Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
BAB 63. Senyum Sehangan Mentari Pagi.


__ADS_3

“Aku sangat merindukanmu, ara. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan.”


Entah sudah berapa puluh kali kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Kuara. Ia sudah berusaha untuk mengusirnya, tapi suara itu masih terus menghantuinya. Membuatnya tidak fokus saat menyantap makan malamnya.


“Hhhhffh.” Tanpa sadar, Kuara malah menghela nafas. Membuat ayah dan ibunya melihat heran padanya.


“Rupanya ada yang terganggu dengan kehadiran masalalu.” Celoteh Lisa sambil menyuapkan makanan ke mulut Micha.


“Masa lalu? Siapa?” Selidik Arya.


“Ayah, apa Ayah masih ingat dengan Awan?”


Dan Kuara masih belum mendengar kalau Ayah dan Ibunya tengah membahas Awan. Ia sedang tenggelam dalam fikirannya sendiri.


“Awan?” Arya nampak mengingat-ingat nama yang sepertinya pernah ia dengar itu. “Oh! Awan yang itu?”


Lisa segera menganggukkan kepala sambil tertawa sumringah.


“Kenapa dengan Awan?”


“Anak itu, kami bertemu dengannya tadi. Dia sudah jauh berubah jadi semakin tampan dan gagah.”


“Waaah. Benarkah? Apa itu yang membuat putrimu itu melamun saja selama satu jam ini?”


Kuara masih belum merasa kalau ia sedang jadi pusat perhatian Ayah dan Ibunya. Kedua orangtuanya menatapnya dengan alis yang terangkat.


Saat Kuara menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, ia baru melihat ekspresi aneh Ayah dan Ibunya.


“Kenapa kalian melihatku seperti itu?”


“Apa kau sedang memikirkan Awan?” Tebak Arya langsung.


“Hah?! Apa?! Awan?! Kenapa Ara memikirkan dia?” Pertanyaan dari sang Ayah membuat Kuara celingukan sendiri. Wajahnya berubah menjadi merona.


“Hahahhaa. Ternyata kau sedang memikirkannya.”


“Ayah! Cukup. Aku,, aku... Aku mau ke kamar dulu.”


Sudah kalah malu, akhirnya Kuara melarikan diri ke dalam kamarnya.


Ada setitik harapan yang perlahan muncul dalam hatinya. Harapan kalau Awan akan membawanya keluar dari ‘kutukan’ yang tersemat padanya. Tapi di saat yang bersamaan, dia juga merasa takut. Takut kalau apa yang dikatakan orang-orang tentang kutukan itu ternyata benar adanya. Ia tidak ingin menempatkan Awan dalam kesulitan.


Kuara duduk di pinggir ranjang sambil menatapi gorden balkon yang bergerak tertiup angin. Lantas ia bangkit dan berniat untuk menutup jendela.


Nafasnya tercekat saat melihat sosok pria yang sedang tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya di depannya. Tepat di seberang kamarnya, Awan melambaikan tangan sambil duduk di balkon kamarnya.

__ADS_1


“Kau?!” Tunjuk Kuara. Ia heran setengah mati. Menduga kalau matanya sedang mengalami fatamorgana halusinasi.


“Hai.” Ujar Awan sambil melambaikan tanganya kembali. “Kenapa baru muncul? Aku sudah menunggumu dari tadi.”


Ini benar-benar Awan. Kuara tidak sedang berhalusinasi. Itu benar-benar Rahwana.


“Kenapa kau bisa ada di situ?”


“Ini rumahku. Aku baru membelinya.”


Astaga. Apa ini?


Kuara sempurna ternganga dengan menahan deguban jantungnya sendiri. Benar-benar tidak menyangka dengan kelakuan Awan yang sangat mengejutkannya.


Bahkan seharian ini ia dan Awan sudah bertemu sebanyak tiga kali. Di tambah kalau ternyata pria itu membeli rumah di samping rumah Kuara, membuat Kuara tidak bisa berkata-kata lagi.


“Ara? Kenapa malah diam saja? Kau tidak senang?”


Sekuat tenaga Kuara berusaha mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Ia menatap Awan tanpa ekspresi kemudian berbalik dan menutup rapat-rapat jendela kamarnya.


Ia menyandarkan punggungnya di pintu balkon dengan kedua tangan yang masih memegangi kenopnya. Dadanya naik turun merasakan sensasi aneh yang mendebarkan itu.


