-hati dijalan.”


Aku mengangguk kemudian ibu mematikan telfon.


“Ara?”

__ADS_1


“Hm?”


“Besok malam, bisakah kau datang ke bandara untuk mengantarkanku? Aku ingin melihat wajahmu sebelum aku pergi.”


Aku mengangguk. Datang ke bandara bukan hal yang sulit untukku. “Baiklah. Jam berapa penerbangannya?”


“19.45.”


“Aku akan datang sebelum jam 6.”


Sepuluh menit setelahnya, kami hanya terdiam. Aku benar-benar bingung harus membahas apa dengan Awan.


Aku menganggap malam ini sebagai malam perpisahanku dengan Awan. Aku ikhlas melepaskannya pergi. Dia harus mengejar impiannya. Karna aku juga sudah konsisten dengan impianku.


Entah kenapa aku merasa tidak kuat untuk menahan laju airmataku. Padahal aku sudah berusaha untuk menenangkan hatiku. Aku berusaha untuk tidak terisak di samping Awan. Aku malu.


Aku tidak menyesal karna tidak bisa membuat sebuah komitmen dengan Awan. Jauh di dalam hatiku, aku justru bersyukur. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan menjalin hubungan jarak jauh apabila aku menerima perasaan Awan. Karna berhubungan jarak jauh, hal itu tidak akan berhasil untukku.


“Ayo.”


Ucapan Awan yang membuatku terkejut setengah mati. Mungkin bukan hanya aku saja yang terkejut. Tapi beberapa orang yang ada disana melihat aneh kepada kami.


Awan menarikku begitu saja saat hujan sedang deras-derasnya. Seketika aku jadi basah kuyup terguyur hujan.


“Awan! Hujan! Mau kemana?!”


Dia berhenti di antara beringin kembar. Kami sudah seperti orang gila yang bermain hujan sementara orang-orang sibuk berteduh. Tubuhku sudah habis basah kuyup serta di hujani oleh tatapan aneh orang-orang di


kejauhan.


“Ra, tutup matamu.” Ujar Awan. Dia mulai kembali maju ke depan ke arah beringin kembar.


Aku bingung? Tentu saja aku sangat bingung. Orang waras mana yang menyeberangi beringin kembar disaat hujan deras begini? Aku rasa hanya kami saja.


Tapi yang lebih membingungkannya adalah, aku menuruti saja perkataannya. Saat sudah mendekati beringin aku seketika memejamkan mata. Sedangkan Awan terus menggenggam tanganku ke arah depan.


Hanya tetesan derasnya air hujan yang kurasakan menerpa wajahku hingga menyisakan rasa perih di kulit. Tapi bukan hanya wajahku yang terasa perih, hatiku juga. Mataku memanas.


Awan bukan siapa-siapaku. Apalagi kekasihku. Kami hanya berteman. Tapi kenapa hatiku sesakit ini untuk melepaskanya pergi?


Aku merasakan Awan sudah tidak menarikku lagi. Jadi akupun ikut berhenti.


“Buka matamu, Ra.” Ujar Awan di tengah berisiknya suara hujan.

__ADS_1


Seketika akupun membuka mata dan menatap Awan yang tengah berdiri menghadapku. Lalu, Awan berjalan memutar ke belakangku.


“Menangis saja kalau kau ingin menangis. Disini tidak ada yang akan memperhatikanmu. Paling-paling mereka menganggap kita orang gila.”


Aku terkejut ternyata Awan menyadari kesedihanku.


Dan sudah, aku jadi tidak bisa menahan diri lagi setelah dia berkata begitu. Airmataku kembali mengalir bahkan lebih deras dari sebelumnya. Menyatu dengan lelehan air hujan yang tak mau mengalah mengaliri wajahku.


Awan hanya diam dan tidak berkata apapun. Sementara aku masih sibuk meluapkan kesedihanku karna harus melepaskan kepergian Awan ke tempat yang sangat jauh.


Setelah berhasil menguasai diri, aku kemudian berbalik.


“Aku ingin pulang.”


Dan Awan hanya mengangguk. Kemudian ia berjalan dan aku mengikutinya di belakang. Aku bahkan hanya menundukkan wajahku saja. Malu dengan orang-orang yang masih setia menatap aneh kepada kami.


Begitu aku naik ke atas motor, Awan segera tancap gas meninggalkan lokasi alun-alun. Kami tetap menerjang hujan yang perlahan mulai sedikit mereda. Diam di sepanjang perjalanan sampai kami tiba di rumahku.


“Terimakasih sudah menemaniku malam ini, Ra.”


“Sama-sama.”


“Kalau begitu, aku pulang dulu. Titip salam sama Ibu. Bilang maaf karna aku membawamu sampai larut malam begini dalam keadaan basah kuyup.”


Aku mengangguk.


Awan sudah naik ke atas sepeda motornya kembali dan siap untuk meluncur.


“Awan!” Aku menghentikan Awan.


Awan menoleh padaku. “Kenapa?”


“Terimakasih untuk waktu satu tahun ini. Sangat menyenangkan bisa berteman denganmu.”


Awan tidak menjawab. Dia hanya kembali menatap ke depan dan kemudian melajukan motornya. Aku memandanginya sampai punggungnya menghilang dari pandanganku.


“Ya ampun, nak. Kenapa nekat pulang hujan-hujan? Sampai basah kuyup begini. Kan bisa telfon biar di jemput sama Mas Bagus.”


“Ara takut kemalaman, Bu. Ara tidak ingin ibu khawatir.”


“Ya ampun, Dek. Cepat masuk ke kamarmu dan ganti pakaianmu.”


Aku mengangguk. “Ara ke kamar dulu ya, Bu.”

__ADS_1


Bahkan lantai yang kulewati jadi basah akibat tetesan air dari pakaianku. Aku terus masuk ke dalam kamar dan mandi air hangat kemudian berganti piyama dan langsung membungkus tubuhku dalam selimut.


Entah kenapa sekarang aku merasa kedinginan. Padahal tadi aku sama sekali tidak merasa dingin walaupun diguyur hujan lebat.


__ADS_2