“Hhuuuffhhh..” Berkali-kali Kuara menghela nafas untuk melegakan dadanya.


Ia menoleh saat ponselnya berbunyi di atas nakas. Ia berjalan dan mengankat telfon dari nomor baru itu.


“Halo?” Kuara sama sekali tidak menaruh curiga terhadap nomor itu. Ia fikir itu salah satu mahasiswanya.


“Ra? Kenapa kau langsung pergi? Apa kau marah?”


Awan. Itu suara Awan. Kuara menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap dalam nomor tanpa nama yang tertera di layar ponselnya itu.


“Bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku?”


“Kenapa? Apa aku tidak boleh menelfonmu?” Awan menjawab pertanyaan Kuara dengan pertanyaan.


“Bukan begitu...”


“Baguslah.” Awan segera menyela kalimat Kuara. “Karna aku bisa langsung datang ke rumahmu dengan membawa Papa dan Mamaku kalau aku bahkan tidak boleh menelfonmu.”


Kuara terdiam. Ia mengernyit heran dengan ucapan Awan itu. Apa maksudnya?


“Awan, aku lelah. Aku ingin tidur. Besok ada kelas pagi.”


“Sebelum tidur, datanglah dulu ke balkon.”

__ADS_1


Tut. Tut. Tut.


Pria itu langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Membuat Kuara mendengus kesal. Walaupun begitu, Kuara tetap berjalan ke balkon kembali.


Sesuatu terbang dan jatuh tepat di kakinya. Itu adalah sebuah pesawat kertas. Ia melihat kepada Awan yang masih konsisten tersenyum di seberang.


“Selamat malam Ara! Mimpikan aku!”


Setelah berkata begitu, Awan langsung berbalik dan menutup balkonnya. Kuara hanya bisa mengernyit setengah kesal.


Awan bertingkah sesuka hati padanya. Menyuruhnya keluar, setelah itu dia malah masuk begitu saja setelah melemparkan pesawat kertas itu.


Dengan mendengus Kuara meraih pesawat kertas itu. Itu adalah sebuah foto. Foto dirinya yang sedang tersenyum menatapi matahari terbit di Bukit Cinta dulu.


Entah kenapa Awan bisa punya foto ini. Kuara membalikkan foto itu, dan di belakangnya terdapat sebuah tulisan.


‘Aku merindukan senyuman ini. Senyum yang hangat sehangat sinar


matahari pagi.’


Sekali lagi Kuara menatapi arah balkon di seberang kamarnya. Balkon yang sudah tertutup dan gelap. Sepertinya Awan sudah tidur.


Padahal, Awan sedang mengintip di balik tirai jendelanya. Ia ikut tersenyum saat melihat Kuara tersenyum. Ia baru kembali ke ranjang saat melihat Kuara masuk dan menutup pintu balkonnya.


Kuara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memandangi dalam-dalam kalimat yang tersemat di belakang foto yang ia pegang.


Rahwana, pria itu punya sejuta cara untuk membuatnya berdebar. Sejuta cara untuk membuatnya melambung. Sejuta cara untuk membuat senyumnya terukir.


Kuara memegangi dadanya yang terus berdebar. Debaran yang sama seperti dulu. Tapi ada yang berbeda. Sekarang, debaran itu di selingi rasa takut akan sebuah kemungkinan yang sudah banyak di bicarakan orang tentang dirinya.


Itu membuat rasa takut terus tumbuh di dalam hatinya. Membuat harapannya menciut dan bersembunyi di sudut hati yang paling dalam.


Ting.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia segera membuka dan membacanya. Itu adalah pesan dari Awan.


‘Jangan lupa mimpikan aku.’


“Hhufh.”


Kuara tidak membalasnya. Ia hanya kembali melemparkan ponselnya ke dekat bantal. Kemudian menyimpan fotonya ke dalam laci nakas. Selanjutnya ia memposisikan dirinya di atas ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Bersiap untuk pergi ke alam mimpi.


Mimpi, akankah membawanya bertemu dengan Awan malam ini? Seperti yang pria itu bilang.


Kuara sudah berumur 31 tahun. Dan selama waktu yang ia habiskan, setelah kegagalannya yang terakhir, ia tidak pernah lagi berani mengharapkan apapun atas sebuah hubungan. Dan seiring berjalannya waktu, ia mempercayai apa yang dikatakan orang tentang dirinya.

__ADS_1


__ADS_2